
***
Aku tak tahu apa yang Intan pikirkan sekarang. Dari tadi dia hanya diam menatap ke luar jendela. Aku bukan tak mau bertanya atau memulai bicara. Aku hanya ingin memberinya kesempatan untuk melayan perasaannya sendiri.
"Tan, aku keluar dulu sebentar."
Setelah mengatakan itu aku pun mengajak Arsy keluar.
"Apa gpp meninggalkan Intan seperti itu?" tanya Arsy saat kami sudah di luar, di depan ruang rawat Intan.
"Dia akan baikbaik saja. Dia hanya sedang sedikit berpikir saja sekarang. Jangan khawatir," jawabku. "Btw, Abang tadi menghilang kemana?"
"Abang pulang dulu ke rumah Abang, kan dekat sini. Mandi sekaligus ganti baju solanya Abang harus kerja lagi sekarang," jawabnya.
"Oh gitu. Yaudah sana kerja aja. Intan mungkin sudah diperbolehkan pulang sebentar lagi. Jadi kita ketemu lagi nanti di rumah ya!" kataku seperti menghalaunya pergi saja.
"Baiklah, kalau gitu Abang kerja dulu. Sorry gak bisa nganter kalian pulang nanti," katanya sambil mengusap kepalaku.
Uhh kalau sudah begini aku jadi susah melepasnya pergi, walhal kami masih berada di rumah sakit yang sama.
"Iya gpp!" jawabku tersenyum. Padahal hatiku sedih.
Aku mencium punggung tangan Arsy, dan dia mencium dahiku kemudian pergi.
Huh bekas ciumannya saja belum kering tapi aku sudah rindu.
Aku kembali masuk ke ruang rawat Intan. Dia sudah duduk di kasurnya sambil bermain ponsel.
"Kok sebentar keluarnya? Aku pikir kau pergi makan sama Abang Arsy," kata Intan yang sepertinya sudah tak murung lagi. Moodnya cepat sekali berubah.
"Arsy harus kerja lagi. Kami cuma pamitan aja barusan," jawabku. "Kau lagi chat sama siapa? serius sekali."
Intan dari tadi tak mengalihkan pandangannya dari ponsel.
"Teman KKN kita di grup WA. Coba cek hpmu. Lagi pada bahas barang apa aja yang akan dibawa."
"Oh!" jawabku singkat.
Entah kenapa kalau bahas soal KKN aku selalu menghindar. Mungkin karena selalu ingat bahwa aku akan berpisah dengan Arsy.
Selama ini aku bisa hidup tanpa Arsy. Ya, memang.
Bohong kalau aku bilang aku tak bisa hidup tanpanya.
Tapi karena aku telah terbiasa dengannya, jadi saat tak bersamanya serasa ada yang kosong.
"Kau memikirkan Arsy?" sergah Intan. "Dengar, Fa! Selama sebulan ini kau akan jadi single lagi. Harusnya kau happy. Manfaatin saja buat deketin cowok lain. Lumayan!"
sambungnya lalu tersengih. Saran macam apa itu.
"Aku ini setia oyy."
Kalau dia gak sakit sudah kuluku kepalanya.
"Hey bukannya kau sendiri yang bilang kalau wanita setia boleh khilaf," balasnya sambil terkikik.
"Takut keburu mati sebelum bertaubat."
"Sukasuka kau saja lah. Bagus kalau kau berpikir seperti itu, jadi Rio cuma aku yang punya. Kurang saingan aku nanti," katanya senang.
"Oyy Rio itu lain cerita. Bolehlah khilaf dikit kalau sama dia mah."
"Labil kau Fa."
***
"Ateuuuu!"
Arsyad yang baru datang bareng Ayah dan Bunda langsung memeluk tangan Intan.
Ranjang Intan lumayan tinggi, sedangkan Arsyad masih pendek, gak nyampe. Dia cuma bisa mencapai tangan Intan saja.
"Miss me?" tanya Intan sambil mengelus kepala Arsyad.
Anak kecil itu cuma mengangguk.
"Mama Ichad mana? Gak ikut kesini?" tanya Intan lagi.
Dia menggeleng kemudian mengangguk. Aisshhh apa maksudnya.
"Arisya ada di luar. Tadi ketemu Dafa mereka ngobrol dulu. Entah apa yang dibicarakan," terang Ayah.
Raut wajah Intan berubah saat mendengar nama Dafa disebut, tapi kemudian dia segera tersenyum lagi.
"Ichad gak sekolah?" tanyanya mungkin mengalihkan perhatian dari Dafa dan Arisya.
Dia menggeleng.
Ini anak angguk geleng saja jawabnya. Kak Arisya ngasih makan apa sebenarnya. Ish ish ish
"Kamu dah gpp kan sayang?" tanya Bunda pada Intan. "Bunda khawatir sekali. Lain kali jangan hujanhujanan lagi." Gak mama gak Bunda sama aja, pesannya kayak gitu juga. Aku rasa Intan dah bosan dengar. Haha!
"Kalau kejebak hujan lagi dan mau pulang, telepon Ayah atau Bunda saja nanti kami jemput. Anak Bunda yang satu ini kan jarang sakit, tibatiba tahu kamu sakit Bunda benarbenar terkejut."
"Iya aneh ya Bund dia bisa sakit, udah kayak manusia aja," sampukku.
"Kakak!" Papa sudah menjelingku tajam. "Bicaramu itu seolah Intan bukan manusia saja!" marahnya.
Aish Papa ini, aku kan cuma becanda. Lagian Intan gak akan terluka karena aku bilang begitu.
"Eh Fa, memangnya kau pikir bidadari kayak aku ini gak boleh sakit hah?" ucap Intan.
See? Dia gak terluka dengan ucapanku, malah narsis. Bidadari katanya. Aisshhh!
"Cihhh bidadari apanya. Kau itu mungkin bidadari yang diusir dari kayangan karena gak ada cantikcantiknya sama sekali," balasku.
"Hey aku ini gak diusir. Tapi sengaja merantau ke bumi karena aku capek jadi rebutan di kayangan."
"Halu!" kataku menampar lengan Intan.
Tibatiba Arsyad memukul pahaku. Aishhh kenapa dengan bocah ini?
"Ateu Fafa mana boleh berantem sama orang sakit," ucapnya polos.
Intan dan keluarga yang lain sudah terkekeh. Senang lah tuh aku digituin sama anak kecil.
Untung cuma ada orangtua sama mertuaku saja di sini. Kalau sampai ada dokter atau perawat bisa malu banget aku.
"Assalaamu'alaikum!" tibatiba dokter datang.
Baru juga aku omongin.
"Wa'alaikumussalaam!"
__ADS_1
"Ini Shara kan? temannya Arsy?" tanya Bunda pada Kak Shara.
"Iya tante. Apa kabar?" jawab Kak Shara.
"Alhamdulillah baik. Jadi kamu yang ngerawat anak tante. Kalau kamu yang rawat, tante jadi tak terlalu khawatir," kata Bunda lagi.
Kak Shara sudah tersipu.
"Intan ini anak tante? Adeknya Abang Arsy juga?" tanya Kak Shara.
"Iya!"
"Bukan!"
Jawab Bunda dan Intan serentak. Kak Shara tampak bingung.
"Aku ini isterinya Abang Arsy Bu Dokter," jawab Intan membuat semua orang terkejut.
Kak Shara langsung memandangku. Yang dia tahu isteri Arsy itu kan aku.
"Aku ini madunya Syifa," kata Intan lagi sembari mengernyitkan mata padaku. Aku sudah menjeling padanya.
Kak Shara tampak semakin terkejut.
"Aku isteri kedua. Syifa isteri pertama. Kalau Kak Shara mau jadi isteri ketiga juga boleh. Masih ada dua tempat kosong lagi. Cuma ya harus sabar aja karena Abang Arsy suka sekali memanjakan isteri pertamanya itu," tambah Intan lalu melirik ke arahku.
Orangtua kami sudah menggelengkan kepala dengan lelucon Intan ini. Aishhh!
Kak Shara hanya blur aja. Sepertinya kaget banget.
"Iya benar Kak. Masih ada dua tempat kosong lagi. Tapi jadi maduku harus sabar karena Abang Arsy gak bisa adil kayaknya. Selalu melebihkan aku terus," timpalku. Sengaja menambah bumbu untuk cerita Intan.
Jangan sampai Kak Shara beneran mau jadi maduku aja. Naya kalau iya, secara kan dia suka Arsy.
"Kalian ini adaada aja. Shara, jangan dengarkan anak dua ekor ini. Mereka memang suka begitu," kata Bunda menyampuk drama kami.
"Intan sudah bisa pulang sekarang kan, Dok? melayan mereka berdua tak akan ada habisnya," kata Ayah pula.
Kak Shara pun memeriksa Intan sebentar.
"Intan sudah bisa pulang. Semuanya sudah normal dan dia sudah tak demam lagi. Kalian bisa membawanya pulang setelah urusan administrasi selesai," ucap Kak Shara.
"Biar Papa yang urus semuanya!" kata Papa lalu keluar untuk mengurus administrasi.
"Kalau gitu saya permisi dulu ya. Assalaamu'alaikum!"
Kak Shara pun pergi setelah kami membalas salamnya.
***
Saat kami akan membawa Intan pulang, kami melihat Kak Arisya dan Dafa. Kak Arisya mendekati kami, tapi Dafa hanya melirik sebentar lalu pergi tanpa menemui kami dulu. Ada apa dengan dia itu ish.
"Dafa mau langsung kerja lagi katanya." Beritahu Kak Arisya tanpa kami tanya saat dia sampai di depan kami.
"Intan udah gpp?" tanya Kak Arisya.
"Aku udah sehat Kak!" balas Intan. "Bahkan gendong Ichad pun aku kuat lho," tambahnya.
"Alah dustaaa. Ichad udah berat sekarang. Papanya pun gak mampu ngangkat," balas Kak Arisya.
"Papa!" ucap Aku dan Intan serentak.
Kak Arisya kelihatan serba salah.
Kami hanya menganggukangguk saja. Purapura mengiyakan walaupun kami tahu benar kami tak salah dengar tadi.
Ada yang Kak Arisya sembunyikan sepertinya.
***
Kami pun pulang ke rumah.
Ayah dan Papa langsung kembali ke kantor setelah mengantar kami. Mama dan Bunda ke toko bunga tentu saja. Tadinya mereka tak mau kerja mau nemenin Intan. Tapi Intan melarang, orang dia sudah sembuh kok.
"Woy isteri kedua!" sergahku pada Intan yang sedang menonton TV.
Garagara tadi aku jadi memanggilnya dengan sebutan isteri kedua.
"Ada apa isteri pertama?" tanyanya tanpa melihat ke arahku.
"Hpku kayaknya ketuker sama punyanya Arsy."
"Lalluuu?"
Intan masih memandangi TV.
"Kita kepoin yuk!" ajakku.
"Yuk!" Intan langsung mematikan TV dan fokus padaku.
Kami mulai membuka ponsel Arsy. tapi ZONK.
Dikunci pola.
"Yah dikunci. Gimana dong Tan?" keluhku.
"Dia sayang banget kan padamu. Pasti polanya inisial S," katanya.
Intan mencoba menggambar pola seperti huruf S. Tapi salah. Janganjangan Arsy tak sayang padaku. Huaaaaaa!
"Coba huruf A!" kataku.
Intan mencoba menggambarnya lagi dan BERHASIL.
Ish Arsy menyayangi dirinya sendiri ternyata. Kok aku kesel ya.
"Oyy kenapa manyun? Jadi kepoin gak?" tanya Intan.
Aku segera mengangguk.
Yang kami intip tentu saja chatnya.
Huh gak seru, chatan nya sama dokter saja. Memangnya apa yang kau harapkan Syifa. Berharap Arsy chat mesra sama wanita? aishhh amitamit.
"Eh Fa. Ini Ar's siapa nih?" tanya Intan.
Aku buka chatnya.
"Itu aku lah sludud!" jawabku setelah melihat chat dan nomornya.
"Ar's itu apa?"
"Itu maksudnya punyanya Ar. Punyanya Arsy. Syifa punyanya Arsy. Paham?" kataku percaya diri.
__ADS_1
"Yakin banget kau!" cebik Intan.
"Tentu saja!" balasku. "Eh coba kau cari chat Arsy dengan dokter Shara ada gak?" tanyaku penasaran.
"Ada nih. Tapi isinya apa ini, dokter Shara ngechat halhal berbau islami saja. Paling selain itu cuma say salam aja," jawab Intan.
"Gak ada lagi?"
"Enggak. Tapi ini chatnya ngebahas pasal jodoh semua. Baca deh!" Intan menyerahkan ponsel Arsy padaku.
Aku mulai membaca chat Arsy dengan Kak Shara. Isinya memang halhal islami saja. Tapi sepertinya ini chat sengaja buat ngodein Arsy deh supaya ngelamar dia. Kalau kalian baca, pasti kalian juga berpikiran seperti aku.
Bahasan tentang pertemanan muslim lakilaki dan perempuan, tentang pernikahan, isteri sholehah, suami sholehah, jodoh dan lainlain.
Kak Shara sepertinya memang sangat menyukai Arsy.
Kulihat chat terakhirnya, setelah kuhitung ternyata sejak pertemuan kami di toko buku itu Kak Shara mulai berhenti mengirim chat pada Arsy.
Hmm!
Tingggg!
Tibatiba ada chat masuk.
Dari Kak Shara! Kenapa kebetulan sekali.
Kubaca chatnya.
Tentang poligami! Ebuset.
Aku semakin tertarik untuk terus membaca.
Setelah kubaca semua, intinya tentang manfaat poligami dan kewajiban bersikap adil kepada semua isteri. Aisshhhh
Intan yang ikut membacanya langsung melongo.
"Dokter Shara ini dokter yang ngerawat aku?" tanya Intan.
"Dia benarbenar percaya kalau aku ini isteri kedua Arsy? Hahah Yaa ampun!"
Intan sudah tak bisa menahan tawanya lagi sepertinya.
"Tan, kalau dia serius mau jadi isteri ketiga Arsy gimana?" tanyaku takut.
"Yaelah tenang aja. Mana mau dia jadi yang ketiga. Lagian belum tentu dia suka suamimu."
"Ish udah jelas Kak Shara ini suka sama Arsy. Aku tahu banget."
"Uhh gak tahu ah pusing. Mending buka galeri aja Fa. Kita liat fotofoto Abang Arsy," kata Intan bersemangat sekali.
Aku langsung berdiri, tak mengizinkannya melihat foto Arsy. Kalau ada foto gak pake baju gimana?
"Kita berhenti saja kepoinnya. Aku mau ke kamar. Papay!" kataku lalu berlari ke kamar.
Aku masih memikirkan Kak Shara. Maksudnya Kak Shara mengirim ini pada Arsy apa? Untuk menasehati?
Tapi ada katakatanya yang menunjukkan kalau dia tak masalah dipoligami. Ada katakatanya yang seolaholah dia berharap pada Arsy.
Apa dia menganggap serius gurauanku tadi? Uhh entahlah.
'... Mencintai pria beristeri menjadi salah satu masalah besar untuk seorang wanita. Sedangkan cinta itu sesuatu yang tak bisa kita prediksikan akan berlabuh untuk siapa. Poligami bagaikan harapan untuk para wanita yang mengasihi prianya wanita lain. ... '
***
Kami baru saja selesai makan malam. Arsy sedang mengganti pakaian tidur sekarang. Aku hanya purapura tidak melihat. Sudah berulangkali dia berganti baju di depanku, tapi tetap saja aku masih malu.
"Abang, hp kita ketuker," kataku saat Arsy sudah duduk di sampingku. Saat itu aku sedang bermain game di laptop di atas kasurku.
"Abang yang tukar," jawabnya santai dan biasa aja tapi berhasil membuatku terkejut sampai di layar laptopku muncul kata GAME OVER.
"Kenapa Abang tukar?" tanyaku. "Abang mau kepoin hpku ya?" dugaku. "Abang tak percaya padaku?"
Arsy hanya tersenyum lalu menepuknepuk kepalaku.
"Abang bahkan gak tahu password hpmu itu," katanya.
"Masa Abang gak tahu? Aku aja bisa buka pola hp Abang."
Ups! Mulutmu ini Syifa. Ketahuan kan.
"Kamu buka hp Abang? Liat apa aja?"
"Gak liat apaapa," jawabku gugup. "Itu kenapa pola hp abang bukan inisial namaku? Malah inisial nama Abang. Abang tak sayang aku ya?" tanyaku mengubah topik pembicaraan.
"Memangnya nama pacar Abang ini siapa hmm?"
"Pake nanya lagi. Apa Abang memang lupa namaku?" kataku marah.
"Asyifa Zulmaniar Wirlandi, mana mungkin Abang lupa. Abang berulang kali ngapalin nama itu agar tak salah sebut pas Akad," jawabnya tenang.
Erk! Namaku Asyifa ya. Sejak kapan namaku Asyifa? Sejak lahiiiir pun.
Aisshhh kenapa aku lupa namaku sendiri, kebiasan dipanggil Syifa sih.
Jadi inisial A itu untuk Asyifa? Uhh kenapa taman di hatiku rasanya makin besar sekarang.
Padahal aku tadi kesal, kenapa dalam sekejap saja sudah berubah begini.
Arsy tibatiba mencubit kedua pipiku. "Ish kenapa senyumsenyum sendiri seperti itu?" tanyanya.
"Tak apa," jawabku masih dengan senyuman. "Jadi kenapa Abang tukar hp kita?
"Sengaja aja, pengen tahu apa yang akan kamu lakukan dengan hp Abang."
"Memangnya apa yang Abang pikir akan kulakukan?" tanyaku bingung.
"Hmm Abang pikir kamu akan selfieselfie di hp Abang. Mengingat kamu senang sekali fotofoto begitu. Dengan begitu hp Abang akan penuh dengan fotomu jadi Abang gak harus nyurinyuri foto kamu lagi,"
jawabnya.
Aisshhh seriusan dia berpikir seperti itu? Masa iya?
Keinginan Arsy selalu sederhana tapi tak pernah bisa kutebak.
"Padahal Abang tinggal minta fotoku, nanti kukasih."
"Kalau gitu ayo sekarang kita foto bersama. Kenangkenangan sebelum kamu berangkat KKN!" ajaknya.
Jlebbb! Dia mengingatkanku lagi kalau sebentar lagi kami akan berpisah. Tak bisakah dia ikut pergi bersamaku nanti?
Aku akan sangat merindukannya.
***
__ADS_1
Bersambung.