Nikah Muda (?)

Nikah Muda (?)
15. Dating!


__ADS_3

***


Pagi ini, bangun tidur dengan status sebagai pacarnya Arsy. Kenapa aku degdegan hanya dengan mengingatnya.


Seumur hidupku baru kali ini punya pacar. Rasanya aneh sekali.


Pacar? Aku punya pacar.


Luchu sekali.


Bahkan saat aku jadi isterinya aku tak seaneh sekarang.


Mungkin karena sejak kecil aku sudah tahu bahwa saat aku dewasa aku akan menjadi isteri orang, sedangkan untuk jadi pacar orang? Tak pernah terpikir olehku. Tak pernah kubayangkan juga.


Kalian mungkin berpikir, apa anehnya sih? Bukannya banyak orang yang sering menggunakan istilah pacaran setelah menikah? Ya memang, tapi jarang suami yang bilang secara langsung 'jadilah pacarku' atau 'ayo kita pacaran!' seperti yang Arsy lakukan padaku.


"Woyyy!" sergah Dafa.


"Astaghfirullah! Abang mengagetkanku saja," kataku sambil mengelus dada.


"Kamu senyumsenyum sendiri kenapa?"


"Mana ada!"


"Alah gak ngaku. Ini kamu pagipagi dah nongkrong di sini sebenarnya lagi ngapain?" tanyanya.


"Nyari udara segar!" jawabku.


Aku sekarang sedang duduk di bangku di halaman belakang. Seperti biasa, aku gak ada gunanya di dapur. Jadi aku mending duduk di sini saja, sekalian menulis 'sesuatu'.


"Bang Arsy kemana?"


"Abang? Kenapa manggil dia 'abang'? sok muda sekali."


"Abang ini kan seumuran Arisya. Berarti tuaan dia kan?"


Aku lupa! Habis Arsy keliatan muda banget sih.


"Iyaiya. Dia olahraga pagi sama Papa. Jalanjalan sekitar rumah kayaknya."


"Kenapa gak ikut?"


"Malas!" jawabku pendek.


Dafa nanya mulu ish. Kayak Intan. Cocok banget tuh mereka.


Eh Dafa kan ada Kak Arisya. Tapi kan belum tentu juga mereka akan nikah. Ahh tapi kemungkinan untuk nikahnya tinggi.


Lagian kalau Dafa sama Intan duaduanya tukang tanya gini entar siapa yang jadi tukang jawabnya kan.


Duh apa sih yang kupikirkan.


"Eh ini apa?" tibatiba Dafa mengambil buku kecilku.


Aissshhh amposampos.


"Kembalikan!" teriakku sambiil mencoba mengambil kembali bukuku, tapi Dafa lebih cekatan. Pandai sekali mengelak.


"HALHAL YANG DILAKUKAN ORANG PACARAN! satu kencan, dua ...."


Dafa membaca tulisan di buku dengan keras. Ketahuan aku!


"Apa ini?" tanyanya.


"Ehh ... itu ... erm jadi gini, temanku akhirakhir ini kelakuannya aneh banget. Aku curiga dia sedang pacaran. Untuk memastikannya, aku nyari tahu kebiasaankebiasaan orang pacaran gitu," jawabku panjang kali lebar plus banyak bohongnya. Bukan banyak sih, emang bohong semua. Wkwk


"Temanmu yang mana?" kata Dafa dengan wajah tegang. "Iiii ... iinnn ... tan?" tanyanya gagap.


Aikk kenapa jadi Intan? Eh tapi temanku yang Dafa tahu kan memang cuma Intan. Tapi kenapa Dafa aneh gitu. Tegang, gagap dan ... Yaa Tuhan! Apa Dafa menyukai Intan? Tapi Kak Arisya? Mungkinkah Dafa menyukai dua wanita sekaligus? Aishh kenapa malah jadi banyak pertanyaan di benakku.


"Kalau iya kenapa?" sengaja aku ingin memanasi Dafa.


"Apa!" Dafa kelihatan terkejut. "Kapan dia pacaran? Perempuan macam apa dia, selalu bilang suka padaku tapi pacaran sama orang lain. Mudah berubah sekali hatinya. Hey Fa, kamu gak bilang ke dia kalau pacaran sebelum nikah itu haram?" Kata Dafa sinis.


Wah aku sudah berasap nih Dafa kok ngomong gitu tentang Intan.


"Bang, dengar ya. Jika orang sudah tak sudi sama kita, apa kita harus diam saja menunggu orang itu? Selama ini pernah gak Abang menghargai perasaan Intan pada Abang? Enggak. Abang malah sering mengolokngolok perasaannya. Kalau gak bisa membalas cintanya tak apa. Tapi jangan menghina perasaannya. Intan bukan patung bukan boneka. Wajar kalau dia akhirnya berubah hati. Dan itu bukan sesuatu yang tibatiba.


Mengenai yang terakhir itu, Intan itu didikan agamanya bagus meski bukan cucu kiyai kayak Abang, dia paham dosa pahala Bang. Meski dia frontal dengan perasaannya, dia tahu halal haram.


Sebelum nilai orang lain kenapa gak ngaca dulu. Abang ke hulu hilir dengan lawan jenis tanpa ikatan yang halal apa itu manis dilihat Bang? Tidak. Aku tahu Abang pria yang baik, aku tahu kak Arisya wanita yang baik. Tapi jika kalian selalu pergi bersama maka bisa menimbulkan fitnah meskipun Ichad juga selalu ada ikut bersama kalian. Jadi sebaiknya segera halalkan saja hubungan kalian."


Dafa sepertinya tertegun. Ah aku peduli apa, aku berkata benar.


Dia tersenyum lalu mengusap kepalaku.


"Adek Abang ini udah dewasa ternyata. Makasih sudah mengingatkan Abang."


"Samasama," balasku. "Eh sini balikin bukuku!"


"Jadi siapa temanmu yang pacaran?" tanyanya.


Aisshhh kukira dah lupa. Masih saja nanya.


"Yang jelas bukan Intan."


"Hmm iya juga sih. Dia kan gak laku mana ada pacar."


"Ish yaa ampun Abang. Dah mulai lagi jelekkin Intan!" kataku marah.


"Becanda. Hahah!" ucap Dafa sambil mengembalikan bukuku.


"Eh Fa!"


"Hmm," jawabku tanpa memandangnya.


"Kamu dan Arsy tetap akan tinggal disini kan?"


"Hmm."


"Abang senang kamu tinggal disini. Dengan begitu Abang tak akan khawatir lagi pada anak itu."


"Anak itu punya nama Bang."


"Iya ish."


"Kenapa Abang peduli sama dia?"


"Hah? Apaan. Abang itu khawatir kalau nanti Mama dan Papa lagi pergi kami di rumah cuma berdua aja. Entar orang nyangka macemmacem kan repot, abang dan Intan bukan mahram. Kalau ada kamu kan jadi tak ada masalah. Makasih karena kamu tetap memilih tinggal."


"Tak usah say thanks dan sejenisnya. Justru aku tinggal di sini karena takut Abang apaapakan Intan. Aku takut Intan gak betah karena Abang bully terus."


Prang! terdengar bunyi panci jatuh.


Kami melihat ke arah suara jatuh itu.


Intan!


Buat apa dia bawa panci kesini? Aisshhh bukan itu masalahnya sekarang.


Dia ... apa dia mendengar yang kami katakan?


"Sarapan dah siap!" katanya tersenyum, lalu masuk lagi ke rumah.


Aku mengejarnya tanpa mempedulikan Dafa.


Aku cari Intan di dapur, gak ada.


Di kamarnya, gak ada juga.


Cepat sekali menghilangnya.


Aku cari ke kolam renang. Terlihat Intan lagi duduk di pinggir kolam.


Aku menghampirinya, duduk di sampingnya.

__ADS_1


Kami diam cukup lama. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan.


"Fa, kau tak usah khawatirkan aku!" katanya tibatiba.


"Apa maksudmu?" tanyaku.


"Aku ini beban. Aku cuma bisa menyusahkan kalian saja."


"Intan!" marahku.


"Kau dan Arsy. Kalian pindahlah ke rumah kalian, jangan khawatirkan aku. Aku akan baikbaik saja. Aku tahu kau tak mau pindah karena aku kan? Aku menghargai apa yang kau lakukan, tapi aku tak bisa menerima pengorbananmu itu."


"Tan, kau salah paham. Aku dan Arsy gak pindah bukan garagara kau, tapi karena pekerjaan Arsy. Dia jadwal kerjanya gak tentu. Kadang bisa nyampe gak pulang katanya, makanya kami gak pindah karena dia takut ninggalin aku sendirian nanti di rumah gitu," terangku. Aku tak mau Intan berkecil hati kayak gitu.


"Serius?" tanyanya. Sekarang dia sudah agak ceria.


"Iya. Lagian sejak kapan aku jadi baik hati sampai berkorban untukmu segala," jawabku.


"Dihhh!"


Aku memeluknya erat.


"Jangan bahas ini lagi ya, Tan. Kau bukan beban. Lagian kau itu kurus kerempeng gini, gak bisa ngebebanin(?) orang. Kujinjing juga keangkat."


"Lawakanmu renyah banget Fa!" sindirnya, lalu kami tertawa bersama.


"Eh Tan. Menurutmu Arsy kerjanya apa ya?"


"Lah, bukannya kau tahu?"


Katanya sambil melepaskan pelukan.


Aku menggeleng, "Arsy nyuruh aku nyari tahu sendiri. Dia gak mau bilang."


"Hadeuh kau ini. Dia satu tempat kerja sama Abang Dafa."


"Do ... dokter? Arsy dokter?" tanyaku tak percaya. 


"Tutup mulutmu itu ish. Iya dia itu dokter. Kau ingat waktu kau pingsan pas leadership camp dulu? Dia itu dokter yang ngerawat kau."


"What!"


Kejutan apalagi ini? Aku double terkejut sekarang.


Arsy yang ngerawat aku?


"Dia khawatir banget waktu itu, sampai mau nungguin kau sadar dari pingsanmu. Sehari sebelum kau pingsan dia kan sudah melamarmu. Kalau kalian dah halal kayaknya dia bakal menciummu sampai kau bangun kayak di film sleeping beauty itu lho." Cerita Intan.


Yaa Tuhan. Apalagi ini. Janganjangan pangeran tampan yang kulihat itu bukan mimpi? Pangeran yang ada di mimpiku itu Arsy? Pantesan aja aku kayak pernah lihat wajah Arsy. Ternyata pangeran yang kumimpikan itu dia. Dan ternyata itu bukan mimpi juga. Aisshhh Kalian bingung? Aku juga. Haha


"Hey kau mikirin apa?" sergah Intan.


"Bukan apaapa."


"Pasti mikirin suamimu lagi. Btw, kemarin kalian ngapain dulu? Pulang jam delapan malem. Bawa mobilnya pasti kayak kurakura."


"Kepooo!"


"Uhh yasudah ayo kita sarapan."


"kuy!"


Saat kami akan menuju dapur, kulihat Arsy dan Papa baru pulang dari lari paginya.


Intan sudah ke dapur duluan, Papa juga sudah menghilang ke kamarnya.


Tinggal Arsy dan aku sekarang.


Dia terlihat seksi berkeringat begitu. Jadi pengen meluk. *eh


"Kenapa liatin abang kayak gitu?" tanyanya.


"Enggak apaapa. Mandi dulu sana, habis itu turun sarapan," kataku seraya berlalu ke dapur. Pagipagi pikiranku dah anehaneh aja. Aishhh!


.


.


"Besok Ma," jawab Arsy yang sedang menyuapiku.


"Intan dan Kakak kapan masuk kuliah lagi?" kali ini Papa yang nanya.


"Kita kan akan KKN, Pa. Jadi sekarang nunggu pembagian kelompok dulu. Lusa mungkin sudah diumumkan," jawab Intan.


KKN? Aku lupa kalau aku akan KKN. Aku mahasiswa semester lima, setelah UAS kemarin kami memang akan pergi KKN (Kuliah Kerja Nyata) selama sebulan. Setelah itu baru kami mulai kuliah semester enam.


Aku baru menikah, masa dah berpisah sama Arsy.


"Kamu kenapa?" tanya Arsy yang sepertinya paham dengan perubahan raut mukaku.


"Tak apa."


Aku berusaha tersenyum lagi.


Aku tak ingin merusak kebahagaianku dengan memikirkan hal itu. Aku baru bahagia, nikmati dulu saja waktu sekarang.


***


Hari ini aku dan Arsy pergi dating. Yeay!


Kencan pertama sejak pacaran. Kami jalanjalan di mall. Mumpung dia masih libur. Besok pasti dah mulai sibuk.


"Abang, aku mau eskrim."


"Okay. Kamu duduk dulu, Abang pesenin."


Tak lama kemudian Arsy datang membawa segelas besar eskrim.


"Kok satu?" tanyaku.


"Kita sharing," katanya sambil tersenyum.


Makan eskrim gini jadi ingat Pak Indra. Waktu itu dia mentraktirku eskrim juga disini. Luchu kalau ingat waktu itu, aku benarbenar gak nyaman ditambah moodku yang jelek karena memikirkan Arsy yang tak kunjung menghubungiku.


Aku melayan Pak Indra dengan mau tak mau.


"Mikirin siapa?" sergah Arsy.


"Pak Indra!" jawabku refleks. Ups aku menekup mulutku.


Arsy sudah mengerutkan kening.


"Lagi dating malah mikirin cowok lain," katanya sambil menguisnguis eskrim.


"Erk ... Pak Indra itu dosenku. Dulu Pak Indra nraktir eskrim disini, tibatiba keinget aja. Tapi itu bukan seperti yang Abang pikirkan. Aku gak sengaja ketemu dia," terangku.


"Hmm!" Jawab Arsy dingin. Ish dia ini. Bahkan eskrim pun sampai gak caircair karena deketan sama dia yang super dingin itu.


"Abang, jangan salah paham. Waktu itu aku tak sesenang saat ini. Serius!" kataku sambil memuncungkan mulut. Aku sedih kalau dia tak percaya aku kayak gini.


"Kamu pasang mulut bebek kayak gitu kenapa?" katanya tertawa. Ihh dia mah aneh, bentarbentar dingin bentarbentar tertawa. "Jangan bikin mulut bebek kayak gitu lagi, bahaya. Abang jadi gak tahan pengen kiss."


Wuttsss?


"Pervert."


"Hahah. Sudahlah ayo makan lagi eskrimnya." Katanya sambil menyuakan eskrim padaku.


"Soal Pak Indra itu Abang gak salah paham kan?"


Dia menggeleng, "Abang tahu semua kok. Abang bahkan tahu kalau kamu waktu itu kabur dari dia sampai nabrak orang," ucapnya membuatku tercengang.


Dia selalu tahu semuanya. Apasih yang gak dia tahu tentang aku? Kita baru kenal tapi dia tahu banyak hal tentangku. Sedangkan aku? Aku sama sekali gak tahu apaapa tentang dia.


"Bagaimana Abang tahu? Pasti Intan ya yang ngasih tahu. Iya kan?"

__ADS_1


Dia menggeleng lagi.


"Kamu nabrak Abang waktu itu," jawabnya santai.


"Apa! Jadi Abang yang numpahin minuman ke bajuku?"


"Hey, kamu yang menabrak Abang."


"Uhh iyaiya. Cowry."


Waktu itu juga aku salah kirim chat sampai Arsy meneleponku. Aisshhh memalukan.


"Lupain. Habis ini kita nonton film mau?" tanyanya.


Aku mengangguk.


***


Sepanjang menonton film aku hanya menatap wajah Arsy saja. Habis dia memilih film horror sih, kupikir kami akan menonton film romantis gitu.


Dia senang banget melihatku ketakutan sampai tak berhenti menertawaiku.


Aku memeluknya erat saat hantu apalah entah muncul di layar besar itu. Aku mau membenarkan posisi dudukku, eh itu hantu keluar kan aku kaget. Entah sudah berapa kali aku memeluknya karena takut.


"Sayang, kita ini mau nonton film bukan mau buat film. Buat filmnya nanti saja di rumah," bisiknya di telingaku.


Aku melepaskan pelukanku, dia malah cekikikan.


"Uhh cuma Abang aja yang nonton. Aku enggak. Kita nonton film romantis aja yuk Bang!" rengekku.


Kami bicara sambil bisikbisik karena tak mau mengganggu penonton lain.


"Kiss dulu!" katanya sambil nunjuk pipi.


Dihhh apaapaan.


"Abang, aku mau nonton film romantis bukan mau bikin drama romantis disini," balasku.


Dia malah tertawa lagi lalu lanjut nonton film. Ish sebal.


.


.


Selesai nonton film, kami ke toko buku. Aku mau beli buku yang banyak, mumpung ada Arsy yang bayarin.


Dia yang bekerja keras aku yang bantu kuras. wkwk!


"Hey Arsy!"


Aku yang lagi pilihpilih buku mencari sumber suara yang seperti memanggil Arsy itu.


Kulihat ada dua orang wanita menghampiri Arsy. Seperti ibu dan anak. Perempuan yang menurutku anaknya itu berwajah sangat cantik. Berbaju tertutup dan syar'i, makin cantik dalam pandanganku.


"Arsy, apa kabar? Jarang main ke rumah lagi," kata Wanita yang lebih tua.


"Baik tante. Tante sendiri apa kabar? Maaf Arsy sibuk jadi gak bisa singgah," jawab Arsy sopan.


Aku hanya jadi pendengar setia saja.


"Abang Arsy ini kan dokter senior, Ummi. Jadi dia sibuk banget," timpal Kakak cantik tadi.


Dia memanggil Ummi, berarti benar itu ibu dan anak.


Tapi ada perasaan aneh saat dia memanggil Arsy 'abang'. Sangat indah tapi kok menyakitkan ya. Apa aku sedang cemburu sekarang? Ahh tidak tidak tidak. Lagipula Kakak cantik itu sepertinya wanita yang baik kok.


"Ya sesibuksibuknya ya jangan lupain calon istri lah," lanjut wanita yang dipanggil Ummi itu sambil tersenyum.


Jlebbb!


'Calon Isteri'


Serasa ada yang menghantam kepalaku saat mendengar katakata itu. Apa maksudnya?


"Umiii!" Kata Kakak cantik itu terlihat segan saat Umminya bilang begitu.


Arsy memandangku, aku mengalihkan pandangan purapura memilih buku lagi. Purapura tak mendengar apapun.


"Arsy, jadi kapan mau bawa rombongan melamar?"


Aisshh!


Mau pingsan rasanya mendengar pertanyaan itu.


"Tante, sepertinya tante salah paham. Arsy dan Shara itu hanya berteman saja," kata Arsy yang kelihatan sekali sedang serba salah sekarang.


"Kalian kan dah kenal lama. Satu tempat kerja pula. Masa hanya teman. Bohong banget kalau tak ada perasaan apapun. Kalian kan dah tak muda lagi, secepatnya saja resmikan."


Bunuh saja aku Tante. Tuhan, mereka satu tempat kerja ternyata. Bagaimana ini?


"Sudalah Ummi. Jodoh itu Tuhan yang atur. Kalau jodoh tak kan kemana kok, Ummi. Kami lebih senang bersahabat seperti ini. Lagian Abang Arsy ini bukan calangcalang orang, mana pantas Shara dengan Abang Arsy," ucap Kakak cantik yang ternyata bernama Shara itu.


AmboiAmboi, ayat merendah diri nampaknya.


"Yasudahlah terserah kalian. Ummi cuma bisa mendo'akan semoga kalian berjodoh."


"Arsy do'akan semoga Shara mendapat jodoh yang baik. Alhamdulillah Arsy pun sudah menemukan yang insyaAllah terbaik untuk Arsy. Sayang, sini!" Arsy memanggilku.


Jarakku dengan mereka ada sekitar satu meter.


Mau tak mau aku menghampiri mereka.


Arsy merangkul pundakku.


"Kenalkan ini Asyifa, isteri Arsy."


Wajah tante itu dan Shara sangat terkejut. Bisa kulihat kecewa di wajah mereka, terutama Shara. Kakak cantik itu menyukai Arsy, bisa kupastikan itu.


"Kami menikah beberapa hari lalu. Resepsinya nanti dilakukan setelah Syifa wisuda. Kami akan senang sekali kalau tante dan keluarga bisa datang nanti," kata Arsy lagi.


"Salam kenal tante, Kakak. Maaf tak bisa salaman. Tangan Syifa sedang terluka," ucapku sopan.


Tante itu tersenyum lalu memelukku.


"Selamat ya! Cantik dan tampan, kalian sepadan," katanya lalu melepaskan pelukan.


"Selamat!" kata Shara pula. Senyumnya terlihat ikhlas memang, tapi matanya menunjukkan dia terluka.


"Terimakasih!" jawabku.


"Do'akan pernikahan kami sampai ke jannah ya Tante, Kakak!" sambungku.


Mereka mengangguk.


"Semoga Shara cepat menyusul kami," timpal Arsy.


"Aamiin. Do'akan saja. Kami permisi dulu ya!" kata tante itu pamit.


"Ada yang ingin kamu tanyakan?" Ucap Arsy setelah mereka pergi.


"Ada yang harus aku tahu?" tanyaku balik.


Jika Arsy tak ingin menjelaskan semuanya, aku pun sama. Aku tak ingin menanyakan apaapa. Biar saja aku berpikir yang enggakenggak sampai dia jelaskan sendiri. Childish Syifa. Bodo amat. Aku sedang kesal. Mujur aku tak langsung makan orang saat kesal.


"Kita bayar ini dulu," kata Arsy sambil membawa bukubuku yang telah kupilih ke kasir.


Aku bahkan dah tak mood untuk membeli bukubuku itu. Eh bohong ding, aku masih ingin Arsy membelikan bukubuku itu. Labil sekali aku. Bodobodobodo!


Ish aku menghentakhentakan kakiku mengikutinya ke kasir.


Sempat kudengar dia tertawa kecil. Menyebalkan.


***


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2