Nikah Muda (?)

Nikah Muda (?)
22. Mumet


__ADS_3

***


Helmi dari jurusan pendidikan sejarah, sebelumnya telah kami pilih sebagai koordinator desa (kordes) kelompok kami. Sedangkan wakilnya adalah Rio. Aku dan Intan jadi rakyat jelata saja tak masuk ke jajaran pejabat teras. Malas dan ribet kalau ikut jadi bendahara atau sekretaris segala macam begitu.


Malam pertama di tempat baru ini Helmi mengadakan rapat kecil yang diadakan di kontrakan wanita, karena di sini lebih luas dibanding kontrakan pria. Kontrakan wanita ini dijadikan posko kelompok kami juga.


"Kita harus paham tugas kita masingmasing. Uang yang kita setor kemarin ke bendahara akan digunakan untuk bayar kontrakan, kebutuhan kita selama disini dan lainlain. Bendahara tolong catat setiap pengeluaran dengan teliti. Usahakan kita masih punya banyak uang untuk kegiatan atau program kita, takutnya kita tak mendapat sponsor nantinya. Sekretaris catat semua hasil rapat kita ini. Tolong catat semua no hp anggota lalu print dan tempel di dinding biar kalau ada apaapa gampang. Nanti mungkin sekretaris akan lebih sibuk membuat proposal dan suratsurat segala macam ... balablabla."


Helmi mulai menjelaskan tugas kami satu persatu. Dia juga menyuruh kami membuat jadwal piket. Yang akan bertugas memasak, beresberes dan jaga posko.


Aku sengaja mau sejadwal sama Intan soalnya aku gak bisa masak.


"Jadi kirakira program kita untuk membangun desa ini mau seperti apa ntar?" tanya Icha si Bendahara, setelah helmi selesai bicara. Dia ini agak judes, aku takut sebenarnya.


"Gak salah nanya itu sekarang? Kita baru sampai lho Cha. Menurutku lebih baik kita kenalan dulu aja dengan desa ini. Maksudku kita cari tahu potensi apa saja yang ada di desa ini, atau aspek apa yang masih tertinggal di desa ini. Jika kita sudah tahu maka baru kita konsepin program apa yang akan kita lakukan untuk memajukan desa ini," terang Intan. Dia ini kadang pinter juga.


"Mungkin maksudnya Icha kita harus merencanakan program dari sekarang biar besok gak bingung lagi mau ngapain. Jadi kita ngirangira dulu gitu mau bikin program apa nanti," timpal Hani.


"Han, kita bukan hanya sehari dua saja di sini. Masih ada besok atau lusa untuk merencanakan program. Bikin program tanpa tahu apa yang dibutuhkan desa ini juga percuma," balas Intan.


"Kita bikin rencana kerja aja dulu. Kita empat minggu di sini. Minggu pertama kita ngapain, kedua ngapain dan seterusnya," timpal Rio yang biasanya cuek sekarang tibatiba ngomong.


"Oke gini aja. Besok kan kepala desa ngadain upacara penyambutan untuk kita di kantor desa. Nah nanti kita sekalian tanya ada berapa RT/RW di desa ini. Kalau sudah dapat nanti kita bagibagi orang buat datadata warga di setiap RT. Setuju?"


Kami manggutmanggut saja mengiyakan. Rakyat jelata ya setuju saja lah ya biar cepet. Aku dah capek, mau istirahat.


Eh mau telepon pacar(?) tercintaku juga ding, baru beberapa jam pisah sudah kangen aja.


Arsy lagi ngapain ya. Uhh dia pasti sedang memikirkan aku.


Bodoh Syifa. Nanya sendiri jawab sendiri. Ckckck!


"Asyifa! Kenapa kau senyumsenyum pada hp mu seperti itu? Apa hp mu sedang ngelawak?" tanya Helmi membuatku tersentak.


Sontak aku mengangkat wajah, semuanya sedang menatapku sekarang.


"Haha iya. Hp ku ngelucu barusan," jawabku.


Hajar saja lah kepalang malu.


Iyain saja.


Yang lain sudah mengikik mendengar jawabanku yang jenius itu. Bodo amat.


"Lain kali saat kita rapat kayak gini jangan pada pegang hp ya. Fokus!" kata Helmi sambil melirik ke arahku.


Aissshhh senyumin saja lah.


***


Jam empat pagi aku dan Intan sudah bangun. Kamar mandi cuma satu dipake enambelas orang, kalau bangun siang ya harus ngantri nanti. Jadi mending kami bangun awal aja biar mandi dan nyucinya lebih tenang.


Bisa saja sih mandi di sungai, tapi takutnya entar jadi viral karena dipikir ada bidadari turun mandi ke bumi.


"Pagipagi gini kalian lagi ngapain?" tanya Rio yang tibatiba datang saat kami sedang kesusahan. Pas banget emang. Aku dan Intan sedang membuat tempat jemuran baru, karena tempat jemuran yang ada disini pasti gak akan muat untuk kami semua.


Untung kami bawa tambang dari rumah. Itu pun dipaksa Dafa sebenarnya, dia bilang kami akan butuh nanti. Dan ternyata memang benar.


"Bikin tempat jemuran," jawabku.


"Biar aku bantu," tawarnya.


Aduh mimpi apa kami semalam sampai bisa sedekat ini sama Rio.


Dia ini jarang bicara dan cuek banget orangnya.


"Fa, perasaamu ke Arsy kayak genangan air kalau lagi hujan tau gak. Dangkal!" bisik Intan.


Aku memandangnya tajam. Maksudnya apa coba.


"Gampang goyah," tambahnya.


Dihhh enak saja. Kata siapa perasaanku cuma sedalam becekan air. Perasaanku ke Arsy itu sedalamdalamnya lautan India. Eh kayak lirik lagu yak.


"Mulutmu itu tak ada insurance ya sistaaa!" kataku geram.


"Habis kau mandangin Rio dengan berselera. Seolaholah dia itu pisang."


"Oyy kurang ajar. Kau pikir aku ini monkey yang akan berbinar kalau liat pisang?"


Ish menyebalkan sekali Intan ini.


"Sudah selesai," kata Rio menghentikan bisikbisik kami. Harapharap dia hanya dengar nothin'. Sama saja dengan tak dengar apaapa dong kalau gitu. Ya maksudku memang gitu. Ngomong apa sih. Haha!


"Makasih!" ucap kami serentak.


"Most welcome!" jawabnya lalu pergi.


Cool banget dia.


Aisshhh sadar Syifa!


***


"Kalian ini adik kakak ya?" tanya Risa sebelum berangkat ke kantor desa. Btw, aku dah hafalin namanama teman KKNku ini.


Aku dan Intan sudah saling pandang. Ini bukan pertama kalinya. Sudah berulang kali kami ditanya seperti itu.


"Iya!" jawab kami barengan lagi.


Setiap ada yang nanya gitu kami akan bilang iya. Kami kan memang saudara. Hanya saja kami ditakdirkan lahir dari rahim berbeda.

__ADS_1


"Wah senang ya bisa satu kelompok sama saudara sendiri, kebetulan banget ya. Kalian beruntung," ucap Delis pula.


Kebetulan apanya. Kalau gak karena minta pindah kelompok, aku dan Intan mana mungkin bersama.


"Paling mereka nyogok," kata Hani tibatiba. Ish ini orang kenapa?


Intan memegang tanganku mungkin agar aku tak membalas ucapan Hani itu.


"Anak mama sih ya duaduanya. Kemaren aja datang bawa rombongan," timpal Dini.


Yaa Tuhan, ribet banget sih hidupnya ngurusin orang. Hani dan Dini, apa janganjangan yang belakangnya NI nyebelin semua kali yak. Ah tapi Arini enggak kok. Malah dia ramah sama kami.


BRUUUMMM BRRUUMMM!


Suara motor yang sepertinya sengaja digas dengan kencang itu sukses membuat kami kaget. Ish baru saja aku mau balas omongan Dini tadi.


"Siapapun, cepet naik!" arah Rio entah sama siapa.


Hani dan Icha langsung naik ke motor rio.


Aku menatap Dini tajam. Ada batu ada talas, ada waktu aku balas.


Baru hari pertama saja sudah nyari masalah.


***


.


.


.


.


Tak terasa empat hari telah berlalu. Kami sudah mulai mendata warga. Selain itu juga kami aktif ngajar di sekolah dasar dan sekolah diniyah.


"Hey, Asy! Kalau ngajar itu harus ada wibawanya. Kau ketawa mulu sama muridmu. Kau itu guru, bersikaplah kayak guru. Jangan kayak anak kecil. Nanti muridmu tak menghormatimu," kata Dini saat kami pulang ngajar di diniyah.


"Aku tak seperti kau yang berasal dari jurusan keguruan. Aku ini anak ekonomi. Kau diajarkan cara mengajar yang baik, sedangkan aku tidak. Aku mengajar dengan caraku sendiri. Aku memang seperti ini, kekanakkan dan menganggap anakanak itu sahabatku. Aku tak minta dihormati. Aku cuma mau mereka nyaman sama aku dan paham apa yang aku ajarkan. Rasa hormat akan muncul dengan sendirinya. Tak perlu dicari, tak perlu dipaksakan. Nanti jatuhnya malah takut bukan hormat. Rasa hormat itu lahir dari kerelaan bukan karena tekanan. Penyerahan bukan pemaksaan," balasku.


Entah kenapa dari awal aku selalu salah di mata Dini. Dia selalu tak puas hati padaku.


Sekarang masalahin cara ngajarku. Aku belajar jadi guru, bukan jadi hantu. Mau membimbing bukan menakuti.


Dia pikir ini upacara bendera kali ya yang ada nyuruhnyuruh buat hormat segala macem. Ribet banget deh hidupnya.


***


Setiap malam pasti selalu diadakan evaluasi sekaligus laporan kegiatan kita selama sehari. 


"Asyifa! Jadi bagaimana dengan tugasmu?" tanya Helmi setelah sebelumnya menanyai anggota yang lain.


"Tinggal satu RT lagi. Pak RT 19 sibuk kerja di sawah dari pagi sampe sore. Sulit ditemui," jawabku.


"Aku, Intan dan Ana itu cewek. Mana mungkin malemmalem kesana bertiga."


"Kenapa tak ajak teman pria yang lain? Atau kenapa tak bilang dari awal?" tanyanya lagi.


"Kami rasanya dah pernah bilang ini deh sama kalian. Aku dah minta antar tapi tak ada respon. Kalian malah bilang 'punyaku aja belum selesai'. Lupa?" tanya Ana sinis.


"Bilang aja malas," sampuk Hani. "Lagian berangkat sore kan bisa. Si Pak RT nya kan pulang sore."


"Bukannya Kordes udah bilang kalau harus ada yang mau ngajar diniyah dan ngaji. Sore aku ada ngajar di diniyah, setelah maghrib langsung ngajar ngaji. Sementara kalian? santaisantai di posko. Disuruh gantian malah bilang gak bisa ngajar agama lah, apalah. Banyak alasan. Basi banget tau gak. Kenapa sih kalau aku yang lakuin kesalahan kalian selalu membesarbesarkan? Padahal masalahnya bisa selesai jika kalian meluangkan waktu untuk mendengar. Aku dah bilang yang RT 19 ini tolong handle sama yang lain. Tapi kalian tak mau mendengar alasan kami dan menuntut kami untuk menyelesaikannya tanpa tahu kendala kami apa," kataku kesal.


Rasanya aku sudah muak berada di sini. Aku rindu rumah. Di sini menyesakkan sekali.


Intan mencoba menenangkanku. Aku pun keluar. Bodo amat dengan rapatnya. Aku pusing. Salah mulu deh perasaan.


Aku duduk di teras. Mencoba menelpon Arsy berkalikali, tapi tak dijawab.


Arsy aku membutuhkanmu sekarang.


"Kau dekat sekali ya dengan Abangmu,"


kata seseorang yang tibatiba duduk di sampingku, agak jauh sih.


Saat aku berpaling ternyata itu Rio.


"Maksudmu apa?" tanyaku tak mengerti.


"Wallpaper hpmu. Dia Abangmu yang waktu itu kan? Kalian dekat sekali," katanya.


Aisshhh Rio melihat wallpaperku. Foto Arsy yang sedang menciumku.


"Fa, kita terdiri dari banyak kepala. Wajar ada yang tak sehaluan sama kita. Susah menyatukan banyak kepala dalam satu kelompok seperti ini. Makanya komunikasi itu penting. Jangan gampang emosi, sikapi semua hal dengan kepala dingin," ucapnya lagi tanpa memandangku. Dia hanya memandang langit malam.


"Aku capek!" balasku.


"Bahkan kita belum melakukan program apapun dan kau dah bilang capek? Dasar payah," ledeknya.


"Entahlah! Kenapa kau keluar? Rapatnya gimana?" tanyaku.


"Fa!" belum sempat Rio menjawab, Intan sudah datang menghampiriku. "Kau tak apa?"


Intan sempat melirik ke arah Rio, kaget mungkin ada Rio di sampingku.


"Aku baikbaik aja."


"Kau ini kenapa baperan sekarang?" tanya Intan.


"Tau dah. Badmood mulu dua hari ini."

__ADS_1


Gak tahu kenapa aku badmood banget. Aku homesick mungkin. Tapi kan selama ini aku tinggal di asrama jauh dari orangtua juga tak pernah masalah. Apa karena aku kangen Arsy ya. Dia baru menelepon sekali sejak aku tinggal di sini. Ah tahu dah.


"Udah kayak anak perawan aja Badmood," cebik Intan.


"Memang masih perawan pun."


"Masa sih? Gak yakin aku," kata Intan senyumsenyum sambil mengecilkan matanya.


"Intaaaannnnn!" teriakku geram.


Ish padahal ada Rio di sampingku. Becandanya memalukan sekali.


Intan duduk di sampingku yang satunya.


"Antibiotik, tak semua orang bisa menerima kita. Kau tak bisa memaksa orang untuk pro terus padamu. Kau tak bisa memaksa orang untuk mengerti dirimu. Kita tinggal dengan banyak orang asing sekarang, satusatunya cara agar kita bisa bertahan adalah dengan menjadikan mereka tak asing untuk kita. Mulai berteman dengan mereka."


"Kau dan Rio cocok banget jadi motivator di seminarseminar tahu gak."


"Kami ini cocoknya jadi pengantin di pelaminan," balas Intan sambil mengernyitkan mata pada Rio. Dihh mulai lagi genitnya.


"Dimana alamat rumahmu?" tanya Rio pada Intan.


"Untuk apa memangnya?"


"Mau bangun pelaminan disana," jawab Rio santai.


"Wuttss!" Intan sudah membelalakan matanya. Aku juga sih.


Yang barusan ngomong itu Rio? Tak salah? Dia ternyata bisa becanda juga. Kupikir serius memanjang saja kerjanya.


Drrtttdrrrtttdrrrttt


Tibatiba ponselku bergetar.


"Dari Arsy tuh," kata Intan.


Aku tahu lah sludud. Kan aku juga lihat.


"Kenapa gak di angkat?"


"Malas!" jawabku.


Intan mengambil ponselku lalu menggeser tombol hijau.


"Nih ngomong!" katanya. Ish dia ini.


"Sorry ya Rio aku angkat telepon dulu. Kalian silahkan konsepin dulu aja mau bikin pelaminan yang kayak gimana. Nanti biar aku yang bantu dapetin restu Mama dan Papa," ucapku masih sempat membuat Intan blushing sebelum menjauhkan diri darinya dan Rio.


Sudah berkalikali Arsy mengucap salam. Kasian pasti nungguin.


"Wa'alaikumuusalaam!"


"Sorry, tadi Abang sibuk. Kamu kenapa?"


"Tak apa."


"Ada masalah?"


"Enggak!"


"Hey ... ayo cerita!"


Huft!


"Aku pengen pulang."


"Kamu menangis? Kenapa jadi cengeng sekali sekarang."


"Pengen pulang!"


"Ada masalah apa? Baru empat hari lho. Kalau ada masalah dengan temanmu di sana, kamu bicarain saja baikbaik. Kalau tak suka lingkungan tempat tinggalmu, mulailah beradaptasi."


"Kalau kangen Abang?"


"Syi, sabar saja sebentar lagi ya."


Nada suaranya sudah mulai serba salah. Aishhh!


"Kangen banget sama Abang."


Sengaja aku memanjamanjakan suaraku.


"Okeh tunggu! Abang kesana sekarang."


"Hahah gila. Tak usah mengadangada mau kesini malammalam kayak gini. Bahaya tahu gak. Dengar suara Abang saja dah cukup kok. Aku sudah tak apa sekarang."


"Serius?"


"Yupz! Aku sudah baikbaik saja."


Arsy selalu bisa membuat moodku kembali baik. Kalau di depannya susah sekali untuk kesal lamalama.


"Syukurlah. Tapi sepertinya sekarang malah Abang yang tak baikbaik saja."


"Abang kenapa?"


"Miss you so bad."


Suara Arsy malah terdengar lebih manja dariku tadi. Aisshhh dasar.


***

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2