
***
Arsy membuka tanganku yang sedang kutangkupkan ke wajah.
Dia membersihkan sisa air mataku.
"Sorry ya!" ucapnya sambil mengelus kepalaku.
Entah kenapa aku tak pernah merasa bosan dielus seperti itu oleh Arsy.
"Lain kali kalau tak suka, katakan saja tak suka. Abang bukan dukun yang selalu bisa memahami kediamanmu itu. Kalau Abang menyakiti hatimu, beritahu Abang. Agar Abang bisa segera mengobatinya dan tak semakin menyakitimu. Kalau Abang lupa, tolong ingatkan Abang. Karena Abang tetap manusia juga. Mengerti?" katanya lagi.
Aku mengangguk saja.
"Sini peluk!" katanya seraya membawaku kedalam pelukannya.
"Abang!"
"Ya?"
"Lain kali kalau Abang mau kiss kasih peringatan dulu biar aku tak terkejut."
Dia sudah terkekeh mendengar permintaanku itu. Tapi aku serius ya. Sekali sih oke, tapi kalau dua kali dapat kejutan seperti itu bisabisa aku jadi tak mau melepaskannya. *ehh
Bisabisa aku jadi pingsan di tempat maksudku.
Pelukan dilerai. Arsy memegang kedua pipiku lagi. Menggeselkan hidungnya ke hidungku.
"Miss you!" ucapnya.
"Makanya tak usah buat perangai lagi. Sekarang jadi rindu aku kan, tahu rasa!" cebikku.
Sebenarnya beberapa hari menghindarinya membuatku kangen juga. Tapi aku gak mau bilang. Gengsi lah ya. Aku yang beriaria ngambek masa aku yang kangen.
"Kalian sedang apa?" tanya Helmi yang sepertinya hendak ke dapur.
Sontak kami menoleh padanya. Agak terkejut memang. Mudahmudahan hubunganku dan Arsy tak ketahuan. Aku menjarakkan diri dari Arsy.
"Doing Nothing! Sengaja mau menghalangi jalanmu," jawabku seenaknya. Bicara sama Helmi ini aku tak pernah jawab dengan benar dan serius. Selalu saja ngaco. Hahah
"Dasar!" katanya sambil memukul kepalaku pakai map yang sedang dipeganngnya.
"Awww!" aku mengaduh. Ish dia ini. Arsy saja cuma berani mengelusku tak memukulmukul seperti dia.
"Badan kecil gitu soksokan mau ngalangin jalan orang. Dalam mimpi saja lah ya, Asyifa!" ejeknya. "Permisi, numpang lalu ya Bang!" ucap Helmi pada Arsy dengan sopan. Dengar baikbaik ya DENGAN SOPAN. Kalau padaku mana ada sopansopannya tuh anak.
"Sakit?" tanya Arsy sambil mengelus kepalaku lagi setelah Helmi lewat.
Aisshhh jangan buat aku cair dengan perhatianmu itu lah Arsy.
Kenapa aku mudah sekali luluh.
***
Aku dan Arsy menghampiri Intan yang masih bersama Dafa dan Rio.
"Dah akur? Kenapa sih kalau berantem gak pernah lama? Gak asiik! " kata Intan.
Aku dan Arsy hanya menayang senyum manis saja.
"Aku males kau ceramahin tiap malam. Lagian kau aneh, kami berantem kau marah, kami baikan kau tak rela. Maumu apa sih Tan?"
"Abang Dafa!"
Intan langsung menekup mulutnya setelah terasul menyebut nama Dafa.
Dafa sudah berdehem sepertinya salting. Rio hanya diam, rahangnya keliatan sekali mengeras. Tapi dia masih menampakkan senyumnya walau sepertinya terpaksa.
"Maksudku, mauku itu Abang Dafa bisa menerimaku sebagai adeknya," kata Intan tersengih.
"Gak bisa!" jawab Dafa dingin.
"Kenapa?" tanya Intan sedih.
"Karena kau pun tak bisa menganggapku sebagai Abangmu."
"Kalau aku bisa? Apa abang bisa menerimaku sebagai adik Abang?" tanya Intan lagi.
"Belum tentu juga," jawab Dafa.
Kali ini Intan sudah memuncungkan mulutnya.
"Terus Abang bisanya menganggap aku ini sebagai apa? Musuh?"
Dafa hanya diam tak menjawab.
"Ehm! Tan kau lapar gak? makan yuk!" sampuk Rio.
"Aku tak lapar," jawab Intan.
"Tapi aku lapar. Kau temani aku makan saja kalau gitu."
"Okay!" jawab Intan.
"Bentar aku ambil makanannya dulu."
"Hey kau tak mau menawari kami? Aku juga belum makan dari pagi. Kau tak mau sekalian ambilin buatku?" tanyaku dengan muka melas.
"Kau ambil saja sendiri," kata Rio lalu pergi.
Mengesalkan sekali si Rio itu. Mentangmentang sukanya sama Intan, jadi cuma dia saja yang diajak makan.
"Minta suamimu yang ambilin lah Fa," celetuk Intan.
Aku melirik ke arah Arsy yang dari tadi diam. Dia sedang asyik bermain game di handphoneku.
"Abang, aku lapar!" aduku pada Arsy. Berharap dia mau mengambilkan makanan untukku.
"Makan Abang saja!" jawab Arsy yang masih fokus bermain game. Jawaban jenis apa itu.
"Awww!"
__ADS_1
Aku menggigit bahunya geram. Aku jadi ketularan suka gigitgigit bahu sekarang. Aissshh!
Bodo amat, orang tadi dia yang nyuruh makan dia kan. Yasudah aku makan saja.
"Lima menit lagi ya sayang," kata Arsy.
"Abang Dafa saja lah yang ambilin. Abang mau kan?" tanyaku pada Dafa.
"No. Mager!" jawab Dafa.
Aisshhh kenapa semua pria terlihat sangat menyebalkan sekali hari ini.
Tibatiba Kak Shara datang. Mau apa dia?
"Bang Arsy, ini makanan Abang tadi ketinggalan di dapur. Abang langsung pergi tadi," ucapnya sambil ngasih kotak yang di dalamnya tentu saja berisi makanan.
Aku belum bilang ya, panitia program ini dan para dokter dapat sponsor nasi kotak dari hamba Allah.
Okay, sebenarnya aku dapat bocoran kalau itu nasi dari catering Mamanya Helmi, tapi katanya jangan bilangbilang ke yang lain. Aisshhh baik juga ternyata.
"Ahh iya makasih Shara," ucap Arsy sambil menerima uluran nasi kotak itu. "Kamu belum selesai makan juga kan? Mau gabung sama kami?" tawar Arsy.
Kak Shara malah memandangku.
Lah kenapa pandang aku? Aku gak makan orang kecuali Arsy saja.
Eh matanya kenapa merah gitu? Iritasi melihat Arsy duduk di sampingku?
"Iya Shara kau gabung saja dengan kami!" ajak Dafa pula. "Tuh kursi sebelah Intan kosong tuh," tambah Dafa.
Itu kan kursinya Rio. Kurang ajar sekali dia. Itu sih cuma menguntungkan dia saja. Aku yang makan hati sekarang.
Kak Shara duduk di tempat Rio.
Biar gak bingung aku jelasin saja. Jadi ini meja bentuknya kotak, ada lima kursi.
Dua kursi dua kursi saling berhadapan. Btw, dua kursi kayak judul lagu dangdut yaa. Aisshhh lupakan Syifa. Gak penting.
Yang satunya lagi terletak di ujung meja, itu diduduki Dafa.
Arsy dan Aku sekarang duduk berhadapan dengan Intan dan KakShara.
Uhh kenapa aku harus jelasin begituan segala sih. Tapi aku ini memang tak suka membuat orang bingung. Jadi aku jelasin dulu detailnya. Huhu!
"Dafa, kamu tak makan?" tanya Kak Shara.
"Sudah tadi," jawab Dafa.
Dafa saja yang ditanyain. Aku dan Intan enggak.
Ish Rio kemana sih. Lama deh. Ngambil makanan atau buat makanan sih itu anak. Aku lebih suka Rio yang duduk di depanku sekarang daripada Kak Shara. Lagian Kak Shara ini kenapa gak makan bareng Kak Citra saja sih. Ish!
"Sayang, kamu belum makan kan? Kamu makan nasi punya Abang aja," kata Arsy.
Sempat kulihat perubahan raut wajah KakShara saat Arsy memanggilku 'Sayang'.
Aku menggeleng. Nasi itu memang Arsy punya, tapi Kak Shara yang bawain. Malas!
Aku membuka mulutku dan memakan nasi yang disuap Arsy.
"Abang, isteri keduamu ini juga ingin disuapi!" rengek Intan sambil mengernyit mata padaku. Aissshhh anak ini.
Dafa terlihat bingung dengan ucapan Intan. Dia memang tak tahu drama isteri pertama isteri kedua ini. Jadi biarkan saja dia bingung sendiri. Eh btw, KakShara tahu gak sih Intan itu bukan isteri Arsy? Masa iya dia masih ngira Arsy poligami.
"Ayo buka mulutmu juga!" kata Arsy pada Intan.
Arsy pun menyuapi Intan juga. Entah kenapa kalau Arsy baik sama Intan aku sama sekali gak cemburu. Mungkin karena aku tahu Intan tak punya perasaan pada Arsy.
Kak Shara ekspresinya kasihan sekali saat Arsy menyuapi Intan. Kayaknya pengen juga. Uhh mana boleh.
"Manja!" cebik Dafa pada Intan. Tapi Intan seolah tak peduli.
Aku dan Intan pada akhirnya makan disuapi Arsy. Kak Shara sepertinya tak menikmati makanannya. Aku yakin dia pasti susah nelen sekarang. Cowryy yaa Akak. Huhu Silakan pindah tempat duduk kalau mau makan dengan nyaman. Wkwk jahat maksimal.
Selama makan kalau gak aku dan Intan yang berisik, maka para dokter ini yang ngobrol tentang dunia medis yang aku tak mengerti. Gitu aja terus gantian.
Rio benarbenar tak muncul lagi. Lantaklah! Tak peduli lagi aku. Sepertinya dia tersesat saat menuju hati Intan. Ngomong apasih Fa? Entahlah. Gak jelas. Haha!
"Mau eskrim!" teriakku saat ada tukang eskrim lewat.
Dengan baik hati Dafa membelikan kami eskrim tanpa disuruh.
"Mau?" tawarku pada Arsy. Dia mengangguk.
Sekarang aku yang menyuapi Arsy makan eskrim.
Tibatiba tanpa diduga Arsy mencium ujung bibirku. Cuma ujungnya aja yaa, jangan berpikir macammacam.
"Abang!" teriakku terkejut.
"Sorry, kamu makan eskrim belepotan sih!" jawabnya sambil membersihkan sisa eskrim di mulutku dengan jarinya.
Aduh Kak Shara pasti tertekan sekarang. Aku kok jadi kasihan. Arsy terlebih romantis sekali. Bahkan aku pun tak menduganya.
"Abang, bibirku juga belepotan!" adu Intan.
Cihhh aku melemparinya tissue.
"Lap sendiri sana! Jangan harap Arsy akan menciummu juga."
Intan sudah tertawa dengan kekesalanku itu.
Sementara sambil tersenyum Arsy mengelus kepalaku lembut.
"Im yours!" ucapnya.
"Im Ar's!" balasku sambil membalas senyumnya.
"Aku siapa punya?" tanya Intan manyun.
"Mine!" ucap Dafa datar.
__ADS_1
Erk?
***
Hari keempat!
Penyuluhan kesehatan diadakan di aula desa.
Sempat ada masalah teknis sih. Tapi tak menjadi masalah besar. Bersyukur sekali acaranya lancar.
"Rio, kemarin kau menghilang kemana?" tanyaku.
Aku baru punya kesempatan untuk menanyainya sekarang.
"Helmi menyuruhku melakukan sesuatu kemarin. Jadi aku tak kembali bergabung dengan kalian. Sorry!" jawabnya.
"Oh gitu. Yaudah lah gpp. Kupikir kau tersesat dimana entah."
Kami terdiam cukup lama. Aku ingin bertanya sesuatu tapi tak tahu harus mulai darimana.
"Rio, hmm kau serius akan menunggu Intan?" tanyaku akhirnya.
Aku sebenarnya takut dibilang ikut campur, tapi aku harus tahu juga.
"Aku tak tahu," jawab Rio.
"Apa kau menyerah?"
"Fa, kau yakin Abangmu tak suka Intan?" Rio tak menjawab pertanyaanku, dia malah balik bertanya.
"Aku juga tak tahu. Aku memang merasa Abangku sudah mulai menyukai Intan. Tapi, di sisi lain ada Kak Arisya. Dia juga dekat dengan Abangku. Abang jarang bersikap manis pada wanita setelah kehilangan tunangannya, tapi dengan Kak Arisya dia bisa bersikap sangat manis. Tak mungkin kan dia bersikap seperti itu jika orang itu tak spesial untuknya. Kenapa kau bertanya?"
"Tak apa. Hanya ingin memastikan saja.
Aku benarbenar menyukai Intan. Tapi jika Abangmu memang memiliki perasaan pada Intan, aku tak akan terlalu memaksakan diri lagi," terang Rio.
"Rio, tolong angkat bangku ini!" teriak Jay.
"Sorry ya Fa. Nanti kita lanjut ngobrol lagi," ucapnya.
Aku menatap Rio yang semakin menjauh. Dia pun langsung membantu Jay beresberes.
Sesekali kulihat mereka becanda. Sekilas Rio tampak baikbaik saja.
Huft rumit!
Saat akan berbalik kulihat Arsy sudah berada di belakangku.
"Anak itu menyukai Intan?" tanyanya.
"Iya."
"Kamu sedih pria yang kamu sukai ternyata menyukai Intan?"
"Iya. Aku patah hati sekarang. Rasanya sakit sekali di sini," jawabku sambil pegang dada.
Arsy mencubit kedua pipiku.
"Ish makin nakal ya sekarang," katanya geram. "Sudah mainmainnya. Ayo kita bantu beresberes biar bisa cepat selesai!" arah Arsy.
"Malas!" jawabku.
Arsy yang sudah akan pergi balik lagi memegang kedua pipiku lalu menciuminya.
Aisshhh tempat umum ini. Dia gila atau tidak.
"Abang, lepasin! Okay aku ikut beresberes," kataku.
Dia pun menghentikan aksi gilanya itu.
"Goodgirl!" katanya lalu pergi.
Ish dia itu menyeramkan sekali. Ini kan bukan di rumah. Aku tahu aku isterinya, tapi berbuat seperti itu di tempat umum benarbenar hal gila. Untung tak ada yang lihat.
Errrkkk! Aku salah. Dari jauh Helmi sedang melihat ke arahku. Apa dia melihat semuanya? Yaa Tuhan!
Ini garagara Arsy ish.
Semoga dia tak berpikir macammacam.
***
Bersambung.
*BONUS*
-Author's POV-
***
.
.
.
Rio mengurungkan niatnya untuk kembali ke meja itu. Dia melihat mereka dari kejauhan.
Pandangan Dafa pada Intan bukan pandangan benci dan tak suka.
Kesinisan dalam bicara Dafa lebih terlihat seperti rasa cemburu.
Marahnya Dafa padanya saat Intan terluka, sangat protective. Menunjukkan kepeduliannya pada Intan.
Tapi entah bagaimana ada satu hal yang membuat Dafa ragu untuk menunjukkan perasaannya yang sebenarnya. Rio yakin itu.
Haruskah dia memberi kesempatan untuk Dafa menyatakan perasaannya pada Intan? Atau haruskah dia memanfaatkan keraguan Dafa untuk membuat Intan berpaling?
***
*HABIS*
__ADS_1