
***
Terlalu khawatir dengan keadaanku setelah batal menikah, akhirnya keluargaku memutuskan untuk membeli rumah di dekat kampus. Katanya biar aku tak perlu tinggal di asrama lagi dan bisa tinggal bersama mereka. Sejak kuliah aku memang tinggal terpisah dengan mereka. Lokasi kampus yang jauh dari rumah membuatku terpaksa tinggal di asrama dan hanya pulang seminggu sekali.
Kepindahan ini pun bertujuan agar aku tak tertekan dengan keharusan menikah muda. Keluarga besarku tinggal di lingkungan pesantren milik Kakek.
Mama dan Papa sengaja mau menjauhkan aku dari tekanan keluarga besarku itu.
Sebenarnya aku tak masalah sih jika harus menikah muda, aku sama sekali tak tertekan. Tapi batal menikah tiga kali membuatku sedikit takut. Bohong kalau aku bilang aku tak terpengaruh dengan semua itu. Aku sedih dan sempat tak fokus belajar. Jadi karena itu, tinggal di lingkungan baru mungkin akan baik untukku.
Hari ini tepat seminggu kepindahan keluargaku ke rumah baru. Aku sendiri masih tinggal di asrama seminggu ini, dan hari ini aku akan packing untuk pindah.
"Semuanya dah siap kan?" tanya Intan yang ikut pindah bersamaku. Intan anak yatim piatu, ayahnya baru meninggal dua bulan yang lalu. Aku tak tega meninggalkannya sendirian di asrama. Setelah dibujuk akhirnya dia mau pindah dan tinggal di rumahku. Lagi pun orangtuaku sudah menganggap Intan sebagai puterinya sendiri, jadi mereka tak masalah Intan ikut tinggal dengan kami.
"Udah. Tinggal turunin aja barang kita ke bawah. Papa dah nunggu di bawah tuh. Ini asrama cewek sih jadi Papa gak bisa bantu angkatangkat barang kita," jawabku.
"Suruh Papa pake kerudung aja, Fa. Biar bisa masuk kesini," usul Intan ngaco.
"Sengklek. Kumisnya mau dikemanain? Suruh Papa pake cadar gitu? gila," kataku sambil mengetuk kepala Intan pakai buku.
"Ish sakit," kata Intan sambil mengelus kepalanya.
"Bodo! Yuk ah, keburu siang. Panas. Entar kulitku terpapar sinar UV."
"Sok cantik kau. Matahari juga ogah kali nyentuh kau, kulitmu gak menggoda gitu. Beda lagi kalau aku yang udah dikutuk memiliki kulit yang akan berkilau di bawah sinar matahari," balas Intan sambil memamerkan kulitnya yang sama sekali tak sedap dipandang mata.
"Vampire kali berkilauan. Yuk ah cepet kita ke bawah. Ngomong mulu gak bakal kelar pindahan kita," ajakku.
Kami pun mulai menurunkan barang. Papa sudah menunggu kami di depan mobil. Dia langsung membantu mengangkat barang dan memasukkannya ke mobil. Untung barang kami tak banyak, jadi muat di mobil. Hanya pakaian, buku, dan boneka saja yang kami bawa.
***
Setelah selesai beresberes barang, aku dan Intan beristirahat sebentar.
Sore harinya kami membantu Mama masak untuk makan malam.
"Bentar lagi maghrib. Kalian mandi dulu. Setelah itu kita berjamaah maghrib," perintah Mama.
"Siap, Ma!" kata aku dan Intan serempak
.
.
"Fa, buka pintu!" teriak Intan sambil gedorgedor pintu kamarku.
"Huaaaaaaaaa!"
Tibatiba Intan berteriak saat kubuka pintu.
"Oyy kenapa?" tanyaku bingung.
"Kupikir kau hantu. Kaget aku tadi. Habis kau pakai mukena gini sih. Untung aku gak jantungan kayak pisang yang depan rumah kakekmu itu," ucap Intan, tangannya masih mengelus dada. Sepertinya dia benarbenar kaget.
Tapi wait deh, kenapa dia bawabawa pisang yang di rumah kakek segala. Dasar aneh.
"Orang mau sholat ya pakai mukena lah. Oh iya ... kau kenapa teriak tadi?" tanyaku.
"Fa, tadi aku liat pangeran lewat depan kamarku. Dia ganteng banget."
"Di rumah ini mana ada pangeran. Mungkin Papa tadi lewat depan kamarmu."
"Janganjangan rumah ini bekas istana dan yang tadi itu hantu pangeran," jawab Intan berspekulasi sendiri.
"Mulai deh ngaconya. Hantu pangeran apanya, mungkin itu cuma halusinasimu aja," balasku. Jaman sekarang mana ada hantu. Eh jaman dulu emang ada hantu ya? Uhh kok aku jadi mikirin hantu. Garagara Intan ish.
"Tapi aku serius, Fa." Intan masih keukeuh.
"Sekarang kita turun, sholat dulu. Mama dan Papa dah nunggu."
Kamarku dan kamar Intan terletak di lantai dua rumah ini, sedangkan tempat sholat ada di bawah.
__ADS_1
***
Selesai mengaminkan do'a aku melirik Intan yang sedang bengong entah melihat apa.
"Hoy!" sergahku.
"Ish kau ganggu aja," cebik Intan.
"Do'a dah selesai. Kau masih menadah tangan kayak gitu kenapa? minta duit sama Tuhan? Kalau gak usaha, duit gak bakal muncul sendiri. Turunkan tanganmu! Itu Mama mau salam tuh," kataku geram.
Selesai salaman kami mulai melipat mukena.
"Fa, yang barusan ngimamin kita siapa?" tanya Intan saat semua sudah pergi ke ruang makan.
"Oh iya lupa ngenalin. Itu sepupuku. Namanya Dafa," jelasku.
Aku juga sebenarnya kaget ada Dafa di rumah. Mama gak bilang Dafa akan datang sih. Pasti yang tadi Intan sebut sebagai hantu pangeran itu si Dafa. Dafa memang tampan sih. Aku aja suka. hahaha ups.
"Dia cowok yang tadi lewat depan kamarku. Dia si hantu pangeran itu," kata Intan.
Nah kan benar apa yang aku bilang. Dasar Intan.
"Eh tapi Fa. Kenapa tadi kau salaman sama dia? sepupumu itu kan tetap bukan mahrammu?" kalau gak banyak tanya emang bukan Intan kayaknya.
"Sebenarnya aku dan dia dah nikah," jawabku. Intan jelas kaget. Lah aku baru batal nikah belum dua minggu tibatiba dah punya suami, kan pasti aneh buat dia.
"Suami? kok aku gak tau? kapan nikahnya?"
"Haha percaya banget sih. Dia abang susuanku. Paham? Waktu kecil, Mamaku yang nyusuin dia."
"Oh syukurlah," kata Intan lega.
"Kenapa? kayaknya senang banget."
"Iyalah seneng. Itu artinya aku ada peluang deketin dia. Sepertinya aku dah jatuh cinta sama dia."
"Jangan ngarep. Dia dah dijodohin," kataku menghancurkan harapan Intan.
"Tapi bohong!" kataku seraya berlari meninggalkannya. Senang sekali bisa mengerjainya.
"Antibiotiiiiikkkk!" teriaknya geram yang masih bisa terdengar olehku.
***
"Tan, ayo sini!" ajak Mama pada Intan yang baru datang sambil membetulkan kerudungnya. Hanya dia yang memakai kerudung di sini, karena ada Papa dan Dafa.
Intan menjelingku tajam, masih kesal sepertinya.
Aku hanya tersengih. Intan duduk di kursi kosong di sampingku. Berhadapan sama Dafa. Uhh pasti senang tuh.
"Ma, abang ganteng depan aku ini siapa?" tanya Intan tibatiba. Dihhh dasar gak sopan. Padahal tadi dah aku kasih tahu, bilang saja ingin kenalan.
Dafa mendongakan wajahnya memandang Intan.
"Ini Dafa. Abangnya Syifa," jawab Mama. "Dafa, kenalin itu Intan. Sahabatnya Syifa. Anak Mama juga sekarang," sambung Mama.
"Hay Abang. salam kenal!" sapa Intan.
"Aku bukan abangmu," jawab Dafa sinis. Dia memang tak mesra alam dengan perempuan. Harap sabar saja lah ya Intan. Mudahmudahan dia tak terasa hati dengan Dafa.
"Uhh aku tahu kok. Abangkan memang bukan abangku, tapi calon suamiku," ucap Intan selamba membuat Dafa tersedak. Intan ini memang ceplasceplos. Mama dan Papa hanya tersenyum.
"Pelanpelan bang makannya," kata Intan sambil mengulurkan air. Aku sempat liat dia mengernyitkan mata pada Dafa. Macammacam saja ish nih anak. ckckck
.
.
"Ma, biar aku aja yang cuci piring," kataku setelah kami selesai makan.
"Iya, Ma. Mamaku sayang duduk aja. Calon menantumu ini yang akan membereskan semuanya," kata Intan sambil melirik Dafa yang akan berlalu dari meja makan.
__ADS_1
"Gila!" gumam Dafa lalu pergi.
Serentak itu aku dan Intan melepaskan tawa. Hahah senang sekali melihat ekspresi Dafa tadi.
***
Keesokan harinya.
Karena kuliah libur, aku memutuskan untuk membantu Mama merapikan bungabunga yang baru dibelinya kemarin.
Ibuibu doyan sekali menanam bunga.
"Cacing!" teriakku saat sedang menguisnguis tanah.
"Berisik sekali. Ish cuma cacing doang. Kalau ular gimana. Dasar!" gerutu Intan.
"Kalau ular ya matuk lah. Uhh singkirin cacingnya dong Tan. Geli iyuwh."
"Ogah. Dia juga pengen hidup kali, Fa. cobalah berperikecacingan," kata Intan dengan gaya sok bijaknya.
"Assalaamu'alaikum!" sapa seseorang saat kami sedang sibuk berperang mulut bahas cacing.
"Wa'alaikumussalaam!" serentak kami menjawab.
"Tetangga baru ya?" tanyanya.
"Iya tante. Baru seminggu disini," jawab Intan.
"Ohh ... kalian tinggal berdua?"
"Enggak tante. Sama orangtua juga," kali ini aku yang menjawab. "Eh iya maaf tante kami gak bisa salam. Tangan kami kotor," tambahku sambil menunjukkan tangan bekas nguis tanah.
"Gak apaapa. Nih rumah sebelah ini rumah tante. Nanti kalian mainmain ya. Tante baru pulang dari kampung, baru tahu kalau ada tetangga baru."
"InsyaAllah tante."
"Syifa, Intan ... sudah beres belum?"
tibatiba Mama teriak dari dalam rumah.
"Kalian ngapain aja? kok lama?" kata Mama yang sudah berkecak pinggang menghampiri kami.
Aku dan Intan hanya saling pandang. Masa iya aku harus bilang kami sibuk ngurus cacing.
"Fizu!" kata tante tadi yang langsung memeluk Mama.
Sah, sepertinya akan ada jejak kasih disini.
"Yaa Allah, Nurfa. Sudah lama sekali kita gak ketemu. Apa kabar?" tanya Mama yang sudah melerai pelukan.
"Aku baik. Kamu gimana?"
"Baik juga."
"Ini dua gadis ini anak kamu ya? Udah besarbesar aja," kata tante yang dipanggil Nurfa itu.
"Iya. Syifa, Intan kenalin ini teman lama Mama."
Nah kan, sudah kubilang akan ada jejak kasih disini.
"Hay tante. Aku Syifa," sapaku.
"Aku Intan," kata Intan.
Mama mengajak tante Nurfa masuk. Dan kami masih disuruh membereskan bungabunganya.
"Yaa Tuhan, cacingnya kenapa masih disini sih."
Intan sudah mengekek di sebelahku. Senang sekali dia melihatku menderita.
***
__ADS_1
Bersambung.