Nikah Dulu, Cinta Belakangan

Nikah Dulu, Cinta Belakangan
Ke Singapura


__ADS_3

Pergi mendadak bukan berarti tanpa persiapan. Ketika sampai di bandara, Herman sudah menunggu sambil memegang tiket dan passport. Shawn menerimanya begitu Herman menyodorkannya.


Shawn menyeret Kiara yang tak lagi meronta. Namun, Kiara tetap ingin menuntaskan rasa penasarannya. "Kau mau bawa ke mana sih?" tanyanya, nada ucapannya jengkel.


"Nggak usah banyak tanya, ikut saja!" sahut Shawn, terus menarik sampai di depan petugas bandara.


Mereka bertiga pergi ke Singapura malam ini juga. Perjalanan yang memakan hampir dua jam itu cukup membosankan. Kiara harus duduk sebangku dengan Shawn sambil tangannya terus dipegangi.


Kiara menggurutu dalam hati. Apa dia tidak pegal menggenggam pergelangan tangannya terus?


Tapi, Shawn juga manusia. Ketika jemarinya terasa kesemutan, dilepaskannya pegangan itu. Namun, ia tetap tak bisa membiarkan gadis itu lepas. Shawn tetap mengungkung Kiara dengan mengikat pergelangan tangannya menggunakan dasinya, lalu ujung dasi satunya dikatkan ke tangan Shawn. Benar-benar seperti diborgol!


"Nggak percayaan banget sih dia?" gerutu Kiara pelan, memalingkan wajah ke jendela pesawat sambil memangku dagunya.


Meskipun sudah sampai di Singapura, Kiara masih tidak lepas. Tangannya semakin sakit, dan berubah memucat karena aliran darahnya yang terhambat oleh ikatan dasi yang cukup kencang menderita sekali rasanya. Bagaimana caranya bisa melepaskan diri darinya?


"Shawn! Shawn!" panggil Kiara terus menerus, akhirnya pria itu menghentikan langkahnya.


"Kenapa?" sahut Shawn seraya menoleh.


"Boleh nggak ke toilet dulu? Aku mau pipis nih. Udah kebelet dari tadi," pinta Kiara memelas, tanpa malu dan segan. Tak ada waktu lagi untuk itu, ia benar-benar sudah tak tahan untuk buang air.


"Jangan banyak alasan!" Shawn menyipit tajam, dan nada ucapannya dingin. "Aku tahu, kau itu sebenarnya ingin kabur, 'kan?"


Ndasmu! Apa Shawn tak melihat wajah meringis Kiara yang tersiksa karena menahan pipis? "Ssshh ... benaran, aku mau kencing nih! Kalau nggak percaya, ikut aja deh ke kamar mandi bersamaku."


Gila, ya? Mau diletakkan wajah Shawn? Apa dia sengaja ingin mempermalukannya?


Shawn cukup lama memikirkan ide ini, karena ini mengenai harga diri. Tapi, Kiara semakin tak bisa menahan kepingin buang airnya. Tak perlu menunggunya membuat keputusan, Kiara sendirilah yang memutuskan!


Tak dinaya, Kiara berlari terbirit di tengah kerumunan orang. Mau tak mau, Shawn ikut berlari bersamanya.


"Di mana toiletnya? Di mana toiletnyaaaaaaaa!" gumam Kiara frustrasi, berlari asal.

__ADS_1


Kiara menemukan seorang pria berseragam petugas bandara. Maka, ia berhenti di depan pria itu. "Maaf, Pak. Bisa tunjukkan di mana toiletnya?" Kiara keceplosan, lupa kalau pria itu bukan orang Indonesia.


"Oh, tandas? Sebelah sana," jawab pria itu ramah, merentangkan tangannya ke sebelah kanan Kiara.


Kiara menoleh ke arah itu, meskipun tak melihat ada tulisan toilet. Tapi, ia tak peduli, berpikir akan menemukan toilet nanti di sana.


"Oh, terima kasih, ya, Pak." Langsung, Kiara kembali ngibrit ke arah tunjukkan itu.


Tubuh Shawn terhuyung karena ditarik tiba-tiba. Terpaksa Shawn ikut berlari lagi. Kelakuan mereka ini diperhatikan oleh petugas itu. Pria itu memandang aneh pada pasangan itu, sampai sosok mereka lenyap di kerumunan.


Petugas itu tidak bohong, akhirnya ketemu juga toiletnya. Kiara bernapas lega dan tersenyum. Laju larinya dipercepat, melupakan Shawn yang mengekor di belakangnya.


Apa gadis itu ingin Shawn ikut masuk ke dalam toilet bersamanya? Shawn terhenyak. Sebelum itu terjadi, Shawn menghentikan langkahnya tiba-tiba. Kiara ikut berhenti, lalu menoleh padanya.


"Apa kau ingin aku masuk ke sana juga?" dengus Shawn.


Kiara melirik tangannya yang terikat, baru menyadarinya. "Oh, ya udah. Tolong lepaskan ikatannya, dan Anda tunggu di depan toilet," sarannya tanpa pikir panjang.


Shawn tidak pernah diperintah sebelumnya, makanya Shawn menatapnya heran setelah mendengar ucapan itu. Air kencing Kiara hampir merembes, tak ada waktu baginya untuk melihat Shawn termenung menatapnya.


Belum sempat dijawab, Kiara sudah main melipir ke dalam kamar mandi. Shawn mendengus sambil melipat kedua tangannya di dada, jengkel.


Satu bilik toilet terbuka, seorang wanita baru saja keluar dari sana. Kiara langsung mengibrit ke bilik itu, menutup pintunya, dan bergegas melepas hasrat yang sejak tadi ditahannya.


Sementara itu, Shawn menunggu di luar dengan penuh curiga. Setiap mendengar suara sepatu mendekat, Shawn menengok sedikit, berharap itu Kiara. Tetapi, sudah dua orang yang keluar, Kiara tak muncul juga.


Jangan-jangan dia kabur? Mata Shawn menyipit ketika menduga hal itu dalam benaknya.


Dengan kepala dipenuhi amarah, Shawn akan beranjak masuk. Namun, ia terhalang karena tiba-tiba berpapasan dengan Kiara di ambang pintu masuk. Keduanya terkejut dengan mata membulat, terhenyak sejenak, lalu canggung.


"Lama banget!" Shawn mengomel, meraih tangan Kiara untuk mengikatnya kembali dengan dasinya.


Diikat lagi? Ogah! Kiara sontak merenggut tangannya seraya berseru gusar, "Nggak usah! Tangan aku sakit. Emangnya tangan kamu nggak sakit apa diikat begitu?"

__ADS_1


Tentu saja! Akhirnya, Shawn mengalah juga. Hanya saja, Shawn tidak mau mengakui ucapan benar Kiara. "Ya udah," gumamnya sambil membuka dasi yang mengikat tangannya. "Yuk, kita samperin Herman."


Shawn meraih tangan Kiara. Namun, melihat pergelangan tangan Kiara memerah, Shawn tidak jadi menggenggamnya. Jadi, ia menggenggam jemari Kiara, tapi kali ini tidak erat.


Kiarapun tak menolak, justru terpana sejenak merasakan telapak besar milik Shawn begitu lembut dan hangat membungkus tangan mungilnya. Namun, kebencian dan rasa jijik menjalar kembali hatinya. Bagaimanapun, Kiara tetap tak terima dengan pelecehan yang dilakukan Shawn waktu itu.


Digenggam seperti ini juga terpaksa. Kiara sudah janji untuk tidak kabur, dan ia juga tak mau mendapat hukuman. Jadi, untuk sekarang, ia mengalah.


Pergi bertiga ke negara asing, pasti Kiara bisa menemukan sejuta cara untuk kabur.


...🦋...


Renita dan Kelvin juga sampai di Singapura lebih dulu. Namun, mereka tertahan di bandara karena Renita kesulitan mencari hotel lewat aplikasi. Hotel-hotel di negara ini harganya mahal. Renita menyesal karena terburu-buru pergi tanpa memesan hotel lewat aplikasi saat di Indonesia.


Kini, Renita dan anaknya luntang-lantung di lobi bandara. Itu juga tidak lama, karena akhirnya Renita mendapatkan hotel yang murah, meskipun agak jauh dari bandara.


"Kita udah dapat hotel. Tapi, Mama mau ke kamar mandi dulu, ya?" kata Renita, lalu beranjak dari kursinya.


"Tapi, Ma," sahut Kelvin cepat sebelum ibunya pergi. "Bukannya kita mau ketemu sama kak Kiara?"


Rona wajah Renita memucat. Anak ini bukan anak kecil yang bisa ditipu, Renita lupa bahwa Kelvin dibujuk dengan mencatut nama Kiara.


"Oh ... iya ... entar! Entar kita ke sana," jawab Renita gugup tanpa berani menatap Kelvin. "Aduh Kelvin, Mama udah kebelet nih. Nanti aja Mama jelasin ke kamu, ya?"


Renita bergegas pergi dari tempat itu sebelum ditanya macam-macam dan dicurigai oleh Kelvin. Tapi, anak itu juga terpikirkan rencana rahasia sejak tadi. Maka dari itu, Kelvin memastikan kepergian Renita. Dan begitu ibunya telah menjauh, Kelvin merogoh ransel hijaunya.


Kelvin mengeluarkan sebuah baju yang digulungnya dari dalam ransel. Di dalam gulungan itu Kelvin menyimpan sebuah ponsel warna merah muda. Itu milik Kiara! Dan masih menyala juga. Kelvin masih sempat mengisi baterainya ketika mengurung diri di kamar. Saat itu, harapannya begitu besar jika kakaknya menghubungi nomor ponselnya.


Maksud Kelvin membawanya juga karena meragukan rencana sang ibu yang mengajaknya pindah karena Kiara.


Saat layar dinyalakan, Kelvin melihat sebuah notifikasi. Dahinya mengkerut, penasaran. "Nomor siapa ini? Kak Kiara?"


Jika itu benar, Kelvin bersemangat menghubungi balik nomor asing itu. Beberapa saat ia menunggu, hingga nada tunggu terdengar.

__ADS_1


"Tersambung!" seru Kelvin pelan, senyumnya terkembang.


Nomor yang dihubunginya adalah nomor tablet Kiara pemberian Shawn. Ternyata, Kiara tak sengaja menekan tombol dial tadi. Sayangnya, tablet tertinggal di atas ranjang. Dan yang mengambilnya adalah si kepala pelayan.[]


__ADS_2