
***
"Ma, kami berangkat dulu ya!"
Aku dan Intan berpamitan untuk berangkat kuliah. Setelah keputusanku semalam, sama sekali tak ada yang berubah. Kami melakukan hal seperti biasa. Kakek belum mengetahui tentang ini, jadi kami belum disibukkan dengan hal tentang persiapan pernikahan.
Semuanya masih tetap sama, masih normal. Mungkin hanya perasaanku saja yang berbeda sekarang. Aku merasa lega. Dan detak jantungku sepertinya sudah tak normal sejak semalam. Aku lega tapi aku terus berdebar. Aku tak mengerti.
Tingtong!
Bel rumah berbunyi.
"Biar aku saja yang membuka pintu," ucap Intan sambil berjalan menghampiri pintu lalu membukanya.
Terlihat ada Bunda di sana. Kami menyalami Bunda dan mempersilakannya duduk.
Bunda menarikku untuk duduk di sampingnya. Intan dan Mama hanya tersenyum melihat kami.
Intan meminta izin untuk mengambil minum.
"Sayang, Bunda berterimakasih karena kamu mau menerima anak Bunda," kata Bunda sambil menggenggam tanganku.
"Aku banyak kekurangan Bunda. Aku yang harusnya berterimakasih karena Bunda mau menerimaku sebagai menantu Bunda."
Aisshhh bicaraku seperti gadis keraton dah. Lemah lembut cangkang keong.
Bunda memelukku. Setelah itu dia meleraikan pelukan lalu memegang pipiku.
"Selama ini Bunda khawatir dengan anak Bunda itu. Dia tak kunjung memperkenalkan calon istrinya. Dan setiap Bunda mau memperkenalkannya pada seorang wanita, dia selalu saja menolak calon yang Bunda pilihkan itu. Selalu mengelak kalau ditanya masalah pernikahan. Bunda khawatir sekali, di umurnya yang sudah tak muda lagi itu dia belum juga mau menikah. Tapi Bunda lega, akhirnya hati Arsy terbuka juga untuk menerima kamu. Dan alhamdulillah juga kamu mau menerimanya," tutur Bunda.
Aku hanya menganggukngangguk saja. Tak tahu harus bicara apa.
Dalam hatiku kok aku merasa agak senang ya dari banyak wanita yang dijodohkan dengannya aku yang dia pilih.
Eh tapi kalau aku dipilih karena dia terdesak disuruh nikah gimana? Huaaa!
Tapi kan aku juga terdesak harus menikah sebelum lulus kuliah. Ish tapi kan aku tidak seterdesak itu juga sih, aku masih bisa menolak.
Tapi ... duhh jadi banyak tapi gini.
Hmm aku semakin penasaran Arsy ini berumur berapa tahun sebenarnya, kenapa Bunda bilang tak muda lagi. Jangan empat puluhan aja sudah, entar orang ngira dia Papaku lagi.
"Bund, ini minum dulu." Intan datang menyodorkan minuman.
"Duh jadi ngerepotin kamu," kata Bunda lalu menyuakan gelas itu ke mulutnya.
"Sebenarnya Bunda gak akan lama. Bunda mau pergi menemui Arsy. Arsy belum tahu lamarannya diterima, Bunda mau ngasih tau dia secara langsung. Bunda pergi dulu ya!
Fizu, makasih banyak."
Sebelum pergi Bunda memeluk Mama terlebih dahulu.
Setelah mengantar kepergian Bunda aku melihat Intan tersenyumsenyum memandangku.
"Apaan?" tanyaku.
"Cieee ketemu mertua," goda Intan.
"Kalian gak liat jam? kalian sudah terlambat kuliah," kata Mama.
Aku dan Intan berpandangan.
"Statistika!" Teriak kami lalu berlari ke arah motor Intan.
***
.
.
.
Aku tengkurap di kasur sambil belajar untuk menghadapi ujian akhir semester. Berbagai gaya telah aku coba. Selonjoran di lantai, senderan ke pinggir ranjang, telentang dan banyak lagi. Bukan apaapa, aku gampang pegal kalau hanya diam dalam satu posisi.
Drrrtttdrttttdrttt!
Aku membuka pesan WA yang masuk ke handphoneku.
Nomor siapa ini?
'Assalaamu'alaikum!
Hay Syifa. Saya Arsy.
Saya ucapkan terimakasih karena sudi menerima lamaran keluarga saya. Syukur saya panjatkan atas ini.
Saya tahu kita tak saling mengenali satu sama lain.
Saya harap kita bisa membuka diri untuk lebih saling mengenali sekarang.
Saya banyak mendengar tentang kamu dari Bunda, Mama, Arisya, bahkan si kecil Arsyad. Jujur saja entah kenapa, hanya dengan mendengar cerita mereka saja saya sudah mulai tertarik.
Karena umur saya yang tak muda lagi, saya tak ingin hubungan yang mainmain.
Saya memiliki banyak kekurangan, saya harap kamu tak kaget nanti dengan kekurangan saya.
Sekali lagi terimakasih.
Wassalam!'
Aku membaca pesan itu tak berkedip. Itu Arsy yang kirim? Dadaku mulai sesak lagi ini. Aisshhh!
Btw, kenapa kaku sekali bahasanya. Skema.
Beda banget denganku yang suka bicara ceplasceplos dan agak kasar ini. Direject jadi calon istri nih kayaknya.
__ADS_1
Mungkin itu pengaruh umur kali ya.
Aku harus balas apa sekarang. Masa balas 'samasama', pasti diketawain Intan kalau dia tahu. Apa aku tak usah balas saja ya. Tapi entar dia mikir aku tak suka dia. Eh emang aku suka dia? Uhh pusing.
Tibatiba ponselku bergetar lagi. Kali ini ada telepon masuk.
Nomor yang tadi! Arsy meneleponku? Seriusan? Aduh angkat tidak ya.
Huft tarik nafas Syifa.
"Bismillah."
Aku pun mengangkat teleponnya.
"A ... As ... Assalamu'alaikum!"
Kenapa aku mendadak gagap gini.
"Wa'alaikumussalaam!"
Yaa Allah. Suaranya ... suaranya ... kenapa suaranya membuat hatiku berdebar. Suaranya agak garau. Dan aku suka. Aisshhh aku sudah kenapa ini.
"Syifa, kamu sibuk ya? Maaf jika saya ganggu."
"Ah tidak. Errmm ada apa ya kamu eh Abang eh kamu abang menelepon saya?'
Amposss, malu aku. Terdengar suaranya mengekek. Aisshhh pasti ngetawain aku tuh. Mamaaaa, pengen nangis nih rasanya. Aku mulai menggigit bantal. Kenapa aku gugup?
"Haha kamu panggil saya 'Abang' saja tak apa."
Duhhh ketawanya saja membuatku melting. Padahal dia ngetawain aku tuh. Tapi kenapa aku suka. Jaga hatimu Syifa. Jaga hati!
"Abang telepon kamu karena kamu tak balas pesan Abang."
Nah lho dia sudah membahasakan dirinya 'Abang'.
Okeh Syifa anggap aja kamu lagi ngobrol sama Dafa.
"Ohh gitu. Maaf Bang, tadi saya bingung mau balas apa. Saya tak pandai berkatakata. Saya takut salah bicara. Saya ... saya ini agak brutal dikit. Saya tak pandai berlemah lembut. Saya ... saya ... uhh saya tak biasa bersayasaya seperti ini. Boleh gak berakuaku saja. Belibet lah bang. Formal banget, susah."
Bodo amat ah Arsy mau menilaiku seperti apa.
"Haha ... Kamu luchu sekali. Tak usah memaksakan diri. Jadi diri kamu aja. Abang tak masalah. Abang sudah terbiasa formal di tempat kerja jadi terbawa ke kehidupan seharihari. Sorry kalau kamu jadi tak nyaman."
"Huft lega aku. Syukurlah kalau Abang tak masalah. Ini aku belibet ini dan geli sendiri tahu. Tak biasa.
Hmm Aku yang banyak kurang ini Abang masih mau nerima aku? Ya siapa tahu Abang jadi berubah pikiran."
"Abang pun banyak kurangnya."
"Hmm aku tak cantik lho, Bang."
"Tak apa. Mungkin nanti akan ada cerita Handsome and the beast terinspirasi dari kita."
Dihhh, aku beast nya gitu? Apaapaan dia.
"Yang sedap dipandang mata itu ya yang cantik Bang."
Bisa kudengar dia tertawa lagi di ujung talian sana. Dia ini senang sekali tertawa.
"Abang ini gak pilihpilih. Ada yang mau nerima Abang aja sudah Alhamdulillah. Lagi pula Abang pun tak tampan. Sudah tua pula."
Cihh tak pilihpilih apanya. Emaknya sendiri bilang dia dah sering nolaknolakkin wanita yang mau dijodohkan dengannya.
Tapi yang BAB tua itu kok aku takut ya. Setua apasih dia. Mau nanya tapi malu.
"Hmm oh iya aku ini tak bisa masak juga, Bang."
"Nanti kita belajar samasama."
"Bener ya. Awas lho nanti kalau merungut karena aku tak bisa masak."
"Iya. Hmm besok Abang dan keluarga Abang mau pergi menemui Kakekmu. Do'akan Abang ya."
"Besok? Kok cepat sekali."
"Lebih cepat lebih baik kan. Tak elok menundanunda hal baik. Lagi pun Abang takut keduluan orang. Kumbang kan bukan seekor."
"Bunga juga bukan sekuntum."
"Haha ... bisa aja. Hmm maaf ya Abang harus kerja lagi. Kita sambung sembang lain kali. Jangan lupa do'akan Abang besok! Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalaam!"
Tuuuttt
Talian terputus.
Belum sejam kenal, tapi kenapa seperti sudah kenal lama. Sudah seperti sepasang kekasih saja rasanya. Aissshhh masih haram Syifa. Lupakan lupakan.
Eh malammalam gini masih kerja. Kerja apa dia?
***
.
.
.
"Fa, kau kenapa? Kenapa selama di kelas tadi kau tak fokus? Ada masalah?" tanya Intan saat kami sedang duduk di kantin kampus menunggu pesanan.
"Aku degdegan. Hari ini keluarga Arsy akan menemui keluarga besarku."
"Harusnya dia yang nervous sekarang. Kenapa malah jadi kau yang tak senang duduk gini."
__ADS_1
"Menurut kau Kakek akan menerima Arsy tidak ya?"
Tak tahu kenapa aku jadi merasa khawatir seperti ini.
"Kau percaya dia kan?"
Aku mengangguk.
"Kalau gitu tak ada yang perlu dikhawatirkan," ucap Intan sambil menggenggam tanganku.
Sekarang pasti keluarga Arsy dan orangtuaku sedang di jalan ke rumah Kakek.
Mudahmudahan semuanya dilancarkan. Aamiin.
Uhh aku perlu chat dia tidak ya.
'Assalaamu'alaikum! Goodluck.'
Aku touch tombol send.
Huft.
"Kau kenapa senyumsenyum sendiri? tadi cemas, sekarang senyumsenyum. Aneh!" kata Intan heran.
Aku tak menghiraukan ocehan Intan. Biarkan sajalah.
Setelah beberapa lama Arsy masih belum membalas WA ku. Padahal pesanku sudah keliatan dibaca. Huft!
***
Aku semakin tak bisa duduk dengan tenang setelah tahu keluarga Arsy akan menginap di sana. Di rumah lamaku. Entah kenapa Kakek sampai menyuruh mereka menginap segala. Mungkin karena aku dah tiga kali batal nikah jadinya Kakek sekarang lebih ketat dalam menentukkan siapa calon suamiku.
Aku makin khawatir. Sejak tadi siang Arsy tak ada membalas WA ku. Mama Papa pun tak ngasih kabar sama sekali. Kami hanya bertukar kabar dengan Kak Arisya saja. Itu pun dia cuma bilang bahwa mereka akan menginap. Dia tak bilang apaapa lagi.
Aku tak tahu Kakek sudah setuju atau belum.
"Tenang lah, Fa!" kata Intan yang mungkin terganggu karena dari tadi aku terus mondar mandir. "Aku tak konsen nonton TV nya," sambungnya lagi.
Tuh kan aku bilang juga apa.
Aku membalingbaling bantal pada Intan.
"Hey, gak usah jadi gila juga kali," marahnya.
Habis aku kesal karena tak ada kepastian. Huaaa stress aku.
"Kamu kenapa?" tanya Dafa yang baru pulang.
"Assalaamu'alaikum Abang!" sindir Intan.
"Tak usah menyindirku. Aku dah ucap salam tiga kali tadi, tapi gak ada yang nyahut," kata Dafa.
"Yealah tuh. Abang sana mandi dulu. Aku dah nyiapin makan malam spesial. Dijamin Abang suka," ucap Intan bersemangat.
"Kau gak jampijampi makanannya kan? Kau kan desperate banget pengen aku. Kali aja kau gunagunain masakanmu itu," duga Dafa.
"Aishh kok abang tahu?" tanya Intan purapura terkejut.
"Kau gunaguna pria lain saja. Soalnya sihirmu itu tak akan mempan padaku."
"Aku maunya Abang. Fullstop."
"Sudahlah. Aku mana mungkin suka padamu," jawab Dafa ketus.
"I love you too," balas Intan.
Ish mereka ini, tak tahu apa aku lagi cemas. Bisabisanya membuat drama seperti itu di depanku. Lamalama kunikahkan juga mereka.
***
Selesai makan malam tadi aku meminta izin untuk masuk kamar duluan.
Tapi sejak tadi sampai sekarang aku belum bisa melelaplan mataku.
Aku masih membayangkan kirakira bagaimana penerimaan Kakek pada Arsy.
Drrtttdrrtttdrttt!
Ponsel yang kusimpan di atas meja belajar itu tak berhenti bergetar. Ada telepon masuk.
Kulihat nama si pemanggil.
"Arsy!"
Aku segera mengangkat teleponnya.
"Assalaamu'alaikum, Syifa!"
"Wa'alaikumussalaam!"
"Kenapa belum tidur?"
"Belum ngantuk."
"Sorry tadi gak balas WA kamu. Tadi Abang lagi nyetir. Dan setelah sampai pun tadi langsung off phone. Maaf ya."
"Iya tak apa kok."
Kami masingmasing terdiam. Aku mau bertanya soal apa saja yang dilakukannya tadi, tapi aku segan.
"Syifa! Andai kita tak ada jodoh, Abang harap kita masih bisa bersahabat."
DEG
Kok tibatiba dadaku sakit ya dia bicara seperti itu. Kenapa dia bicara begitu? Apa mungkin kakek menolaknya?
__ADS_1
***
Bersambung.