Nikah Muda (?)

Nikah Muda (?)
18. Rindu


__ADS_3

***


"Aku mau yang kuning aja ihh," kata Intan sambil menyimpan ember kuning ke troli belanjaan.


Dafa mengambilnya dan meletakannya kembali.


Dia malah mengambil ember biru dan meletakkannya di troli.


"Aku suka biru. Kita pilih biru saja!" kata Dafa tak menghiraukan protes Intan.


"Sebenarnya yang mau KKN itu aku atau Abang sih!" marah Intan.


Dari tadi dia memang gak pernah menang lawan Dafa. Ckckckck


Aku mau ngambil ember biru juga biar sama kayak Intan, tapi Arsy mengambil ember pink dan meletakannya di troli.


Pink? Janganjangan Arsy suka pink. Aishhh masa iya.


Aku gak jadi ngambil ember. Ember yang Arsy pilih ya pasti untukku meski dia tak mengatakannya. Meski dia tak memandangku saat memilihnya.


Ekspresinya tetap dingin. Aku memandang tangan kami yang masih bertaut, dia sama sekali tak melepaskannya dari tadi seolaholah aku anak kecil saja.


"Apalagi Fa yang belum kita beli?" tanya Intan.


"Entah, rasanya udah semua. Sabun, makanan, ember, gantungan baju, hmm apalagi ya." Aku mengetukngetuk daguku tanda sedang berpikir.


Tibatiba Arsy menarikku. Mau kemana dia. Aishhh!


"Pilihlah! Sekalian punya Intan juga, dia mungkin akan malu sama Dafa nanti kalau kesini," ucap Arsy.


Cuma Intan saja yang dia pikirin. Memangnya aku gak akan malu apa, aku juga malu lah ish.


Dia ada di sampingku saat aku memilih beginian. Aku jadi ragu mau mengambil.


"Kalau kamu diam terus Abang yang pilihin," katanya seraya mengambil dua bungkus yang ukuran besar. Ya Tuhan, yang benar saja.


Dia menarikku lagi kembali ke Intan dan Dafa. Sepanjang jalan orangorang melihat ke arah kami. Aishh Arsy ini gak punya malu atau gimana.


Intan dan Dafa terlihat melongo melihat Arsy meletakkan bungkusan itu di troli.


"Fa, tega kau membully suamimu. Kau menyuruhnya membawa pembalut?" Kata Dafa sambil melepaskan tawa.


Aku memandang Arsy yang bersikap biasa saja. Padahal aku sudah malu banget, dia malah cuek gitu.


"Abang Arsy itu peka, gak kayak Abang Dafa. weq!" ucap Intan sambil menjelirkan lidah.


"Diamlah anak kecil!" kata Dafa marah.


Banyak barang yang kami beli. Itu karena Dafa juga ikut belanja barangbarang gak penting. Kami sampai sholat maghrib dan isya di mesjid mall karena belanjanya tak kelarkelar.


Aku sudah sangat capek. Bukan hanya capek berjalan, tapi capek dengan sikap dingin Arsy padaku.


"Dafa, kau yang nyetir," kata Arsy lalu menyerahkan kunci mobil ke Dafa.


Kupikir Arsy akan duduk di depan. Dia malah masuk ke kursi belakang, duduk bersamaku. Intan mau gak mau harus duduk di depan bersama Dafa.


Aku ngantuk banget, mau ngobrol sama Arsy pun gak mungkin. Lebih baik tidur saja.


Bisa kurasakan Arsy menyandarkan kepalaku di pundaknya. Ahh aku tak punya tenaga untuk melayan perasaan sekarang, aku benarbenar ngantuk.


***


Aku terbangun lalu melihat keadaan sekeliling. Aku di kamar!


Yang kuingat aku tidur di mobil semalam, mungkin Arsy yang mengangkatku kesini.


Arsy masih tidur di sampingku. Rasanya sudah dua hari sejak kami bertengkar, sudah dua hari dia dingin padaku.


Uhh aku merindukannya. Sangat merindukannya.


"Abang, maafkan aku!" bisikku seraya menyentuh wajahnya yang sedang tidur itu.


Aku bangun mengambil wudhlu. Masih ada waktu untuk sholat malam.


Bermunajat. Memohon pada Tuhan agar melindungi pernikahanku.


***


Adzan Subuh berkumandang. Aku membangunkan Arsy untuk berjama'ah.


Kami melakukan aktivitas seperti biasa. Hanya saja Arsy masih tak bicara padaku.


Mau saja aku minta maaf padanya untuk kejadian waktu itu, tapi Arsy selalu menghindariku.


Dan saat ada kesempatan untuk minta maaf, lidahku jadi kelu. Sulit sekali mengucapkan 'maaf'.


***


'Assalaamu'alaikum Abang. Hari ini aku mau pergi survey ke desa tempat KKN sekalian mencari kontrakan untuk tinggal nanti.'


Setelah aku mema'lumkan kepergianku pada Arsy, aku dan teman sekelompokku yang lainnya berangkat menuju ke desa tempat dimana kami akan mengabdi untuk sebulan nanti.


Aku seperti biasa dibonceng Intan. Dafa dah wantiwanti agar kami jangan sampai dibonceng cowok. Dasar.


Gak diperingatkan begitu pun kami memang tak mau. Meskipun jalannya jelek dan berbahaya, kami tak mau dibonceng cowok. Kami tak terbiasa.


.


.


Kami sudah melihatlihat desa tempat kami KKN. Waktu tempuh dari kampus ke desa sekitar 3 jam dengan naik motor. Terpencil memang. Desanya lumayan luas, dari satu RW ke RW lain lumayan jauh juga harus melewati sawah dan gunung dulu.


Kami juga sudah mendapatkan rumah untuk tinggal. Ada dua rumah, untuk pria dan wanita tentu saja rumahnya dipisah.


Rumah kontrakan kami ini lumayan besar untuk ukuran rumah di desa. Fasilitas di dalamnya pun lumayan. Ada sofa, kasur, TV, lemari, perabotan dapur pokoknya lengkap semua. Kami tak usah bawa banyak barang nanti. Dan yang paling penting, kamar mandinya di dalam.


Selesai survey, kami pun pulang. Sempat ada razia tadi, jadi aku dan Intan terpisah dari rombongan. Kami berada jauh di depan. Temanteman yang lain pada gak pake helm dua, jadi mereka nunggu razia selesai karena tak ada jalan pintas atau jalan tikus. Kanan kiri gunung, ya mana ada jalan lain. Heran juga di daerah banyak gunung seperti ini sering ada razia kendaraan.


Hari sudah semakin sore dan sepertinya akan turun hujan. Kami sudah keluar dari jalan yang banyak gunung. Sekarang kami sudah masuk daerah kota lagi. Dan hujan pun turun.


Terpaksa harus berteduh dulu karena kami tak membawa jas hujan.


Setelah sejam menunggu, hujannya tak kunjung reda. Akhirnya kami menelepon Dafa untuk menjemput kami.


"Kalian tak apa?" tanya Dafa setelah turun dari mobil.


"Ayo masuk mobil, biar badan kalian hangat."

__ADS_1


Kami pun masuk ke mobilnya Dafa.


"Kita langsung pulang aja ya," ucap Dafa.


"Tunggu reda dulu lah Bang. Motorku gimana?" kata Intan.


"Tinggalkan saja disini. Besok ambil."


"Kalau hilang gimana. Gini aja, Abang bawa jas hujan gak? Biar aku bawa motorku, Syifa sama Abang."


"Jas hujan ada. Tapi biarin kau pulang naik motor sendiri gak mungkin. Kau tetap di sini. Motormu biarkan saja!" tegas Dafa.


"Kalau gitu Abang yang bawa motorku." Intan masih belum menyerah.


"Terus mobilku?"


"Aku yang bawa," kata Intan dengan memasang wajah kasihan.


"No! Jangan pernah bermimpi bawa mobil ini. Kalau nabrak gimana? Kau pikir ini mobil murah? Gak boleh, pokoknya gak boleh. Tinggalin saja lah motormu. Motor jelek gitu gak akan ada yang ngambil. Kalau hilang, aku ganti yang baru."


Tibatiba Intan keluar dari mobil. Dia menuju motornya dan melaju menembus hujan.


Aku berusaha memanggilnya tapi tak ada gunanya.


"Ayo Bang kejar dia. Cepat jalankan mobilnya!" teriakku pada Dafa.


"Malas. Biarkan saja anak bandel itu. Ngeyel!" jawab Dafa.


"Abang! Kalau terjadi sesuatu sama dia gimana? Dia pasti tersinggung dengan ucapan Abang tadi. Motor itu hadiah ulang tahun dari Papanya sebelum meninggal. Ngehina pemberian seseorang sama saja dengan ngehina si pemberi. Gak mau tahu pokoknya jalan sekarang, kejar dia!" marahku pada Dafa.


"Sial!" teriak Dafa sambil memukul setir lalu dengan cepat menyusul Intan.


Apa dia menyesal dengan ucapannya? Itu harus. Dia keterlaluan.


Aku benarbenar khawatir pada Intan sekarang. Intan tak pernah semarah itu. Dia pasti sangat terluka dengan perkataan Dafa. Ish!


***


"Bang, sepertinya Intan sudah pulang," ucapku saat kami sampai di rumah. Kulihat motor Intan sudah elok parkir di garasi rumah.


"Syukurlah. Abang langsung ke rumah sakit ya!" kata Dafa.


Aku pun masuk ke rumah. Aku memutuskan untuk mandi dan sholat maghrib dulu sebelum bicara dengan Intan, dia pasti sedang sedih sekarang.


Selesai mandi aku pergi ke kamar Intan. Dia tertidur di atas sajadah dengan masih memakai mukena. Saat kudekati, dia ternyata tertidur dengan memeluk foto Papanya.


"Kau pasti sedih, Tan!" ucapku lirih.


Selama ini semenyakitkan apapun ucapan Dafa, Intan tak pernah benarbenar marah. Dia tak akan tersinggung. Tapi kali ini sepertinya ucapan Dafa benarbenar menyakiti hatinya.


Aku duduk di samping Intan, menungguinya tidur.


Isya menjelang. Kucoba bangunkan Intan untuk berjama'ah.


"Tan, bangun Tan!" kusentuh tangannya.


PANAS!


Yaa Tuhan! Intan kenapa? Apa ini efek hujanhujanan tadi? Aku terus mencoba membangunkannya tapi tak bisa.


Kulari ke kamarku untuk mengambil ponsel.


"Assalaamu'alaikum!"


"Wa'alaikumussalaam. Abang, tolong aku Bang.'


"Hey kamu kenapa?"


"Intan demam. Badannya panas sekali. Mungkin karena kehujanan. Dia tidur di bawah, aku bangunin tapi gak bangunbangun. Mama dan Papa belum pulang, aku gak tahu harus ngapain. Aku telepon Dafa gak diangkat."


Aku ngomong apa ke Arsy entahlah aku gak tahu.


"Okeoke jangan panik! Ambil termometer, ukur suhu tubuhnya dulu. Setelah itu kompres pake air hangat. Kalau bisa lap seluruh badannya. Kamu paham kan?'


Aku mengangguk. Aisshhh bodoh, Arsy kan gak tahu aku mengangguk.


"Iya Bang. Makasih."


"Abang usahakan pulang cepat. Kalau ada apaapa telepon Abang lagi ya. Jaga diri kamu."


"Iya Bang. Assalaamu'alaikum!"


Selesai mematikan telepon aku melakukan apa yang Arsy suruh.


Setelah beberapa lama, demam Intan tak turun juga. Mungkin karena dia tidur di lantai. Tanganku tak bisa mengangkatnya. Bagaimana ini. Intan belum sadar juga.


Akhirnya aku membentangkan kasur lantai di sampingnya. Dengan sekuat tenaga kupindahkan Intan agar tidur di kasur lantai.


Setelah cukup lama akhirnya aku berhasil juga.


Aku menyelimutinya. Mulai mengompresnya kembali.


Alhamdulillah demamnya perlahan reda.


Kusangka panas hingga ke petang, ternyata hujan di tengah hari. Aissshhh peribahasa negeri mana itu.


Kupikir keadaan Intan membaik, namun demamnya tinggi lagi. Bahkan lebih tinggi dari sebelumnya.


"Kamu bawa dia ke rumah sakit aja. Pergi ke rumah Ayah minta bantuan."


Itu yang diucapkan Arsy setelah aku menjelaskan keadaan Intan.


Dengan bantuan Ayah dan Kak Arisya aku membawa Intan ke rumah sakit.


Awalnya Ayah, Bunda, Kak Arisya semua panik saat kugedor pintu rumah mereka. Dan mereka lebih panik lagi setelah tahu Intan sakit. Apalagi dia kan anak kesayangan Ayah banget.


Sesampainya di rumah sakit Intan langsung diperiksa oleh Kak Shara. Ingat kan? Kakak cantik yang suka sama Arsy. Ah sudahlah, sekarang itu tak penting. Yang penting keadaan Intan. Aku sangat takut sekarang.


"Syi!"


Arsy datang lalu memelukku.


Oke sebenarnya aku yang memeluknya sih. Tapi dia membalas pelukanku juga.


"Jangan sedih! Intan akan baikbaik saja," kata Arsy menenangkanku.


"Dia baikbaik saja, hanya demam biasa. Saya dah suntikan obat. InsyaAllah demamnya akan segera sembuh," ucap Kak Shara membuat kami lega.

__ADS_1


"Makasih dokter!" ucap Ayah mewakili kami.


Kak Shara senyum lalu pamit pergi.


"Fa, kau sholat Isya dulu. Biar Kak Sya yang jaga Intan di sini," kata Kak Arisya.


Aku mengangguk. Bahkan tadi saking paniknya aku lupa sholat isya, untung Kak Arisya ingatkan.


***


"Ikut Abang!"


Tibatiba Arsy menarikku saat aku keluar dari masjid rumah sakit. Entah sejak kapan dia menungguku aku tak tahu.


Sekarang suka banget dia menarikku seperti ini. Ish bikin kaget saja.


Dia membawaku ke ruangannya. Uhh ruangan ini tempat dimana untuk pertama kalinya kami bertengkar.


Belum sempat aku bertanya apaapa Arsy langsung merengkuhku ke dalam pelukannya, setelah dia menutup pintu tentu saja.


"Ab ... abang, kenapa?" tanyaku.


"Sebentar saja. Stay like this, sebentar saja," ucapnya.


"Sorry!" katanya lagi setelah beberapa lama diam. "Maaf karena Abang mengabaikanmu. Maaf karena Abang marah padamu."


Kenapa aku jadi sedih begini sekarang.


Selama ini Arsy juga terluka. Dia juga sedih. Tapi aku tak menyadarinya. Aku hanya memikirkan perasaanku saja.


Arsy melepaskan pelukannya. Dia tersenyum lalu mengelus kepalaku. Uhh aku merindukan senyumannya. Biasanya Arsy tak pernah pelit dengan senyuman, tapi dua hari ini aku tak bisa melihat senyumnya itu. Dan sekarang aku mendapatkannya lagi. Senyuman Arsy yang hanya untukku sudah kembali.


Kemudian dia duduk di kursi yang sepertinya disediakan untuk tamu atau pasiennya itu, lalu menarikku(lagi) duduk di atas pangkuannya. Aishhh mood romantisnya datang lagi.


"Kamu maafin Abang gak?" tanyanya.


Aku hanya mengangguk mengiyakan.


"Abang tak bermaksud menuduhmu. Abang bukan tak percaya padamu. Abang tak meragukanmu, hanya saja Abang tak bisa percaya pada orang lain."


Aku mengerti Arsy. Aku mengerti! Maafkan aku.


Uhh aku sulit mengatakannya.


Dari tadi hanya dia saja yang bicara dan minta maaf.


Aku menggigit bibir karena kesal pada diriku sendiri yang tak bisa mengatakan apapun pada Arsy.


"Kamu baikbaik saja?" tanyanya lagi.


Arsy, kenapa kau baik seperti ini. Ish


Aku jadi semakin merasa bersalah kalau kau terlalu baik padaku.


Tapi aku juga tak suka Arsy yang dingin. Uhh!


"Jangan mengabaikanku lagi. Aku minta maaf telah kurang ajar pada Abang. Aku meninggikan suara pada Abang. Aku marahmarah pada Abang. Maafkan aku!" luahku. Akhirnya aku bisa mengatakannya juga. Aku memeluknya erat.


"Aku merindukan Abang."


"Huft kalau begini dari kemarin kan enak," kata Arsy. "Sebenarnya Abang sudah gak marah kemarin. Waktu kita bertengkar di sini, Abang sengaja keluar karena takut bicara yang menyakitkan hati kamu lagi. Setelah Abang keluar, perasaan marah Abang sudah Abang buang jauhjauh. Lagian itu bukan 'marah' sebenarnya, Abang hanya terlalu khawatir padamu.


Yang part mengabaikan itu sengaja biar kamu ngomong maaf duluan. Tapi nunggu kamu minta maaf duluan lama banget ish, Abang gak tahan lagi!" jelasnya lalu mencubit pipiku geram. Kebiasaan!


Dianya sih dingin banget, aku jadi takut mau minta maaf.


"Cowry ya udah buat Abang menunggu lama," Kataku dengan memasang wajah sok imut. Mukaku emang imut sih walau tak diimutimutin.


"Sudahlah lupakan. Anggap aja sekarang kita punya kekuatan untuk kembali ke masa lalu. Kita ubah jalan ceritanya gimana?"


"Baiklah!" jawabku ceria.


"Jadi, pacar Abang ini mau ngapain kesini?" tanyanya purapura kembali ke hari dimana kami bertengkar.


"Hanya mau melihat Abang. Aku kangen Abang. Sekalian mau beritahu kalau kelompok KKNku udah berubah," jawabku ikut purapura juga.


Setelah itu kami tertawa bersama.


Buang yang keruh, ambil yang jernih.


Sekarang aku jadi belajar menghargai. Menghargai perasaan Arsy padaku.


Rasa khawatirnya tak salah, dia hanya ingin melindungi, tak ada pengekangan.


Keinginannya selama ini sederhana, dia ingin aku memujuknya, dia ingin aku memulai mengakui salahku. Tapi aku tak pernah peka.


Meski akhirnya aku tak pernah melakukan hal yang dia inginkan, dia tak pernah merungut karena itu. Pada akhirnya, dia yang akan mengalah untukku.


Aku semakin menyayanginya.


Drrrkkkk!


Pintu terbuka dari luar.


Kami jadi kaku.


Aku sedang mencium pipi Arsy waktu pintu itu terbuka, entah kapan aku menciumnya aku tak sadar sama sekali. Aishhh Syifa.


Aku benarbenar kaget. Bukan hanya kaget karena kelakuanku dilihat orang lain, tapi juga kaget karena aku kok berani melakukan hal itu.


Aku malu lagi sekarang.


"Oh My God! Kalian ngapain?" tanya Kak Arisya yang tibatiba datang itu.


Aku segera bangun dari pangkuan Arsy.


"Kau ganggu saja!" kata Arsy pada Kak Arisya.


Ish Arsy ini, nanti Kak Arisya semakin berpikir macammacam.


"Kalian mesramesraannya nanti saja di rumah. Aku mau ngasih tahu kalau Intan sudah sadar," beritahu Kak Arisya.


"Alhamdulillah!" ucapku, terimakasih Yaa Allah. "Syukurlah dia sudah sadar. Ayo kita lihat Intan sekarang!" ajakku.


"Intan? Memangnya kenapa dengan Intan?" tanya Dafa yang tibatiba muncul entah dari mana.


***

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2