Nikah Muda (?)

Nikah Muda (?)
21. Perpisahan


__ADS_3

***


Arsy memegang kedua pipiku lalu menghadapkan wajahku kepadanya.


"Pandang Abang!" arahnya.


Aku mengangkat kepalaku menatapnya.


"Apa kamu sedih?" tanyanya.


Aku mengangguk.


"Apalagi Abang. Abang juga sedih harus berpisah dengan pacar Abang yang manja ini. Tapi mau gimana lagi. Kamu harus bertanggung jawab terhadap pendidikanmu. Hanya sebulan saja. Cuma sebulan. Semua akan berlalu dengan cepat," ucapnya sambil mengelus pipiku.


"Tapi kita baru menikah," balasku lirih.


"Hmm anggap saja kita LDRan. Abang akan menjengukmu dua minggu atau seminggu sekali insyaAllah."


"Kenapa gak tiap hari aja," ucapku sambil memuncungkan mulut.


"Aishhh mana bisa sayang. Bukan LDRan namanya kalau tiap hari ketemu. Sudahlah jangan manyun kayak gitu, nanti tiap ada waktu luang Abang pasti telepon kamu," katanya lalu memelukku. Dia menciumi kepalaku. Ini nih salah satu yang akan aku rindukan dari dia.


"Sekarang ayo kita fotofoto yang banyak!" ajaknya.


Aku ini hantu kamera, kalau kamera udah ON langsung deh beraksi membuat gayagaya aneh.


Kami banyak mengambil foto berdua dengan berbagai gaya. Aku membuat muka manyun, muka sok canteek, bibir bebek, menggembunggembungkan pipi biar keliatan bembem, eh sehenarnya aku emang udah bembem sih.


Kamera ponsel Arsy bagus, aku jadi kelihatan makin cantik aja. Haha!


Sekarang sudah banyak foto kami di ponselnya.


"Sayang tengok sini!" pintanya.


Dan ... CUP! CEKREK!


Pipiku dicium Arsy waktu aku menengok ke arahnya dan serentak itu terdengar bunyi cekrek kamera. Aishhh tipuan klasik.


Darah merah sepertinya menyerbu wajahku, pasti sekarang wajahku udah kaya tomato. Blushing!


"Bagus lho fotonya," kata Arsy lalu menunjukkan foto barusan padaku.


"Jadiin wallpaper bagus nih," balasku. "Hpku mana Bang? Aku mau kirim foto ini."


Arsy mengambil ponselku dan menyerahkannya padaku.


"Jadi password hpmu apa? Abang tulis nama Abang kok bukan. Janganjangan kamu tak sayang Abang," katanya seperti mengulang ucapanku. Aishhh balas dendam.


"Liat saja sendiri," ucapku. Aku malu menyebutkan password ku. Jadi aku membiarkan dia melihatku mengetikan password.


"Hey apaapaan itu passwordnya kenapa begitu?" tanyanya seperti tak terima. Lah apa ada yang salah? Rasanya tidak.


"Password ini semacam do'a, Abang!" jawabku.


Aku memang selalu memakai password yang mengandung do'a di gadget atau sosmed.


Mungkin menurut orang lain itu aneh, alay dan narsis, tapi apa salahnya menginginkan kebaikan untuk diri kan?


Passwordku kadang 'SyifaSholehah', 'SyifaAkhwatSholehah', 'SyifaAnakBaik', 'Syifaakhwattangguh' dan lainlain.


Dan passwordku yang sekarang pun kuharap bisa jadi do'a juga.


'ArsySayangSyifa'


Aku berharap Arsy akan selalu menyayangiku.


Tibatiba Arsy memelukku dari belakang dan meletakkan dagunya di bahuku. Sejak kapan dia pindah duduk di belakangku. Ish.


"Gantiin wallpaper Abang juga," katanya.


"Abang ganti sendiri saja."


"Ish!" katanya seraya menggigit bahuku.


"Sakiitttt Abang!" marahku.


"Lovebite," balasnya tersengih.


Lovebite jenis apa ini. Ish.


"Eh bang, aku lupa bilang. Tadi Kak Shara chat Abang."


"Chat apa dia?" tanya Arsy.


"Nih liat sendiri."


"Bacain!" pintanya.


Aku membacakan chat dari Kak Shara tadi.


"Aiikk kenapa dia kesannya nyuruh Abang biar adil? Abang cuma punya satu isteri saja kan," kata Arsy setelah mendengar chat Kak Shara.


"Tadi Intan ngakungaku jadi isteri kedua Abang dan sepertinya dia percaya. Bahkan tadi aku sempat juga menawarkan dia untuk jadi isteri ketiga," jelasku.


"Kalian ini benarbenar nakal banget ya," katanya lalu menggigit bahuku lagi.


Aishhh kadeerte ini namanya.


"Pantas saja tadi Shara nyapa Abang lagi, sebelumnya dia seperti menghindari Abang gitu."


Deg!


"Abang, kalau Kak Shara minta Abang nikahi dia gimana?"


"Ya tinggal nikahi saja. Isteri pertama Abang kan udah ngasih restu," jawab Arsy.


"Dont you dare Abang!" ancamku.


"Hahah satu isteri saja sudah cukup untuk Abang. Abang tahu banget isteri Abang ini pelit, mana mau share dengan wanita lain."


Huh aku terharu kan. Lagilagi Arsy bisa membuat rasa takutku hilang.


Aku melepaskan pelukannya dan berbalik menghadapnya.


Aku menatapnya lama. Suami siapalah ini. Ya aku lah siapa lagi. Huhuhu!


"Eh kayaknya ada sesuatu di muka Abang," kataku lalu mendekatkan wajahku padanya agar bisa melihat lebih jelas.


CUP! CEKREK!


"Satu sama," ucapku senang setelah mencium pipinya.


"Foto barusan kujadikan wallpaper hp Abang ya," kataku sambil mengotakngatik hpnya.


Kulihat Arsy hanya menggelangkan kepala melihat aksi kekanakkanku. Sabar saja lah ya Abang punya isteri bocah. Eh umurku kan sudah duasatu, bukan bocah lagi.


Aku ini kelakuan anakanak, tapi terjebak di umur dewasa. Aish Teori macam apa itu. Hah sudahlah lupakan.


"Sini berbaring sebelah Abang!" ajak Arsy yang sudah setengah berbaring dengan kepala di sandarkan ke kepala ranjang.


Aku meringkuk(?) di sebelah Arsy dengan beralaskan lengannya.


"Kita ngobrol sepanjang malam mau?" tanyanya.

__ADS_1


"Besok Abang kan kerja," jawabku.


"Tak apa. Dua hari lagi kamu kan udah pergi, jadi Abang pengen menghabiskan banyak waktu sama kamu."


"Huft ... yaudah. Nanti Abang bakal anter aku ke tempat KKN gak?" tanyaku penuh harap.


"InsyaAllah. Abang usahakan. Kalau gak ikut nganter takut kamu marah lagi sama Abang kayak waktu itu. Sampai gak balas chat Abang."


"Kapan aku marah sama Abang? Perasaan Abang deh yang gak bales chat aku," kataku.


"Waktu itu. Yang sebelum kita menikah. Abang janji akan datang saat kamu keluar dari rumah sakit. Tapi Abang gak datang, dan kamu marah gak balas chat Abang. Waktu itu Bunda ngelarang Abang nemuin kamu, katanya calon pengantin gak boleh ketemu," jelas Arsy.


Oh jadi karena itu dulu Arsy tak datang. Ish itu dah lama banget. Lagian kenapa dia dulu gak jelasin alasannya. Kalau dia bilang kan pasti aku akan mengerti.


"Nanti jaga diri ya selama KKN!" pesan Arsy. Masalah yang waktu itu seakan dilupakan.


"Iya Abang. Pasti."


"Jangan telat makan! Jangan main hujan kayak Intan! Jangan jailin orang!"


"Iyaiyaiya."


"Dan jangan jatuh cinta sama pria lain ya!" kata Arsy lagi.


"Erk? Yang itu gak janji," jawabku sambil menggigit lidah.


Arsy tibatiba menindihku dan menggigit bahuku lagi. Aisshhh suamiku ini turunan vampire kayaknya.


"Berat Abang. Aku gak bisa nafas ini."


"Bodo amat!" jawab Arsy dengan suara yang gak jelas.


Aku mencoba melepaskan diri tapi gak bisa.


"Aku gak akan jatuh cinta pada pria lain," ucapku akhirnya.


Dia mengangkat sedikit badannya.


"Janji?" tanyanya.


"Iya janji!"


Dia bangun dan berbaring lagi di sampingku. Huft rasanya lega sekali bisa bernafas normal lagi.


Setelah itu kami mengobrol lagi membicarakan banyak hal gak penting sebenarnya sampai aku tertidur.


***


Dua hari telah berlalu ...


Rasanya aku tak mau bangun hari ini.


"Bangun sayang! Dah subuh ini, nanti kesiangan sholat. Hari ini kamu kan harus kumpul dulu di kampus sebelum berangkat ke tempat KKN kan."


Arsy pagipagi dah berisik saja. Aku tak mau pergi.


Dengan malas akhirnya aku bangun juga.


"Ayo wudhlu sekalian mandi dulu sana!" perintah Arsy.


"Gendong!" pintaku sambil mengulurkan kedua tanganku.


Arsy duduk membelakangiku dan aku langsung naik ke punggungnya. Kapan lagi bisa manjamanja sama Arsy.


Arsy menurunkanku di kamar mandi. Aku yang masih ngantuk malah duduk di bathtub berniat tidur lagi.


"Mau Abang mandiin?" tawarnya.


"Ish tak usah. Sana keluar."


Aku mendorong Arsy keluar lalu mengunci pintu.


Gila aja pagipagi dah free show di depan Arsy.


***


Semua mahasiswa yang ikut KKN sudah berkumpul di lapangan untuk mendengar pidato pelepasan dari rektor.


Kami disediakan sebuah mobil perkelompok untuk mengantar kami ke desa yang telah di tentukan.


Setelah selesai upacara pelepasan, kami pun dipersilakan pergi. Sudah kayak diusir saja yak katakatanya.


Banyak yang diantar keluarganya, termasuk aku dan Intan. Ini sampai Ayah, Bunda, Kak Arisya bahkan Arsyad pun ikut mengantar kami. Mereka bersikeras ingin melihat tempat yang akan kami tinggali nanti.


Dari kelompokku, kebetulan hanya aku dan Intan saja yang diantar keluarga seperti ini. Yang lainnya akan naik mobil yang disediakan kampus. Dan ada juga beberapa anggota kelompok yang membawa motor, termasuk Intan sih. Sengaja untuk memudahkan kami. Malas kalau harus nebengnebeng sama orang nanti.


Oh iya aku belum melihat Dafa. Apa dia sesibuk itu. Kalau tak bisa nganter pun setidaknya datang saja untuk melepas kepergian kami.


"Intan, serius mau bawa motor?" tanya Ayah. "Bukannya jalannya jelek ya kesana. Bahaya." Ayah terdengar khawatir.


Intan hanya mengangguk.


"Kau naik mobil saja. Aku yang bawa motormu," kata Dafa yang entah muncul darimana. Akhirnya dia datang juga. Padahal tadinya aku mau minta Arsy saja yang bawain motor Intan.


"Abang kenapa baru datang?" tanyaku marah.


"Tadi ada urusan dulu," jawabnya.


"Yaudah, sekarang semuanya naik mobil. Yang lain sudah pada berangkat," kata Papa.


Mama, Papa, Ayah, Bunda, naik mobilnya Papa. Aku, Intan, Arsyad, Kak Arisya dan Arsy naik mobilnya Arsy.


"Hey anak kecil, mana kunci motormu?" kata Dafa pada Intan saat kami akan masuk mobil.


Intan pun menyerahkan kunci motornya pada Dafa.


.


.


Setelah sekitar empat jam perjalanan, kami pun tiba di rumah kontrakan. Temanteman yang lain juga sudah sampai.


Kami mulai menurunkan barangbarang kami.


Huaa sudah seperti pindahan rumah saja.


Orangtuaku sedang mengobrol bersama teman kelompokku yang pria. Priapria ada sembilan orang semuanya dan mereka tak ribet kayak kami para wanita yang membawa segala macam barang, jadi mereka tak perlu waktu lama untuk membereskan barang mereka.


Para wanita sedang membereskan barang ke kamar masingmasing.


Ada enambelas orang perempuan dan empat kamar. Jadi satu kamar berisi empat orang. Aku, Intan dan dua orang lagi kebagian kamar depan.


Setelah selesai memasukkan barang ke kamar, aku menghampiri Arsy yang sedang bersandar di mobilnya.


"Abang!" panggilku.


"Hmm!" sahutnya.


"Abang dapat salam dari temantemanku," ucapku.


"Salamin balik aja."


"Mereka pikir Abang itu Abangku. Katanya kita mirip. Emang benar ya kita mirip,  rasanya tidak," kataku sambil tertawa kecil.

__ADS_1


Tanpa kuduga Arsy memelukku erat.


"I will miss you," bisiknya.


"Aku juga," balasku.


Arsy dari tadi tak banyak bicara. Rupanya dia memendam perasaannya. Selama ini kupikir hanya aku saja yang terlalu berlebihan takut berpisah. Sepertinya Arsy juga merasakan hal yang sama.


Apa semua pria seperti ini semua ya, tak menunjukkan perasaan yang sebenarnya.


Arsy melepaskan pelukan.


"Temantemanmu liatin kita," ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya dariku.


Aku menengok ke kiriku. Ya, temantemanku sedang melihat kami sekarang. Ah bodo amat.


"Fa, temanmu yang itu cakep," kata Kak Arisya yang menghampiriku sambil menunjuk ke arah seseorang.


Aishhh dia nunjuk Rio. Kita satu selera Kak. Rio memang cakep. Bukan hanya aku dan Kak Arisya saja, bahkan Intan pun suka. Kayaknya Kak Arisya dan


Intan suka sama pria yang sama terus.


"Itu udah ditandain Intan Kak."


"Intan?" Kak Arisya tampak kaget. "Yaahhh telat dong aku," kata Kak Arisya kecewa.


"Intan juga dari awal dah ngancem aku untuk gak deketin Rio. Padahal dia cakep banget ya Kak. Tapi demi persaudaraan kami aku rela undur diri," ucapku dengan sok sedih.


"Sya, ayo kita pulang!" ucap Arsy tibatiba.


Aishhhhh aku lupa ada Arsy di sampingku.


Aku memaut lengannya.


"Abang, cowryyy. Becanda aja tadi," kataku menyesal.


Arsy diam saja tak mengatakan apaapa.


"Sya, aku tunggu di mobil!" kata Arsy lalu masuk ke mobilnya.


Aku sudah menggigit bibir.


"Nah lho Abangku udah ngambek tuh," kata Kak Arisya.


"Uhh aku harus gimana Kak?"


Kak Arisya hanya menjungkitkan bahu. Menyebalkan.


"Ada apa? Kenapa kau manyun gitu?" tanya Dafa.


"Adekmu ini ganjen sama cowok lain di depan Abangku," adu Kak Arisya.


"Hadeuh ... sekarang Abang Arsy nya mana?"


"Tuh masuk mobil!" kata Kak Arisya sambil menjuihkan bibir menunjukkan di mana Arsy.


"Memangnya cowok yang mana yang menarik perhatianmu itu?" tanya Dafa lagi padaku.


"Yang itu tuh!"


Kak Arisya dengan baik hati mewakili aku untuk menjawab semua pertanyaan Dafa.


"Kak Arisya pun suka dia," aduku.


"Eh apaan. Bohong itu. Aku gak suka. Cowok itu sebenarnya gebetan Intan," elak Kak Arisya.


"Dia gak cakep pun!" kata Dafa lalu pergi.


Lah Dafa kenapa. Cemburu juga kayak Arsy?


Aissshh Arsy!


Aku masuk mobil Arsy meninggalkan Kak Arisya.


Arsy tampaknya masih marah. Dia sedang memainkan ponselnya tanpa mempedulikan aku.


"Abang, aku minta maaf!" tak ada respon.


"Abang cowry!" tak ada respon lagi.


"Abang!" masih tak ada respon.


"Abang lagi chat sama siapa sih?" tanyaku marah karena tak direspon terus.


"Shara!" jawabnya datar.


Kak Shara? Kenapa aku merasa ingin menangis sekarang. Arsy mau balas dendam atau apa. Ish Padahal aku becanda saja tadi. Gimana kalau nanti Arsy jadi suka sama Kak Shara. Uhh janganjanganjangan.


Aku menekup mukaku.


"Hey kamu menangis?" tanya Arsy kalut. "Abang becanda ish. Abang gak marah pun tadi. Sudah jangan menangis lagi," bujuknya.


Sekarang siapa yang bujuk siapa ini. Padahal tadi Arsy yang marah. Tapi aku juga kesal sekarang.


"Beneran?" tanyaku sambil menurunkan tangan dari wajahku.


"Iya," jawabnya.


"Gak marah sama aku?"


"Enggak."


Dia mencium dahiku lalu memelukku.


"Setelah ini kita akan jarang ketemu. Abang jangan macammacam dengan Kak Shara!" ancamku.


"Iya."


"Abang juga jaga diri ya, jaga kesehatan. Jangan mikirin aku terus nanti."


Arsy melepaskan pelukan.


"Harusnya Abang yang bilang kayak gitu," katanya seraya menarik pipiku. Ish


***


Setelah berpamitan dengan kami akhirnya keluargaku akan pulang juga.


Uhh sedihnya.


Arsyad sempat rewel juga tak mau pulang, untung Arsy berhasil menenangkannya.


"Jangan nakal selama disini! Jangan kegatelan sama priapria selama disini! Cewek harus bisa jaga diri. Dan jangan pernah mau dibonceng cowok!" pesan Dafa saat menyerahkan kunci motor pada Intan. "Oh iya satu lagi. Pria itu tak tampan pun. Setidaknya cari yang lebih tampan dariku," tambah Dafa sebelum memboloskan diri ke mobil Arsy.


"Abangmu itu ngomong apa Fa?" tanya Intan yang sepertinya tak mengerti.


"Entah!"


Mungkinkah Dafa menyukai Intan?


***


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2