Nikah Muda (?)

Nikah Muda (?)
3. Menantu


__ADS_3

***


"Syifa, Intan. Tante pulang dulu ya. Kapankapan main ke rumah tante," kata tante Nurfa yang baru keluar dari rumah kami.


"InsyaAllah tante," jawab Intan lalu segera menyalami tante Nurfa.


Aku yang masih membersihkan tangan di keran langsung menghampiri mereka lalu ikut menyalami tante Nurfa.


"Hatihati di jalan tante," pesanku.


"Rumah tante kan cuma di samping rumah kalian," kata tante Nurfa lalu menggelenggelengkan kepala.


Aku tersengih sambil menggaruk kerudungku eh menggaruk kepala yang ditutupi kerudung maksudku.


Tapi kan rumah dekat pun harus tetap hatihati. Siapa tahu ada kerikil nakal yang membuat tersandung. Siapa tahu ada duri yang menghalangi jalan. Siapa tahu ada duda cakep yang godain.


Uhh tapi aku cuma ngucap dalam hati saja. Bisa dikeluarin dari daftar calon menantu entar kalau aku bicara begitu. Eh tapi belum tentu juga tante Nurfa punya anak laki. Tapi kalau punya anak laki pasti cakep, tante Nurfa nya kan cantik gitu. Senang deh kalau ada suami tampan. Entar kan aku bisa pamer ke Intan. Hihi


"Oyy ngelamun aja!" kata Intan sambil menggoncang bahuku.


"Eh tante Nurfa mana?" tanyaku. Tibatiba saja menghilang. Perasaan tadi masih ada di depanku.


"Dia dah masuk rumahnya, Syifa. Lagian kau ngelamun gak inget dunia. Udah sampai mana tadi lamunanmu?"


"Sampai ke pelaminan," jawabku. Ups aku langsung menekup mulut. Keceplosan.


"Kau kebelet banget ya pengen nikah? Ckckckck."


"Ish diam kau!"


"Mama! Syifa katanya mau nikah, Ma!" teriak Intan sambil berlari masuk rumah.


Ish anak itu memang menyebalkan. Awas kau Intan. Ada keju ada talas, ada waktu aku balas. Hahah aisshhh pantun apalah entah itu.


Aku pun berlari masuk ke dalam rumah. Bahaya juga kalau Intan bilang macammacam ke Mama.


***


Kartun kesukaanku dah mulai. Aku nonton TV sendirian, meninggalkan Mama dan Intan yang sedang sibuk masak. Intan ini masaknya jago, jadi aku merasa tak terlalu berguna di dapur. Paling cuma bisa ngerecokin mereka. Kemarin saja aku diketawain karena goreng ikan pakai sarung tangan. Bab masakmasak pokoknya aku teruk. Khawatir juga kalau nikah nanti gimana. Aku bukannya tak belajar. Tapi ya gitu, ujungnya aku hanya berantakin dapur. Kalau entar dapat suami pandai masak pasti aku beruntung.


Ish kenapa akhirakhir ini aku mikirin masalah suami sih. Efek harus nikah muda kayaknya.


"Kakak! Yang lain kemana?" suara Papa mengagetkanku. Aku langsung menyalaminya, lalu Papa yang baru pulang kerja itu duduk di sampingku.


Oh iya ... Papa ini suka manggil aku Kakak, padahal aku gak punya adek.


"Lagi masak di dapur," jawabku sambil memfokuskan lagi mataku ke tv.


"Kakak kenapa gak ikut masak? Diusir dari dapur ya?" tanya Papa ngeledek. Papa hafal banget aku ini mana reti masak.


"Udah ada para dayang yang masak, princess Syifa ya tinggal duduk manis aja," balasku.


Papa hanya bisa menggelengkan kepala.


"Yaudah Papa mau mandi dulu."


"Eh ... Abang gak pulang sama Papa? Bukannya tadi berangkat bareng. Apa Abang akan ngekost lagi? Janganjangan dia takut digodain Intan," dugaku.


"Enggak lah. Abangmu nanti juga pulang. Sepertinya lagi banyak pasien jadi pulangnya agak malem," terang Papa.


"Oh gitu. Yaudah husss sana Papa mandi dulu, gak usah ganggu Kakak nonton kartun," usirku.


"Yealah yealah!" kata Papa mengalah lalu berlalu pergi.


Mobil Dafa tadi pagi mogok, jadi dia nebeng Papa karena kantor Papa dan Rumah Sakit tempat Dafa kerja lumayan dekat.


Aku belum cerita ya, Dafa itu sejak kecil diurus oleh orangtuaku. Mamanya meninggal waktu dia masih bayi, itu sebabnya Mamaku yang nyusuin. Papa kandungnya itu oom aku, masih ada, dan dia juga sering datang jenguk Dafa.


Sejak mulai kerja dua bulan lalu Dafa mulai tinggal sendiri di kostan, tapi sepertinya sekarang dia akan tinggal bersama kami lagi karena rumah ini hanya berjarak 1 jam saja dari Rumah Sakit.


Aiissshhh malah ngomongin Dafa, kartunku sudah mau habis ini. Tepok jidat.

__ADS_1


***


Dafa pulang setelah kami selesai makan malam.


"Dafa, makan dulu. Kamu pasti lapar," ucap Mama saat Dafa keluar dari kamar setelah selesai membersihkan diri.


"Tadi sebelum pulang Dafa singgah di tempat makan dulu, Ma. Kebetulan ada teman Dafa yang tinggal di daerah sini, jadi Dafa nebeng dia tadi. Dan sebelum pulang dia ngajak Dafa makan dulu," jelas Dafa.


"Yaudah kalau gitu. Mama mau bikin kopi nih buat Papa. Kalian mau cokelat panas gak? Biar sekalian Mama bikinin," tawar Mama padaku, Intan dan Abang. Serentak kami bertiga mengangguk. Seperti anak kecil saja.


Sekarang ini kami sedang berkumpul di ruang TV. Intan duduk di bawah, depan meja sambil mengerjakan tugas kuliah. Aku duduk di sofa tepat di belakangnya. Dafa melabuhkan diri di samping Papa, di Sofa yang menghadap ke TV.


"Aku ke dapur dulu ya. Bantuin Mama," kataku seraya bangun menuju dapur.


Di dapur aku melihat Mama sedang menuangkan cokelat panas pesanan kami.


"Ma, biar Syifa bantu nuangin. Mama siapin kopi Papa aja." Aku pun mengambil alih tugas Mama.


"Hmm Ma, yang tadi ke rumah itu teman lama Mama ya? Syifa belum pernah liat sebelumnya," tanyaku.


"Iya sayang. Sahabat mama waktu masih jadi santri di pesantren Kakekmu dulu. Setelah menikah, kami memang sudah tak pernah bertemu. Dia ikut suaminya. Jaman dulu kan belum secanggih saat ini. Belum ada telepon pintar untuk komunikasi. Mama gak nyangka sekarang kami ketemu lagi di sini," cerita Mama.


"Dia punya anak cowok gak, Ma?" tanyaku lagi. Ini pertanyaan iseng saja sih. Haha!


"Kenapa? Mau daftar jadi menantunya?"


"Kok Mama tahu?" aku purapura kaget.


"Dari muka kamu dah kebaca."


"Hihi habis tante Nurfa cantik. Kalau punya anak cowok pasti cakep. Siapa yang gak mau punya suami cakep kan. Tante Nurfa juga kayaknya baik. Syifa ridho pokoknya punya mertua kayak dia."


"Mama bilangin dia lho ya."


"Bilangin aja. Paling juga dia bakal seneng. Dia juga pasti pengen jadiin Syifa  menantunya. Siapa sih yang mampu menolak anak seluchu Syifa," kataku membanggakan diri.


"Luchu tapi kalau tak bisa masak buat apa. Haha!" balas Mama mengejek. "Eh tapi ucapan adalah do'a lho, sayang. Hatihati!" sambungnya lagi sambil mengekek.


"Iya iya. Nanti Mama pinangkan anaknya untukmu. Sekarang ayo kita antar kopi dan cokelat ini dulu ke depan."


***


Garagara nemenin Intan begadang ngerjain tugas hampir saja aku kesiangan ke kampus. Di kelas pun tadi hampir tertidur karena ngantuk.


Pokoknya kalau sudah sampai rumah nanti aku mau puaspuasin tidur.


Hari ini untung ada dosen yang tak masuk, jadi aku bisa pulang setelah dzuhur.


Karena Intan mau ke toko buku dulu, aku pulang sendirian deh.


Kenapa aku tak ikut? Kami kan butuh 'me time', masa iya dua puluh empat per tujuh samasama terus.


"Assalaamu'alaikum!" laungku saat sudah sampai rumah.


Tapi tak ada yang menjawab salamku.


Aku ke dapur, ternyata Mama sedang sibuk membuat sesuatu.


"Ngapain, Ma?"


"Yaa Allah. Kaget. Kenapa tak bagi salam dulu?"


"Udah pun. Mama aja yang tak dengar. Buat apa sih itu? Sibuk banget kayaknya."


"Buat puding. Oh iya, Mama boleh minta tolong gak?" tanya Mama dengan muka di imutimutin.


"Apa?"


"Tolong antar Puding ini ke rumah tante Nurfa. Bisa?"


"Okeh. Emang calon mertua Syifa itu suka puding ya?"

__ADS_1


"Aiishh calon mertua? Dasar. Iya, dia suka banget makan puding. Kamu makanya coba belajar bikin puding, biar gak direject jadi menantu," kata Mama. Masih sempatsempatnya ngeledek.


***


Seorang anak kecil membukakan pintu. Aiikkk aku tak salah rumah kan ini? Di rumah tante Nurfa ada anak kecil? Apa ini anak tante Nurfa?


"Kakak cari siapa?" tanyanya.


"Adik manis, tante Nurfanya ada?"


"Tante Nurfa? Hmm ...." Anak itu seperti sedang mengingatngingat. "Gak ada, Kak!" jawabnya.


Aisshh sepertinya aku memang salah rumah. Tapi, masa iya sih. Benar deh kayaknya.


"Siapa sayang?" tibatiba terdengar suara seorang perempuan. Dia menghampiri kami sambil tersenyum.


Cantik sekali!


"Mau cari siapa dek?" tanyanya.


"Tante Nurfa. Ini benar rumahnya kan?"


"Ah iya benar. Ayo masuk dulu!" ajaknya. "Chad, panggil Nenda. Bilang ada tamu."


Anak yang dipanggil 'Chad' itu berlari ke dalam rumah. Sementara aku mengikuti Kakak cantik ini duduk di ruang tamu.


Sambil menunggu tante Nurfa kami ngobrolngobrol. Rupanya Kakak cantik ini bernana Arisya, namanya juga tak kalah cantik ya. Dia ini katanya anak bungsu tante Nurfa. Dan anak kecil tadi itu anaknya, namanya Arsyad.


Katanya lagi Arsyad itu manggil 'Nenda' pada tante Nurfa, maksudnya Nenek Bunda. Aisssh adaada saja. Pantas tadi waktu aku tanya tante Nurfa dia tak tahu.


"Hay Syifa!" sapa tante Nurfa. "Maaf tadi tante sholat dulu."


"Iya tante gak apaapa. Syifa cuma mau ngantar puding ini. Tadi Mama buat puding, katanya tante suka jadi Mama suruh anterin kesini."


"Wah kalian sampai repotrepot begini. Bilang makasih ya buat Mama."


"Iya tante. Kalau gitu Syifa pulang dulu ya."


"Eh kamu main dulu saja."


"Syifa banyak tugas tante. Besok lagi aja ya mainnya," dalihku.


Banyak tugas apanya, sebenarnya aku masih ngantuk. Bohong sunat tak apaapa kali ya.


"Yaudah kalau gitu. Salam buat Mama."


"Iya tante. Syifa pamit dulu ya tante, Kak." Aku menyalami tante Nurfa dan Kak.Arisya. "Papay Arsyad. Assalamu'alaikum."


Tiba di rumah aku langsung tiduran di Sofa. Ngantuk banget.


"Cieee yang habis dari rumah mertua," kata Intan yang entah datang dari mana.


"Berisik! Aku mau tidur."


"Kau dah ketemu anak tante Nurfa? Cakep?"


Intan ini tak paham bahasa, masih saja menggangguku.


"Cakep sih. Tapi anaknya tante Nurfa itu cewek oyy. Gagal dah jadi menantunya," keluhku.


"Emang anaknya cuma satu?"


"Tauk dah. Kayaknya gak satu. Tadi yang kutemuin itu anak bungsunya. Itu anak bungsunya aja dah punya anak, Tan. Gimana anak sulungnya."


"Umur anak bungsunya berapa tahun?"


"Banyak nanya ish. Mana kutahu. Kayaknya seumuran Abang Dafa. Udah ah lupain, mau tidur. Ngantuk!" kataku sambil menutup wajah dengan bantal sofa.


***


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2