Nikah Muda (?)

Nikah Muda (?)
26. Cemburu


__ADS_3

***


Luka di kaki Intan ternyata lumayan parah juga. Sampai harus dijahit segala. Intan langsung disuruh tidur agar dia tak banyak bergerak dan bisa istirahat.


"Syifa, sebenarnya Intan kenapa?" tanya Dafa.


Saat ini kami sedang berkumpul di posko. Kedatangan dokterdokter ini disambut dengan kecelakaan seperti ini. Aiissshhh!


"Harusnya Abang lebih tahu," jawabku.


"Maksudmu?"


'Bukannya Abang yang membuatnya terluka,' ucapku dalam hati.


"Kenapa diam?"


"Abang kan dokter, harusnya lebih tahu dia kenapa," balasku.


"Yang Abang tanyakan kenapa dia bisa jatuh, Syifa?"


"Tanyakan saja sendiri nanti ke Intan. Aku gak tahu."


Aku memeluk lengan Arsy yang duduk di sampingku. Aku tak pedulikan pandangan orang lain. Bodo amat.


Aku memandang Arsy dengan muka melas, dalam diam memohon bantuannya untuk membuat Dafa berhenti bertanya. Aku harap Arsy mengerti maksudku. Ayo kita lihat seberapa dia mengerti aku.


"Dafa ... Aku tahu kau khawatir pada Intan. Kami juga khawatir. Tapi Syifa shock banget tadi, nanyanya nanti saja ya," ucap Arsy.


Yeay! timekaciiihhh Arsy.


Kau lulus dalam ujian 'mengerti aku'. wkwk Apaan sih.


Dafa mengeluh kecil lalu mendepakan tangan agar aku memeluknya. Aku melepaskan Arsy lalu memeluk Dafa.


Dia mencium kepalaku lama.


"Sorry ya adek Abang. Abang khawatir banget pada anak itu. Kamu sendiri gpp kan? Ada yang luka gak?" tanyanya.


Aku menggeleng, masih dalam pelukannya.


"Aku baikbaik saja," jawabku.


"Kalian pasti capek kan habis perjalanan jauh. Kalian bisa istirahat dulu kalau mau," ucap Helmi.


"Aku mau disini saja. Nunggu anak itu bangun dulu," jawab Dafa.


Arsy dan dua dokter pria lain yang bernama Rizky dan Haikal pergi ke kontrakan pria.


Sedangkan Kak Shara dan satu dokter lagi yang bernama Citra mereka diantar oleh Ana ke kamar siapalah entah. Yang penting bukan kamarku.


"Abang, seandainya aku dan Intan dalam bahaya. Siapa yang akan Abang selamatkan?" tanyaku pada Dafa saat temantemanku sudah pergi juga.


"Pertanyaan macam apa itu?"


"Bisakah Abang berjanji padaku? Kumohon selamatkan Intan saja. Dia tak punya siapasiapa lagi selain kita. Aku punya Arsy sekarang. Bukan berarti aku tak butuh Abang. Tapi kumohon jaga Intan untukku. Meski Abang tak suka Intan sekalipun, tolong sayangi dia seperti Abang menyayangiku. Tolong bersikap baik padanya!" pintaku pada Dafa.


Dafa tak mengatakan apaapa, tapi dia semakin mengeratkan pelukannya padaku.


.


.


Aku pergi keluar untuk mencari Rio. Tapi hampa, aku tak menemukannya di luar. Aku coba mencarinya lagi ke pinggir rumah.


Aku malah mendengar suara perempuan menangis. Aiiissshhh kok merinding ya.


Aku beranikan diri untuk mendekat karena penasaran.


Kulihat Hani sedang menangis. Ada Rio juga di sana.


"Kalau sampai terjadi sesuatu sama Intan, kau harus bertanggung jawab!" teriak Rio pada Hani.


"Apa maksudnya ini?" tanyaku membuat mereka terkejut.


"Syifa, aku minta maaf. Aku tak sengaja membuat Intan jatuh," ucap Hani sambil menangis.


"Tak sengaja kau bilang? Hey ratu drama, sudah jelas aku lihat kau sengaja menyenggolnya!" marah Rio.


"Kenapa kau lakukan itu?" tanyaku pada Hani.


"Aku tak sengaja. Sudah aku bilang aku tak sengaja!"


PLAKKK


Rio menampar Hani. Aku tergamam.


"Rio! Apa yang kau lakukan?" kata Dani yang datang bersama Jay.


"Rio, tenanglah!" kataku.


Aku mendekati Hani yang sedang kesakitan.


"Kau okay?" tanyaku.


Pertanyaan apa itu Syifa. Sudah jelas dia tak baikbaik saja.


Aku menghela nafas panjang.


"Hmm okay, sudahlah tak usah diperpanjang. Aku harap kejadian yang dialami Intan tak akan terulang lagi. Apapun masalahmu dengan Intan, aku minta maaf mewakilinya!" tambahku.


"Syifa! Kenapa kau minta maaf?" bentak Rio.


"Diamlah! Makasih Rio karena kau sudah peduli pada Intan. Tapi terus menyalahkan Hani tak akan menyelesaikan semuanya. Hani, kali ini aku akan melupakan semuanya. Tapi lain kali belum tentu. Do'akan saja agar Intan cepat sembuh sekarang. Aku pergi dulu. Kalau kalian masih mau bertengkar silakan. Tapi kuharap alasannya bukan karena Intan lagi."


Setelah bicara seperti itu aku pun pergi.


Apa aku sudah melakukan hal benar? Ah entahlah.


"Asyifa, tadi ada ributribut apa?" tanya Helmi yang sedang mengobrol dengan Dafa.


"Bukan apaapa. Ada kucing kawin tadi di sebelah," jawabku.


"Kau yang jadi penghulunya?" tanyanya lagi.


Dasar Helmi sengklek.


"Hahah luchu ya," Kataku purapura tertawa. "Aku mau lihat Intan dulu. Bye."


Saat aku masuk kamar kulihat Intan sudah bangun. Cepat sekali.


"Kau okay sistaaa?" tanyaku.


"Okay. Kakiku kayak lagi dipijet ini. Enak banget," jawabnya.


Aisshhhh becanda dia. Kalau sudah bisa becanda kayak gitu berarti dia sudah baikbaik saja. Aku sudah sedikit lega sekarang. Tinggal nunggu dia pulih saja.


"Apa kau butuh sesuatu?" tanyaku.


"Apa kau akan memberikan apa yang kumau?" tanyanya.


"Tentu saja."


"Aku mau Arsy!"


"Oyy sistaaaa. Kutancapkan beling lagi di kakimu nanti!" ancamku.


Intan sudah mengekek.


"Becanda. Aku mau minum. Haus!" kata Intan sambil memasang wajah kasian. Ish ini nih yang bikin aku tak tega.


Intan selalu menjagaku saat aku sakit. Sekarang Tuhan memberiku kesempatan untuk gantian menjaganya.


***


"Abang!" panggilku saat sedang nongkrong di teras depan dengan Arsy menikmati langit desa saat malam.


Eh langit malam di kota dan desa kan sama saja. Masih langit yang sama.


"Hmm."


"Abang!"


"Iya?"


"Abang!"


"Kenapa sayang?" tanyanya. Sepertinya dia mulai kesal.


"Tak apa. Aku senang banget Abang ada di sini. Mau pegang tangan Abang boleh?" tanyaku.


Dia mengerutkan kening mendengar pertanyaanku. Memangnya aneh ya? Entah kenapa siluman ulat buluku muncul. Gatal sekali aku pengen pegang tangannya. Kami memang jarang sekali berpegangan tangan. Rasanya aku ingin menggenggam tangannya lama. Aku selalu merasa tenang saat tanganku menyatu dengan tangannya.


"Aku ingin pegangan tangan sama Abang. Boleh?" tanyaku lagi.


Tanpa menunggu persetujuannya aku pun menggenggam tangannya. Dingin sekali.


"Tangan Abang dingin," kataku sambil menggosokgosok tangannya dengan tanganku, membuatnya hangat.

__ADS_1


"Itulah kenapa Abang tak memegang tanganmu dari tadi. Takut kamu merasa dingin," ucapnya.


"Aku kan bisa menghangatkan Abang," jawabku.


Pernyataan macam apa itu. Wkwk sengklek Syifa.


"Yealah tuh."


"Hmm Abang, aku boleh nanya?"


"Boleh. Mau cium pun boleh," jawabnya.


Aiisshhh gatal sekali dia.


"Kalau Kak Arisya nikah dengan Abang Dafa, menurut Abang gimana?" tanyaku.


"NoComment!" jawab Arsy singkat. Ishhh kayak artis saja nokomenNokomen segala.


"Ish Abang jawab ish!" paksaku.


"Kalau memang mereka ada jodoh ya mau digimanain lagi. Restui saja."


"Gitu ya," balasku lemah. Aku bukannya tak suka Kak Arisya dan Dafa menikah. Hanya saja bagaimana dengan Intan? Aku sayang Kak Arisya, tapi aku juga sayang Intan. Aku tak ingin mereka berdua terluka. Kenapa kalian menyukai pria yang sama sih? Kak Arisya baik, Intan juga. Uhh kalau disuruh memilih antara Kak Arisya atau Intan jelas aku akan pilih Arsy. *eh


Ngomong apa sih Syifa. Lawak bodoh macam apa itu.


"Intan akan bahagia!"


Arsy membuyarkan lamunanku.


"Hah?"


"Intan akan bahagia. InsyaAllah. Sekarang dia adik Abang juga sama kayak Arisya. Abang akan pastikan dia bahagia seperti Arisya," ucap Arsy sambil mengelus pipiku.


"Kalau aku? Aku siapanya Abang? Abang akan membuatku bahagia juga?"


"Stupid question!" jawab Arsy sambil tertawa kecil.


Uhh tinggal jawab saja sih.


"Kenapa gak jawab?" tanyaku manyun.


"Kamu sudah tahu jawabannya."


"Aku gak tahu!"


Rasanya Arsy memang tak pernah mengatakan secara langsung akan membuatku bahagia, dia cuma bilang akan berusaha tak menyakitiku. Itu sama gak sih? Jelas berbeda kan. Mana bisa disamain. Memangnya itu penting ya Syifa?


Uhh gak penting juga sih. Tapi kan biar sweet.


Pokoknya aku pengen denger kalimat itu dari Arsy. Fullstop!


"Sayang!" panggilnya.


"Abang belum jawab pertanyaanku. Mau ngambek 5menit!"


"Kenapa gak ngambek sampai besok saja?" tantang Arsy.


"Fine. Empat menit saja!"


"Lah!" Lagilagi dia tertawa.


Uhh aku kan mana bisa ngambek lama.


"Sayang!"


"Apaan?"


"Abang boleh cubit pipi kamu gak?" tanyanya.


Hah wadddeee?


"Gak boleh!" jawabku cepat.


"Boleh gigit bahu kamu?"


"Gak boleh!"


"Boleh chat sama Shara?"


"Abang!"


Kenapa bawabawa Kak Shara mulu sih.


Ish aku sudah geram padanya. Kali ini mau minta apalagi dia?


"Boleh cium kamu?"


"Gak boo ... eh Abang nanya apa barusan?" tanyaku terkejut. Cium? Dia nanya boleh cium aku apa enggak? Gila kalau aku bilang gak boleh.


"Gatal!" ucapnya sambil mencubit pipiku. Tahu saja apa yang kupikirkan.


"Empat menitmu dah habis nih kayaknya. Dah gak ngambek lagi kan?" tanyanya setelah beberapa lama.


Aku menggeleng.


"Kalau sama Abang empat menit itu terasa sebentar ya," ucapku.


"Ehm!"


Serentak kami menoleh. Dafa!


Mengganggu saja.


"Belum tidur kalian?" tanyanya.


"Dah tahu mata kami masih melek pake nanya pertanyaan yang gak berfaedah segala," jawabku.


"Ngambek ya cik Adik? Sorry ya ganggu kencan kalian. Ini dah malem, masuk tidur sana!" arah Dafa.


"Iya kamu tidur gih. Besok kita ngobrol lagi," kata Arsy sambil menepuknepuk kepalaku.


"Mau tidur sama Abang!" ucapku manja.


"Bukannya kamu gak mau temantemanmu tahu kita sudah menikah? Kalau kamu beritahu mereka pasti kita bisa tidur bareng sekarang," balas Arsy.


Uhh iyaiyaiya. Salah aku memang. Tapi aku gak bilang aku dah nikah karena belum siap. Siap apa? Entahlah. Aku takut penerimaan temantemanku tak sesuai dengan yang aku harapkan.


Aku beritahu mereka pas resepsi sajalah nanti.


"Hey kalian, plissss gak usah bahas 'tidur bareng' di depanku. Aku ini masih belum merit oyy!" protes Dafa.


Bodo amat. Salah sendiri belum merit.


Itu pasti dah ngeres tuh otaknya.


"Kamu masuk tidur ya?" bujuk Arsy.


"Baiklah!"


Aku mengangguk.


"Goodgirl. Goodnight sayang!" ucap Arsy sambil cium dahiku.


"Goodnight juga Abang."


Dafa sudah mencebik. Iri kayaknya dengan aksi romantis kami.


"Papay Abang!" kataku lalu  mencium pipi Arsy setelah itu langsung lari masuk ke rumah. Maluuuuu ish.


***


Keesokan harinya kami sudah disibukkan dengan persiapan program kesehatan besok. Sekarang sedang pemasangan tenda di depan posko kami.


Selain dokter, obatobatan dan segala macam alat kesehatan lain, rumah sakit juga mensponsori tendanya. Uhh terbaik banget ini. Kami tak perlu pusing kesana kemari nyari dana.


Aku menemani Intan duduk di teras. Intan belum bisa kerja sekarang. Jadi dia cuma bisa nonton saja.


"Asyifa, bisa tolong bantu Kakak sebentar gak?" teriak Kak Citra.


"Iya Kak!" balasku. "Tan, aku kesana dulu ya."


Intan pun mengangguk.


Aku menghampiri Kak Citra. Dia memintaku untuk membantunya merapikan obatobatan yang akan dibagikan ke warga nanti.


Terlihat simple memang, tapi kalau banyak ya pegel juga.


Dari kejauhan kulihat Arsy ngasih nasi kotak ke Kak Shara. Oke sebenarnya bukan hanya ke Kak Shara saja, tapi ke temannya juga sih.


Tapi aku sebal Arsy masih dekat dengan Kak Shara sekarang. Mereka ngobrolin apa entah. Keliatan serius sekali, tapi sesekali kulihat mereka tertawa. Aiissshhhhh sebal!


"Abang! Bagi minum!" aku merebut minuman yang sedang dipegang Dafa.


"Ish kau kenapa?" tanyanya.


"Panas banget disini," jawabku sambil mengipasngipaskan tangan di depan muka. Muka yang dikipasin, padahal hati yang sedang kepanggang.

__ADS_1


"Ahh kamu benar. Panas banget emang. Rasanya pengen nonjok anak orang sekarang," ucap Dafa lalu berlalu pergi. Dia sempat menendang kursi sebelum pergi.


Lah kenapa? Kok jadi dia yang baper?


Aneh!


***


Bersambung.


*Bonus(lagi)*


-Author's POV-


Intan mengerutkan kening merasakan sakit di kakinya. Sekarang dia sudah berada dalam mobil. Kepalanya disandarkan pada jok mobil. Dafa yang sedang menyetir di sampingnya terlihat sangat khawatir.


"Abang!" panggil Intan lemah.


"Kenapa?" tanya Dafa cemas, tapi masih berusaha fokus nyetir. "Sakit banget ya? Tahan sebentar saja, sebentar lagi kita sampai."


"Abang, aku sayang Abang!" ucap Intan lagi.


Dafa sempat tersentak. Tapi dia kembali fokus. Sepertinya Intan tak sadar saat mengatakan itu. Itu yang dipikirkan Dafa.


"Hey lukamu tak separah itu. Kenapa kau mengatakan itu, seolah kau mau mati saja."


"Memangnya hanya orang sekarat saja yang boleh mengatakan itu," balas Intan sambil tertawa. Saat kesakitan pun dia tetap saja mencoba tertawa. Dia tak tahan melihat muka tegang Dafa yang sedang merisaukan dirinya.


"Kau sedang tak sadar sekarang."


"Abang, aku rela Abang menikah dengan Kak Arisya. Dia wanita baik. Aku yakin dia akan menyayangi Abang melebihi aku. Abang tenang saja, aku akan melupakan perasaanku pada Abang. Aku restui kalian. Hahah restui? Udah kayak orangtua kalian saja aku. Tanpa restuku juga pernikahan kalian akan tetap sah."


Intan semakin meracau.


"Diamlah!"


Dafa mengenggam setir mobil erat.


***


"Bisakah Abang berjanji padaku? Kumohon selamatkan Intan saja. Dia tak punya siapasiapa lagi selain kita. Aku punya Arsy sekarang. Bukan berarti aku tak butuh Abang. Tapi kumohon jaga Intan untukku. Meski Abang tak suka Intan sekalipun, tolong sayangi dia seperti Abang menyayangiku. Tolong bersikap baik padanya."


Dafa terkejut mendengar permintaan Syifa itu.


'Kau dan Intan. Kalian bagai jantung dan hati Abang. Abang tak  bisa hidup tanpa kalian,'


ucap Dafa dalam hati.


Dia mengeratkan pelukannya pada Syifa.


.


.


.


Terdengar gelak tawa Intan dan Syifa di kamar. Dafa sangat lega sekali mendengarnya.


'Berbahagialah walau tanpa aku.'


***


Hari ini pemasangan tenda. Intan kesal karena tak bisa membantu apaapa. Dia sudah bosan hanya duduk diam saja.


Dia juga sudah ingin muntah mendengar lawakan Syifa yang tak ada luchuluchunya itu.


"Tan, minum?" tawar Rio setelah Syifa pergi dipanggil Citra meninggalkan Intan sendirian di teras.


"Makasih!" Intan menerima air pemberian Rio lalu meminumnya.


"Dah makan?" tanya Rio perhatian.


"Puasa," bohong Intan.


"Barusan kau minum air, dan sekarang kau bilang puasa?"


"Bodo!"


"Tan!"


"Apa?"


"Jadi dia orangnya?"


"Maksudmu?"


"Orang yang kau sukai itu. Dari tadi kau liatin dia terus," kata Rio sambil menjuihkan bibir ke arah Dafa.


Intan memang dari tadi hanya menatap Dafa.


"Cinta itu menyakitkan ya, Tan!" ucap Rio lagi.


"Tidak. Yang menyakitkan itu jika cinta tak terbalas. Syifa saja bisa bahagia dengan cintanya, itu karena cintanya terbalas. Jadi bukan cintanya yang menyakitkan."


"Hmm ... Kalau aku bilang aku suka kau, kau tetap akan nolak aku?" tanya Rio.


"Ya!"


"Kenapa?"


"Karena aku gak suka kau," jawab Intan. Dia tak ingin menipu perasaannya.


"Buset direct banget," kata Rio sambil tertawa. Tapi dalam hatinya siapa yang tahu kan.


"Kau berharap aku jawab apa emang?" tanya Intan.


"Yang halus dikit lah. Karna aku terlalu baek buat kau misalnya."


"Damn reason!"


"Atau karna kau mau fokus kuliah."


"Klasik!"


"Atau karna ortumu gak ngizinin bercinta dulu."


"Orangtuaku dah meninggal," ucap Intan sayu.


Rio sepertinya terkejut.


"Syifa? Mama Papa?" tanyanya. Yang Rio tahu Syifa dan Intan itu kan adik kakak. Dan Syifa selalu menyebut Papa dan Mama. Waktu itu Arsy juga menyebut tentang Ayah. Uhh Rio tak mengerti dengan keluarga Intan dan Syifa ini.


"Aku hanya anak angkat saja di keluarga Syifa. Tak ada yang bisa gantiin posisi orangtuaku. Tapi keluarga Syifa sangat menyayangiku seperti keluarga kandungku sendiri. Aku dan Syifa tak pernah dibedabedakan.


Berkat Syifa aku jadi punya dua Mama dan Papa. Ahh sekarang kami bahkan punya Ayah dan Bunda juga. Selain itu aku jadi punya Abang, Kakak dan adik, padahal sebelumnya aku ini anak tunggal. Senang sekali rasanya.


Tapi aku malah mencintai Abangnya Syifa. Dan itu mungkin akan membuat aku dibenci nanti," cerita Intan pada Rio.


'Ya, aku mungkin akan dibenci Kak Arisya!' sambung Intan dalam hati.


"Uhh sudahlah. Lupain. Gak mau emoemo kayak gini," ucap Intan dengan mode cerianya.


"Huft rumit ya. Oke lupain saja. Yaudah sekarang mending explain kenapa kau gak suka aku?"


"Karena aku sudah suka dia," jawab Intan sambil tersengih pada Rio.


"Udah karna itu doang?"


"Yupz." Intan mengangguk.


"Bukan karna aku jelek?"


"Tau diri juga kau!" cebik Intan.


"Dihhhh!"


"Lagian nanyanya apa banget dah. Kau cakep. Seriusan. Aku dan Syifa bahkan dulu ngefans padamu karena kau cakep. Haha!"


"Huh dasar. Terus bukan karna aku gak kaya?"


Rio masih saja tak putus asa bertanya.


"Itu salah satunya sih."


"Matreee!"


"Do i care?"


"Tapi baguslah. Aku semakin semangat belajar. Biar bisa sukses dan punya duit banyak agar kau menerimaku nanti."


"Hahah gila!" kata Intan tertawa sambil menampar punggung Rio.


Tanpa mereka sadari seseorang sedang menatap ke arah mereka. Keliatan sekali kalau dia tak suka melihat Intan dan Rio tertawa bersama. Bahkan dia menendang kursi saking kesalnya.


***


*HABIS*

__ADS_1


__ADS_2