Nikah Muda (?)

Nikah Muda (?)
30. SukaSukaKau


__ADS_3

***


"Abang jalanin motornya lelet banget ish. Intan aja yang cewek gak selelet Abang. Kalau lomba sama kukang juga pasti Abang kalah. Tahu kan kukang? Kalau gak tahu coba tonton film Zootopia tuh, ada di film itu tuh dia. Namanya flash. Aneh sih ya namanya Flash tapi lelet.


Atau Abang tahu gak film India yang suka ada adegan slowmotion nya yang larilari? Nah mereka udah pelukan kelar larilari, Abang masih disini aja gak majumaju. Lelet." Bebelku pada Arsy yang jalanin motor kayak kurakura.


Kami sudah tertinggal jauh dari yang lain.


"Cerewet!" balas Arsy lalu ngegas motornya dengan kencang membuatku hampir ngejengkang. Aisshhh bahasa negeri mana itu ngejengkang. Wkwk


Aku menjerit kuat lalu semakin erat memeluk Arsy.


"Abang, aku tahu kita ini sweet couple. Sehidup semati. Tapi jangan ngajak aku mati sekarang. Aku masih belum puas natap muka cakep Abang."


"Kamu berisik sekali!" ucap Arsy yang sepertinya sudah sangat geram dengan omelanku. Aissshhh padahal selama ini dia selalu sabar denganku.


Uhh baiklah aku akan diam saja. Aku menyandarkan kepala ke punggung Arsy lalu mulai diam tak mengoceh lagi. Sukasuka Arsy lah mau jalanin motor kayak gimana. Aku tak mau komentar lagi.


"Syi, kamu tidur ya?" tanya Arsy.


Aku tak menjawab.


"Syi, jangan tidur sayang. Bahaya!" ucap Arsy lagi.


Aku masih tak menjawab.


Kurasakan satu tangannya memegang tanganku yang elok melingkari pinggangnya.


Mungkin dia pikir aku tidur beneran kali ya dan takut aku jatuh. Bisa risau juga ya encik Abangku ini.


GEDEBUUUKKKKK!


Awww sakit sekali badanku.


Kuliarkan mata melihat keadaan sekeliling, berharap ada yang mau menolong.


Tapi waitttt! Ini di kamar? Bukannya aku lagi dibonceng Arsy?


Yaa Tuhan apa aku mimpi?


Tapi ini kamar siapa ya? Kok bukan kamarku.


Aku coba meloloskan diri dari lilitan selimut. Isshhh kenapa aku harus jatuh dengan terbelit selimut seperti ini.


Dengan susah payah aku berusaha bangun.


"Yeayyy!" teriakku saat berhasil melepaskan diri. "Akhirnya selimut menyebalkan ini bisa kulepas juga. Gatal sekali ini selimut pake pelukpeluk segala. Kalau Arsy yang peluk sih tak apa lah ya. Gak dilepasin juga gpp. Hahah gatal sekali Syifa." Aku berbicara sendiri.


Aku terkejut saat tanpa sengaja memandang cermin.


Aku meletakkan kedua tanganku di pipi. Lalu bergumam tentang betapa cantiknya bidadari yang sedang kupandang saat ini.


Aiissshhh okayokay aku bohong sebenarnya. Aku tak senarsis itu okay.


Aku terkejut melihat pakaian yang menempel di tubuhku sekarang.


"Baju gamis siapa ini?" teriakku.


Sebenarnya bukan gamis sih. Kemeja yang ukurannya besar banget kayak gamis tapi cuma sepaha aja panjangnya. Aku yang mungil ini sampai kelelep kayak gini. Tapi kulihatlihat lagi, not bad sih.


Tapitapitapi(lagi), sejak kapan aku ganti pakaian?


Baju aneh, kamar yang asing!


Oemjiii apa aku ada di hotel sedang honeymoon sama Arsy? Waks jelas gak mungkin. Aku sama sekali gak berpikiran seperti itu sih sebenarnya.


Aku yakin aku pasti sedang diculik sekarang. *ehhMalahTambahNgaco


Aku kembali memandang cermin.


"Aku seluchu itu ya sampai diculik begini? Hmm tapi kalau ini penculikan aku pasti sudah terikat sekarang."


Aku membelek tubuhku.


"Gak ada luka. Gak ada memar," gumamku lagi.


Aku bergerak menuju pintu.


Dikunci!


Aiiikkkk "Papaaaa! Tolong Kakak Pa!" teriakku sambil gedorgedor pintu.


"Pintunya dikunci dari dalam!"


Sebuah suara menyadarkanku.


Kulihat ada kunci yang menggantung di pintu.


Aku coba buka.


Kreeekkkk


Terbuka!


Aikkk waittt! Aku menoleh ke arah balkoni kamar. Seseorang sedang bersandar di jendela balkoni sambil memandangiku.


"Sudah bangun tuan puteri? Nyenyak tidurnya?" tanyanya.


Aishhh dia menyindirku atau apa.


"Ada di mana ini? Bagaimana bisa aku ada di sini?" tanyaku balik.


Dia bergerak menuju lemari.


Lalu dia mengambil handuk dan melemparnya ke wajahku.


"Mandi dulu sana!" arahnya.


Aku tak menggubrisnya, dia belum menjelaskan apapun padaku.


Dia menarikku duduk di sofa.


"Kamu tadi tidur di motor Abang. Tadi di jalan sudah mulai gerimis, terpaksa Abang bawa kamu pulang kesini karena ini lebih dekat. Jelas?"


"Kenapa tak bangunin aku? Lagian memangnya aku tidur ya tadi?" tanyaku.


Seingatku aku hanya purapura tidur saja tadi. Aisshhh kok jadi beneran tidur sih.


"Abang dah coba bangunin kamu. Tapi kamunya tak bangunbangun. Tidur mati! Susah banget tadi turunin kamu dari motor."


"Ya sudahlah. Terus kita dimana sekarang. Di hotel?"


"Di rumah Abang. Maksud Abang, rumah kita. Kamu kan sudah pernah kesini, masa lupa," katanya sambil mengacakngacak rambutku.


"Aku kan belum pernah masuk kamar Abang," jawabku.


"Oh iya terus bajuku mana? Kenapa jadi berubah gini?" Aku menatapnya curiga.


Huaaa aku baru teringat sesuatu.


"Abang apain aku?" tanyaku seraya menyilangkan tanganku menutup dada.


Dia sudah terkekeh.


"Otak kotor!" cebiknya.


"Sudah sana mandi dulu!"


"Bajuku mana?"


"Pakai saja GAMIS itu lagi!" jawabnya sambil menekankan perkataan gamis. Aissshhh apa dia mendengar semua yang kukatakan tadi? Pasti iya. Mana tadi aku lenggaklenggok di depan cermin saat melihatlihat baju baruku ini. Terus yang adegan aku terlilit selimut itu dia nonton juga gak yak? Uhh Memalukan!

__ADS_1


Tapi kalau iya, tega sekali dia tak menolongku saat jatuh tadi.


Tahu ahh. Malamalumalu.


Aku pun segera masuk ke kamar mandi.


"Hey tunggu!" ucap Arsy saat aku mau menutup pintu kamar mandi.


"Apaan?" tanyaku sambil mengeluarkan kepalaku di sela pintu.


"Jangan lupa mandi wajib!" Ucapnya sambil mengernyitkan mata.


"Gila!" Balasku seraya membanting pintu.


Kudengar dia tertawa terbahak. Bahagia sekali ya suamiku itu. Awas kau!


***


Selesai mandi tadi Arsy mengajakku berjama'ah maghrib, lalu mengaji sampai masuk waktu Isya.


Dan sekarang aku sedang berada di dapur rumah Arsy.


Eh ralat! Rumah kami. Arsy tadi marah karena aku salah sebut terus. Aku kan belum terbiasa.


Dapur rumah ini cantik sekali.


Ngapain aku di dapur?


Pakai nanya, perut yang lapar ini tentu saja harus diisi.


Jadi sekarang aku di dapur, nonton Arsy masak.


Bukan aku tak mau masak, aku cuma takut merusak kecantikan dapur ini dengan skill masakku yang sangat luar biasa.


Oke itu sebenarnya katakata halus dari 'gakbisamasak'. Sudahlah ya gak perlu dibahas lagi.


Arsy meletakkan masakannya di depanku.


Masakannya sih cantik, ada rupa. Tapi, boleh dimakan gak nih?


Setelah mengaminkan do'a makan yang dibacakan Arsy, aku mulai menyicip masakan Arsy ini.


"Suka?" tanyanya.


Aku mengangkat wajah memandangnya.


"Suka!"


"Serius?"


"Iya. Suka banget. Apalagi saat Abang menjilat sisa makanan di bibir Abang itu. Seksi. Aku suka."


"Pervert! Bukan Abang tapi masakan Abang," katanya sambil meluku kepalaku.


Ish dia ini kenapa jadi kayak Intan sekarang suka meluku kepala. Kalau aku jadi bodoh gimana?


"Sakit ya? Sorry!" dia mengelus kepalaku. "Lagian, Abang minta komentarmu tentang masakan Abang. Kamu malah komentari Abang."


"Masakan Abang enak. Tapi masih kalah kalau dibandingin sama Intan," jawabku jujur.


"Intan sama Abang seksian siapa?" tanyanya  sambil menjilati bibirnya seperti tadi.


Uhh pasti sengaja mengusikku tuh.


Pertanyaannya mengesalkan sekali. Ish geram.


***


"Abang, malam ini kita tidur di sini? Dah kasih tahu Mama?" tanyaku.


"Iya, udah!" jawabnya singkat.


Arsy membaringkan tubuhnya di kasur. Sepertinya penat sekali dia.


Aku jadiin status WA dengan caption 'Pacarku tepar!'


Gak nyampe semenit saja sudah banyak yang chat. Hahah!


'Syifa, punya pacar? *emotkaget.' ~ Ana


'Itu pacar atau Abang? Kelakuan jones anehaneh aja.' ~ Risa


'Kapan pulang kesini?' ~ Intan


'Hoax!' ~ Dani


'Sebulan pisah. Akhirnya bisa tidur pelukan lagi ya. xD' - KakArisya


'Isteri pertama pulang. Turut prihatin untuk madumadumu. :P ' ~ Desy


' *emotmewek* ' ~Helmi


'Patah hati.' ~ Theo


'Waw Fafaaa punya pacar. Congrats' ~ Chika


'Suami tercintaKU itu kau apain, Sist? sampai tepar gitu. xD' ~ Zahra 


'Selesai KKN langsung punya pacar. Cinlok ya Fa?' ~ Jia


Aku senyumsenyum sendiri balasin pesan mereka. Haha!


Sebenarnya masih ada beberapa pesan lagi sih yang tak kutayangin, kebanyakan. Wkwk


Yang gak kutayangin itu ratarata teman kuliahku yang kaget karena aku punya pacar. Bahkan ada yang nanya 'itu pak Indra ya?'


Gila! Makanya gak aku tayangin tadi.


Oh iya ini si Helmi parah banget ngirim foto selfie ke aku. Lalu nambahin katakata di bawahnya.


'Penampakan pria penyuka isteri orang'


Dasar sengklek!


"Syi, kenapa belum tidur?" tanya Arsy. Dia setengah bangun(?) lalu menyandarkan kepalanya ke ujung ranjang.


Aku menghampirinya ke tempat tidur dan berbaring di sebelahnya.


"Tadi balas chat temantemanku dulu," jawabku.


Dia mengambil ponselku lalu mengotakngatiknya. Entah apa yang dia lakukan.


"Abang ngapain?" tanyaku.


"Bantu balasin chatmu," jawabnya santai.


Aisshhh dia ini.


Arsy mengambil ponselnya. Dia tibatiba mengajakku berfoto. Aisshhh aku langsung menutup wajahku dengan selimut yang tadi melilitku.


"Abang mau buat status juga dan upload foto barusan ke IG," katanya.


Ish dia ini ikutikutan saja. Dia mengupload fotonya yang sedang mencium kepalaku. Sebenarnya mencium selimut sih karena kepalaku kututupi selimut semuanya. Lagian aku gak pake kerudung juga.


Paling orang pikir Arsy lagi cium guling itu. Orang badan sama muka gak keliatan.


'Miss her so much! MyCuteWife'


Itu yang Arsy tulis di caption fotonya.


Alay sekali ya suamiku. Tapi sweet sih. Soalnya Arsy ini jarang sekali upload foto. Di IG nya saja kebanyakan foto Arsyad. Fotoku ada sih tapi gak keliatan muka. Kebetulan Arsy ini sepemikiran sama aku. Aku tak suka upload foto yang menampakkan wajah, kecuali fotonya lagi banyakan. Dan Arsy juga gak suka pamer foto selfieku di medsos. Kecantikanku cuma dia yang punya katanya. Ehh memangnya aku cantik? Ya tentu saja lah. Wkwk Siluman narsis sudah merasuk.

__ADS_1


***


Keesokan harinya kami pulang ke rumah Mama. Aku pakai baju Kak Arisya yang memang sengaja disimpan di sini jika menginap.


Tahu gitu kemarin aku pakai baju dia saja. Arsy ini sengaja kayaknya memakaikanku kemejanya biar aku terlihat seksi di depannya.


Ish suami siapa sih itu.


Arsy kembali ke rumah sakit setelah mengantarku pulang.


Di rumah kulihat Dafa sedang tiduran sambil menonton TV.


Saat kudekati kulihat luka di tangannya. Dia kenapa?


"Abang, kau kenapa?" tanyaku


"Jatuh," jawabnya pendek.


"Pasti garagara ngebut kemarin. Abang tak apa kan?"


"Abang baikbaik saja. Lecet dikit doang."


Huh yealah tuh.


"Abang dah makan belum?"


Dafa menggeleng.


"Intan mana?"


"Entah. Gak ngurus."


"Ish Abang ini. Dia gak masak?"


"Jangan bahas dia bisa gak?" kata Dafa marah.


"Kenapa Abang marah? Memangnya kenapa dengan dia?" tanyaku heran.


"Berisik sekali," kata Dafa seraya pergi naik ke kamarnya.


Aku pun ikut naik juga. Tapi aku ke kamar Intan bukan kamar Dafa.


"Kapan kau sampai?" tanya Intan saat aku masuk kamarnya.


"Barusan," jawabku. "Eh Tan. Kau tahu Dafa jatuh?"


Intan mengangguk.


"Dia kemarin kenapa tibatiba pergi ngebut gitu. Kau tahu?"


Intan menggeleng.


Ish ini anak ketularan Arsyad kayaknya anggukgeleng anggukgeleng.


"Kau berantem sama Dafa?" tanyaku.


"Emang kau pernah lihat kami akur?" tanyanya. Malah balik nanya ish.


"Ya enggak juga. Tapi hari ini kalian lain kayaknya. Wanna share?"


"Kami bertengkar semalam," ucapnya sayu.


"Karena?"


"Dafa tahu Rio pernah bonceng aku. Dia marah."


"Dafa cemburu? Yaa Tuhan!" Aku terkejut.


"Dia marah, bukan cemburu. Kalau kau yang dibonceng Rio pun dia pasti marah. Dia kan udah ngelarang kita dibonceng cowok."


"Hmm ... !"


***


Bersambung.


*BONUS*


-Author's POV-


Fizu, Adri dan Intan, kaget melihat Dafa pulang dengan terluka.


Harusnya Dafa sampai ke rumah lebih dulu. Tapi baru muncul jam delapan malam. Orang rumah sudah khawatir, ternyata kekhwatiran mereka terbukti saat melihat Dafa pulang dengan keadaan seperti itu.


Fizu langsung mengambil kotak first aid untuk mengobati luka Dafa.


"Kenapa bisa kayak gini sih, Fa. Bawa kendaraan itu hatihati makanya. Jangan buat Mama khawatir!" ucap Fizu setelah mengobati luka Dafa.


"Sudahlah Ma. Biarkan Dafa istirahat dulu. Sebaiknya kita juga istirahat," sela Adri.


Adri mengajak Fizu ke kamar.


Sementara Intan masih berada di sana bersama Dafa.


Dafa menyerahkan kunci motor pada Intan.


"Abang ...."


"Motormu baikbaik saja. Tak usah khawatir!" ucap Dafa memotong omongan Intan.


"Abang tak apa?" tanya Intan.


"Apa aku terlihat seperti sedang sekarat sekarang?"


"Abang marah padaku garagara tadi?"


Dafa tak menjawab.


"Abang aku minta maaf."


"Untuk?"


"Tak mematuhi perintah Abang. Sorry aku boncengan sama pria."


"Bukan urusanku!"


Intan tahu benar Dafa pasti marah padanya. Meskipun sikap Dafa pada Intan tak sama dengan sikapnya pada Syifa. Tapi rasa khawatirnya sama. Dafa protective pada Intan dan Syifa. Apa yang tak boleh untuk Syifa, tak boleh juga untuk Intan. Intan sadar itu. Jadi wajar saja kalau Dafa marah sekarang.


Selain itu karena Intan suka Dafa, dia jadi merasa bersalah sendiri dan merasa telah mengkhianati perasaannya sendiri dengan melakukan hal yang Dafa larang.


"Abang. Maafkan aku!" pinta Intan lagi.


"Mulai sekarang lakukanlah yang kau mau. Kau tak pernah bisa mematuhi apa yang aku katakan kan. Sukasukamu sajalah sekarang. Aku tak peduli," kata Dafa sinis.


"Abang!" suara Intan lirih. "Aku benarbenar minta maaf."


Dafa memejamkan mata. Kenapa dadanya sakit sekali mendengar suara Intan seperti itu.


"Kalau pun kau sudah tak suka aku dan berniat mencari pria lain harusnya kau tetap bisa jaga batasanmu. Kau harus bisa melindungi dirimu sendiri. Kau itu wanita, jaga maruahmu."


"Abang pikir aku wanita macam apa memangnya?" Intan sudah mulai ikut emosi. "Aku tak melakukan hal buruk selama ini. Aku hanya boncengan sama dia saja, itu pun terpaksa. Aku juga tahu batasan Abang. Lagian Abang pun ngajak aku boncengan kemarin. Kita kan juga bukan mahram."


Sebenarnya Intan tahu benar Dafa tak serius ketika mengajaknya boncengan. Tapi sengaja dia ingin membangkitkan hal itu karena tak terima dengan perkataan Dafa.


Meskipun perkataan Dafa tak salah sebenarnya. Tapi Intan menerimanya lain, dia merasa Dafa telah menghinanya dengan mengatakan hal seperti itu.


"Abang juga harus jaga batasan. Abang sering keluar berdua kan dengan Kak Arisya? Meskipun naik mobil bukan motor, tetap saja tak elok dilihat. Ini bukan karena aku cemburu, tapi hanya ingin Abang ngaca saja. Kalian bukan mahram."


Setelah mengatakan itu Intan pergi meninggalkan Dafa sendiri.


"Sorry!" bisik Dafa saat Intan pergi.

__ADS_1


***


*Habis*


__ADS_2