Nikah Dulu, Cinta Belakangan

Nikah Dulu, Cinta Belakangan
Siksaan dari pria iblis


__ADS_3

"Tidak! Jangan...."


Shawn melirik ke pergelangan tangan Kiara yang terikat, dan menyadari bahwa ikatan itu menyakiti Kiara.


“Jangan bergerak-gerak, atau kau akan mengalami memar-memar ketika ini selesai," katanya parau.


Setetes air mata mengalir di sudut mata Kiara. Ia putus asa dalam usahanya untuk melepaskan diri. “Jangan lakukan ini, please...” lirihnya.


Mata Shawn sedikit melembut ketika mendengar permohonan Kiara, tetapi kemudian senyumannya tampak mengeras, “Aku hanya ingin membuatmu sadar di manakah tempat kau seharusnya berada, Kiara.”


Shawn membuka kancing piyama Kiara satu per satu, membiarkan pay*dara Kiara terbuka bebas untuknya.


“Ini milikku,” Shawn menyentuh pay*dara Kiara dan menggodanya, menikmati ketika mendengar er*ngan tersiksa Kiara. “Seluruh tubuhmu milikku.”


Pria itu mengecup ujung pay*dara Kiara, mencecapnya dengan lidahnya, lalu bibirnya berpindah menelusuri bagian samping pay*dara Kiara, menikmatinya dengan bibirnya sehingga meninggalkan jejak-jejak basah dan panas di sana.


Kiara melengkungkan punggungnya atas sensasi yang menyiksanya tanpa ampun. Dalam kondisi terikat dan tak berdaya, merasakan lelaki iblis itu mencumbunya dan menyiksanya dengan godaan-godaannya yang sangat ahli.


Ada perasaan aneh yang menjalar di tubuhnya, seperti gelenyar panas yang bergulung-gulung. Terasa seperti arus listrik yang mengalir dari jemarinya, dan menjadi semakin panas ketika menyatu di pusat dirinya.


Dan jemari Shawn menyentuh ke sana, dengan begitu ahli memainkan Kiara sesuka hatinya. Tubuh Kiara meronta tak tahan akan alunan sensasi permainan jemari pria itu, tapi lengan Shawn yang kuat menahan tubuhnya.


Kemudian bibir Shawn mengikuti jemarinya. Kiara terkesiap merasakan hembusan napas panas di pusat dirinya, seketika dia menegakkan tubuhnya dan tertahan oleh ikatan di pergelangan tangannya.


“Jangan!” teriaknya panik, mencoba merapatkan kaki, mencegah bibir Shawn menyentuhnya.


Tapi lengan Shawn yang kuat menahannya, dan kemudian, Kiara melengkungkan punggungnya dan menger*ng keras merasakan sensasi itu. Sensasi sentuhan bibir dan lidah Shawn di pusat dirinya, dengan hembusan nafasnya yang panas.


Panas bertemu panas dan dia terbakar, pandangannya menggelap karena sensasi kenikmatan yang tak tertanggungkan.


“Sshhhh ... semua bagian tubuhmu milikku, Kiara. Milikku.” Shawn mencumbu pusat gairah Kiara, menyatakan kepemilikannya.


Dan ketika Shawn selesai bermain-main, Kiara sudah terbaring, lemas dan tak berdaya dengan nafas terengah-engah dan tubuh membara. Shawn menaikkan kembali tubuhnya dan mengecup lembut bibir Kiara, dada bidangnya menggesek pay*dara Kiara, dan Kiara merasakan kejantanan Shawn yang begitu keras menyentuh pahanya dengan begitu menggoda seolah mengerti apa yang paling ia inginkan.

__ADS_1


Namun, seperti katanya, pria itu tidak akan menggaulinya sebelum menikah. Meskipun gairahnya sedang membara, Shawn beranjak dari atas tubuh Kiara yang terkulai lemas setelah permainan gila tadi.


Kiara meliriknya dengan mata sinisnya, sementara Shawn menjauh sambil tersenyum puas karena telah mempermainkannya. Dengan lembut jemarinya melepaskan ikatan Kiara. Ikatan itu meninggalkan bekas kemerahan di sana. Dan Shawn mengecupnya kedua pergelangan tangan Kiara.


"Kau milikku, ingat itu. Jika kau berani melarikan diri lagi, aku akan menghukummu dengan hukuman yang lebih berat."


Shawn memungut kemejanya dan menatap Kiara yang sedang memalingkan muka, tak ingin menatapnya. Lalu, pria itu pergi meninggalkan Kiara yang berbaring diam di ranjang.


Keperawananya memang masih utuh, tetapi pelecehan yang dilakukan oleh Shawn membuatnya terhina. Setetes air mata mengalir di sudut mata Kiara. Kejadian tadi tidak akan pernah ia lupakan.


...🦋...


Sejak Rama membawanya kembali ke rumah, Kelvin tak mau keluar rumah. Renita sudah mendapat peringatan agar segera pergi dari rumah ini. Ia frustrasi karena tak kunjung berhasil membujuk Kelvin.


Sambil menggenggam erat ponselnya, Renita menghampiri kamar Kelvin. Ia berdiri di sana, resah menggigit bibir bawahnya. Anak itu harus dibujuk sekali lagi!


Tangannya terangkat ragu, ingin mengetuk pintu. Pelan, diketuknya pintu itu sampai 3 kali seraya berseru, "Kelvin, buka pintunya, Nak. Mama mau bicara sebentar."


"Kalau yang ingin Mama bicarakan soal pindah rumah, aku tidak mau!" sahut Kelvin keras dari dalam kamar.


Dengan bersemangat, Renita kembali mengetuk pintu lagi. "Kelvin, tadi kak Kiara menelepon lho."


Derap langkah cepat terdengar, dan pintu kamar tiba-tiba dibuka dari dalam. Kelvin muncul dengan senyum semringah. "Apa katanya, Ma? Dia akan pulang?" cecarnya ceria.


Mau tak mau, Renita berakting, memperlihatkan senyum lembutnya, lalu menghela punggung Kelvin untuk mengikutinya ke meja makan.


"Mama akan cerita, tapi sambil makan, oke?"


Apa pun itu, Kelvin akan menurutinya. Akhirnya, mamanya luluh juga. Sebentar lagi, mereka akan kembali berkumpul meski tanpa papa.


Di meja makan telah tersedia sepiring nasi goreng. Renita menyuruhnya duduk, menyodorkan makanan itu ke hadapan Kelvin, setelahnya Renita duduk di depannya.


"Jadi, apa kata kak Kiara?" tanya Kelvin tak sabar.

__ADS_1


Renita menyendokkan sesuap nasi, memberikan sendok itu pada Kelvin. "Makan dulu dong."


Dengan senang hati, paksaan itu ia terima. Sesuap nasi ia kunyah sambil berharap Renita memulai ceritanya.


"Oke, jadi kak Kiara bilang kalau dia berhasil kabur ke Singapura." Renita terpaksa mengarang cerita karena tak mau Kelvin curiga pada rencananya.


"Singapura?" seru Kelvin, matanya membulat. "Jauh sekali? Kenapa kak tak menjemput kita dulu di sini?"


Kelvin memang terlalu pintar untuk dibohongi, tapi Renita tak akan mudah menyerah. Ia sudah mempersiapkan jawabannya. "Nggak mungkin dong kakakmu ke sini? Dia tahu kalau orang suruhan yang membeli kakakmu pasti akan mencarinya ke sini. Makanya, dia menyuruh kita untuk ke Singapura."


Kebohongan yang masuk akal, dengan mudahnya Kelvin percaya. "Ya udah, kalau gitu kita buru-buru susul kak Kiara.


Renita tersenyum lega. Memang, harus pakai cara berbohong, tapi semua ini demi bisa membujuk Kelvin. "Ya udah, habisin nasinya."


Kelvin menyuapkan sesuap demi sesuap nasi dengan hati senang. Senyuman Kelvin membuat hati Renita pilu. Dalam hati, Renita berkali-kali meminta maaf karena telah menipu anaknya itu.


...🦋...


Tidak bisa keluar rumah, penjagaan diperketat lagi. Alhasil, Kiara mati bosan di dalam rumah. Beruntungnya, ia tidak dikurung dalam kamar. Kalau tidak, ia bisa stress. Tapi tetap saja, ia dijaga oleh seorang pelayan yang selalu mengikutinya ke manapun.


Lama-lama tak nyaman. Kiara menahan kegeramannya ketika berjalan di sebuah taman yang menuju kolam air mancur. Tidak, ia sudah tidak tahan! Maka, ia berhenti melangkah, dan tiba-tiba berbalik.


"Aku tidak akan kabur. Please, jangan ikutin lagi, ya?" Kiara memelas.


Pelayan itu juga memelas. Sebenarnya, ia juga letih melakukan pekerjaan ini, tapi ... "Maaf, Nona. Saya hanya menjalankan tugas. Anda seharusnya juga paham akan keadaan saya."


Ya, ia juga tidak mau pelayan ini mendapatkan masalah. Kiara menghela napas panjang. Benar-benar tak berdaya dirinya kali ini.


Kiara melangkah kembali bersamaan dengan suara ponsel si pelayan. Kiara tak peduli, terus berjalan meninggalkan si pelayan yang sedang menerima telepon.


Si pelayan berlari menghampirinya setelah selesai menerima telepon. "Nona!" panggilnya ketika hampir dekat.


Tubuh Kiara setengah berputar, tertegun. "Ada apa?"

__ADS_1


Si pelayan menata napasnya yang tak teratur. Begitu agak tenang, baru ia berkata, "Anda diperintahkan masuk ke dalam kamar Anda."


Masuk kamar? Apa Shawn sudah pulang? Tapi, bukannya ini masih pagi? gumam Kiara heran dalam hati.[]


__ADS_2