Nikah Muda (?)

Nikah Muda (?)
27. (Bukan) First Kiss


__ADS_3

***


Aku melihat Intan sedang bergelak tawa dengan Rio. Aisshhh apa karena itu Dafa ngamuk? Bukan karena aku ngambil air minumnya kan?


Aku menghampiri mereka. Takut terjadi sesuatu. Kemarin saja saat kulihat mereka ngobrol berdua tibatiba Intan jatuh. Eh tapi kan bukan salah Rio. Uhh tak peduli, mau nyamperin mereka juga. Tak mau terulang lagi kejadian kemarin.


"Woyy! Lagi ngapain?" tanyaku.


"Yaah gadis sok luchu dah datang," keluh Rio.


Aku menjelingnya tajam.


Ish kurang ajar.


"Kau lagi mengayat Intan ya?" tanyaku pada Rio.


Kalian tahu kan mengAyat? Itu bahasa gaulnya dari mengGombal.


"Saudaramu ini dah langsung reject aku. Bahkan sebelum kuluahkan perasaanku."


"Duhh yang sabar ya Rio," ucapku sok prihatin.


"Huh sokay. Kalian tahu gak, dalam sebuah novel ada cowok yang bilang gini 'Apa mungkin tokoh yang muncul di tengah cerita sepertiku bisa bersama dengan tokoh utama sepertimu?' Pada akhirnya cowok itu memang bersama si tokoh utama. Begitu pun aku. Meski dalam cerita cintamu ini aku hadir di tengahtengah cerita, tapi mungkin akhir cerita cintamu nanti justru adalah denganku," kata Rio yakin.


"Hey pede sekali. Novel apa yang kau anut itu?" tanya Intan.


"Sebuah novel berjudul 'R'. Penulisnya gak terkenal sih, bukan novel best seller juga. Tapi aku suka ceritanya. Kau harus baca Fa. Nama pemeran utamanya juga 'Syifa'," beritahu Rio.


"Kau sedang promo atau apa itu? Dibayar berapa sama penulisnya?" kali ini aku yang bertanya.


"Aku punya hutang pada penulisnya. Aku pernah menyakiti hatinya, dulu ... duluuu sekali," cerita Rio.


"Apa yang telah kau lakukan?" tanyaku penasaran.


"Secret. Yang jelas aku berdosa padanya. You know what, dia selalu menyisipkan namaku di setiap ceritanya. Tapi aku tak pernah dibiarkan bahagia di ceritanya itu. Betapa terlukanya dia olehku kan," sambung Rio.


"Haha dendam sekali dia padamu. Bahkan dalam dunia imajinasi saja dia tak membiarkanmu untuk bahagia. Kau pasti sudah sangat amat menyakiti hatinya," ucapku sambil tertawa. Baru pertama kali aku dengar secara langsung cerita yang seperti itu. Hahah kasihan Rio.


"Itu kan cuma cerita fiksi saja. Tak usah kau masukkan ke dalam hati," ucap Intan.


"Huft tauk dah!" jawab Rio.


Setelah itu kami lanjut ngobrol banyak hal. Tapi mataku terkadang masih fokus ke Arsy dan Kak Shara. Betapa dekatnya mereka. Mengesalkan sekali.


Wajar kan kalau aku sedikit cemburu. Oke sebenarnya bukan sedikit sih, aku sangat cemburu sekarang. Apa ini juga yang Dafa rasakan saat melihat Intan dan Rio dekat?


Tapi kan aku cemburu karena aku sayang Arsy. Apa Dafa sayang Rio? Eh Syifa ngaco. Maksudku, apa Dafa sayang Intan? Uhh tahu ahh. Dafa itu abuabu banget.


Kenapa juga aku harus mikirin Dafa di saat suamiku sedang bersama wanita lain. Ish!


***


Sejak siang sampai malam begini aku sama sekali gak bicara pada Arsy. Dianya juga seperti lupa padaku. Kulihat dia perhatian banget pada Kak Shara, mengambilkannya makan dan minum. Aku malah gak diingetin makan sama sekali. Seolaholah aku tak wujud saja.


Pas waktu sholat maghrib dan isya juga aku tak ikut berjamaah ke mesjid seperti selalu. Aku sholat di kamar dengan alasan mau nemenin Intan. Dan sejak sholat isya tadi aku belum keluar kamar.


Sekarang harusnya aku ikut briefing untuk acara besok, tapi lagilagi aku jadikan Intan alasan agar aku tak ikut briefing.


.


.


21.21 WJHS (waktu jam hp Syifa)


'Sayang!' ~Arsy


Bluetick!


Aku hanya read saja tapi tak kubalas.


Drrrtttdrrrtttddrrrrtttt


Arsy menelepon!


Malas sekali mau ngangkat.


Biarkan saja.


Setelah beberapa lama akhirnya ponselku berhenti bergetar juga. Sepertinya Arsy sudah menyerah sekarang.


"Assalaamu'alaikum ... Hah apa Bang? Syifa?" terdengar Intan sedang menerima telepon.


Aku yang sedang berbaring langsung bangun menghadap Intan.


'Arsy?' tanyaku tanpa bersuara, hanya menggerakan bibir saja.


Intan mengangguk.


'Bilang aku lagi tidur,' ucapku lagi sambil membuat gerakan lagi tidur agar Intan paham isyaratku ini.


"Syifanya udah tidur Bang," jawab Intan.


Aku sudah mengacungkan jempol padanya.


"Iya Bang .... Okay ... iya selamat malam juga ... wa'alaikumussalaam."


Setelah menjawab salam, Intan mematikan telepon lalu memandangku tajam.


"What?" tanyaku. Sebenarnya aku takut dengan tatapannya.


"Sweet couple kita ini kenapa? Kenapa kau tak mau bicara pada Abang Arsy?" tanya Intan.


"Aku lagi ngambek!"


"Karena?"


"Cemburu! Aku tak suka Arsy dekatdekat dengan Kak Shara. Kak Shara itu suka Arsy, Tan."


"Tapi kan Abang Arsy tak suka dia. Apa yang kau khawatirkan?"


"Lamalama Arsy mungkin akan goyah. Kak Shara cantik, baik, dewasa, pintar."


"Buang jauhjauh pikiran negatifmu itu. Harusnya kau percaya padanya."


"Gak tau ahh. Mau tidur. Pusing!"


Drrrkkk!


Pintu kamar terbuka. Ana dan Arini masuk.


"Syifa, Abang Arsy tadi nyariin kamu," beritahu Ana.


"Kayak anak ayam hilang aja dicariin," balasku.


"Kau kan adek kesayangannya. Makanya dia nyariin," kata Ana lagi.


"Tapi hari ini kalian gak terlihat samasama. Biasanya nempel terus. Apa karena ada isterinya Abang Arsy ya?" tanya Arini.


"Maksudmu?" tanyaku tak mengerti.


"Itu dokter Shara isterinya Abang Arsy kan? Soalnya mereka samasama terus," jawab Arini.


Nah kan Arini saja mikirnya Kak Shara itu isteri Arsy. Padahal baru saja aku mengutarakan rasa cemburuku pada Intan.


Aku memandang Intan. Dia sedang menutup muka dengan kedua tangannya. Lah tuh anak kenapa? Lagi main petak umpet?


"Kak Shara bukan isteri Arsy," ucapku.


"Lah? Bukan yaa. Padahal mereka serasi ya, Rin," kata Ana pada Arini.


Ish dua anak ini malah jadi minyak tanah. Api di dalam hatiku makin membesar jadinya.


"Sudahlah, mending kita tidur. Besok pasti butuh tenaga ekstra," ucap Intan. Dia jelas sangat tahu apa yang kurasakan.

__ADS_1


***


Program pemeriksaan kesehatan gratis sudah dibuka. Ternyata antusias warga sini sangat luar biasa sekali.


Banyak masyarakat yang datang untuk diperiksa.


Aku bertugas untuk mengatur wargawati. Kebetulan antrian pemeriksaan wargawan dan wargawati (sebutanku untuk warga pria dan wanita wkwk) itu dipisah. Kami yang cewekcewek ngurus wargawati, dan yang cowok ngurus wargawan.


***


Hari pertama, program kami berjalan lancar. Sekarang sudah masuk hari kedua. Rencananya memang hanya tiga hari programnya. Hari keempat nanti penyuluhan kesehatan.


Aku dan Intan sedang istirahat makan siang. Kebetulan Intan pun terjun ke lapangan sekarang. Dia bertugas mencatat identitas warga yang sudah dicek kesehatannya. Kerjanya sambil duduk, jadi dia tak mengalami masalah dengan kakinya.


"Haus banget ya?" tanyaku saat melihat Intan meneguk air mineral sampai habis setengah botol dalam sekali teguk.


Intan hanya nyengir saja.


Dafa datang lalu tanpa babibu dia mengambil minuman bekas Intan dan meminumnya sampai mau habis.


"Itu punyaku Bang," kata Intan, membuat Dafa berhenti minum lalu memandangnya.


Tapi kemudian Dafa mengalihkan lagi pandangannya dan meneguk minuman Intan sampai habis.


"Uhh segar!" ucapnya lalu pergi begitu saja tanpa rasa bersalah.


Kulihat Intan di sebelahku sudah terpaku, dia memegangi bibirnya. Kenapa lagi dengan anak ini aiisshhh.


"Fa, Dafa menciumku. My First Kiss!" ucap Intan sambil terus saja memegangi bibirnya. First Kiss apaan coba. Orang cuma minum dari botol yang sama saja.


"Yang barusan itu Indirect Kiss dari Dafa. Yaa Tuhan!" ucapnya lagi.


Intan mulai lagi sengkleknya. Istilah negeri mana lagi itu indirect kiss. Otaknya terpengaruh novelnovel romance kayaknya.


Dikasih yang 'Indirect' saja sudah mematung begini, bagaimana kalau Dafa memberinya 'Direct Kiss'. Aku yakin dia pasti akan pingsan.


"Huaaa bagaimana aku bisa move on sekarang?" keluh Intan sambil memukulmukul bahuku. Lah? Apaapaan dia.


.


.


.


Malam harinya ...


"Syifa, kata Arini Dokter Shara itu bukan isterinya Abang Arsy. Itu beneran ya?" tanya Risa saat sedang main di kamarku. Kebetulan Intan dah tidur. Mungkin penat.


"Iya. Memangnya kenapa? Kau tak percaya?" tanyaku balik.


Heran deh ini dari kemarin banyak yang nanya soal ini.


"Aku percaya sih. Tapi kau tahu gak, kemarin kan waktu dia nyuruh aku ngecharge hpnya, tanpa sengaja aku liat foto Abangmu jadi wallpapernya. Apa mungkin dokter Shara itu suka pada Abangmu?" kata Risa lagi.


Aku sih tak terkejut. Sudah tahu dari awal kalau Kak Shara suka Arsy. Gak aneh kalau dia nyimpan foto Arsy.


Tapi yang aku gak habis pikir, dia kan tahu Arsy sudah menikah. Kenapa dia gak move on saja. Kenapa save foto Arsy, dijadiin wallpaper pula. Suami orang itu. Ishh!


Oh iya Risa ini satu kamar dengan Kak Shara, dan infonya ini pasti dapat dipercaya. Aku yakin dia tak bohong.


"Kalau isterinya Abang Arsy lihat kedekatan Dokter Shara dan Abang Arsy selama di sini, kirakira apa yang akan dia pikirkan ya," katanya.


"Entahlah!" balasku.


Aku sudah malas dengan hal itu.


***


Hari ketiga!


Warga yang datang hanya beberapa saja karena sebagian besar dari mereka telah datang kemarin dan kemarin lusa.


Aku mencari Arsy, tapi tak ada di mana pun. Meski aku marah padanya tapi mataku ini tetap saja selalu ingin memandangnya. Benarbenar tak bisa diajak kompromi.


Wait ... wait ... wait! Aku pun tak melihat Kak Shara lho. Apa mereka sedang bersama di suatu tempat sekarang?


Buang jauhjauh pikiran negatif ini. Arsy itu setia punya.


Aku yakin itu.


Saat sedang mencari Arsy, aku malah melihat Intan sedang duduk satu meja bersama Rio dan Dafa. Yaa Tuhan! sedang apa mereka?


Aku perlu nyamperin mereka atau tidak ya? Ahh sebaiknya tak usah saja. Mereka sudah dewasa. Biarkan saja mengurus perasaannya sendiri. Aku tak mau terlalu ikut campur. Bagus juga memberi mereka ruang untuk bicara bertiga begitu.


Kuharap Dafa sadar, bahwa ada pria lain yang sedang menunggu Intan sekarang. Kalau pun dia tak suka Intan, ya semoga dia bisa tegaskan itu agar Rio bisa tetap maju memperjuangkan cintanya dan Intan bisa move on.


.


.


Saat hendak ke dapur untuk mengambil air, aku kaget karena ada Arsy dan Kak Shara di sana. Sedang apa mereka. Rasanya ingin menangis mendengar mereka tertawa bersama.


Mereka terdiam saat melihatku.


"Sorry ganggu!" ucapku lalu berbalik pergi.


Arsy menarik tanganku saat aku berada di lorong yang memisahkan dapur dan ruang tengah. Adalah sekitar tiga meteran gitu.


Apa yang dilakukan Arsy itu otomatis menghentikan langkahku. Dia mendorongku hingga aku tersandar pada dinding. Sekarang aku terperangkap antara tembok dan dirinya.


Dia tak bicara, hanya menatapku tajam. Aku mengalihkan wajahku dari wajahnya. Tak tahan dengan tatapannya. Ini kalau ada orang yang lewat entah bagaimana tanggapan mereka. Ish!


"Kenapa menghindari Abang hurm?" tanyanya. Akhirnya dia bersuara juga setelah diam cukup lama. "Apa yang terjadi?"


"Tak ada apaapa," jawabku.


"Kenapa tak mau pandang Abang?" tanyanya lagi.


Aku diam tak menjawab. Mataku sudah berkaca sekarang. Mana mungkin aku menatapnya dengan mata seperti ini.


"Kamu marah pada Abang? Apa Abang melakukan hal yang menyakiti hatimu?"


Tak ada nada marah dalam suaranya. Kecewa pun tidak.


"Kenapa tak jawab? Kenapa mendiamkan Abang seperti ini?"


Dari tadi pertanyaannya kebanyakan 'kenapa' nya. Apa dia tak menyadarinya? Jawaban untuk semua pertanyaannya hanya ada satu. Aku cemburu!


"Sudah berharihari lho kamu seperti ini," ucapnya lagi.


"Lalu kenapa baru bertanya sekarang? Jika kemarin saja Abang tak peduli, lalu kenapa sekarang ingin tahu? Kenapa baru sekarang Abang bertanya?" tanyaku tanpa memandangnya.


"Kamu yang menghindari Abang. Abang bahkan tak punya kesempatan untuk bicara denganmu," jawabnya.


"Tak akan ada kesempatan. Bagaimana akan ada kesempatan. Waktu Abang, Abang habiskan dengan wanita lain," balasku.


"I got it! Kamu cemburu."


Aisshhh bagaimana dia tahu. Syifa bodoh. Kau sendiri yang memberitahunya barusan. Kenapa kau mengatakan tentang wanita lain. Bodoh!


"No!" kataku sambil membalas pandangannya.


"Yes!" katanya.


"Tak ada alasan untukku cemburu."


Bohong banget Syifa! Padahal sudah sangat jelas.


"Really?"


"Ya, tolong lepaskan aku sekarang. Masih banyak yang harus kulakukan," pintaku.


Arsy menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Jujur saja tentang perasaanmu sekarang. Jangan kau pendam lagi," katanya sambil menghapus air mataku.


Entah kapan air mataku ini mengalir. Padahal sudah kutahan sebisaku. Tapi tetap saja tak mau menurut dan keluar tanpa kerelaanku.


"Ya aku cemburu! Setelah mengetahui perasaan Kak Shara pada Abang, aku tak suka melihat Abang dekat dengan Kak Shara. Aku tak suka Abang bercanda tawa dengannya. Aku kesal mengetahui dia memasang foto Abang di wallpaper hpnya. Aku tahu aku egois, aku tahu aku tak dewasa. Tapi kumohon jaga jaraklah dengannya. Aku tak suka melihat Abang bersamanya. Aku tak suka Abang perhatian padanya. Aku tak suka saat temantemanku bilang kalian serasi. Aku tak suka saat temantemanku menganggap dia isteri Abang. Aku tak su ...."


Tibatiba sesuatu membungkamku. Hangat!


Bibirnya menyentuh bibirku. Aku terdiam, membatu!


"Aisshhh kau menggemaskan sekali kalau marah," katanya sambil tersenyum setelah menjauhkan bibirnya dari bibirku.


Aku masih terkejut dengan yang dilakukannya.


"My first Kiss!" gumamku sambil memegangi bibirku. Hampir sama seperti keadaan Intan kemarin.


Setelah aku sadar.


Aku mendorongnya menjauh dariku lalu aku berjalan pergi.


"Abang tak yakin itu FirstKissmu," ucapnya, yang kembali menghentikan langkahku.


Aku berbalik lagi.


Dia sudah bersandar di dinding dengan kedua tangan di saku celananya. Dia menjilat bibirnya sendiri lalu tersenyum. Aisshhh seperti anak kecil yang baru saja makan eskrim. Kenapa aku malu melihatnya melakukan itu.


"Kau yakin itu FirstKissmu?" tanyanya lagi membuatku kesal.


"Abang pikir aku wanita macam apa hah? Aku tak pernah melakukannya dengan siapapun sebelumnya. Ini benarbenar yang pertama," kataku marah.


Dia mendekatiku lalu memegang kedua pipiku. Mau apalagi dia. Yaa Tuhan!


"Kamu wanita baik. Tapi Abang bukan. Wanita dan pria dewasa berada dalam satu ruangan tertutup dengan ikatan yang halal kamu pikir tak akan terjadi sesuatu? Abang ini tetap seorang pria. Rasanya geram sekali setiap melihatmu tidur di samping Abang."


Dia mengernyitkan mata padaku sambil tersenyum lalu melepaskan tangannya dari pipiku.


Oh my God! Apa yang Arsy katakan? Jadi selama ini dia sudah mencuri firstkissku tanpa kutahu? Yaa Tuhan!


Jadi yang tadi itu bukan firstkissku? Jadi yang tadi itu second? Third? Atau lebih? Mamaaaa! Apa yang menantumu ini telah lakukan pada anakmu Ma?


Aku menekup mukaku. Malu!


Bisa kudengar Arsy tertawa sekarang. Menyebalkan sekali dia!


***


Bersambung.


*BONUS*


-Author's POV-


***


Dafa duduk di sebelah Intan setelah melihatnya sedang bersama Rio. Entah kenapa dia tak tahan melihat Intan dan Rio selalu bersama.


Rio dan Intan sepertinya terkejut dengan kehadiran Dafa. Rio terkejut karena dia memang tak mengharapkan dafa datang.


Sedangkan Intan terkejut karena masih malu pada Dafa setelah kejadian Indirect kissnya itu.


"Kalian akrab sekali!" kata Dafa membuka suara.


"Dia wanita yang kusukai. Aku sedang berusaha memikat hatinya," jawab Rio terus terang.


Dafa sudah tersenyum sinis.


'Anak kecil!' pikirnya.


"Waw sepertinya kau harus berusaha keras. Yang kutahu anak ini sedang menyukai seseorang sekarang," kata Dafa sambil melirik Intan.


"Ya. Aku tahu. Tapi sepertinya


orang yang dia sukai tak bisa menghargai perasaannya, dan sedikit banyak itu sangat menguntungkanku. Dia sedang dalam proses melupakan. Dan aku akan memanfaatkannya," balas Rio.


Dafa sepertinya agak terkejut. Dia memandang Intan yang masih bersikap biasa saja padahal dua pria di sampingnya sedang membicarakannya.


"Semoga berhasil!" ucap Dafa tak ikhlas.


"Tentu saja. Thanks!" jawab Rio.


***


Shara melihat Arsy sedang termenung di dapur.


Akhirakhir ini Syifa menghindari Arsy. Membuat Arsy tak fokus dan banyak termenung ketika sedang sendiri.


Shara menghampiri Arsy dan minta izin duduk di depannya.


Tentu saja Arsy izinkan, dia tak ada hak melarang Shara duduk di situ.


"Tak baik termenung depan rejeki Bang," tegur Shara.


"Heu iya!" jawab Arsy.


"Diliatin aja gak bakal kenyang. Nunggu makanannya masuk sendiri ke perut Abang juga mana mau tuh makanannya jalan sendiri!" ucap Shara.


"Hahah iya juga sih."


Saat itu Shara melihat Syifa datang. Arsy juga menoleh ke arah yang dilihat Shara.


"Sorry ganggu!" Ucap Syifa lalu pergi.


Arsy langsung mengejar Syifa tanpa memperdulikan Shara.


Shara bisa melihat api cemburu di mata Syifa. Selama beberapa hari disini dia sadar ketidaksukaan Syifa setiap melihatnya bersama Arsy.


Bukannya dia tak mengerti perasaan Syifa. Hanya saja dia tak bisa menahan diri.


Ya, dia menyukai Arsy. Sejak pertama bekerja di RS dia sudah terpaut pada sosok Arsy. Arsy baik, Arsy caring, Arsy sopan, Arsy tampan. Pesona Arsy memang tak bisa ditolak.


Tapi selama ini dia hanya bisa menyukai Arsy dalam diam saja.


Hatinya seakan remuk saat tahu Arsy sudah menikah. Sebisa mungkin dia ingin menjaga batasannya. Arsy suami orang sekarang.


Tapi terkadang dia khilaf, dia terlalu leka ketika bersama Arsy hingga lupa kalau Arsy sudah menikah.


MoveOn! Hal yang sulit untuk Shara lakukan.


Setelah lama melayan perasaan. Shara melihat makanan Arsy yang sama sekali belum tersentuh. Dia bangun untuk menyerahkan itu pada Arsy.


Dirinya mematung ketika tanpa sengaja melihat Arsy sedang mencium Syifa.


Tangan yang sedang memegang kotak nasi seketika bergetar.


Dengan susah payah dia mundur lalu berusaha berpegangan pada ujung meja. Lututnya terasa lemah sekali setelah melihat apa yang Arsy lakukan. Dia memegangi dadanya yang terasa sangat sesak.


Dia terduduk di lantai dapur. Terlihat air jernih dari matanya mulai turun membasahi pipi.


Kenapa harus Arsy? Kenapa harus suami orang? Shara marah pada dirinya sendiri karena mencintai pria yang telah dimiliki wanita lain.


Beberapa lama kemudian Helmi datang. Dia terkejut melihat Shara menangis di lantai dapur.


"Dokter okay?" tanyanya.


Shara mengelap air matanya lalu mengangguk pada Helmi.


"Dokter sakit?" tanya Helmi khawatir.


"Telat makan. Sakit perut saya kambuh!" kilah Shara.


"Dokter bisa sakit juga ya. Lain kali perhatikan kesehatan sendiri juga!" pesan Helmi.


"Iya. Makasih!" kata Shara tersenyum. "Saya ke depan dulu ya. Permisi!" ucap Shara pada Helmi.

__ADS_1


***


*HABIS*


__ADS_2