Nikah Muda (?)

Nikah Muda (?)
10. BATAL NIKAH (?)


__ADS_3

***


Menjelang pernikahanku yang tinggal beberapa hari lagi keluargaku sangat sibuk kesana kemari mengurus segala sesuatunya.


Kupikir akad nikahnya akan digelar di rumah baruku ini. Ternyata keluargaku sepakat untuk melaksanakan akad nikah di rumah lama kami.


Aku cucu perempuan satusatunya, jadi keluarga besarku selalu antusias dengan halhal yang menyangkut pernikahanku. Bisa kukatakan aku amat disayangi.


Aku agak degdegan juga menjelang D-Day ini.


Tapi keluargaku selalu menenangkanku.


H-6 kemarin aku dan Intan sudah ke butik pengantin mengambil baju yang akan kami gunakan nanti. Intan akan jadi pengapitku tentu saja, jadi dia harus memakai baju khusus juga. Dia juga harus didandani. Siapa tahu ada salah satu saudaraku yang tertarik padanya. Haha!


Pulang dari butik, aku dan Intan langsung melakukan penataran ke KUA. Karena aku ditemani Intan jadi penatarannya tak membosankan. Dan satu hal lagi, malah Intan yang banyak bertanya. Sampai bapak petugasnya berpikir Intan yang akan menikah.


Hari ini sudah H-5, aku baru saja melakukan suntik **. Tibatiba saja badanku terasa pegal setelah disuntik. Mungkin itu efeknya kali ya.


Karena persiapan pernikahan dah hampir selesai jadi aku bisa beristirahat dulu.


***


Tak terasa sudah H-3.


Besok aku akan pulang ke rumah lamaku. Karena lusa katanya akan ada acara pengajian di sana.


"Syifa!" Kak Arisya datang mengagetkanku yang sedang menghias barang hantaran.


Lucu juga, harusnya aku tak boleh melakukannya. Tapi karena keluarga Ayah dan Bunda belum pada datang, jadi aku dan Intan membantu menghias barang hantaran. Rumah pengantinnya sebelahan sih, jadi ya gini.


"Arsy on the way. Dia pulang hari ini. Bentar lagi nyampe," kata Kak Arisya.


"Hah? Katanya besok, kok jadi sekarang gimana ceritanya. Uhh kalau gitu aku pulang aja ya Kak. Barang hantaran ini aku hias di rumahku saja," kataku kalut.


"Kenapa kalut gitu? Ini peluangmu untuk melihat Arsy tahu. Kamu gak mau?" tanya Kak Arisya.


"Aku segan lah Kak. Sudahlah aku pulang saja. Assalaamu'alaikum!"


Aku berlari pulang ke sebelah meninggalkan pekerjaanku yang belum selesai itu.


Mama yang sedang membereskan barang yang akan dibawa besok juga sepertinya heran melihatku berlarilari masuk ke kamar.


Aku ingin ketemu Arsy. Tapi, aku segan. Mama dan Bunda sih memang menyarankanku untuk bertemu dia sekali saja. Bahkan Bunda juga mengajakku main ke tempat kerja Arsy. Tapi aku tak mau.


Aku mengintip dari jendela kamarku. Sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah Bunda. Sepertinya Arsy sudah sampai.


Aku berdebar menunggu dia turun dari mobil.


Seseorang turun dari mobil itu. Dan waw Arsy beneran tua ternyata.


Eh itu bukan Arsy, itu Ayah.


Aiisshhh ternyata Arsy masih belum nyampe.


Rasa penasaranku tibatiba hilang. Mood mengintipku sirna begitu saja.


Nanti juga pasti aku ketemu Arsy kan, mending aku tidur siang saja sekarang. Ngantuk.


***


Aku bangun lalu melihat jam.


16:16 Astaghfirullah. Aku belum sholat Ashar.


Aku mandi membersihkan diri. Bergegas karena takut waktu sholat habis.


Selesai sholat aku duduk di balkoni kamar.


Ada banyak mobil di rumah Bunda. Mungkin saudaranya sudah datang.


Setelah lama memandangi rumah sebelah aku merasa ada yang aneh. Kenapa aku merasa tak enak hati ya.


"Arrggghhhhh!" aku berteriak saat melihat ada tawon yang menyengat tanganku. Sakit sekali rasanya, tanganku berdenyut. Aku terjatuh dari kursi dan kursinya malah menimpa tanganku yang sakit tadi. Rasanya pengen menangis.


Ini namanya sudah disengat, jatuh lalu tertimpa kursi.


Ngiungngiungngiung~


Ada beberapa tawon lagi datang. Aku sulit untuk bangun dengan keadaan tanganku yang sakit. Tawontawon itu semakin mendekat lalu menyengat wajahku.


"Papaaa! Papaaaa! Papaaa! Tolong Kakak Papaaaa!" Aku berteriak meminta tolong. Benarbenar sakit rasanya.


Dari mana tawontawon ini muncul ish.


Aku terus berteriak sampai suaraku hampir habis.


Beberapa lama kemudian Papa dan Dafa datang.


"Kakak kenapa?" sayupsayup kudengar suara Papa.


"Sakitttt, Pa!" kataku lemah.


"Ayo kita ke rumah sakit." Dafa mencempungku dan aku tak ingat apaapa lagi.


***


.


.

__ADS_1


"Tenang, Fa! kau jangan ngamuk seperti ini." Kata Intan yang dari tadi berusaha menenangkanku. Mama baru saja keluar untuk memanggil dokter. Maksudku Dafa, karena dia yang merawatku. Sepertinya Intan khawatir karena aku terus berteriak dari tadi makanya Intan menyuruh Mama memanggil Dafa. Aku memang tak bisa tenang setelah melihat keadaanku yang seperti ini. Aku tak terima. Kenapa sekarang? Kenapa begini? Kenapa harus aku?


Pertanyaanpertanyaan yang diucapkan oleh orang yang tak bisa menerima ketentuan takdir. Mungkin aku salah satunya.


"Bagaimana aku bisa tenang? Mukaku dah kayak tomato begini. Bagaimana aku akan menikah nanti?" teriakku lagi.


Wajahku bengkak dan memerah, terdapat bintikbintik juga mungkin bekas sengatan tawon itu. Sementara tanganku diperban karena ada jariku yang retak katanya.


Efek sengatan tawon saja sudah luar biasa sakitnya membuat tanganku bengkak, ditambah ketimpa kursi ya habislah sudah.


Tanpa terasa air mataku menetes. Bagaimana aku akan menikah? Cincin yang kupilih kemarin tak akan bisa kupakai.


Akankah aku batal menikah lagi? Aku tak tahu apa yang akan aku lakukan jika pernikahanku yang ini pun gagal.


Intan memelukku erat lalu mengelus punggungku.


Aku menyembamkan wajahku ke dadanya.


Aku menangis dalam dekapannya, meminta kekuatan darinya.


Tibatiba pintu terbuka. Terdengar banyak suara langkah.


"Syifa, kamu tak apa sayang?"


Bunda! dia terdengar sangat khawatir.


Aku ingin memeluknya, tapi aku malu menunjukkan wajahku padanya.


"Bund. Aku malu bund. Mungkin Arsy sudah tak mau menikahiku lagi kalau melihat wajahku ini," kataku disela isakkan.


"Huss ngawur aja. Jangan bicara seperti itu. Jangan dulu memikirkan pernikahan. Sekarang konsentrasi saja untuk sembuh ya sayang," kata bunda menenangkanku.


Aku sudah tiga kali batal nikah Bund. Bagaimana aku bisa tak mikirin?


"Iya Fa. Sudah ya kamu jangan sedih lagi. Arsy pasti akan tetap menikahimu. Kalau dia tak mau menikahimu, Kakak pastikan dia tak akan bisa makan pake tangan nanti," itu suara Kak Arisya. Dia juga datang.


"Kalau gak pake tangan terus pakai apa?" tanya Intan.


"Ya pakai mulut lah," jawab Kak Arisya. Cihhh ngelawak dia.


"Berhenti menangis. Kenapa adek Abang makin cengeng aja sekarang. Kalau kamu nangis terus Arsy pasti makin gak mau nikahin kamu," ucap Dafa.


Ihh dia mah kalau bicara nyakitin hati.


Aku semakin membenamkan wajahku. Semakin kuat menangis.


"Fa, dengerin aku. Kau tahu kan rukun nikah? Ada calon istri, calon suami, wali, ijab kabul, mahar dan dua orang saksi. Gak perlu wajah cantik tanpa bintik untuk sah menikah," kata Intan lembut.


"Tapi entar aku pasti dikatain. Entar orang bilang 'liat Arsy nikah sama tomato'. Aku malu."


Mereka tibatiba mengekek setelah aku mengucapkan itu. Apanya yang luchu coba. Aku lagi sedih.


"Fa, kau kenapa jadi ngaco begini. Abang Dafa aku mau nanya. Disengat tawon bisa membuat gila ya?" tanya Intan.


Uhh kurang ajar. Ngatain aku gila.


"Sepertinya iya," jawab Dafa.


Semua orang sudah tertawa. Jahat. Dafa yang paling keras tertawa. Awas pokoknya.


"DIAAAMMMMM!" teriakku.


Aku melepaskan pelukanku pada Intan.


Aku melihat semua orang terkejut. Entah karena kaget mendengar aku berteriak atau kaget melihat wajah tomatoku. Entahlah.


DEG


Tibatiba pandanganku fokus pada penampakkan di depanku. Tuhan, makhluk apa ini? Seperti malaikat. Malaikat berTshirt dan memakai celana jeans selutut. Apa ini yang dinamakan malaikat? Dia bersandar pada dinding dengan kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Keren.


Dia tersenyum. Masih ada sisa tawa juga di wajahnya.


Meski mataku kabur karena air mata, tapi kalau melihat makhluk tampan seperti ini pengelihatanku mendadak jelas.


Aku tak mau berkedip, karena setelah aku berkedip jika aku manatapnya lagi pasti aku berdosa.


Apa aku sudah di surga? Tapi tak mungkin ya, soalnya ada Intan. Mana mungkin orang sengklek kayak dia ada di surga. Ehhh tapi memangnya orang sengklek tak boleh masuk surga.


"Tan ...." Aku mencaricari tangan Intan tanpa sedetik pun melarikan pandangan. Kugenggam tangan Intan. "Tan, sepertinya rumah sakit ini bekas istana deh. Karena aku sedang melihat hantu pangeran sekarang," kataku meniru ucapan Intan saat kami baru pindah rumah dulu.


"Syifa, apa kau baikbaik saja?" kata Intan panik. "Hantu apa? Kenapa jadi halu gini sih. Ayah, sepertinya dia dirasuk hantu penunggu pohon mangga yang di depan rumah ayah itu lho. Syifa kan sering melamun di balkoni tiap sore, pohon itu kan tepat di samping balkoni. Sebaiknya kita pangil ustadz saja," sambung Intan.


Kenapa jadi Intan yang gila sekarang. Dia waras atau tidak sebenarnya.


"Gak mungkin, sayang. Ayah selalu do'ain dan siram pohon itu pakai air kembang tujuh rupa tiap malam jum'at kok," jawab Ayah sambil terkekeh.


Hadeuh kenapa ayah malah melayan omongan sengklek Intan.


"Aku tak kena rasuk ish. Aku beneran lihat hantu pangeran. Tuh ... itu hantunya. Kalian liat gak?" kataku sambil menunjuk si Hantu.


Mereka memandang ke arah yang kutunjukkan. Lalu mereka kembali menatapku sambil menggeleng.


"Kalian gak bisa lihat hantunya? mungkin gadis lucu kayak aku aja yang bisa," kataku bangga. Kesedihanku mendadak hilang lihat hantu tampan. "Hey pangeran ... sini. Coba kesini!" arahku padanya agar mendekatiku.


Hantu itu terlihat bingung lalu menunjuk dirinya sendiri.


"Iya kau ish. Memangnya ada berapa hantu di sini? Ayo cepat kesini. Duduk di sini!" kataku sambil menunjuk ke ujung ranjangku.


Dia menghampiriku. Eh tapi kok dia jalannya napak ya. aishhh!

__ADS_1


Sekarang dia sudah duduk di ujung ranjangku.


Sementara yang lain terheranheran, mungkin aneh melihatku karena aku bisa lihat hantu sementara mereka tidak.


"Hey pangeran hantu eh hantu pangeran. Kenapa ya kok cuma aku yang bisa melihatmu?" tanyaku.


Mendadak semua orang tertawa. Mungkin lucu kali ya aku ngomong sendiri. Bodo amat.


"Hmm kenapa ya. Mungkin karena kamu luchun," jawabnya.


Aww suaranya kok tak asing ya.


"Pangeran, suaramu itu kok mirip banget sama Aaaa .... "


Aku langsung menekup mulutku.


Tak mungkin!


Aku memandang Intan. Kami seolah bisa bicara lewat telepati. Sepertinya Intan paham maksud pandanganku. Intan tersenyum lalu mengerakgerakan satu alisnya ke atas.


"Mirip siapa?" tanya si hantu itu sambil tersenyum.


Ya Tuhaannn!


Dadaku berdebar.


Aku menekup mukaku dengan kedua tangan.


Aisshhh aku lupa tanganku sedang sakit. Kuturunkan kembali tanganku lalu kularikan pandanganku dari wajahnya.


"Calon suami sendiri pun kamu kira hantu. Anak siapalah ini," kata Mama menggelenggelengkan kepala.


"Anak Mama lah!" jawabku lemah sambil menunduk.


Aku malu!


Mana kutahu kalau ternyata dia Arsy.


Sekarang dia benarbenar ada di depan mataku.


Orang yang membuatku jatuh cinta tanpa sekali pun aku melihat wajahnya.


Orang yang kurindui dalam diam.


Orang yang membuatku berdebar meski hanya dengan menyebut namanya saja.


Orang yang selalu berhasil membuatku melakukan hal memalukan di depannya.


Sekarang dia disini.


Bukan hanya imaji lagi, dia nyata.


"Calon suami sendiri pun tak kenal. Dasar!" ejek Dafa.


"Mana kutahu kalau dia itu Arsy, Abang! lagi pun kupikir Arsy itu tua, nah yang ini terlihat muda dan tampan. Bahkan lebih tampan dari Abang," balasku tanpa segan silu.


Dafa mencebik geram.


Ehh barusan aku memuji Arsy ya?


Kulirik dia dengan ekor mataku. Sah dia tersenyum.


Memalukan!


"Syifa, mukamu makin merah. Haha Bagaimana perasaanmu setelah bertemu dengan Arsy, Fa? Arsy ternyata tampan ya," kata Kak Arisya sengaja menggodaku.


Aku memandangnya geram.


Tanpa sengaja aku terpandang Arsy. Dia sedang menatapku.


"Abang jangan pandang anak dara orang kayak gitu. Kita bukan mahram," kataku menutup malu.


"Ah iya. Rasanya Abang jadi tak sabar pengen segera menikah dengan TOMATO ini," katanya dengan menekankan perkataan Tomato itu. Ish


"Sudahlah jangan ganggu Syifa lagi. Dia masih sakit. Sebaiknya sekarang kita sholat maghrib dulu. Biarkan dia istirahat," kata Bunda pada kedua anaknya.


Semua orang pun pamit pergi untuk sholat. Tersisa Mama dan Papa.


Papa menghampiriku, mengelus kepalaku, lalu memelukku erat.


"Papa okay?" tanyaku. Aku baru sadar kalau dari tadi Papa banyak diam.


"Papa takut sekali tadi. Papa takut saat melihat Kakak kesakitan seperti tadi. Ini pertama kalinya Kakak seperti itu di depan Papa. Papa takut tak sempat menikahkan Kakak. Papa takut Kakak ninggalin Papa," kata Papa sayu.


"Maaf buat Papa khawatir. Kakak baikbaik aja, Pa. Kakak sayang Papa!" luahku.


"Hmm ayo sebaiknya kita sholat dulu. Mama bantu kamu ambil wudhlu ya sayang," kata Mama.


Aku mengangguk.


Aku dan Mama sholat berimamkan Papa. Aku sholat di atas ranjang karena kondisiku yang seperti ini.


Aku merasa terharu sekarang. Sebentar lagi aku akan menikah. Bukan tanggung jawab Mama dan Papa lagi.


Menikah ... Apakah aku akan menikah?


***


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2