
***
Ayah sedang mengobrol dengan Intan. Intan terlihat masih lemah.
"Intan!" Aku meluru ke arahnya dan memeluk tubuhnya yang sedang terbaring.
"Hey sistaaa, aku ini pasien. Jangan peluk kencangkencang. Kau mau membuatku sesak napas atau apa. Aku tahu namamu berarti obat, tapi bukan berarti aku akan langsung sembuh jika kau memelukku seperti ini. Sudah lepaskan ish!" protesnya.
Aku meleraikan pelukan.
"Uhh aku risau setengah hidup tahu tak. Tadi badanmu panas banget, rasanya lebih panas dari hatiku saat cemburu melihat Arsy digilai banyak wanita. Kalau aku goreng pisang di atas dahimu itu pasti mateng tuh," ucapku tanpa titik koma.
Kalau ditulis memang ada titik koma sih, bayangkan saja aku ngomong tanpa jeda gitu lah pokoknya.
"Fa, kayaknya kau yang sakit deh," ucap Intan. "Ayah, sebaiknya periksain menantumu ini mumpung kita ada di rumah sakit. Kabel di kepalanya ada yang putus kayaknya."
Aku sudah memuncungkan mulut.
"Sludud mana ada kabel di kepalaku."
"Kalian ini, gak sehat gak sakit masih aja sengklek kayak gini," sampuk Kak Arisya yang menggelenggelengkan kepala melihat kelakuan kami.
"Kak Sya, pecat aja Syifa jadi Kakak iparmu," provok Intan.
"No! Syifa akan kekal jadi isteri Abang," kata Arsy yang tibatiba memelukku dari belakang.
Aku ini pendek, dia bukan memeluk pinggangku gitu. Tapi melingkarkan satu tangannya di leherku. Paham kan? Bukan mencekik lho ya tapi merangkul atau semacamnya lah yang jelas gitu. Kebayang kan? Aishhh kenapa malah bahas itu. Pokoknya Arsy mendekapku dari belakang.
"Jijik!" ucap Kak Arisya saat melihat aksi mesra kami itu.
Aku sudah menjelirkan lidah padanya.
"Tan, janganjangan kau bukan hanya demam tapi masuk angin juga sampai mualmual gitu," kataku saat Intan sedang membuat muka seolaholah pengen muntah.
"Aku pengen muntah liat kalian oyy. Kalian kok akur? Bukannya lagi berantem?" tanya Intan polos.
Ayah dan Kak Arisya sudah menatap penuh tanya ke arah kami. Terutama Ayah.
Ish Intan ini memang mulutnya lemes banget.
"Arsy, kamu pasti bully Syifa ya makanya kalian berantem?" duga Ayah.
"Enggak kok. Kemarin itu kita cuma berantem manjamanja aja, Yah. Kami baikbaik aja kok. Iya kan sayang?" kata Arsy sambil mengeratkan pelukannya.
He ... aku cuma bisa tersenyum saja. Gak tahu harus jawab apa.
"Sudahlah. Sekarang aku mau nanya. Intan kenapa bisa demam kayak gini sih? Benar kamu pulang hujanhujanan? Kenapa sampai hujanhujanan? Kenapa gak nunggu reda?" tanya Kak Arisya yang lebih seperti sedang mengintrogasi pesalah saja.
"Kau pikir kau itu tiang listrik yang bisa tetap berdiri meski terkena panas dan hujan?"
Belum sempat Intan jawab, Kak Arisya sudah menyambung membebel lagi. Sampai membandingkan Intan dengan tiang listrik. Hahah Ngakak aku.
"Ingat ya, jangan diulangi lagi! Kami semua mengkhawatirkanmu," tambah Kak Arisya. Kali ini lebih lembut. Kemudian dia mengelus kepala Intan yang berlapik kerudung itu.
Intan tersenyum. Untuk sesaat pandangannya tertuju ke arah belakangku, tapi kemudian dia berpaling lagi.
Aku melirik ke belakang.
Dafa!
Aku lupa kalau Dafa juga ikut kesini setelah kujelaskan kalau Intan sakit. Kulihat ada rasa bersalah di wajahnya tadi saat mengetahui yang terjadi pada Intan.
Aku kembali memandang Intan. Sepertinya dia masih marah pada Dafa.
"Intan sayang. Ayah dan Kak Arisya pulang dulu gpp ya. Bukannya kami gak mau nginep nemenin kamu, tapi khawatir Bunda dan Ichad hanya berdua di rumah. Besok kami kesini lagi bareng Bunda. Gpp ya?" ma'lum Ayah.
"Gpp kok, Yah. Aku juga udah baikbaik aja sekarang," jawab Intan.
"Iya, Ayah gak usah khawatir. Ada Syifa yang akan jagain Intan di sini," ucapku.
"Baguslah kalau begitu," timpal Kak Arisya. "Eh Daf, kau mau ikut pulang atau gimana?" tanya Kak Arisya pada Dafa yang hanya diam saja dari tadi.
"Aku disini saja. Lagipula aku masih ada pasien," balas Dafa.
"Baiklah kalau gitu kami pulang dulu ya. Syafakillah Intan sayang. Assalaamu'alaikum!" kata Kak Arisya pamit.
"Wa'alaikumussalaam!" jawab kami.
"Sya, hatihati ya."
Dafa sempat berpesan sebelum Kak Arisya pergi.
Kak Arisya hanya tersenyum lalu mengangguk.
Intan menatap adegan itu dengan sayu.
Aishhh cinta segitiga.
__ADS_1
***
Aku dan Arsy duduk di sofa, memberi ruang pada Dafa untuk berbicara pada Intan.
Dafa duduk di kursi samping ranjang Intan. Intan memalingkan wajahnya dari Dafa.
"Hmm aku minta maaf soal tadi. Aku menyesal, seharusnya aku tak mengatakan hal seperti itu padamu. Aku benarbenar minta maaf. Kau seperti ini karena aku. Lain kali, sekalipun kau marah padaku jangan sampai menyakiti dirimu sendiri seperti ini. Sekali lagi maaf sudah melukaimu," ucap Dafa lirih.
Intan tak menanggapinya.
Dafa sudah berdiri mau pergi, dia tahu Intan masih terluka sekarang.
"Terlajak perahu boleh diundur, terlajak kata buruk padahnya," ucap Intan tibatiba. Peribahasa mana lagi itu.
"Aku mengerti. Syafakillah, aku pergi dulu. Assalaamu'alaikum!" balas Dafa lalu pergi.
Aku mendekati Intan. Dia sedang menangis dalam diam.
Aku tak bisa melakukan apapun selain mengelus kepalanya, berusaha membuatnya sedikit lebih baik.
Aku tahu dia sedih memperlakukan Dafa seperti itu. Sama seperti Arsy yang juga terluka karena sengaja mengabaikanku.
Beberapa lama kemudian, Intan tertidur kembali. Aku menghampiri Arsy yang masih duduk di sofa.
"Abang gak kerja lagi?" tanyaku.
"Sudah selesai. Abang bisa nemenin kamu di sini. Jaga Intan barengbareng," jawabnya.
Aku melabuhkan tubuh di sofa.
"Apa yang terjadi dengan mereka?" tanya Arsy sambil membaringkan kepalanya di pahaku. Aishhh mau bermanja lah tuh.
"Dafa mengatakan hal yang menyinggung Intan. Itulah kenapa tadi Intan pulang dengan menembus hujan. Selama ini Dafa memang selalu mengatakan halhal menyakitkan, tapi Intan tak memasukkannya ke hati," jelasku.
"Terus kenapa dia sampai tersinggung sekarang?"
"Secara tak langsung Dafa telah menghina Ayahnya. Meskipun Dafa tak memaksudkannya tapi tetap saja itu menyakiti hati Intan."
"Abang janji tak akan menyakiti hatimu," ucapnya.
Erk? Bicara apa dia? Padahal kita lagi bahas Intan dan Dafa.
"Tak usah mengatakan hal seperti itu. Tak usah menjanjikan apapun. Cukup berusaha saja."
"Iya. Abang akan berusaha agar tak menyakiti hatimu," ulangnya sambil tersenyum.
"Ayo berusaha samasama! Aku juga akan berusaha untuk tak merasa sakit hati meskipun Abang menyakitiku," ucapku.
"Aku ini kan lemah lembut cangkang keong Abang. Tak yakin bisa menyakiti hati orang lain," balasku sambil mengacakngacak rambutnya.
"Perasan!" cebiknya.
Dia memeluk pinggangku, membenamkan wajahnya pada tubuhku. Erk aneh ya kedengarannya. wkwk *abaikan
"Abang ngantuk!" katanya separuh berbisik.
Aku mengelus kepalanya. Membiarkannya tidur di pangkuanku.
***
"Fa, bangun sayang!"
Terdengar suara Mama membangunkanku.
Perlahan aku membuka mata. Di sekelilingku seperti rumah sakit.
Ah iya aku kan menunggui Intan semalam. Tapi rasanya ada yang aneh. Sekarang posisiku sedang tidur di pangkuan Arsy, bukannya harusnya Arsy yang tidur di pangkuanku? Sejak kapan dia menukar posisi kami. Aisshhh sepertinya aku tidur mati sampai tak ingat begini.
Aku pun bangun lalu duduk untuk mengumpulkan nyawa karena masih mamai.
"Sholat subuh dulu. Bangunin Arsy juga ajak dia sholat," kata Mama.
"Abang, bangun! sholat subuh dulu," kataku sambil menggoncangkan bahunya.
Arsy mulai menggerakan matanya.
"Pagi Sayang!" ucapnya saat matanya sudah bisa melihatku.
"Sholat dulu hey cepat!" perintah Mama.
"Mama, kapan datang?" tanya Arsy yang baru menyadari ada Mama di sini.
"Semalam. Pas kami pulang rumah sudah kosong. Nelepon kalian tak diangkat. Mama nelepon Dafa dan dia bilang Intan masuk rumah sakit, jadi kami langsung kesini," terang Mama.
"Oh gitu. Papa mana?" tanyaku pula.
"Dia ke mesjid sholat subuh. Kalian juga sholat dulu sana, biar Mama yang nungguin Intan."
__ADS_1
Kami pun sholat ke mesjid, meninggalkan Intan di bawah penjagaan Mama.
***
Mama dan Papa sedang keluar untuk mencari sarapan.
Arsy, entah kemana dia. Sekarang aku hanya berdua dengan Intan.
"Tan, aku minta maaf mewakili Abang Dafa," ucapku padanya.
"Kenapa kau yang minta maaf. Sudahlah Fa. Bukan salahmu," jawab Intan.
"Aku mau ceritain sesuatu. Kau mau dengar gak?" tanyaku.
"Dongeng dari negeri mana yang kau mau ceritain?"
Intan malah balik nanya.
Dongeng katanya. Ish!
"Tentang Dafa. Kau tahu kenapa dia belum menikah? Di antara cucu kakek hanya Dafa yang belum menikah. Apa kau tidak heran? Sekarang aku mau cerita padamu. Dulu dia sempat akan menikah, dengan pilihan hatinya tentu saja. Mereka kenal saat kuliah, lalu mereka jatuh cinta. Dafa memutuskan untuk meminangnya. Dan keluarga memutuskan untuk menikahkan mereka di ujung tahun, empat bulan setelah peminangan. Tapi sesuatu terjadi, dua bulan sebelum pernikahan, Kak Fathia, tunangan Dafa, mengalami kecelakaan saat mau pulang dengan membawa mobil sendiri, dan dia meninggal di tempat. Sejak saat itu Dafa tak suka bermanis muka dengan wanita yang tak dikenalnya, dia menutup diri dari wanita. Selain itu Dafa juga tak mengizinkan Mama atau aku membawa mobil sendiri, bahkan aku tak diizinkan bawa motor juga. Itu karena Dafa takut apa yang dialami Kak Fathia terjadi pada kami. Aku tahu dia keterlaluan padamu kemarin, tapi itu karena dia tak ingin terjadi sesuatu padamu. Mungkin dia tak tahu harus melarangmu dengan cara apa, makanya dia mengatakan hal itu padamu. Dia mengkhawatirkanmu. Dia tak bermaksud melukai perasaanmu, dia juga tak tahu motor itu pemberian Ayahmu. Dan kumohon percayalah padaku, dia sangat menyesal telah melukaimu. Aku bisa lihat itu dari matanya. Kumohon maafkan dia!"
Lega rasanya telah menceritakan ini pada Intan.
Aku memandang Intan, dia menangis lagi. Kali ini aku mendengar isakannya.
Aku memeluknya erat.
"Ssshhh sudahlah jangan menangis. Aku bahkan tak menaruh bawang di ceritaku tadi, kenapa kau menangis ish?" kataku mencoba mengajaknya becanda lagi.
Tapi dia semakin keras menangis. Hadeuh.
Tibatiba Arsy dan Dafa datang.
"Syi, Intan kenapa?" tanya Arsy khawatir melihat Intan menangis.
"Hey anak kecil, kau kenapa? Mana yang sakit?" kali ini Dafa yang bertanya.
Intan melepaskan pelukanku. Dia mengusap air matanya lalu tibatiba tertawa. Aishhh anak ini kenapa?
"Aku sedang acting nangis tadi sama Syifa. Gak tahu kalau kalian akan datang. Btw, actingku bagus kan?" ucapnya ceria.
Dia menatapku seolah meminta bantuan.
"Oh iya. Ini hanya lelucon kami saja. Hihi Kami lagi ngomongin drama queen kampus yang doyannya nangis seolah dia orang paling menderita di dunia, kami lagi nyobain jadi dia gitu," jelasku yang tak ada jelasjelasnya sama sekali. Omonganku benarbenar gak jelas banget itu. Garagara Intan sih.
Arsy dan Dafa sudah melongo aja, mungkin gak paham dengan yang aku ucapkan. Ah bodo amat.
"Abang Dafa bawa apa itu?" tanya Intan mengalihkan pembicaraan.
"Ah ini, ini sarapan untuk kalian," jawab Dafa dengan teragakagak. Sepertinya dia terkejut karena Intan sudah kembali bersikap manis padanya.
Aku juga agak terkejut sih.
"Kebetulan. Aku laper banget ini. Boleh kami makan?" tanya Intan lagi.
"Tentu saja!" balas Dafa. "Biar aku bukain," tawar Dafa.
Dafa membuka bungkus makanan itu lalu memberikannya pada Intan.
Arsy sudah menarikku menjauh. Seperti biasa kami hanya jadi penonton saja sekarang. Kami berundur duduk di sofa.
"Pelanpelan makannya. Nanti kau tersedak," ucap Dafa.
"Abang gak sakit kan?"
Dafa sudah mengerutkan kening mendengar pertanyaan Intan itu.
"Habisnya Abang baik banget padaku. Janganjangan Abang dah mulai suka aku ya?"
Kata Intan dah kembali dengan gaya mengusiknya. Syukurlah!
"Kau udah tak marah padaku?" tanya Dafa yang sepertinya masih heran dengan sikap manis Intan.
Pertanyaannya mirip dengan pertanyaan Arsy padaku kemarin.
"Memangnya kapan aku marah?" tanya Intan dengan mulut penuh makanan. "Selama ini memangnya aku pernah marah sama Abang? Meskipun Abang selalu tak mesra alam padaku tapi aku tak bisa marah. Aku kan suka Abang," ucap Intan sambil tersengih. Kok dia bisa bicara setegar itu. Padahal kan dia sedang meluahkan isi hatinya, tapi terdengar seolaholah itu hal biasa saja. Apa Intan tak masalah kalau perasaannya tak terbalas?
"Sudah kubilang jangan suka padaku," kata Dafa sinis. Sepertinya dia juga sudah kembali menjadi dirinya yang biasa.
"Hmm Abang. Kalau aku berhenti suka Abang, bisakah Abang bersikap manis padaku?" tanya Intan yang sepertinya mengagetkan Dafa.
"Kau suka aku atau tidak sikapku tak akan berubah," jawab Dafa. Kemudian dia langsung pergi tanpa mengatakan apapun.
"Jadi begitu ya. Bagaimanapun perasaanku padanya tak berarti apaapa untuknya. Apa yang harus kulakukan, Fa?" tanya Intan sayu. "Mungkin aku benarbenar harus melupakannya sekarang. Sepertinya dia benarbenar menyukai Kak Arisya. Kak Arisya dan dia samasama memiliki kesedihan yang sama. Orang yang mereka sayang direnggut dari mereka dengan cara yang sama. Mereka saling memahami perasaan masingmasing. Mereka sangat cocok!" sambung Intan seolaholah Arsy tak mendengar semuanya.
Aku hanya menjawab sepi luahannya. Tak tahu harus mengatakan apa.
__ADS_1
***
Bersambung.