
***
Arsy memberhentikan mobil di depan sebuah kafe.
Kupikir kami akan langsung pulang.
"Gak mau turun?" tanyanya.
"Aku mau pulang!"
Arsy membuka sabuk pengamannya, menyandarkan punggung di jok mobil, lalu melipat kedua tangan di dada.
"Tak ada yang membuat Abang berdebar," katanya tibatiba.
Aku menatapnya, dia sedang memandang orang yang sedang berlalu lalang.
"Maksud Abang?" tanyaku tak mengerti.
"Dari semua orang yang lewat itu tak ada satu pun yang membuat hati Abang berdebar."
"Itu karena mereka hanya berjalan biasa saja. Bukan sengaja menarik perhatian Abang."
"Kamu tahu, selama ini banyak yang sudah melakukan halhal aneh untuk menarik perhatian Abang. Mengirimi Abang makanan, mengirimi ucapan manis, memberikan Abang hadiah, memberikan Abang perhatian, tampil seksi di depan Abang, bahkan mengirim foto topless pada Abang." Dia tersenyum saat mengatakan yang terakhir itu, ish lagi ngebayangin pasti. Lagian masa iya sampai segitunya untuk menarik perhatian. "Tapi tetap tak membuat hati Abang berdebar sama sekali," sambungnya.
"Lalluuu?"
Aku tak paham maksud dia ngomong kayak gitu itu biar apa.
Dia memandangku, "kamu berbeda. Kamu selalu membuat Abang berdebar, bahkan saat kamu sedang diam tak melakukan apapun. Meski kamu tak sedang menarik perhatian Abang, tapi entah kenapa selalu membuat Abang tertarik ingin terus melihatmu. Hanya mendengar namamu saja sudah membuat Abang tak karuan. Hanya mendengar cerita tentangmu saja sudah membuat Abang langsung ingin pergi melamar," ucapnya tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan dariku.
"Gombal. Sweettalker!" gumamku. Itu sama sekali tak menjawab tentang siapa Shara, apa hubungannya dengan Shara.
"Kamu belum mengerti? Hey dengar sini. Jika Shara bisa membuat hati Abang berdebar mungkin sudah dari dulu Abang pergi melamarnya. Paham? Abang tak merasakan hal yang selalu Abang rasakan saat bersamamu ketika dengannya," jelasnya. Tapi aku masih belum puas.
"Kalau Abang tak memberikan harapan tak mungkin Ummi Kak Shara berharap pada Abang," balasku sambil manyun.
"Ummi Shara salah paham. Abang memang pernah ke rumahnya. Itu pun hanya beberapa kali saja karena ada urusan pekerjaan dan Abang bersama teman Abang kesananya. Kami memang kerja di tempat yang sama, tapi bukan berarti kami selalu bersama."
"Kak Shara suka pada Abang," kataku sambil mengigit bibir. Uhh mengetahui itu saja sudah membuatku sesak.
"Tapi Abang tidak."
Dia mendekat, melepaskan sabuk pengamanku lalu memelukku erat.
Aku menangis di pelukkannya. Kenapa aku jadi cengeng Tuhan? Hanya masalah kecil pun.
"Aku tak suka mengetahui ada cewek lain yang mengharapkan Abang," ucapku.
"Abang tahu!" jawabnya sambil mengelus punggungku.
"Aku takut Abang akan berpaling."
"InsyaAllah tidak."
"Aku cemburu."
"Sudah seharusnya."
"Aku lapar!"
"Makan lah."
"Maunya makan Abang aja. Boleh?"
Dia melepaskan pelukan lalu mengerutkan kening menatapku.
"Boleh," katanya sambil tersenyum.
Aku menggigit pipinya.
"Awww. Hey Abang becanda. Kenapa menggigit Abang?"
"Ngasih lovebite," jawabku sambil menjulurkan lidah. "Biar orang tahu kalau Abang itu Syifa punya."
Arsy mencubit pipiku.
"Sakit!" aku merengek. Padahal tak sesakit gigitanku tadi sepertinya. Sengaja pengen manja pada Arsy.
Dia mengelus lembut pipiku.
Aku berharap kebahagiaan ini akan terus menyertai kami. Aku berharap bisa membuat moment ini abadi. Aku menggenggam erat cincin pernikahan kami yang ada di kalungku, yang kuharap bisa merekam semua kenangan indah kami.
Huft aku tak bisa terlalu lama kesal pada Arsy. Sekarang sebanyak apapun yang mencintainya, menginginkannya, aku sudah tak terlalu khawatir lagi. Karena saat ini Arsy hanya akan memandangku saja.
Nanti? Entahlah! Arsy lelaki. Mungkin dia akan goyah suatu hari nanti. Tapi aku tak akan membiarkannya berpaling dariku.
__ADS_1
Bolehkah aku egois? Arsy hanya milikku. Aku tak bisa berbagi dengan wanita lain.
"Jadi akhirnya kamu tahu pekerjaan Abang juga ya. Cepat banget ketahuannya,"
katanya sambil menyandarkan diri lagi.
"Ya. Aku bahkan sudah tahu sejak pagi tadi."
Dia memandangku tak percaya. Lalu menarik kepalaku bersandar di pundaknya.
Kencan macam apa ini, duduk dalam mobil di parkiran memandangi orang lalu lalang.
***
Kemarin kuhabiskan seharian kencan bersama Arsy. Hari ini dia sudah mulai bekerja lagi.
Sejauh ini kehidupanku sebelum dan setelah menikah tak banyak bedanya. Tak banyak yang berubah. Lebih tepatnya belum!
Sampai saat ini Arsy tak merungut apapun padaku. Dia tak menuntut apaapa dariku. Hanya saja mungkin sekarang aku harus membiasakan diri dengan sikap manja Arsy yang tak kenal tempat itu. Di depan orangtua kami pun dia selalu ingin bermanja denganku.
Suami siapalah itu. Aishhh!
Saat ini rumah sepi banget, hanya ada aku dan Intan.
Semua orang pergi kerja, termasuk Mama. Dia memang suka ke toko bunganya Bunda. Katanya bosan di rumah terus jadi lebih baik bantu dagang bunga katanya, huft sukasuka Mama saja lah ya.
Aku memanfaatkan kesempatan ini untuk belajar memasak pada Intan. Perban di tanganku sudah Arsy lepas tadi pagi, katanya aku bentar lagi sembuh hanya jangan angkatangkat dulu atau menggenggam sesuatu terlalu erat.
"Eits stop! Jangan masukkin dulu sayurnya, Fa," kata Intan saat aku sedang belajar membuat sup sayur bening.
"Kamu masukkin dagingnya dulu. Kalau sayurnya dulu entar dagingnya gak mateng. Atau malah sayurnya over cook karena nunggu daging mateng. Paham?"
"Iyaiya paham."
Aish aku pikir masak beginian tinggal masukmasukin semua bahan saja, ternyata ada urutannya.
Setelah mengikuti semua arahan Intan akhirnya sup buatanku jadi juga.
"Cihhh." Intan melepeh makananku. "Terlalu banyak micin Fa. Kau mau membuatku bodoh? Sudah kubilang tak usah pake micin aja ish."
Intan ini sebenarnya anti micin, entah kenapa dia ini musuhan banget sama micin. Mungkin karena dia kalah putih dari micin. Wkwk eh ini bukan rasis ya.
"Emang iya ya micin itu bisa buat kita jadi bodoh? Coba setelah ini kau makan garam yang banyak, aku baca artikel katanya mengkonsumsi garam bisa membuat kita cerdas," balasku polos.
"Sengklek!" ucapnya sambil memakan lagi sup buatanku.
"Laper."
"Hadeuh. Lagian tadi sarapan dikit banget kenapa? sok chanteek."
"Liat muka dingin Dafa jadi kenyang banget aku tadi. Susah sekali dia bersikap manis padaku. Mungkin karena aku sudah sangat manis makanya dia tak mau bermanis muka padaku karena takut aku kena penyakit gula," kata Intan sambil terus makan.
Makin sengklek saja dia, apa garagara micin? Masa sih.
"Halu! Kau tahu benar kan Dafa itu memang kayak gitu. Lagian bukannya kau sudah give up ya sama dia?"
"Aku gak bisa menahan diriku, Fa. Aku memang mau menyerah, terlebih setelah melihat kedekatannya dengan Kak Arisya. Sikapnya ke Kak Arisya dan padaku sangat berbeda sekali. Dia tak menyukaiku. Aku tahu itu. Bahkan dia sudah mengatakannya berulang kali. Aku bukan alien, aku mengerti setiap kata yang dia ucapkan. Aku juga tak bodoh untuk menilai kalau Dafa terlihat risi padaku. Tapi aku tetap saja tak bisa menahan diri untuk terus menunjukkan rasa sukaku padanya. Aku egois ya Fa? Kak Arisya dan Dafa, mereka sangat sepadan. Harusnya aku tak mengganggu hubungan mereka." Dia berkata sambil tersenyum seolah semuanya baikbaik saja. "Bagaimana ini, cintaku akan kandas sebelum terbalas. Sepertinya aku harus mempertimbangkan si Rendy mantanmu itu. Dia cakep juga kok. Haha!"
Dia sudah kembali ke mode ceria. Intan ini memang tipe orang yang tak suka memperlihatkan kesedihannya.
"Hey dia bukan mantanku," balasku purapura marah. Tak purapura juga sih. Aku memang tak suka kalau Intan atau siapapun menyebut Rendy sebagai mantanku. Lagian kapan kami putus. Eh tapi memangnya kami sudah jadian? enggak juga.
Ngaco Syifa!
"Tak mau mengakui. Ish ish ish. Eh tapi Fa bentar lagi kan kita KKN. Katanya di KKN banyak yang cinlok gitu, apa aku nyari cowok pas KKN aja ya entar. Mudahmudahan di kelompokku ada yang cakep," katanya dengan muka penuh harap.
"Yang cakep aja yang kau pikirin. Cakep juga percuma kalau dah punya kekasih. Yang ada entar cintamu malah akan lenyap sebelum terucap," ucapku.
"Dan musnah sebelum terluah," tambahnya.
Aikkk dasar.
Seperti biasa setelah itu ujungnya kami tertawa bersama. Apa yang ditertawakan? Entahlah. Kami bahkan jarang mengerti apa yang kami katakan. Jadi apa yang kami tertawakan pun tak pasti apa. Aneh? Whatever. Yang penting kami bahagia.
***
"Besok mau ke kampus jam berapa?" tanya Arsy saat kami sedang berkumpul di ruang TV.
Mama dan Papa baru saja masuk kamar, tidur duluan katanya.
Aku memandang Intan minta jawaban.
"Kayaknya pagipagi aja deh. Soalnya takut berdesakdesakkan nyari kelompoknya," jawab Intan.
Besok kami akan melihat pembagian kelompok KKN. Mudahmudahan aku satu kelompok dengan Intan.
__ADS_1
"Kalau gitu besok Abang antar kalian mau?" tawar Arsy.
"Tak usah tak apa. Kita naik motor aja macam biasa. Lagian kalau Abang yang anter nanti pulangnya gimana? Abang kan kerja gak mungkin jemput," jawabku.
"Kalian telepon Abang aja, nanti Abang yang jemput. Besok kayaknya Abang half day kerjanya," timpal Dafa.
Aishhh tumben sekali dia mau menjemput kami.
"Awas lho kalau nanti Abang menggerutu, kami repotin Abang lah, buang waktu Abang lah dan blablabla," ucap Intan memperingatkan.
Dafa ini memang bukan boleh dipercaya sangat. Terakhir saja waktu menjemput kami saat motor Intan mogok dia menggerutu. Mulutnya ngalahin emakemak saja. Sejak itu kami malas nyuruh Dafa jemput.
"Iya bawel. Harusnya kalian bersyukur Abang mau jemput."
"Nah kan belum apaapa aja Abang dah begitu. Lebih baik gak usah kalau gak ikhlas," balas Intan.
"Terserah kalian saja lah."
"Dihh ngambekan kayak cewek PMS."
"Whatever!" Dafa memfokuskan matanya ke TV.
"Abang makin cakep kalau ngambek," goda Intan.
"Aku memang pantang jelek!" jawab Dafa pede.
"I love you Abang."
"Love you too."
ERRRRKKK!
Intan memandangku, aku memandangnya.
Ini kami tak salah dengar kan? Dafa bilang I Love you too ke Intan? Seriusan?
"Kalian kenapa? tumben senyap," tanya Dafa.
"Abang said love you too ke Intan. Serius?" tanyaku tak percaya.
"Hahah kalian pikir serius ya? Becanda doang. Sengaja pengen buat anak itu baper," katanya sambil melirik Intan.
"Jahat sekali Abang. Abang kan tahu benar perasaan Intan ke Abang gimana," kataku marah. Malah aku yang kesal sekarang.
"Hah syukurlah," ucap Intan tibatiba.
"Hey kenapa bersyukur?" tanyaku heran.
"Aku pikir Abang Dafa kerasukan tadi," jawab Intan sambil tertawa. Sekarang malah kulihat Intan yang seperti kerasukan.
"Oyy hatihati kalau bicara," kata Dafa marah.
Kami pun diam lagi.
"Huh ternyata tak terpengaruh ya," gumam Dafa tapi masih bisa jelas kudengar.
Aku memandang Intan yang sedang memandangi TV. Aku gak yakin dia sedang menonton soalnya.
Bohong banget kalau Intan gak ngerasain something saat Dafa bilang itu tadi. Aku yakin dia pasti setidaknya merasakan sesuatu.
Dafa harusnya tak mempermainkan perasaan Intan. Meskipun hanya mainmain harusnya Dafa tak mengatakan hal itu, karena perasaan Intan pada Dafa tak sebercanda itu.
"Sudah malam. Aku masuk kamar dulu," kata Dafa seraya bangun lalu pergi ke kamarnya.
"Uhh yaudah kalau gitu aku juga ke kamar," ucap Intan lalu pergi seperti Dafa.
"Kamu gak ngantuk?" tanya Arsy.
Aishhh aku lupa kalau ada Arsy.
"Ehh belum," jawabku.
Aku mendekatkan diri ke Arsy.
"Hmm Abang."
"Iya?"
"Jangan bilang ke Kak Arisya apa yang kami obrolkan barusan ya. Tentang perasaan Intan ke Abang Dafa."
"Abang gak ikut campur. Itu urusan mereka," jawab Arsy.
Fiuhhh aku lega. Takut juga kalau sampai Kak Arisya tahu. Padahal dia dekat banget sama Intan. Masa garagara Dafa nanti dia dan Intan jadi musuhan. Kan gak luchu.
***
__ADS_1
Bersambung.