
***
"Iya Pak Indra mampir kesini setelah pulang ngawas kelompoknya," jawabku pada Arsy.
"Dia benarbenar menyukaimu," katanya sambil tersenyum.
"Tentu saja, siapa yang mampu nolak keluchuanku kan," balasku percaya diri.
Arsy mencubit pipiku geram.
"Mau buka cabang?" tawar Arsy.
"Kalau boleh sih."
"Mau Abang modalin?" tanyanya.
"Mau banget."
Tibatiba Arsy mencium pipiku.
"Cantik itu salah satu modal utama. Kamu terlihat sangat cantik kalau sedang malumalu. Dan untuk membuat kamu malumalu cukup dengan menciummu saja," ucapnya.
"Sepertinya aku masih kurang cantik, Bang. Mau lagiii boleh?" balasku. Hahah genit sama suami sendiri boleh lah yaa.
Dia malah mencubit pipiku lagi.
"Sekarang kamu dah berani gatal ya."
"Sama Abang doang," kataku nyengir.
Arsy mengelus kepalaku lembut.
"Pakai kerudungmu! Kita harus keluar sekarang," arahnya.
Keluar? Baru juga sebentar. Uhh aku masih kangen Arsy.
"Gak enak sama temanmu yang lain. Lagipula tadi Abang langsung keluar gitu aja nyusul kamu."
Ish sebal. Aku memuncungkan mulut.
"Hey ... kenapa lagi?"
"Gak mau keluar!"
"Lakilaki dan perempuan berduaan di dalam mobil seperti ini kamu gak takut terjadi sesuatu?" tanyanya.
"Kalau Abang sedang berusaha menakutiku, maka Abang gagal. Aku sama sekali gak takut," balasku.
Arsy tertawa mendengar jawabanku, entah bagian mana yang luchu aku tak mengerti.
"Sayang!" katanya dengan suara meleret. Aisshhh melting aku.
"Abang, jangan bikin suara menggoda seperti itu. Baiklah, ayo keluar!"
Bukan aku takut dia mengapaapakanku, tapi aku takut aku lah yang mengapaapakannya. Membuat malu kaum wanita saja.
Aku memakai kerudungku.
Lalu keluar dari mobil. Aku sempat mendengar Arsy tertawa lagi sebelum kututup pintu mobil.
Dia merangkul pundakku saat kami mau masuk lagi ke rumah.
"Seperti biasa, kamu gampang sekali menyerah," bisiknya.
Ish!
***
"Jadi Abang bisa kan bantu kami?" tanya Helmi saat kami sudah di rumah lagi.
Ish Helmi masih saja bahas program kerja.
"Kalian nanti kirim proposal saja dulu," jawab Arsy.
"Proposal sudah siap Bang. Bagaimana kalau kami titip ke Abang aja?"
"Boleh. Nanti saya akan langsung kabari setelah proposalnya diproses."
Mereka terus saja membicarakan program sampai maghrib tiba. Setelah sholat maghrib obrolan masih berlanjut sampai isya.
Aku dan temanteman wanita yang lain sedang membuat cake singkong, kami akan mendemontrasikannya besok pada ibuibu di desa ini. Tugasku sebenarnya cuma ngasih toping saja dan icipicip.
"Intan, Asyifa ... Abang kalian mau pulang. Kalian gak mau pamitan dulu?" kata Dani yang tibatiba masuk dapur.
Arsy mau pulang? Malammalam begini?
Setelah cuci tangan, aku dan Intan menemui Arsy yang sedang ngobrol di ruang tamu.
"Abang mau pulang sekarang? Seriusan?" tanyaku.
"Besok saja lah Bang. Bahaya, jalanan sini bukannya bagus pun. Kalau terjadi sesuatu gimana? Kami tahu Abang dokter, tapi belum tentu bisa ngobatin diri sendiri kan," bebel Intan.
"Kalian ini terlalu khawatir. Abang akan baikbaik saja. InsyaAllah. Besok Abang harus ke rumah sakit lagi," balasnya.
"Besok pagi kan bisa Bang. Ke rumah sakitnya siangan saja," ucapku.
"Rumah sakit itu tak akan bangkrut meski Abang tak masuk sehari," tambah Intan lagi.
"Senang ya jadi Abang dikhawatirin kayak gini," sampuk Helmi. "Yaudah Abang tinggal disini saja lah malam ini. Memang bahaya kalau pulang sekarang. Abang bisa tidur di kontrakan pria nanti."
"Baiklah, Abang pulang besok pagi saja," putus Arsy.
Aku dan Intan saling pandang, lega.
"Yaudah kalau gitu kalian balik ke dapur saja!" perintah Helmi.
"Aku juga?" tanyaku sambil nunjuk diri sendiri.
"Iya Asyifa! Meskipun kerjamu makan saja kau tetap harus kembali ke dapur sana," ucap Helmi.
Ish menyebalkan sekali dia. Arsy sudah mengekek. Senang banget kayaknya.
***
Pagi sekali Arsy sudah kembali pulang. Huft aku dan dia cuma menghabiskan waktu sebentar saja.
Hari ini kami sibuk mau keliling RW untuk demo membuat cake. Sebenarnya aku gak ikut sih, aku sibuk menghitung ratarata pendapatan desa ini. Aku ditugaskan menyelesaikan itu dulu.
.
.
"Hari ini capek ya!" kata Ana saat kami sudah berbaring di kasur.
__ADS_1
"Syifa sih enak ya cuma diam di posko," timpal Arini.
"Hey aku juga capek. Pusing banget tadi beberapa kali salah hitung sampai harus beberapa kali cek," balasku.
"Fa, lihat deh Foto baru Kak Arisya di IG!" kata Intan yang dari tadi mainin hp.
Aku membuka ponselku.
Di IG nya Kak Arisya gak ada yang aneh kayaknya.
"Dah liat?" tanyanya.
"Udah. Tapi gak ada apaapa."
"Dia post foto cincin, baca captionnya 'Begin again.' terus emot mata lopelope. Menurutmu siapa yang ngasih? Pasti Dafa kan. Sepertinya Dafa sudah melamar Kak Arisya ya," kata Intan tersenyum.
Benarkah? Apa iya Dafa sudah memutuskan untuk memilih Kak Arisya?
"Mungkin ini gak seperti yang kita pikirkan," ucapku mencoba menyedapkan hati Intan.
"Aku berpikir itu cuma mimpi. Kalau tak seperti yang kupikirkan, berarti itu nyata!"
jawab Intan masih dengan senyumnya.
"Sengklek! Tidur saja lah."
Aku tak bisa membalas katakatanya. Apa yang aku katakan sepertinya tak bisa membuatnya lebih baik.
***
Keesokan harinya kami libur dari melakukan kegiatan yang berhubungan dengan program kerja. Lega sekali rasanya bisa istirahat.
Sejak siang tadi Intan keluar rumah entah kemana. Mungkin mau menenangkan diri. Wajahnya murung sekali, sepertinya pengaruh semalam.
Isengiseng kumainin ponselku.
Ada yang berbeda di IG nya Dafa.
Dia mengupload foto Kak Fathia. Ini sesuatu yang mengejutkan, karena ini pertama kalinya.
Dafa menulis sesuatu di caption fotonya.
'Aku tak pernah melupakanmu. Aku sudah memutuskan untuk menghapus semuanya. Menghapus fotofotomu bukan berarti menghapusmu dari ingatan. Aku hanya ingin menghargai perasaanku padanya. Perasaannya padaku. Tiada sepertimu. But ...'
But what? Mungkinkah maksudnya dia akan memulai hidup baru dengan Kak Arisya? Mereka benarbenar akan menikah? Bukankah Dafa juga suka Intan? Jadi pada akhirnya dia tetap akan memilih Kak Arisya.
"Syifa, seperti apa dia?" sergah Rio mengagetkanku.
"Hah maksudmu?" aku tak mengerti.
"Orang yang Intan sukai, seperti apa dia? Apa kau mengenalnya?" tanyanya.
"Kau tahu Intan suka seseorang?" tanyaku kaget.
"Aku tak bodoh Fa. Aku bisa lihat."
"Hmm ... Untuk pertama kalinya Intan jatuh cinta, tapi mungkin cinta pertamanya itu tak akan terbalas. Orang yang Intan suka sepertinya menyukai orang lain. Menyedihkan ya. Kau sendiri, orang yang kau sukai menyukai orang lain. Apa yang akan kau lakukan sekarang?"
"Aku akan menunggunya menyukaiku," jawab Rio.
"Rio, soal janjiku padamu. Aku bisa dengan mudah meminta restu orangtuaku. Tapi aku tak bisa meminta Intan untuk menyukaimu."
"Aku mengerti."
Kami berdua diam melayan perasaan masingmasing.
***
Sudah tiga hari sejak itu. Intan terlihat berbeda. Meski dia tersenyum, tapi dia tak seceria biasanya.
Berkalikali dia bilang akan baikbaik saja, tapi nyatanya dia hanya purapura baikbaik saja. Dia juga lebih sensitif dari biasanya.
Dari kejauhan kulihat Intan sedang mengobrol dengan Rio. Entah apa yang mereka bicarakan. mereka duduk di pinggir sawah, berdekatan dengan tempat kami parkir motor.
Oh iya Kami sedang di sawah sekarang. Sawahnya ditanami ikan, hari ini ikannya di panen jadi aku ikutan mau nangkap ikan juga. Lumayan jauh dari posko kami sih, tapi demi pengalaman menyenangkan ini kami pun rela datang juga akhirnya.
Saat sedang asyik menangkapi ikan aku mendengar suara teriakan Intan. Beberapa orang sudah berkumpul disana.
Aku segera menghampiri.
"Intan, kenapa?" aku segera mendekati Intan yang terduduk berlumuran lumpur. Sepertinya dia terjatuh. Aku mau membantunya bangun, tapi dia mengaduh.
"Sakit Fa!" adunya.
"Sabar Tan! Hey siapapun tolong ambilin air bersih dong!" teriakku.
Ada ibuibu yang menyerahkan sebotol air bersih. Aku segera membasuh wajah Intan dan mengelapnya menggunakan kerudungku. Kemudian aku membasuh kakinya, berdarah. Ada beling menancap di telapak kakinya menembus kaos kaki . Yaa Tuhan! Apa yang harus kulakukan. Aku mau membuka kaos kakinya tapi aurat, banyak pria disini.
Ini orangorang di sekeliling kami, entah apa yang mereka pikirkan. Kenapa hanya jadi penonton saja.
"Rio, kau anak kesmas kan? Tolong bantu aku!" teriakku pada Rio. "Apa yang harus kulakukan untuk menolongnya?"
Rio sudah membungkuk untuk membantuku.
"Intan sorry aku pegang kakimu. Aku harus mencabut belingnya dulu," ucap Rio.
"No! Bukan mahram." Aku menghalangi Rio.
"Darurat Syifa!" bentaknya. "Lagipun Intan pakai kaos kaki. Sekarang keluarkan saja dulu belingnya lalu kita balut lukanya agar tak pendarahan. Paham?"
Aku cuma mengangguk.
Akhirnya aku menurut saja. Aku sudah menangis, bukan karena dibentak Rio aku tahu dia juga khawatir, tapi karena aku tak bisa membantu Intan sekarang. Tuhan, kenapa di desa ini tak ada klinik. Klinik hanya ada di kecamatan, terlalu jauh.
Aku merobek bajuku untuk membalut kaki Intan.
"Ayo kita bawa ke posko dulu." Saran Ana yang juga terdengar sangat khawatir. "Rio, angkat dia!"
"Stop!"
Seseorang menghentikan Rio yang hendak mengangkat Intan.
"Abang!" ucapku saat melihat Dafa ada di depanku sekarang.
"Apa yang terjadi, Fa?" tanyanya.
"A ... akk ... aku."
"Jawab Asyifa. Jangan menangis! Apa yang terjadi padanya? Bukankah kalian selalu bersama?" tanya Dafa lagi. Kenapa Dafa menakutkan sekali.
"Akk ... aku gak tahu. Tatt ... tadi aku dii ... di ... sana. Aku liat dia ngobrol sama Rio setelah iii ... ituu Intan teriak. Teerrrrus aku kesini diaa udah jatuh dan terluka," jawabku gagap sambil terisak.
"Dia yang namanya Rio?" tanya Dafa sambil menunjuk Rio. Aku mengangguk.
__ADS_1
Dafa mencengkram baju Rio, "apa yang kau lakukan pada anak ini hah?" tanya Dafa dengan marah. Aku semakin panik melihat Dafa begitu.
"Abang, sudahlah. Intan terluka sekarang!" teriakku pada Dafa.
"Dafa, hentikan!" Arsy datang. "Kita harus obati Intan dulu sekarang. Sepertinya lukanya dalam."
Dafa melepaskan Rio. Lalu dia membuka jaketnya dan menyarungkannya pada tubuh Intan yang basah kena lumpur sawah.
"Kau bawa mobilku saja. Aku nanti nyusul sama Syifa," ucap Arsy. "Sayang, bawa kunci motor Intan!" arah Arsy padaku.
Aku yang masih panik mengambil kunci motor dari saku Intan. Dengan tangan bergetar aku menyerahkannya pada Arsy. Lalu dia memelukku erat.
Dafa mengangkat Intan membawanya ke mobil. Kemudian pergi menuju posko.
"Ssshhh ... Sudah gpp. Jangan khawatir!" kata Arsy menenangkanku.
***
Intan sekarang sedang diobati oleh Kak Shara.
Aku kaget ada Kak Shara di sini.
Aku lupa kalau lusa program pemeriksaan kesehatan gratis akan segera dimulai. Proposal kami sudah diterima, itulah kenapa Arsy dan lima orang dokter lainnya ada disini sekarang. Aku pikir mereka akan datang besok.
Tapi dari sekian banyak dokter kenapa Kak Shara yang terpilih? Aisshhh Syifa apa kau sedang cemburu sekarang? Lupakan dulu cemburumu itu. Be profesional!
***
Bersambung.
*BONUS*
-AUTHOR'S POV-
Melihat postingan Kak Arisya dan Dafa di IG membuat Intan terluka. Tapi dia tak mau menunjukkannya pada siapapun. Termasuk Syifa.
Dia sudah berjanji akan melupakan Dafa. Kak Arisya paling mengerti Dafa. Mereka terlihat sangat serasi di mata Intan.
"Aku akan menunggunya menyukaiku." Terdengar suara Rio yang sedang berbicara dengan Syifa di halaman belakang rumah. Waktu itu Intan memang sedang mencari Syifa. Niatnya untuk menghampiri Syifa diurungkan karena sepertinya Syifa dan Rio sedang mengobrol serius.
"Rio, soal janjiku padamu. Aku bisa dengan mudah meminta restu orangtuaku. Tapi aku tak bisa meminta Intan untuk menyukaimu," ucap Syifa membuat Intan yang sedang bersembunyi di balik pintu dapur itu tersentak.
'Rio menyukaiku?' batin Intan.
"Aku mengerti," jawab Rio.
Setelah mendengar jawaban Rio itu Intan langsung pergi ke kamar. Masih terkejut dengan apa yang baru didengarnya.
Dia memang menyukai Rio. Tapi hanya suka gitugitu saja. Berbeda sekali dengan perasaannya pada Dafa.
Selama beberapa hari Intan menjauhi Rio. Dia masih keliru dengan semuanya. Dia juga keliru dengan perasaannya.
Dia bingung harus bersikap seperti apa pada Rio. Dia tak ingin menyakiti Rio. Mendengar Rio akan menunggunya membuat dirinya serba salah.
Saat yang lain sedang asyik menangkap ikan, Intan lebih memilih duduk di pinggir sawah. Tapi keindahan sawah ini tak bisa membuat hatinya tenang.
Intan dikejutkan dengan kedatangan Rio yang tibatiba duduk di sampingnya.
"Lagi ngapain?" tanyanya.
"Kepo!" jawab Intan.
"Kenapa kau sekarang jutek padaku?" tanyanya lagi.
"Biar kau gak suka aku," kata Intan jujur. Dia tak mau berpurapura tak tahu apaapa lagi. Dan dia tak bisa memberi harapan pada Rio.
Rio kaget mendengar jawaban Intan. Mungkin karena dia tak menyangka kalau Intan sudah mengetahui perasaannya.
Tapi kemudian Rio tersenyum lagi.
"Aku makin suka malah," jawabnya tenang.
"Jangan berharap sama aku," ucap Intan masih dengan juteknya.
"Sukakasuka aku."
Sepertinya Rio tak terpengaruh.
"Yaudah!"
"Jodoh di tangan Allah, Tan."
"Aku tahu!"
"Aku akan sabar nunggu kau."
"Tak usah!"
"Kenapa? Kalau dah jodoh mau gimana lagi?"
"Jodoh di tangan Allah. Tapi tetap harus diperjuangkan kan? Bukan hanya diam dan menunggu. Kalau cuma kau yang berusaha tapi aku gak berusaha buat kau, apa bisa?
Kau nunggu aku, tapi aku hanya diam gak pernah berusaha lupain dia, apa bisa?"
Sepertinya Intan sudah emosi. Bukan marah, tapi sepertinya dia mulai lelah dengan perasaannya sendiri.
"Wait! Kau jangan baper bisa?"
"Kita emang lagi ngomongin perasaan kan?"
"Oke kalau gitu. Kau nyuruh aku berhenti berusaha terhadapmu kan. Apa kau bisa berhenti mengharapkan dia?"
"Berisik!" balas Intan.
"Gak bisa kan? ****!" ucap Rio.
"Emang. Makanya aku gak mau kau ikut **** juga."
"Egois!" cebik Rio.
Intan sudah berdiri.
"Hey kau enakenakan ya disini. Bukannya bantuin nangkap ikan," kata Hani.
"Bisa diem gak?" tanya Intan kesal.
"Kau malah pacaran, sementara kami capek disana tahu gak."
"Whatever!" balas Intan. Bukannya Intan tak tahu kalau Hani dari tadi hanya teriakteriak tak jelas takut lintah. Tak membantu, hanya merepotkan saja.
Hani sengaja menyenggol Intan sebelum dia pergi. Intan yang tak menduga tindakan Hani itu tak bisa menjaga keseimbangan dan akhirnya jatuh ke sawah.
"Arrrgghhh!" dia merasakan sakit di telapak kakinya saat mencoba berdiri. Seperti ada sesuatu yang menusuk kakinya.
__ADS_1
***
*Habis*