
"Shawn!"
Pria yang dipanggil namanya itu menoleh. Shawn mendelik dengan mulut terbuka melihat Clara berlari kecil menghampirinya. Lalu, Clara memeluknya, praktis banyak pasang mata yang terkejut menonton kejadian ini.
"Shawn, ke mana aja sih kamu? Aku cari-cari kamu loh. Senang banget akhirnya kita bisa ketemuan di sini," cerocos Clara tanpa henti karena terlalu senang.
Shawn merengut tak senang. Bagaimana wanita ini bisa menemukannya? Bukankah tidak ada yang tahu, bahkan tantenya sekalipun.
Tidak bisa begini! Shawn melepaskan pelukan Clara dengan kasar, lalu berdiri. Tangan Clara digenggamnya erat, seakan seluruh kemarahannya berkumpul di sana.
"Ayo, ikut aku!" gumam Shawn dengan geram tertahan, di matanya kilat kemurkaan menyala.
Shawn menarik Clara ke sebuah lorong yang sepi, lalu menghempaskannya kuat, sampai Clara membentur dinding. Clara mengaduh pelan seraya mengelus lengannya. Ia mendelik, terkejut karena telapak tangan Shawn menepuk kencang dinding tepat bersebelahan dengan kepalanya.
Clara mulai gemetaran, tak berani menatap Shawn meski hanya sekadar melirik. Atmosfir kemurkaan Shawn begitu terasa, membuatnya bergidik.
"Sedang apa kau di sini? Siapa yang memberitahukanmu kalau aku ada di sini?" tanya Shawn, suara beratnya yang dalam terdengar mengerikan.
"Itu ..." Clara terbata, beberapa kali memberanikan diri melirik Shawn. "Tante Renata biasanya memberitahukan tempatmu biasanya melakukan perjalanan bisnis. Aku memulainya dari tempat terdekat."
Shawn memang tak begitu mengenalnya. Tapi dari pengamatannya, Clara tampak jujur. Biang dari semua ini adalah tantenya, sementara gadis ini hanya melakukannya dengan polos.
Shawn menjauhkan tubuhnya dan menarik tangannya dari tembok, tetapi tatapan dinginnya tetap tak terlepas dari gadis itu. "Dengar, katakan pada tanteku: jangan pernah memata-mataiku, apalagi mencari tahu apa pun yang aku lakukan. Dan kau!"
Clara menaikkan wajahnya sedikit, meliriknya, dan menelan air liurnya karena sangking gugupnya.
"Jangan pernah pernah menemuiku tanpa aku minta."
Kesedihan bertambah dengan rasa sakit yang begitu nyeri karena ucapan Shawn itu. Pria itu memunggunginya, akan meninggalkannya di sini dalam keadaan terpuruk. Namun, Clara tak mau bergeming dalam keadaan lemah begini. Bagaimanapun tekadnya sudah bulat untuk mengejar pria itu.
"Lalu, kapan kau akan menemuiku?" Clara berseru dengan kedua tangan terkepal, mengumpulkan kenekatannya untuk menghentikan langkah pria itu.
Berhasil, tapi Shawn tak menoleh, malah tersenyum sinis. "Kau berharap aku menemuimu?"
Pertanyaan itu menghentakkan hati Clara bagai dihujam oleh sesuatu, terbujur kaku dengan mata terbelalak.
"Berharap saja terus. Tapi sayangnya, hal itu tidak akan terjadi." Shawn menambahkan. Dingin sekali pria itu.
__ADS_1
Tetapi, seberapa buruknya dia, Clara sudah memutuskan. Ia sudah tahu betapa dinginnya Shawn, dan ia sendiri yang memilih setuju dijodohkan. Jadi, ia tidak akan berhenti!
"Itu pasti akan terjadi!" balas Clara, tatapan matanya tersimpan keyakinan kuat, tak gentar jika sekalipun pria itu menghempaskannya. "Lihat saja, kau akan mendatangiku nanti!"
Konyol! Shawn tersenyum sinis. Tak perlu menyahuti ucapan kosong itu. Shawn melangkah santai dengan kedua tangan dimasukkan di saku celananya. Clara menatap kepergiannya dengan sisa kekuatannya yang bercampur dengan kepedihannya atas sikap abai Shawn.
Henry menghampirinya ketika melihat sosok Shawn muncul memasuki restoran. Pria itu mengikutinya tanpa bertanya, walaupun sangat penasaran.
"Henry," panggil Shawn, dan sekretarisnya itu langsung memasang telinganya. "Pastikan Clara kembali ke Jakarta, lalu secepatnya persiapkan acara pernikahanku dengan Kiara!"
"Baik, Tuan." Henry mengangguk paham.
"Dan satu lagi, cepat temukan adik dan ibu tiri Kiara."
"Tenang, Tuan. Saya sudah menemukannya. Jadi, nona Kiara bisa langsung menemuinya."
Shawn tersenyum puas. Berapa meter lagi ia sampai di meja pertemuan dengan seorang investor. Ia berhenti sejenak, lalu membisikkan sesuatu pada Henry. Sepertinya, Henry mendapatkan sebuah perintah lain, ia mengangguk setelah Shawn selesai mengatakannya.
...🦋...
Setelah infus dicabut, Kiara bertanya dengan penasaran pada suster pribadinya. "Apa aku sudah boleh pulang?"
"Sudah. Tapi, Tuan menyuruh Anda untuk berkemas," sahut suster itu, mengulurkan tangannya untuk membantu Kiara turun dari ranjang.
Berkemas? Kiara memiringkan kepala dan mengernyit, heran. Apa pria itu ingin mengajaknya ke suatu tempat? Lalu, kenapa batang hidungnya tak tampak? Shawn tidak akan menjemputnya?
"Tuan Shawn ... dia di mana? Masih sibuk?" tanya Kiara, sempat berpikir gengsi untuk sekadar menanyakan hal ini.
"Tidak tahu, saya tidak diberitahukan lebih banyak soal itu. Info yang saya tangkap hanya itu. Mungkin, Puan bisa menanyakannya pada si pengawal. Saya rasa, tuan Shawn memberikan banyak perintah pada dia."
Kiara setuju soal itu. Tapi meskipun tahu, Kiara tetap enggan untuk menanyakannya nanti. Lagi pula untuk apa bertanya, palingan Shawn cuma mau mengajaknya makan malam di luar. Pria itu akan memikatnya dengan kejutan-kejutan yang lain, atau memberinya beberapa barang mewah yang membuatnya enek.
Suster menuntunnya sampai ke depan kamar mandi. Di dalam ruangan itu, Kiara dibuat terpana. Kamar kelas satu ini bukan cuma memiliki ruangan yang luas, kamar mandinya pun begitu. Handuk berwarna merah muda sudah tergantung, sabun beraroma bunga sakura terpajang bersama dengan sampo, sikat dan pasta gigi.
Kiara lebih kagum pada bak mandi yang terdapat dua keran untuk air panas dan dingin. Berasa kamar mandi di rumah. Berapa banyak uang yang Shawn keluarkan hanya untuk mengobati Kiara?
Masa bodo! Nikmati saja semua ini, toh ia akan jadi istrinya. Setelah air hangat memenuhi setengah bak, sabun dituangkan. Kiara membuka kemeja tidurnya, lalu masuk ke dalam bak mandi.
__ADS_1
Menyegarkan! Kiara bisa-bisa betah berendam di sini sambil menggosok tubuhnya yang lengket. Jelas saja, beberapa hari tak mandi, hanya cuci muka saja, bisa dibayangkan tubuhnya pasti bau keringat. Pantas, Shawn tak mengunjunginya. Pria itu pasti tak tahan dengan bau tubuhnya.
Tiba-tiba Kiara tertegun, menemukan sebuah ide yang cukup konyol. "Em ... gimana kalau aku nggak mandi-mandi aja? Shawn pasti tidak akan pernah mau menyentuhku?" gumamnya, lalu senyumnya terkembang.
Great idea! Kiara bersorak pelan seraya memainkan busa. Ide itu akan dilakukannya nanti. Jadi Shawn, tunggu tanggal mainnya!
Senyum gelinya terus terkembang semenjak keluar dari kamar mandi. Suster membantunya berdandan dengan riasan natural dan menyisir rambut cokelat sebahunya yang lurus.
Setelah siap, si pengawal mengantarkannya menuju mobil hitam mewah yang sudah menunggu di tempat parkir. Pengawal itu ikut masuk, duduk di kursi depan bersama dengan sopir.
Beberapa meter mobil meninggalkan rumah sakit, Shawn menghubungi ponselnya. Karena hatinya sedang senang, Kiara mengangkatnya tanpa merasa enggan.
"Halo."
^^^"Kau sudah siap?" tanya Shawn di ujung telepon. ^^^
"Udah. Emangnya, kamu mau ngajak aku ke mana lagi?"
^^^"Ada acara makan malam spesial. Kau pasti akan merasa terkejut dan berterima kasih padaku."^^^
Sudah ia duga. Makan malam seperti apa lagi yang dipersiapkannya? Romantis yang berakhir dengan ilfill?
"Em ... aku akan menantikannya," pungkas Kiara, lalu sambungan terputus. Ponsel kembali disimpan dalam tas kecilnya.
...🦋...
Mobil mengantarkannya ke sebuah restoran mahal yang cukup ramai malam ini. Si pengawal berkata pada seorang pelayan, lalu Kiara diantarkan oleh pelayan itu ke lantai atas di mana Shawn menyewa sebuah tempat khusus untuk acara makan malam mereka.
Saat Kiara masuk, ia tertegun karena ada dua orang selain Shawn yang duduk di meja itu. Langkah Kiara pelan menuju meja. Hatinya berdetak kencang, entah merasa gugup melihat kedua sosok yang tampak tak asing. Ia juga semakin curiga kala melihat Shawn tersenyum misterius.
Apa yang sedang direncanakan oleh Shawn?
Kiara akan sampai di meja itu, Shawn beranjak dari kursinya, meraih pinggang Kiara, dan menghelanya ke hadapan dua tamu itu.
Kiara sudah mempersiapkan senyum terbaiknya, tapi senyum itu menghilang sekejab begitu melihat sosok para tamu. Ia tercengang dengan kedua mata mendelik.
"Mama? Kelvin?"[]
__ADS_1