
***
Ayah, Bunda dan Intan datang kembali setelah selesai sholat maghrib.
"Yang lain kemana?" tanyaku.
"Oh tadi Arisya pulang duluan. Khawatir ninggalin Ichad lamalama di rumah katanya. Dafa nganterin dia," jawab Bunda.
"Oh gitu," kataku tersenyum.
Arsy? Dia kemana? Aku mau bertanya tapi segan. Apa dia pulang juga? Kok aku sedih ya dia tak menemuiku dulu. Padahal kami baru saja bertemu.
Apa dia jadi ilfeel ya setelah melihat keadaanku.
Ish masa iya. Tapi mungkin juga sih.
Setelah mengobrol cukup lama,
Ayah dan Bunda kemudian mengajak Mama dan Papa untuk makan. Mereka memang belum makan apaapa karena sibuk mengkhawatirkanku. Awalnya Papa tak mau meninggalkanku. Setelah dipaksa akhirnya dia pergi juga.
Aku hanya ditemani Intan.
Dia langsung naik ke tempat tidurku setelah kami hanya tinggal berdua. Dia duduk dengan melipat kakinya di atas kasur. Tak senonoh betul anak ini.
"Hey Fa. Bagaimana perasaanmu setelah melihat Abang Arsy tadi?" tanyanya.
"Biasa saja."
"Dihhh dustaaaaa."
"Aku malu lah sludud. Pake nanya lagi ish," kataku lalu meluku kepalanya.
"Antibiotik, kau amat tidak sopan sekali memukul kepalaku. Sakit tahu. Kalau aku hilang ingatan gimana?" kata Intan sambil mengelus kepalanya.
"Drama!" Cebikku. "Eh Tan, kalau mukaku masih bengkak pas akad gimana ya?" tanyaku sedih.
"Pakai cadar saja."
"Apa gak aneh tibatiba aku pakai cadar begitu?"
Intan menjungkitkan bahu. Ish anak ini.
"Fa, kalau nanti kau belum sembuh juga pas hari pernikahan, biar aku aja yang wakilin jadi pengantin wanitanya. Gimana?"
"Kau mau mati?" tanyaku menjelingnya tajam.
Enak saja. Arsy itu aku punya.
"Hahah habis Abang Arsy ganteng. Aku mau jadi madumu, Fa."
"Gila!"
Drrrkkkk!
Tibatiba pintu terbuka. Kami langsung terdiam.
"Hay!" katanya lalu menghampiri kami. Dia meletakan sesuatu di depan kami. "Brownies cokelat untuk kalian. Makanlah!" Katanya lagi.
Dia kemudian duduk di kursi di samping tempat tidurku. Tubuhnya disandarkan ke belakang kursi. Tangannya disilangkan dilipat depan dada. Sok cool. Tapi memang cool sih. Hanya duduk diam begitu saja sudah membuatku jatuh cinta.
Astaghfirullah. Haraammm Syifa!
"Aaa ... ab ... abang belum pulang?" tanyaku. Gagapku kumat.
Dia menggeleng.
"Aku buka ya bang," kata Intan lalu membuka bungkus browniesnya. "Wahhh kayaknya enak nih. Aku makan gpp ya." Intan lalu makan dengan berselera.
Sepertinya dia lapar sekali.
Dia sama sekali tak peduli dengan kami yang memandangnya. Okay bukan 'kami' tapi aku. Karena Arsy sepertinya hanya memandangiku saja.
Ini bukan case aku perasan atau apa ya. Tapi serius, Arsy dari tadi sepertinya menatapku terus. Dia tak tahu apa kalau aku malu digituin.
"Kamu gak makan?" tanyanya.
"Hah apa?"
Aku mengangkat wajahku memandangnya.
"Melamun!" katanya sambil tersenyum.
"Dia mau abang suapin mungkin," celetuk Intan.
"Ish kau ini. Asal jeplak aja. Dan jangan bicara dengan mulut penuh begitu. Muncrat tau makananmu," kataku geram.
"Mau abang suapin?" tanya Arsy.
"Tak usah. Abang jangan ikut sengklek kayak Intan juga," jawabku.
"Kalau gitu ayo makan. Kamu belum makan apaapa sejak tadi. Kalau gak mau makan entar kamu tambah sakit gimana? Mau dibatalin nikahnya?"
"Ehh enggakenggakenggak. Aku bukannya tak mau makan. Tangan kananku kan kayak gini, jadi aku ragu untuk makan pakai tangan kiri," jawabku lemah.
Asry dan Intan sepertinya terkejut. Mereka kenapa? Aishhh!
"Ish aku lupa tanganmu luka. Maaf Fa, tadi aku makan sendiri. Ayo aku suapin," kata Intan sambil menyuakan brownies ke mulutku.
Aku dan Intan sering saling mengatangatai tapi kami menyayangi satu sama lain.
"Timekaciihhh!"
"Nanti kalau dah nikah, suamimu yang akan melakukan ini." Intan melirik Arsy yang hanya menjadi pemerhati kami.
Aku langsung blushing mendengar perkataan Intan itu. Ish dia ini.
Aku pun makan dengan disuapi Intan. Enak sekali. Mungkin karena ini dari Arsy makanya terasa enak. Bukan karena disuapi Intan makanya enak? Tentu saja bukan, tak mungkin!
"Abang senang bisa bertemu denganmu," kata Arsy membuatku berhenti mengunyah.
"Sudah lama Abang ingin menemuimu. Tapi tak bisa. Selain karena permintaan Kakek, Abang pun merasa malu untuk menemuimu. Abang takut kamu jadi berubah pikiran setelah melihat Abang. Kamu kan masih muda, sementara abang ini kan tua. Sebenarnya Abang sedih mengetahui kamu di bawa ke rumah sakit tadi, tapi sekarang Abang senang karena dengan ini kita bisa bertemu. Tapi kamu jangan salah paham, bukannya Abang bahagia melihatmu sakit seperti ini. Hmm dan untuk pernikahan kita kamu tak usah khawatir. Abang akan tetap menikahimu. InsyaAllah!" tambahnya.
Terharu sekali aku mendengarnya. Bolehkah aku merasa lega sekarang?
Uhh kenapa pertemuan pertama kami harus dalam keadaan seperti ini.
__ADS_1
Aku juga senang bertemu denganmu Abang. Ingin rasanya aku mengatakan itu padanya. Tapi aku masih malu.
Aku hanya bisa diam. Menjawab luahannya dengan sepi. Maafkan aku.
"Eh kamu mau minum? Biar Abang ambilkan," tawarnya memecah kebisuan kami.
"Tak usah Abang," kataku segan.
"Erk Abang dah makan?" tanyaku melepas gugup.
Dia menggeleng.
"Nyuruh kita makan tapi dia sendiri enggak," gerutuku.
"Pulang dari sini nanti Abang makan," jawabnya masih dengan senyuman.
Dia ini murah senyum sekali.
Cairrr aku Bang, jangan senyum kayak gitu.
"Assalaamu'alaikum!"
Orangtua kami datang.
"wa'alaikumussalaam!" jawab kami bertiga.
"Eh Arsy, Bunda pikir kamu pulang," kata Bunda yang sepertinya kaget melihat Arsy.
"Bentar lagi Arsy pulang Bund," jawabnya dengan enggan.
Kok sedih ya mendengar dia akan pulang. Tapi tak mungkin juga dia menginap kan.
Ish virus merah jambu ini membuatku jadi gila kayaknya.
Mengadangada pengen Arsy tetap tinggal disini. Aisshhh Yaa Allah ampuni aku.
"Harusnya calon pengantin ini tak boleh ketemu dulu. Biar surprise nanti pas ketemu di hari pernikahan. Biar makin rindu juga," kata Bunda lagi.
Rindu ya? Dia belum pergi aja aku sudah rindu. Tak ketemu beberapa hari pasti rinduku menggunung.
"Tadinya juga Arsy tak Bunda izinkan nengok kamu Fa. Tapi dia panik banget kayak orang kehilangan istri saat kamu dibawa ke rumah sakit. Memohonmohon pengen liat kamu," sambung Bunda.
Wutssss? Arsy segitunya. Duhh makin terharu aku. Aku lihat dia yang sudah menunduk. Malu mungkin. Pertama kalinya aku lihat dia malu kayak gitu. Biasanya dia yang bikin aku malu.
Btw, orang yang kehilangan istri itu kayak gimana? Aku belum pernah lihat. Bunda kalau kasih analogi harusnya yang aku tahu saja ish.
"Bunda kayak gak tau anak muda jatuh cinta aja," sampuk Intan.
Bunda hanya menggelengkan kepala.
***
.
.
Setelah mendapat jaminan dari Dafa akhirnya aku bisa keluar dari rumah sakit. Hari ini aku dan keluargaku akan langsung pulang ke rumah lama kami untuk mempersiapkan pengajian.
Barangbarang kami sudah diambil Dafa semalam, jadi kami tinggal berangkat saja.
Aku pun masuk ke mobil dibantu Intan. Duduk di kursi belakang bersama Intan dan Mama. Papa di kursi depan mendampingi Dafa yang menyetir.
Semalam sebelum Arsy dan orangtuanya pulang, dia bilang akan datang lagi kesini mengantarku pergi. Tapi dia tak datangdatang. Aku kecewa.
Drrtttdrrrtttdrttt!
HP ku bergetar.
'Hatihati di jalan.'
Dari Arsy.
Uhh aku malas untuk membalas.
Lebih baik aku tidur saja daripada melayan perasaan seperti ini.
***
Sampai di rumah kami disambut oleh seluruh keluarga besarku.
Mereka khawatir sekali dengan keadaanku. Bahkan tanteku yang bernama Nita tak hentihentinya menangis. Aishhhh!
Aku dan Intan menempati kamar tamu. Banyak yang datang menjengukku, naya kalau mereka masuk kamarku nanti.
Setelah para oom dan tanteku pergi mempersiapkan pengajian, tersisalah tiga orang sepupu iparku(?). Maksudnya istri dari sepupuku. Mereka kan nikah muda juga, jadi umurnya tak jauh beda denganku.
Mereka bisa langsung akrab dengan Intan. Intan ini pintar membawa diri, jadi kehadirannya mudah diterima.
Dari tadi mereka sibuk bicarain Arsy yang katanya tampan.
Dasar wanita, kalau dah kumpul pasti salah satu yang dibicarain adalah pria.
Suami sendiri dilupain. Nasibmu lah Abangabang sepupu, punya istri begini. Hahah! Ups jahat sekali mulutku.
"Ada fotonya gak? Gak asik ah cuma aku aja yang belum liat," kata Zahra sambil memuncungkan mulutnya.
Aku lupa, Zahra ini dari tadi plengakplengok karena dia belum pernah melihat Arsy. Dia memang tak tinggal di sini. Jadi waktu Arsy datang untuk minta restu Kakek dia tak bisa lihat. Kasian.
Padahal kalau bukan karena sakit aku pun tak mungkin bisa melihat Arsy sih. Haha!
"Jangan liat Ra. Nanti kau mendadak mau jadi maduku kayak cewekcewek ini," kataku melirik Intan, Desy dan Aisyah yang sedang terkekeh.
"Setampan itukah dia?" tanya Zahra makin penasaran.
Hadeuh. Lihat sajalah nanti!
***
D-Day!
Dari semalam aku tak bisa tidur. Aku berdebar sekali.
Ini harinya. Aku takut.
Intan membantuku memakai baju pengantin. Tanganku belum pulih masih diperban.
__ADS_1
Wajahku juga masih bengkak sedikit, cuma sudah tak merah lagi.
"Anak Mama cantik sekali," puji Mama.
"Cantik kayak Tomato ya Ma," timpal Intan.
Sepupuku sudah mengikik mendengar lawakan tak lucu Intan itu. Dasar.
Aku sekarang sedang duduk di kamar ditemani Intan, Mama dan sepupu iparku.
Sudah jam berapa ini. Kenapa belum dimulai juga akad nikahnya. Apa Arsy tak akan datang? Rasanya sudah lebih dari sejam dari jadwal yang seharusnya, tapi keluarga Arsy belum sampai juga. Sepupuku sudah pada keluar untuk melihat apakah Arsy sudah datang atau belum.
"Dia akan datang kan Tan?" tanyaku pada Intan.
"Kau tenang saja dia pasti datang," jawab Intan berusaha menenangkan.
Aku semakin tak enak hati. Tak senang duduk.
Perasaan apakah ini? Apa aku akan batal menikah lagi?
Rasanya ingin menangis.
Apa Arsy marah karena semalam aku tak balas chatnya? Sejak kejadian dia tak datang ke RS itu dia beberapa kali chat aku, tapi tak ada satu pun yang aku balas.
Semalam dia chat lagi dan aku pun tak balas lagi.
Habis chat nya ngeselin.
Dia nanya apa aku serius bersedia menikah denganya. Kalau aku belum siap menikah dengannya sebaiknya tak usah memaksakan diri.
Apa maksudnya coba? Bukankah selama ini dia tahu aku memang sangat ingin pernikahan ini terjadi. Bahkan tadi ketika penghulu mempertanyakan apa aku bersedia atau tidak, aku sudah menjawab iya.
Wait apa Arsy menganggap aku ingin menikahinya untuk menepis kutukan batal nikah yang sering kualami?
Apa dia tak tahu kalau aku ingin menikahi dengannya karena aku sudah jatuh cinta padanya?
Mamaa, bagaimana kalau Arsy berpikiran seperti itu.
"Syifaaa!" Desy berlari memelukku.
Dia menangis.
"Kenapa? Ada apa?" tanyaku khawatir.
Desy melerai pelukan lalu memperlihatkan sebuah video padaku.
Yaa Rabb!
Aku menekup mulutku tak percaya.
Aku memandangnya. Dia mengangguk sambil menyeka air matanya.
Lalu dia mendekat lagi dan menyeka air mataku yang tak ku tak sadari telah membasahi pipi.
***
"Saya terima nikahnya Asyifa Zulmaniar Wirlandi binti Adri Wirlandi dengan mas kawin ...."
Terdengar suara riuh orang mengucapkan hamdallah setelah Arsy selesai mengucap akad dengan sekali lafadz itu. Lancar tanpa pengulangan.
Aku melihat itu dari rekaman video di ponsel Desy.
"Selamat. Kau sudah jadi istri orang sekarang," ucap Desy lalu memelukku lagi.
Akad nikah memang dilakukan di ruang tengah rumahku, sementara aku menunggu di kamar.
Tapi mustahil aku tak mendengar apaapa. Sekarang tibatiba aku sudah menikah. Kalau tak melihat video itu mungkin aku masih tak percaya.
Kulihat Mama dan Intan juga saling berpelukan. Mereka juga menangis tapi jelas kalau mereka bahagia. Air mataku juga tak bisa kutahan lagi.
Lalu mereka menghampiriku dan memelukku bergantian.
"Selamat sayang. Jadi istri sholehah ya Nak!" ucap Mama lalu mengecup kepalaku lama.
"Selamat my sistaaa. Akhirnya kutukan gagal nikahmu berakhir. Jangan sengklek lagi ya," kata Intan disela isak tangisnya.
Kurang ajar dia, lalu aku memeluknya erat.
"Tapi kapan aku menikah? Bukankah Arsy belum sampai, kenapa tibatiba dia sudah melafadzkan akad?" tanyaku blur. Ini udah pada ngasih selamat tapi aku gak sadar kapan nikahnya meski dah jelas di rekaman video itu aku sudah sah jadi istri Arsy.
"Terjadi sesuatu di jalan makanya mereka terlambat. Mereka sudah lama sampai juga, pas sampai langsung dilaksanakan akad nikah dan Arsy sekarang ke mesjid untuk sholat sunat sekalian sujud syukur. Memangnya kau tak dengar suara riuh tadi?" terang Desy.
Aku menggeleng.
Aku memang tak mendengar apapun. Pikiranku ini dipenuhi kemungkinankemungkinan negatif.
Aku istri Arsy sekarang? Aku telah menikah?
Yaa Allah. Subhanallah walhamdulillah walaailaahailallah wallahuakbar.
Terimakasih Yaa Allah.
Lalu Zahra datang bersama tanteku. Mereka memberi selamat padaku.
"Fa, jadikan aku madumu!" bisik Zahra sebelum melepas pelukan kami.
Gila!
Aku baru menikah oyy. Belum nyicipi manisnya pernikahan tapi dah banyak yang menawarkan madu. Aisshhhh!
"Syifa, sudah waktunya keluar. Ayo sayang!" kata Tante Nita.
Aku memegang tangan Mama. Gugup!
"Tak usah khawatir sayang," ucap Mama sambil merapikan riasanku.
Mama dan Intan membantuku berdiri.
Mereka mengapitku keluar.
"Bismillah!"
***
Bersambung.
__ADS_1