
***
Terakhir ujian. Setelah ini aku bebas.
"Pagi Mama, Papa, Abang, and my dearest sistaaa!" sapaku saat turun untuk sarapan.
"Kamu sehat?" tanya Dafa.
"Dia tampak terlebih sehat kayaknya," sahut Intan sambil menguyah roti kejunya.
"Ada yang salah?" tanyaku.
"Ceria banget Kakak sekarang," ujar Papa.
Keliatan banget ya aku begitu bahagia? Aku tak bisa purapura biasa saja.
Memang sejak mendapat kepastian ini aku jadi semakin bersemangat rasanya.
"Jangan senyumsenyum sendiri oyy. Nanti seri pengantinmu hilang," kata Intan.
"Iri aja kau," cebikku. "Cepat nyari jodoh sana!"
"Ngapain dicari, orang udah ada di depan mata!" balas Intan sambil melirik Dafa.
"Jangan berharap pada yang tak sudi, Tan!" provokku.
"Kau benar juga, Fa. Apa aku give up aja ya. Hahah!" ucap Intan seolah Dafa tak mendengar semuanya.
Aku hanya bisa menatap Intan tak percaya. Bukan karena kaget dia akan menyerah. Tapi karena aku merasakan ada yang lain dari nada suaranya saat bicara tadi. Meskipun tertawa tapi kenapa aku merasakan kesedihan dalam kata yang dia ucapkan. Dia terluka.
"Baguslah kalau sadar diri," celetuk Dafa ketus.
Intan hanya tertawa saja mendengar Dafa. Sudah terbiasa sepertinya dengan kesinisan Dafa.
"Abang tak mau menyemangati kami? Hari ini terakhir kami ujian," ucapku mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kalian udah belajar kan? Kalau gitu buat apa aku semangatin. Hasil ujian kalian tak bergantung pada semangat yang akan kuberi, tapi pada usaha kalian belajar selama ini."
"Makasih ya Abang!" balas Intan. "Aku dah selesai makan. Aku manasin motor dulu. Fa, aku tunggu di luar ya. Mama Papa, assalaamu'alaikum!"
Intan pergi setelah menyalami Mama.
"Abang, bahasamu gak bisa dilembutin dikit pada Intan?" marahku pada Dafa setelah Intan pergi.
"Kamu kan tahu Abang memang kayak gitu."
"Intan juga punya hati, Bang. Kalau gak bisa berlembut, setidaknya jangan bicara yang menyakitkan hati."
"Intannya juga gak masalah. Anak itu gak kayak kau yang mudah tersinggung. Kau liat kan dia baikbaik aja tadi."
"Susah ngomong sama Abang. Sukasuka Abang saja," kataku lalu pergi.
Aisshhh lupa salam.
"Assalaamu'alaikum!" ucapku setelah salaman pada Mama, Papa dan Dafa. Meski menyebalkan, tapi aku tetap harus hormat pada Dafa.
Drrrtttdrrrtttdrrtttt!
Ponsel ku bergetar.
'Assalaamu'alaikum, Syifa. Goodluck untuk ujianmu. Jangan mikirin Abang terus. xD'
Chat dari Arsy ternyata.
Sukses membuatku tersenyumsenyum sendiri. Mampu memulihkan moodku yang dirusak Dafa tadi.
***
Ujian selesai. Aku dan Intan pergi makanmakan berdua. Sebenarnya kami diajak berlibur ke gunung bersama temanteman yang lain setelah ujian ini selesai.
Tapi aku dan Intan tak diizinkan pergi. Jadi kami main berdua saja.
"Ehh itu Kak Arisya. Ayo kita samperin." Kata Intan saat kami baru selesai nonton.
Kami pun menghampiri Kak Arisya yang sedang memilihmilih baju.
"Kakak!" teriak kami, menyebabkan orang di sekitar melihat ke arah kami.
"Yaa Allah. Kalian berisik sekali," kata Kak Arisya. "Ini kalian darimana? Dengan pakaian putih hitam gini. Habis nyari kerja?"
"Kami baru pulang ujian. Setiap ujian kan memang harus pakai seragam putih hitam. Lihat nih dasi kami, ada logo universitasnya," terang Intan sambil menunjukkan dasinya.
"Kalian ngapain disini?" tanyanya lagi.
"Main aja. Merefresh otak setelah kemarin pusing belajar," jawab Intan.
"Ichad mana Kak?" tanyaku.
"Lagi beli eskrim. Nah itu dia tuh," kata Kak Arisya sambil menunjuk ke arah belakang kami.
Saat kami berbalik kami agak terkejut juga. Arsyad sedang sama Dafa.
Mereka jalan bersama gitu? Ada hubungan apa Kak Arisya dengan Dafa? Janganjangan cinta monyet Dafa bersemi kembali. Terus Intan gimana?
Aku memandang ke arah Intan yang sepertinya juga terkejut tapi kemudian dia tersenyum.
__ADS_1
"Hay Ichad!" sapa Intan.
"Hay Ateu!" jawabnya lalu menyalami kami.
"Kalian ngapain disini? masih pake baju seragam pula," tanya Dafa.
"Ini kan bukan mall punya Abang. Terserah kami mau ngapain juga," jawabku ketus.
"Sukasuka kalian lah," balasnya malas.
"Memang sukasuka kami pun," jawab Aku dan Intan serentak.
"Kita duluan ya Kak. Aku dan Syifa mau ke suatu tempat dulu," ucap Intan.
Aku memandangnya heran. Mau kemana memangnya kita?
"Hey kalian mau kemana? kita main samasama saja. Ramerame kan seru," kata Kak Arisya.
"Sya, biarkan saja mereka pergi. Mereka ini suka bikin malu dengan tingkah konyolnya. Membuat sakit mata melihatnya. Mengganggu kita saja," ujar Dafa sinis.
"Justru Abang tuh yang selalu menyakitkan hati. Kuyy ah Tan pergi. Kami pergi duluan ya Kakak, Ichad. Papay!"
Aku menarik Intan pergi. Entah bagaimana perasaannya sekarang.
Satu hal yang aku tahu, Intan tak mainmain menyukai Dafa. Aku bisa melihat kalau dia terluka.
"Kita nonton film lagi yuk Tan!" ajakku.
"Boleh juga," jawabnya ceria.
.
.
Saat menonton film aku tahu kalau Intan menangis. Dan aku yakin itu bukan karena cerita filmnya.
Sengaja aku mengajaknya menonton film sedih. Agar dia bisa menangis tanpa harus malu padaku.
***
Aku duduk menonton TV di kamar. Tapi mataku tak fokus menonton. Aku masih memikirkan hal sore tadi.
Aku sedih melihat Intan sedih.
Mudahmudahan Intan bisa secepatnya mendapatkan jodoh yang baik agar dia bisa melupakan Dafa.
Aku mengambil ponselku.
Aku baca lagi chat Arsy tadi pagi. Membaca itu membuatku lebih tenang.
Kuketik itu lalu kukirim pada Arsy. Baru kubalas sekarang tak apa kali ya. Basi sih tapi bodo amat. Haha!
Tibatiba Arsy meneleponku. Mengagetkanku saja.
"Assalaamu'alaikum!"
"Wa'alaikumussalaam! Sibuk banget ya tadi? Gimana ujiannya?"
"Abang gak mau tanya kabarku dulu gitu?"
Entah kenapa malam ini aku terlebih 'manja' begini. Aisshhh!
"Tak perlu. Abang tahu kau baikbaik saja disana. Jadi bagaimana ujianmu?"
"Yealah tuh. Alhamdulillah lancar."
"Alhamdulillah. Bagus kalau begitu."
"Abang kemana saja kemarinkemarin?
Sepi banget gak ada kabar."
"Sibuk dikit."
"Abang kemarin kesini kenapa gak ketemu aku dulu?"
Padahal aku sudah tahu alasannya. Sengaja saja pengen nanya lagi. Habis aku bingung mau ngobrol apa.
"Kata Kakek kalau boleh kita gak usah ketemu dulu sampai menikah nanti. Lagi pun kemarin Abang dah lihat kamu, lagi ngintip Abang di balik pagar."
Wuttsssss? Oh Tuhan ternyata dia tahu.
"Mana ada. Abang salah orang tuh."
"Iyakah? Jadi siapa ya yang mengintip wajah tampan Abang kemarin. Hmm!"
"Cihhh tampan apanya. Ngintip pun percuma orang gak keliatan muka abang. Membelakangiku, pakai topi pula."
"Jadi benar kan kamu yang mengintip kemarin?"
Aiiisshhh ketahuan.
Kenapa setiap kali nelepon dia selalu berhasil membuatku malu ish.
"Hey kok diam?"
__ADS_1
"Mau ngambek lima menit. Gak mau ngomong."
"Kenapa?"
"Tahu dah."
"Yaudah."
"Jangan ajak aku ngomong ihh. Aku gak mau ngomong lima menit. Titik."
"Silahkan."
"Argghhh!"
"Kenapa?"
"Abang gak mau pujuk aku gitu?"
"Hahah kamu manja juga ternyata."
"Biar. Kalau dah tua kayak Abang aku dah gak bisa manja lagi. Jadi puaspuasin manja sekarang."
"Yealah. Orang tua kayak Abang ini mana bisa manjamanja lagi."
Ehh aku keceplosan. Dia tersinggung enggak ya aku ungkit masalah umur begitu. Aku gak sengaja tadi.
"Hey anak kecil, kenapa diam lagi?"
"Abang gak marah aku bilang Abang tua?"
"Kenapa harus marah. Memang udah tua pun. Kamu gak keberatan nikah sama orang tua kayak Abang?"
"Enggak."
"Nanti kalau kita jalan berdua pasti orang akan mengatakan kita ini pasangan ayah dan anak lho."
"Benarkah?"
"Hahahaha."
Malam itu aku dan Arsy mengobrol cukup lama. Biasanya aku segan dengan pria. Tapi dengan Arsy rasanya berbeda.
Malam itu aku tidur dengan nyenyak.
***
"Kakak, semalam Kakak teleponan dengan Arsy?" tanya Papa.
Heran, kenapa Papa tahu?
Aku mengangguk.
"Kak, Papa bukan ngelarang. Papa tahu kalian mungkin ingin lebih saling mengenali. Tapi untuk sekarang, kalian belum ada ikatan apaapa. Ngobrol berdua begitu bisa menimbulkan dosa dan fitnah juga meski gak saling bertatap muka. Papa harap untuk sekarang jangan bergayut dalam telepon dulu lah. Nanti kan setelah menikah kalian bisa ngobrol banyak," kata Papa menasehati.
"Iya, Pa. Arsy juga semalam sudah bilang gitu juga. Kami gak akan teleponan lagi untuk menghindari fitnah. Papa tenang saja. Kakak mengerti kok. Makasih Papa sudah mengingatkan Kakak."
Aku tersenyum pada Papa.
Ya, semalam Arsy memang mengatakan bahwa sebaiknya selain jangan ketemu, kami juga jangan teleponan berdua. Setan kan bisa datang dalam bentuk apapun.
Apalagi imanku juga kayak nyawanyawa ikan kalau gak ada air.
Papa memelukku.
"Syukurlah anak Papa sudah paham."
"Pengen dihug juga," kata Intan yang tibatiba datang menghampiri kami.
"Intan peluk Mama saja," kata Mama pula yang muncul entah dari mana.
Dan terjadilah adegan pelukan Intan dan Mama.
Mereka habis sembunyi kayaknya nguping pembicaraan aku dan Papa. Soalnya tibatiba muncul gitu. Ckckck!
"Kamu juga gak boleh terlalu banyak main lagi, Fa. Kamu itu calon pengantin, darah manis kalau kata orangtua dulu. Kalau bisa dua minggu ini diam di rumah saja. Kecuali kalau ada keperluan mendesak seperti nyobain baju pengantin, pilih cincin, suntik ** dan penataran pernikahan," ucap Mama.
"Uhuk Uhuk!" tibatiba tenggorokanku gatal saat Mama membahas tentang penataran pernikahan.
"Kenapa Kak?"
"Gak apaapa kok, Pa."
Aku memandang Intan yang sudah tersenyum. Kemarin aku baru saja bahas tentang itu dengan Intan.
Bukannya kami tak tahu, pasti pas penataran akan dibahas BAB tanggung jawab istri yang itu. Aku malu.
Apalagi kalau ada Arsy di sampingku pas bahas itunya. Bagaimana ini.
"Arsy sudah pergi penataran sendiri kemarin. Arsy itu susah dapat waktu luang, jadi pas kemarin libur dia pergi sendiri. Kamu nanti pergi dengan Intan saja ya,"ma'lum Mama.
Yes. Alhamdulillah!
Tapi tak boleh main? Seriusan itu? Entar kalau aku bosan gimana. Ish sebal.
***
__ADS_1
Bersambung.