Nikah Muda (?)

Nikah Muda (?)
23. Janji


__ADS_3

***


Keesokan harinya aku menemui Helmi dan minta maaf tentang kejadian semalam. Aku berjanji akan menyelesaikan tugasku, mendapatkan data RT 19.


"Sore ini aku dan Intan libur ngajar diniyah. Mau ke rumah Pak RT 19. Tadi aku dah ngomong ke Helmi, dia akan nyuruh Jay dan Rudy ngajar gantiin kami. Ana kau sebaiknya tetap ngajar tak apa kan?" tanyaku pada Ana saat kami sedang menyapu. Aku, Ana, Intan dan Dani hari ini piket, jadi kami bagian beresberes dan jaga posko. Intan mungkin sedang di dapur menyiapkan bahanbahan untuk memasak.


"Aku ikut kalian saja. Malaslah ngajar sama Dini," ucap Ana. Kasian juga kami ninggalin dia. Tapi anakanak gak ada yang ngajar nanti kalau Ana ikut kami.


"Aku dan Ana aja yang ke rumah Pak RT. Kau yang ngajar," sampuk Intan yang muncul dari dapur.


"Gitu juga boleh sih," jawabku.


PLUKKKK!


Tibatiba Rio datang melemparkan buku dan tepat mengenai kepala Intan.


"Aww!" Intan mengaduh. Telat banget ya mengaduhnya. Wkwk


Setelah itu Rio pergi begitu saja.


Heran kok dia sudah ada disini, bukannya lagi ngajar SD. Eh tapi kan dah lewat dzuhur. Mungkin sudah pulang.


"Ish Rio kau apaapaan sih. Gak sopan! Kau pikir kepala Intan tempat buat lempar jumrah? Lagipula ini bukan musim haji oyy!" teriakku marah. "Tan, kau tak apa kan?" tanyaku pada Intan. Tak ada gunanya teriak pada Rio, dianya juga udah menghilang.


"Ana, Fa. Lihat deh!" kata Intan sambil memperlihatkan buku yang dilempar Rio tadi.


Terdapat tulisan yang membuat kami kaget dan saling memandang satu sama lain.


"RT SEMBILAN BELAS!" teriak kami kaget sekaligus bingung plus senang.


Itu buku ternyata berisi datadata warga RT sembilan belas. Ya ampun, Rio dapat dari mana? Bagaimana dia mendapatkannya? Kenapa dia melakukan ini? Pertanyaanpertanyaan itu muncul di benakku. Sepertinya di benak Intan dan Ana juga.


***


Seperti biasa malam harinya kami mengadakan evaluasi.


"Karena semua sudah lengkap jadi sekarang kita bisa nyusun program kerja kita," ucap Helmi.


Hani melirik ke arahku, sepertinya terkejut karena data RT19 sudah ada.


"Aku tadi dah bacabaca semua data RT desa ini. Ratarata warga disini sekolah sampai SD karena di sini tak ada SMP. SMP nya jauh di desa sebelah. Selain keterbatasan itu, sepertinya warga masih menganut tradisi nikah di usia dini. Yang aku lihat banyak anakanak belasan tahun sudah berkeluarga. Bukan tak boleh, aku mendukung nikah muda sebenarnya. Tapi bukan berarti mengabaikan pendidikan.


Nanti mungkin anak keguruan bisa ngasih saran untuk masalah ini.


Dilihat dari segi ekonomi, sebenarnya desa ini memiliki potensi besar untuk maju dalam bidang ekonomi. Mata pencaharian warga ratarata adalah bertani dan konveksi. Hasil pertanian desa ini tak dimanfaatkan dengan maksimal. Aku bertanya pada beberapa warga, katanya banyak singkong yang suka terbuang percuma tak termakan. Padahal itu bisa dimanfaatkan untuk menambah penghasilan. Bisa kita olah. Misal kita bikin program demo masak makanan olahan singkong.


Dan untuk usaha konveksi, dari konveksi ini banyak sisa kain terbuang, itu masih bisa digunakan untuk membuat hiasan kerudung atau apalah. Kita bisa bikin program pelatihan tentang ini pada warga nanti.


Untuk masalah kesehatan jujur saja desa ini kurang sekali. Tak ada dokter satu pun. Kalau berobat harus pergi ke kecamatan. Jauh. Mungkin anak kesehatan masyarakat nanti bisa ngasih saran," jelas Intan panjang lebar.


Huaaa aku sampai hampir tak bernafas mendengar penjelasannya yang panjang itu.


"Nanti kita pertimbangkan, Tan. Ada yang lain? Anak keguruan atau kesmas ada saran?" tanya Helmi.


"Untuk masalah kesehatan. Kita mungkin bisa adakan pemeriksaan kesehatan gratis untuk warga. Atau mengadakan penyuluhan kesehatan. Dan sebaiknya bukan hanya untuk orangtua saja, tapi untuk anakanak juga. Agar mereka termotivasi untuk menjadi dokter. Dengan begitu masalah pendidikan tadi pun sekurangnya bisa terbantu dengan program ini. Anakanak jadi ingin bersekolah tinggi untuk bisa menjadi dokter. Tapi masalahnya, perlu dana besar untuk ini. Kita harus bekerjasama dengan rumah sakit agar memudahkan kita merealisasikan program ini. Dan tak gampang mencari rumah sakit yang mau bekerja sama," kata Rio yang merupakan mahasiswa jurusan kesehatan masyarakat.


Aku mengacungkan tangan untuk interupsi.


"Hah ada apa Asyifa? Kau mau izin ke wc atau apa?" tanya Helmi.


Ya ampun Helmi ini menyebalkan sekali.


"Mau ke wc sih iya juga. Tapi sekarang mau ngomong dulu boleh?" jawabku.


"Ngomong apa?"


"Hmm sebenarnya Abangku seorang dokter. Kalau mau nanti aku bisa tanya padanya rumah sakitnya ngadain CSR atau tidak. Kalau tidak pun, nanti aku bisa minta bantuannya untuk mengadakan penyuluhan di sini," ucapku.


"Abangmu yang ganteng itu dokter? Yaa Tuhaan. Kenalin padaku Fa!" kata Neli tibatiba.


"Nel, kita lagi serius." Helmi mengingatkan. "Okeh Syif itu boleh juga. Jadi bisa menghemat pengeluaran kita," sambung Helmi.


"Soal pendidikan tadi boleh ngasih saran gak? Aku dan Arini sudah bahas ini kemarin. Bagaimana kalau kita membuat program yang dinamakan 'bengkel pendidikan', tujuannya tentu saja untuk memperbaiki pendidikan di desa ini," terangku. Bosan jadi rakyat jelata yang hanya diam. Aku juga ingin berkontribusi lebih, tak hanya diam manggutmanggut saja.


"Hmm boleh juga. Yang lain ada saran lain mengenai program yang akan kita lakukan selama disini?"


Setelah itu satu persatu mulai mengemukakan pendapatnya. Sampai akhirnya disepakati beberapa program yang akan kami lakukan.


Setelah rapat selesai kami pun bubar.


"Rio tunggu!" kataku pada Rio saat dia akan pulang ke kontrakan pria yang ada di sebelah kontrakan wanita.


"Makasih untuk data RT19 tadi. Btw, kau dapat itu dari mana?" tanyaku.


"Ketua RT19."


"Kapan kau menemuinya?"


"Kemarin malam," jawabnya datar. Bukannya kemarin dia ngobrol sama aku. Apa setelah itu dia pergi?

__ADS_1


"Sendirian?" tanyaku tak percaya.


"Tak. Ditemani bintang malam," jawabnya.


Dihh jawaban macam apa itu.


"Hmm yealah tuh. Pokoknya aku sangat berterimakasih. Apa yang harus kulakukan untuk membalas jasamu itu? Katakan saja."


"Cukup dengan penuhi janjimu saja," balasnya.


"Janji yang mana?" tanyaku bingung. Kapan aku berjanji padanya.


"Kemarin malam," jawabnya lalu pergi.


Aishhh dia ini sering banget pergi tibatiba. Janji apa yang kubuat dengannya kemarin? Aku tak merasa berjanji apapun.


***


.


.


Beberapa hari sudah berlalu. Sudah seminggu lebih kami di sini. Dan kami sudah mulai menjalankan program kami.


Btw, selama beberapa hari ini juga aku masih bertanyatanya apa janjiku pada Rio. Setiap aku tanya dia tak pernah mau menjawab. Padahal pertanyaanku tak sesusah ulangan manajemen pemasaran yang soalnya contoh kasus semua. Isinya tak ada hitungan sama sekali, mumet banget nulis jawaban sudah kayak nulis essay saja.


Aishhh lupakan soal pemasaran. Balik lagi soal Rio. Maksud dia sebenarnya apa ya. Apa dia suka padaku? Ah tak mungkin. Tapi kalau dia suka aku gimana? Uhh aku sudah ada Arsy. Aku ini kan setia.


Ngomongngomong soal Arsy. Dia belum bisa datang menjengukku. Mengesalkan sekali. Kami hanya bicara lewat telepon saja. Untung jaringan operator XYZ disini kencang, bagus banget.


Aku sedang menunggui Intan sekarang. Dia sedang mengantar Icha belanja, besok jadwal Icha piket.


Hari sudah sore, sudah mulai hujan pula. Intan belanja kemana sih lama banget.


Sudah hampir maghrib tapi Intan belum pulang. Apa Intan sedang berteduh kali ya nunggu hujan reda. Perasaanku jadi tak enak gini.


"Fa, Intan belum pulang?" tanya Arini.


"Belum. Dia tak bawa hp pula, jadi tak bisa ku telepon. Sepertinya dia kejebak hujan,"


jawabku khawatir.


"Aku pusing liat kau mondar mandir. Duduk diam saja tak bisa?" tanya Helmi yang kebetulan sedang ada di posko.


Tak berapa lama kemudian terdengar teriakan dari dapur. Sepertinya memanggil namaku.


"Aku cerita nanti. Sekarang kau ambilkan handuk dan baju ganti buatku," kata Intan.


Aku segera mengambil apa yang dia butuhkan.  Setelah itu dia bergegas mandi.


Selesai mandi aku menyuruhnya minum teh, sambil  menunggu dia mandi tadi aku menyeduh teh manis untuknya. Sekarang kami sedang duduk di ruang tamu.


"Kau darimana saja tadi?" tanyaku.


"Hmm aku capek banget, Fa. Aku tiduran dulu bentar ya. Ceritanya nanti lagi. Bangunin aku kalau masuk waktu maghrib," ucap Intan.


Dia terlihat aneh. Apa dia sakit? Terakhir kena hujan dia berakhir di rumah sakit. Apakah Intan akan sakit lagi? Yaa Tuhan, semoga tidak. Tak ada dokter disini.


Tak lama setelah Intan pergi tidur, Icha datang. Dia menatapku sinis. Lah dia kenapa. Aku yang tadinya mau nanya jadi mengurungkan niatku. Takut.


Tapi aneh. Dia tak basah kuyup kayak Intan.


Ah pantas sih, ternyata dia bawa payung. Kenapa dia membiarkan Intan kehujanan. Jahat sekali ish.


.


"Wah anget nih." Kata Rio yang tibatiba muncul lalu meminum es teh manis bekas Intan.


"Oyy itu punya Intan!" ucapku marah.


"Pantas rasanya manis," katanya sambil meminum teh itu lagi. Aishh!


"Namanya juga teh manis ya pasti manis lah," cebikku.


Kadangkadang Rio ini sludud juga.


"Kau sudah ingat janjimu?" tanyanya.


"Yang mana sih?"


"Janjimu untuk meminta orangtuamu merestui aku dan Intan!"


"Wuttssss!"


Yang itu? Jadi itu janji yang dia maksud? Rio menyukai Intan?


***


Bersambung.

__ADS_1


*BONUS*


-Author's POV-


***


"Cha, belanjanya gak bisa cepet ya? Udah mau hujan nih," kata Intan yang sedang mengantar Icha belanja.


"Bawel deh. Kalau belanja kan harus pilihpilih dulu. Kalau nanti dapat sayur yang jelek gimana," balas Icha.


Akhirnya setelah lama memilih, Icha selesai juga belanjanya. Dan Intan tentu saja lega. Naya kalau kehujanan di jalan pikirnya, bisabisa sakit kayak waktu itu.


"Tan, kita mampir ke toko samping lapangan dulu ya. Aku mau beli bedak!" arah Icha.


Di desa yang jauh dari kota juga ternyata ada yang menjual kosmetik.


"Besok aja Cha. Dah gerimis nih," tolak Intan.


"Sebentar doang Tan. Kau ini pelit banget sih. Tahu gitu aku gak usah nyuruh kau anter aku tadi!" marah Icha.


Karena tak mau ribut, dengan kesal Intan membelokkan motornya ke toko yang dimaksud Icha.


Dan bukan hanya sebentar Icha di toko bedak. Dia lama sekali memilih, padahal dalamnya sepertinya sama saja.


Entah bedak jenis apa yang diinginkannya.


"Tan, cepat nyalakan motornya. Hujan nih!" arah Icha setelah keluar dari toko.


Belum sempat Intan menyalakan motornya, hujan yang tadinya hanya rintikrintik kecil berubah deras.


Terpaksa mereka harus berteduh dulu di depan toko.


"Kau lelet sih nyalain motornya, jadi kita kejebak hujan," marah Icha lagi.


Intan tak membalas ocehan Icha. Percuma. Buangbuang waktu.


Sudah lumayan lama tapi hujan tak kunjung reda. Intan sudah mulai tak senang duduk. Tak betah jika lebih lama menunggu lagi. Dia sudah kedinginan. Ditambah sepanjang menunggu ditemani katakata menyakitkan hati dari Icha.


Tibatiba seseorang datang menghampiri.


"Rio, akhirnya kamu jemput aku juga. Aku sudah kedinginan dari tadi. Garagara Intan kami jadi kejebak hujan," adu Icha pada Rio.


Intan sudah membuat muka geli mendengar rengekan Icha itu. Menyampah!


Rio meletakan payungnya. Dia membuka jaketnya lalu memakaikannya pada Icha.


Intan semakin geli melihat drama yang tak ada romantisromantisnya sama sekali dalam pandangannya.


"Kamu baik banget sih. Ayo kita pulang. Biarkan saja Intan di sini," kata Icha sinis.


Tanpa diduga Rio mengambil kunci motor dari tangan Intan. Lalu menarik Intan ke dalam hujan. Untung tangannya berlapik kain.


"Kau gila? Ini hujan!" teriak Intan.


Rio naik dan menyalakan motor Intan.


"Cepat naik!" arahnya.


"Gak mau. Ini hujan, kau gila ya. Aku gak mau," tolak Intan. Bukan hanya karena hujan sebenarnya. Tapi karena dia memang tak mau dibonceng pria ajnabi.


"Kau sudah basah sekarang. Naik sendiri atau aku gendong kau agar naik?" Ancam Rio.


Intan tetap membatu. Rio turun dari motor dan menariknya agar duduk.


Sekarang giliran Icha yang harus menyaksikan drama tak seberapa romantis itu.


Akhirnya Intan pun naik juga.


"Cha, bawa payungku. Kau pulang sendiri." Ucap Rio lalu melaju meninggalkan Icha yang terpinga.


.


.


Motor berhenti di depan kontrakan.


"Cepat mandi lalu hangatkan dirimu," kata Rio.


Intan sudah mencebik geram.


Karena badannya sudah basah akhirnya dia memutuskan untuk masuk lewat dapur saja biar tak membasahi lantai rumah.


Intan sudah sangat kedinginan.


"Syifaaaa!" teriak Intan dari dapur.


***


*Bonus habis* wkwk

__ADS_1


__ADS_2