
***
Karena program kesehatan selesai, maka Arsy dan temantemannya pun pulang.
KKN masih ada semingguan lebih kalau aku gak salah. Eh iya gak sih? Aku gak inget hari selama disini. Wkwk
Yang jelas aku masih lama pulang. Huft
Semangatsemangat.
Oh iya sudah beberapa hari sejak program kesehatan selesai. Rasanya ada yang berbeda dengan Helmi. Dia sudah gak sengklek lagi, sudah gak bisa diajak becanda lagi, bahkan aku ngerasa dia ngehindarin aku. Aneh sekali.
"Helmi! wait!" Aku mengejar Helmi yang baru keluar dari kelas setelah selesai mengajar.
"Sorry Asyifa. Aku sibuk sekarang," katanya.
"Ada yang ingin kukatakan. Lima menit saja!" pintaku.
"Baiklah. Cepat!"
"Kenapa kau menghindariku?"
"Aku tak menghindarimu."
"Kau gak pernah becanda lagi denganku. Apa stok becandaanmu sudah habis atau apa? Atau urat malumu udah nyambung lagi jadi gak bisa gila di depanku?"
"Aku tak mengerti," jawabnya.
"Apa aku melakukan kesalahan? Kenapa kau berubah?" tanyaku lagi.
"Aku gak ada waktu untuk hal gak penting seperti ini," ucapnya seraya pergi.
"Helmi!" teriakku.
Tapi dia tetap tak berhenti.
Kenapa sih dengan anak itu? Mengesalkan sekali.
Aku pulang ke kontrakan dengan masih menggerutu. Sikap Helmi padaku benarbenar aneh.
"Kau kenapa sistaa?" tanya Intan yang sedang duduk nyiapin bahan masakan di dapur. Sejak kakinya dijahit Intan dibebas tugaskan dari kerja di luar dan kerja berat. Dia membantu petugas piket masak saja.
"Aku tak okay sekarang. Kau nyadar gak sih kalau akhirakhir ini sikap Helmi berubah padaku?"
"Entahlah. Padaku biasabiasa aja sih. Aku gak terlalu merhatiin sikap dia padamu gimana. Dari awal kan kalian memang gak akur. Kalau ketemu saling ejek. Ngomong halhal ngawur apalah entah," jawab Intan.
"Nah itu dia. Sekarang kami dah gak pernah saling ejek lagi, Tan. Gak pernah berantem gak jelas lagi. Itu aneh kan?"
"KKN kita kan dah hampir selesai Fa. Dan dia itu kordes, jadi dia mau fokus ke KKN ini dulu mungkin. Gak mau becandabecanda dulu."
"Tapi gak segitunya juga. Kami udah kayak orang gak kenal saja tahu gak," keluhku.
"Sabar aja. Jangan selalu berpikiran negatif yaa sistaku sayang!" nasihat Intan.
"Huh iya."
***
Meskipun aku berusaha berpikir positif, tapi sikap Helmi yang berubah itu selalu menggangguku.
Tiga hari lagi kami pulang. Besok ada acara perpisahan dengan warga desa. Uhh rasanya jadi pengen cepat pulang.
"Helmi, ini susunan acara untuk perpisahan besok," kataku sembari menyerahkan kertas pada Helmi.
"Rio tolong ambil!" arahnya pada Rio.
Rio mau mengambil kertas itu dariku tapi aku jauhkan darinya.
"Segitu menjijikannya kah aku?" tanyaku pada Helmi. Rio sudah terkebilkebil, tak mengerti dengan yang kukatakan.
"Apa maksudmu?" tanya Helmi.
"Hanya mengambil kertas ini saja kau menyuruh orang lain. Kau segitu gak sukanya sama aku?"
"Apasih. Kau gak liat tanganku penuh?" tanyanya marah.
"Kau kan bisa menaruh dulu pulpenmu itu. Apa susahnya," balasku.
"Sudahlah ya Asyifa. Aku tak bisa lamalama bicara dengan ISTERI ORANG!"
Deg!
Helmi tahu?
"Kaa...kkkau tahu?" tanyaku.
"Kenapa? Kaget? Sampai kapan kau mau membohongi kami?" tanyanya.
"Jadi karena itu kau menjauhiku? Karena tahu aku telah menikah jadi kau tak mau berteman lagi denganku?"
"Kau sudah menikah?" tanya Rio terkejut. Aissshhh aku lupa kalau masih ada Rio.
"Ini bukan masalah kau sudah menikah atau belum. Tapi aku gak terima dibohongi," ucap Helmi sinis.
"Aku tak bohong! Kalian yang dengan seenaknya menyebut dia Abangku. Aku tak pernah berniat berbohong."
"Lalu kenapa kau tak coba klarifikasi?"
"Aku tak bisa. Aku tak bisa jujur. Aku takut kalian tak mau berteman denganku kalau tahu aku sudah menikah," jawabku lemah.
"Karena itu kau berbohong?"
"Sudah kubilang aku tak bohong! Aku hanya tak jujur saja."
"Itu sama saja Asyifa!"
"Itu tak sama!"
"Stop!" Rio menyampuk perdebatan kami.
"Siapa suamimu? Arsy?" tanya Rio.
Aku mengangguk.
"Sudah kuduga!" kata Rio lagi. "Kalian terlalu mesra untuk disebut sebagai AbangAdik," tambahnya.
"Apa itu penting sekarang?" tanyaku kesal.
"Hihi sorry, Fa. Mi, aku rasa itu merupakan kehidupan pribadi Syifa. Dia punya hak untuk menutupinya dari kita. Toh kita juga gak dirugikan apapun kan? Kalau memang Syifa belum siap cerita sama kita, ya kita hormati saja keputusannya. Sekali lagi aku tekankan, itu urusan pribadi Syifa," jelas Rio.
"Mudah untukmu bicara karena kau tak harus mengalami apa yang kurasakan sekarang," ucap Helmi.
"Helmi, jika kau marah karena aku sudah tak jujur pada kalian. Aku benarbenar minta maaf. Aku tak bermaksud menipu siapapun.
Kau boleh kecewa padaku, tapi jangan putuskan pertemanan kita. Aku ingin Helmi yang dulu kembali," luahku.
"Aku tak bisa!" jawab Helmi.
"Kenapa ketidakjujuranku ini menjadi masalah besar untukmu? Lagipula aku menikah atau belum apa urusannya dengan kalian? Apa mengganggu programprogram kita? Tidak kan? lalu kenapa ini seakan masalah yang besar saja?"
"Karena AKU SUDAH MULAI MENYUKAIMU ASYIFA BODOH!" teriak Helmi. Dia pergi begitu saja setelah mengatakan itu.
"Apa yang dia katakan barusan?
Rio, aku gak salah dengar kan?"
Aku benarbenar terkejut. Helmi? Anak sengklek itu suka aku?
Aku benarbenar tak menyadarinya. Dibalik sikap menjengkelkannya ternyata dia memendam perasaan untukku.
Yaa Tuhan!
Eh waittt! Tapi bagaimana dia tahu aku sudah menikah?
***
"Kau serius Fa?" tanya Intan setelah aku cerita tentang Helmi.
"Heueum Tan. Aku gak nyangka dia suka aku. Aku tahu aku itu luchu banget, tapi aku udah sebisa mungkin tutupi keluchuanku agar priapria tak tertarik padaku. Tapi kayaknya bagaimana pun aku tutupi, keluchuanku tak akan pernah tertutupi. Huaaa aku harus gimana Tan?"
"Sengklek kau! Over pede tahu gak. Itu Helmi kayaknya buta tuh bisa suka sama kau!" ledeknya.
"Ish kau ini."
"Eh, Fa. Ana tahu soal ini?" tanya Intan.
"Kagak! Gila aja kalau dia tahu, bisa rusak persahabatan kita. Ana kan suka banget sama Helmi."
"Yaudahlah Fa. Gak usah dipikirin lagi. Lagian kau juga sudah menikah, mau kawin lagi juga gak mungkin. Jadi biarkan saja Helmi, nanti dia juga move on. Sekarang dia masih terkejut dengan statusmu, lamalama juga dia akan baikbaik saja," kata Intan sambil menepuknepuk bahuku.
"Menurutmu aku harus kasih tahu Arsy atau jangan?" tanyaku.
"Terpulang padamu," jawab Intan.
Hmm kalau aku beritahu Arsy, dia akan gimana ya reaksinya? Marah atau tidak ya.
Tapi buat apa marah kan, aku kan sudah jadi isterinya. Berapa banyak pun pria yang suka aku, aku tetap gak bisa menikah lagi meskipun mau. *ehh
__ADS_1
***
Acara perpisahan dengan warga desa selesai. Uhh melelahkan sekali. Tapi menyenangkan juga.
Aku menghampiri Helmi yang sedang sendirian di teras.
"Helmi!" panggilku.
"Kau mau apa Asyifa?" tanyanya.
"Kau serius suka aku?" tanyaku.
"Hanya karena aku selalu becanda, jadi kau anggap perasaanku juga candaan?"
"Hey bukan itu maksudku," bantahku. "Aku berterimakasih kalau kau memang serius menyukaiku. Aku hargai perasaanmu itu. Kau pasti terkejut ya tahu aku sudah menikah ...."
"Aku terluka bukan terkejut." Ucapnya memotong omonganku.
"Okeh ralat. Kau terluka. Apa lukanya masih terasa sakit?"
"Sangat!"
"Cowry. Aku tak punya kekuatan untuk memulihkan luka seperti Katara si pengendali air dalam avatar," ucapku.
Eh emang Katara bisa memulihlan luka? setauku sih iya. Haha si Helmi juga gak bakal tahu ini tentang kartunkartunan seperti itu. Dia mah aku bilang naruto punya kantong ajaib juga pasti langsung percaya. Aisshhh kenapa malah bahas kartun.
"Tapi Helmi, mungkin aku bisa membuatmu sedikit lebih baik," sambungku.
"Caranya?"
"Dengan memberimu ini!" kataku sambil menyerahkan cokelat yang dihias dengan pita.
"Cokelat?"
"Kenapa? Kau tak suka?" tanyaku.
"Suka sih. Tapi bisa gak kau buang pita menyebalkan itu dulu? Geli tahu gak pakai pitapita segala. Aku bukan anak cewek yang suka begituan okay. Kalau tulangku lunak, baru kau taruh pita atau bungabunga atau segala macam pernakpernik yang kau sukai ke dalam cokelatmu itu," bebelnya.
Gotchaaa! Sepertinya Helmi yang dulu sudah balik lagi sekarang.
"Pita ini luchu tahu."
"Jijik weeeyyy."
"Ish kau ini. Tak paham estetika."
"Bodo amat estetika segala macam. Aku cuma tahu es teh manis doang. Mendingan sekarang kau buatin es teh manis buatku sana. Haus banget nih. Ngomong sama kau membuat tenggorokanku langsung kemarau."
"Kurang ajar! Salah sendiri kalau ngomong pake ngeluarin hujan segala, jadinya tenggorokanmu itu kekeringan. Pakai nyalahin aku segala dihh."
"Kau mau buatin atau kagak sih?"
"Iyaiya aku buatin. Bawel banget kayak cewek. Pake aja nih pita!" kataku sambil lempar pita bekas cokelat tadi.
.
.
Aku menyerahkan es teh manis buat Helmi.
"Kurang manis," komentarnya setelah menyisip sedikit teh buatanku itu.
"Sengaja! Kau pikir fungsiku di sini untuk apa? Sudah jelas untuk membuat minumanmu jadi manis. Kau cukup pandang aku saja sini, pasti teh nya jadi manis banget."
"Kau jangan goda aku. Jangan sampai aku bawa kabur isteri orang entar."
"Sengklek!" ucapku.
Tibatiba Intan datang duduk di sampingku.
"Wiihhh Helmi, cokelat siapa tuh?" tanya Intan.
Memang sengklek banget itu anak. Padahal dia sendiri yang pitain itu cokelat tadi. Soksokan nanya lagi.
"Tadi ada lelembut baik hati yang ngasih," jawab Helmi.
Buseettt dah Helmi nyebut aku lelembut.
"Ayo kita fotofoto. Mau kumasukkin ke IG. Pegang cokelatmu itu!" arah Intan.
Kami pun ber'Groufie'. Intan sengklek itu menguploadnya ke IG. Captionnya mengesalkan sekali.
'Mendadak Katakan Cinta. Syifa lope Helmi'
Kamper sekali anak itu. Yang paling parah dia ngetag Arsy. Gila!
***
Drrrtttdrrrttttdrrrttt ponselku bergetar.
"Wa'alaikumussalaam!"
"Abang beneran gak bisa datang besok. Tapi Abang akan coba usahakan pulang cepat."
"Tak usah mencoba!"
"amu marah?"
"Tak!"
"Aiikkk stupid liar."
"Lagian udah tahu marah kenapa masih nanya? Menyakitkan hati saja."
"Kalau kamu di sini pasti udah Abang cium biar diem."
Kalau mau aku diem kenapa dia telepon aku. Aneh!
"Padahal belum Abang cium, kenapa diam?'"
Huh aku tak mau jawab. Biarkan saja dia bicara sendiri. Lagian mau aku diam kan? Istilah gaulnya itu 'kau ulurkan eskrim, dengan senang hati aku makan.' Haha eh bukannya istilah populernya 'kau jual aku beli' yaa. Uhh itu sudah mainstream. Aku ini anti mainstream orangnya wkwk
"Mentangmentang dah punya pacar baru jadi tega ya diamkan Abang kayak gini."
"Ish Abang! Kan aku dah bilang yang di IG itu becandaan doang. Masih aja dibahas."
Arsy langsung meneleponku kemarin saat Intan upload foto itu. Aku sampai capek sendiri menjelaskan semuanya ke Arsy.
"Kalau Abang becanda begitu sama cewek lain boleh gak?"
"Dont you dare Abang! Awas kalau berani."
"Tahu takut. Abang juga bisa cemburu juga. Bukan kamu doang yang tahu cemburu."
"Iyaiya cowry! Ish kenapa jadi aku yang minta maaf. Yang tadi lagi marah kan aku. Harusnya Abang yang pujuk aku ish."
"Cerewet sekali. Pokoknya sampai jumpa di rumah aja ya besok. Abang gak bisa jemput."
"Kalau Abang gak datang aku mau naik motor Helmi saja. Assalaamu'alaikum!"
Aku langsung mematikan teleponnya, lalu kunonaktifkan ponsel biar Arsy tak menelepon lagi. Rasakan!
***
.
.
.
Hari ini kami pulang. Yeayyyy! Akhirnya kelar juga KKNnya.
Sediiihhhh harus pisah sama sahabat baruku di sini. Hiks!
Kami sudah membereskan barang dari kemarin. Ini kami lagi nunggu mobil yang disediakan kampus untuk menjemput kami.
Tibatiba mobil keluargaku muncul. Mereka sengaja mau jemput aku dan Intan.
"Ateu Intan, Ateu Fafa!" teriak Arsyad saat turun dari mobil.
Huaaa aku kangen sekali pada keponakan nakalku ini.
Aku dan Intan gantian menciumi Arsyad sampai anak itu kegelian.
"Micccciiiyuu tomaaattt Ichad sayang!" ucapku saat memeluknya.
"Miss you so much lah Ateu Fafa bukan miciyutomat. Itu pun tak tahu," balas Arsyad.
Intan sudah terkekeh.
"Ampooosss kau ditegur anak kecil. Haha!" kata Intan mengejek.
"Diamlah!" marahku.
Setelah itu Dafa dan Kak Arisya keluar dari mobil yang sama dengan Arsyad. Wah sepertinya mereka satu mobil.
Aku melirik Intan yang sedang tersenyum manis pada Kak Arisya.
__ADS_1
Aisshhh itu senyum ikhlas gak tuh.
"Apa kabar adekadek akak?" tanya Kak Arisya setelah selesai berpelukan.
"Baiiiik!" ucapku dan Intan serentak.
Tanpa sengaja kulihat cincin yang dipost Kak Arisya di IG sedang tersarung cantik di jarinya. Jadi benar ya Dafa dan Kak Arisya sudah mau serius.
Aku memandang Intan, dia memandangku.
Sepertinya kami memikirkan hal yang sama.
"Aku udah move on kok dikit, dont worry!" bisik Intan padaku.
"Woyyyy kalian bisikbisik apaan itu?" sergah Kak Arisya.
"Kami lagi ngomongin kakak. Kayaknya Kakak gendutan ya sekarang," jawabku.
"Gak ada kami pasti Kakak malas olahraga ya?" timpal Intan.
"Eyyy kurang ajar ya kalian. Justru sekarang aku kurusan tahu. Emang keliatan gendut ya?" tanyanya agak panik. Haha dasar wanita, semua sama saja. Kalau ada yang bilang gendutan pasti panik.
Aisshhh aku bicara seolah aku bukan wanita saja.
Selesai temu kangen dengan Kak Arisya. Kami menyalami Mama, Papa, Ayah dan Bunda. Uhh kangen sekali aku sama mereka semua.
Tak lama setelah keluargaku datang. Mobil yang disediakan kampus untuk menjemput kami pun datang.
Setelah memasukkan barangbaramg ke mobil. Kami pun siap untuk meninggalkan desa ini.
Aku pulang tanpa Arsy. Huft tak apalah. Nanti juga ketemu di rumah.
Aku tadi berpelukan dulu dengan sahabatsahabat baruku sebelum pulang.
"Hey aku pasti akan merindukanmu," ucap Helmi sebelum aku masuk mobil.
"Aku juga!" balasku.
"Suamimu gak jemput?"
Aku menggeleng.
"Mumpung dia tak ada kau pulangnya aku bonceng saja? Mau? Pengen coba rasain boncengin isteri orang," ucapnya sambil tertawa kecil.
"Gila! Ada mertuaku di sana oyy!" jawabku.
Tibatiba aku hampir ditabrak motor. Untung saja aku sempat mundur dan motor itu langsung ngerem dan berhenti di depanku.
"Syifa, kamu gpp?" tanya Bunda khawatir.
"Aku gpp Bund!" jawabku.
Si pengendara motor itu langsung turun dan membuka helmnya.
"Abang!" teriakku geram.
Aku langsung berjalan ke arahnya dan memukulinya.
"Aku hampir mati tau gak!" marahku.
Sebenarnya aku bukan marah karena Arsy hampir menabrakku. Aku kesal karena dia bilang tak bisa menjemputku, tapi sekarang dia malah ada di depanku seperti ini.
Dia malah tertawa kecil sekarang. Sebal!
"Sorry sayang," katanya seraya membawaku ke dalam pelukannya. "Kamu tak apa?" tanyanya.
"Aku tak baikbaik saja. Aku kesal. Tadi Abang hampir menabrakku. Abang pengen aku cepat mati biar bisa nikah lagi ya."
"Abang cemburu melihatmu mengobrol dengan pacar barumu itu," bisik Arsy sambil mengeratkan pelukan. "Kamu serius mau pulang bersamanya kalau Abang tak datang?" tanyanya.
Aku melepaskan pelukannya.
"Kalau iya kenapa?"
"Tak kan Abang biarkan!"
"Jadi Abang kesini karena ancamanku itu ya? Kalau aku gak ngancam gitu Abang gak akan datang?"
Arsy menggeleng.
"Lalluuu?" tanyaku lagi.
"Woyy cepetan. Kita mau pulang ini!" teriak Kak Arisya. Aissshhh ganggu saja.
"Syifa naik motor sama aku. Kalian duluan saja," ucap Arsy.
"Aku gak bawa helm Abang."
"Abang dah bawain helm untukmu," katanya.
"Abang Arsy bonceng aku jugaaa dong!" teriak Intan.
"In your dream!" balasku.
Intan sudah manyun. Bodo amat!
Aku kembali fokus ke Arsy. Dia memakaikanku helm.
Mataku sekarang tertuju pada Helmi yang sedang memandang ke arah kami. Dia tersenyum simpul. Apa dia tak apaapa?
Sorry Helmi!
Setelah siap semuanya kami pun mulai berangkat pergi.
Saat aku sudah naik motor Arsy tibatiba Dafa ngegas motor Intan dengan cepat, membuatku terkejut. Dia pergi begitu saja meninggalkan kami. Lah dia kenapa.
***
Bersambung.
*BONUS*
-Author's POV-
"Abang dan Asyifa dekat sekali ya," kata Helmi saat Arsy sedang beresberes pakaian karena akan kembali pulang setelah program kesehatan selesai.
"Kalian seperti orang pacaran. Bukan AbangAdik," sambung Helmi. "Memeluknya, menciumnya di depan umum, memanggilnya dengan panggilan mesra. Rasanya aneh sekali. Gak wajar. Banyak sih saudara yang mesra seperti itu. Tapi kalian ini rasanya lain."
Arsy menghentikan kegiatannya. Dia duduk di kasur sambil memandang Helmi.
"Well, sebenarnya saya memang bukan saudara lakilaki Syifa!" jawab Arsy membuat Helmi terkejut.
"Terus kenapa berani menyentuh Syifa seperti itu kalau kalian bukan saudara?" tanya Helmi heran.
"Dia isteri saya!" jawab Arsy lagi.
Kali ini Helmi double terkejut.
"Syifa mau merahasiakan ini dulu dari kalian. Rencananya kami akan mengundang kalian nanti saat resepsi pernikahan kami. Hmm karena kamu sudah tahu sekarang, Saya harap kamu bisa merahasiakan ini dulu dari temanmu yang lain. Saya percaya padamu. Dan satu hal lagi, tolong jaga Asyifa selama di sini!" ucap Arsy tersenyum.
Helmi yang sudah mulai menyukai Syifa sangat terluka mendengar kenyataan yang dikatakan Arsy barusan. Dia berharap itu hanya lelucon Arsy saja.
***
.
.
.
.
.
"In your dream!" balas Syifa pada Intan yang meminta dibonceng Arsy juga.
Intan sudah membuat mulut itik.
"Hey mana kunci motormu?" pinta Dafa pada Intan.
Intan mengambil kunci motornya lalu menyerahkannya pada Dafa.
"Kau mau naik motor bersamaku?" tawar Dafa.
"Kenapa gak ajak Kak Arisya saja?" tanya Intan.
"Kalau naik motor, nanti dia akan kepanasan. Kasian!" jawab Dafa.
"Terus aku? Gak kasian sama aku?"
"Kau tak perlu dikasihani."
"Cihh pergi sendiri saja sana. Janganjangan Abang berniat menjatuhkanku di jalan nanti. Aku mending dibonceng Rio. Setidaknya aku sudah pernah dibonceng olehnya, dan percaya kalau dia tak akan membuatku jatuh nanti," ucap Intan.
"Terserah kau saja!"
Dafa langsung ngegas motornya dan pergi dengan marah.
__ADS_1
***
*HABIS*