Nikah Muda (?)

Nikah Muda (?)
17. Bertengkar


__ADS_3

***


"Kalian dengerin Abang gak sih?" tanya Dafa yang kesal karena kami tak menanggapinya. Dari tadi kami biarkan Dafa menyetir sambil ngoceh sendiri.


Aku dan Intan sedang tak mood bicara.


Sampai di rumah kami langsung ke kamar tanpa mengatakan apapun. Badmood!


Toktoktok!


Kubuka pintu kamar, ternyata Intan.


"Bagaimana ini Fa?" kata Intan seraya membaringkan diri di sofa.


"Entahlah Tan. Kita gak bisa mengubah apaapa."


"Kau terima saja tawaran Pak Indra."


"Gila! Minta balas budi nanti dia. Lagian apa kata temanteman yang lain entar."


Aku dan Intan tak satu kelompok KKN. Selain beda desa, kami beda kecamatan juga.


Pak Indra kebetulan jadi dosen yang mengawasi kelompokku. Dia menawari bantuan untuk memindahkan Intan ke kelompokku. Aku tak setuju untuk itu. Ada udang di balik bakwan pasti.


"Terus kita gimana?" tanyanya.


"Ya gak gimanagimana. Sudahlah sepertinya kita memang tak ditakdirkan bersama. Sekuat apapun keinginan kita untuk bersama, sebesar apapun usaha kita untuk bersama tetap saja kita tak akan menyatu jika memang Tuhan tak menakdirkan kita menyatu," kataku seolah pasrah.


"Lebay dah!" balas Intan sambil membaling bantal kepadaku.


"Hahah!"


"Eh Fa, kalau kita KKN, kau dan Abang Arsy gimana?"


"Erk!"


Tak sekelompok dengan Intan merupakan suatu masalah. Berpisah dengan Arsy adalah masalah lain lagi. Arrgggghhh!


***


Saat ini Arsy sedang memeriksa tanganku. Aku tak mendengar apa yang dia katakan. Aku hanya memperhatikan wajahnya saja. Selama sebulan aku tak akan bisa memandanginya seperti ini. Jadi aku mau puaspuasin sekarang.


Uhh tetap tak akan cukup untuk bekal sebulan.


Aku pasti akan sangat merindukannya. Boleh gak sih kalau gak pergi KKN?


"Kata Dafa kamu sedang ada masalah. Wanna share?" tanyanya.


"Hmm ... hanya masalah KKN saja. Tadi sempat bikin badmood," jawabku.


"Karena tak sekelompok dengan Intan?"


Aku mengangguk.


"Abang akan hubungi pengawasmu supaya kamu bisa satu kelompok dengan Intan."


"Tak usah tak apa. Aku sudah gpp skrg."


"Serius?"


"Iya."


Gawat kalau sampai Arsy ngomong ke Pak Indra. Minta tolong ke Pak Indra sama saja dengan menyerahkan diri.


Bukannya aku geer atau apa, tapi sepertinya Pak Indra suka aku. Bahkan Intan juga berpikiran hal yang sama. Temanteman kuliahku juga sudah mulai bergosip. Aku tak mau sembarangan menerima bantuannya, takut nanti ada masalah.


Sekarang yang aku khawatirkan bukan masalah kelompok, tapi Arsy.


Setelah kami menikah, kami belum pernah berpisah terlalu lama. Sekarang kami harus LDR an, apa bisa?


Katanya di daerah KKN itu selalu susah sinyal. Bagaimana kalau aku kangen dia nanti? Masa iya minta izin pulang dulu karena kangen suami. Lagipula mereka pada gak tahu kalau aku sudah menikah.


"Kamu KKN di desa apa?"


"Cibatu. Kecamatan Batukarang." 


"Wah lumayan jauh juga ya."


"Uhh tak mau ngomongin itu lagi. Kita tidur aja yuk. Ngantuk."


Sebisa mungkin aku tak ingin membicarakan ini dengan Arsy. Hanya membuatku teringat pada jarak yang akan memisahkan kami nanti.


***


.


.


Aku langsung bergegas ke tempat kerja Arsy saat mendapat kabar itu. Bagaimana bisa ini terjadi. Aishhh!


Setelah bertanyatanya akhirnya aku sampai juga di ruangan Arsy.


"Syi? Kok gak bilang mau kesini?" tanyanya.


"Kenapa Abang lakukan semua ini?" tanyaku to the point.


"Maksudmu?"


"Aku sudah bilang gak usah lakuin apaapa. Kenapa sekarang tibatiba kelompok KKNku berubah? Ini Abang yang lakukan kan? Aku berterimakasih karena Abang membuatku satu kelompok sama Intan. Tapi tak satu kelompok pun tak apa. Itu udah gak penting lagi bagiku. Abang tak perlu repotrepot lakukan ini. Aku baikbaik saja. Jadi kumohon, tolong buat aku kembali ke kelompokku semula."


"Abang tak bisa."


"Kenapa?"


"Akan lebih baik kalau kamu bersama dengan Intan," jawabnya.

__ADS_1


"Aku tetap mau kembali ke kelompokku," tegasku.


"Tak akan Abang izinkan."


"Kenapa Abang ikut campur urusan kuliahku seperti ini?" Aku sudah mulai menaikkan suara.


"Kenapa kamu bersikeras tak mau pindah?"


Tanyaku malah dibalas tanya.


"Aku bertanya duluan Abang."


"Apa karena pengawas kelompokmu itu? Apa kamu tak mau berpisah dengan Pak Indramu itu makanya kamu bersikeras seperti ini?" tanyanya.


Apa yang dia katakan. Pak Indra? Arsy tahu dia pengawasku? Ah tentu saja, mustahil Arsy gak tahu. Bukankah dia sudah menemui Pak Indra. Tapi biarpun begitu kenapa jadi bawabawa Pak Indra sekarang.


"Abang sedang menuduhku?" tanyaku tak percaya kalau Arsy akan mengatakan hal seperti itu. Apa dia meragukanku sekarang?


"Apa Abang juga bersikeras aku sekelompok dengan Intan agar Abang bisa menyuruh Intan mengawasiku? Apa Abang juga tak percaya padaku sekarang? Aku tak peduli lagi. Apapun yang Abang lakukan, aku tetap akan kembali ke kelompok asalku."


"Terserah kamu saja," katanya lalu keluar dengan membanting pintu.


Uhh kenapa jadi seperti ini. Menyebalkan.


Aku hanya tak ingin Arsy meminta bantuan Pak Indra. Aku tak ingin terlibat apapun dengan Pak Indra selain urusan kuliah.


Kenapa Arsy malah menuduhku.


Baru juga menikah sudah berantem seperti ini.


***


"Syifaaaa, akhirnya kita satu kelompok juga."


Intan langsung memelukku saat aku sampai di rumah.


"Hey ... kau kenapa? Apa kau tidak senang?" tanya Intan.


Aku menggeleng.


Aku menarik Intan duduk di sofa.


"Tan, aku senang kita bersama. Tapi apa kau tak berpikir kalau ini salah? Maksudku, apa yang akan orang pikirkan tentang kita nanti? Tentang keluarga kita? Keluarga Syifa dan Intan nyogok dosen agar bisa satu kelompok KKN. Apa itu tak masalah?" tanyaku takut.


"Masalahnya bukan itu kan? Kau tak pernah terpengaruh dengan halhal seperti itu. Lagipula kau tahu benar keluarga kita tak begitu. Meminta kita satu kelompok apa salahnya? Sebelum ini pun banyak yang minta tukar kelompok karena alasanalasan tertentu. Kalau alasannya tak penting, kampus kita juga tak akan mengabulkan permohonan pindah kelompok," terang Intan.


"Menurutmu alasan 'Intan dan Syifa badmood karena tak sekelompok' itu penting? Kita bahkan tak ada alasan jelas untuk tukar kelompok. Kenapa bisa tukar sekarang? Pasti karena bantuan Pak Indra kan?" dugaku.


"Sok tahu kau!" kata Intan meluku kepalaku.


"Ish gak boleh tahu meluku kepala orang begini," kataku sambil mengusap kepala.


"Kayak kau gak pernah aja!" cebik Intan.


"Kau berantem sama Abnag Arsy? Apa kau bilang tentang Pak Indra ke dia? Alasanmu ini, apa kau katakan padanya?"


Aku menggeleng, "aku gak mungkin bilang. Aku takut Arsy makin salah paham. Lebihlebih kalau dia tahu Pak Indra suka aku pasti makin gawat lagi."


"Lalu bagaimana Arsy akan mengerti kalau kau gak bilang? Kau terlalu takut dengan hal yang gak penting Fa. Sebenarnya masalah ini sederhana, kau saja yang membuatnya seolaholah rumit. Sudahlah, dengar yaa Syifa sayang. Abang Dafa datang ke kampus bukan sebagai Abangmu, tapi sebagai doktermu. Dengan keadaan tanganmu yang belum sembuh benar dia meminta pihak kampus memindahkanmu ke kelompokku. Paham? Gak ada hubungannya dengan Pak Indra. Abang Dafa ngomong langsung ke LPPM nya."


"Bukannya Arsy yang datang ke kampus?" tanyaku bingung.


"Tadinya Arsy mau ke kampus memang. Tapi keduluan Abang Dafa. Kita bahas itu nanti. Sekarang kita bahas kau dulu. Masalahnya ada di kau. Masalah ketakutanmu itu benerbener gak penting banget menurutku. Pertama, kau tak mau balas budi dengan Pak indra kan. Tak akan. Karena kau pindah tanpa bantuan Pak Indra. Kau itu terlalu suudhzon juga sama Pak Indra, kata siapa dia akan minta balas budi. Belum tentu. Dua, kau takut orang menggunjing tentang masalah kau dianakemaskan dan blablabla. Hey justru kalau kau tak pindah orang akan makin berpikir kau ada apaapa sama Pak Indra. Kalau kau gak pindah kau akan berada di bawah pengawasannya dan orang makin curiga dengan hubungan kalian. Mengerti?


Kau marahmarah ke Arsy gak ada gunanya Fa. Arsy tak melakukan hal yang kau takutkan tadi, dia gak ngomong apaapa ke Pak Indra. Bahkan ketemu pun tidak. Lebih baik kau jujur saja padanya tentang ketakutanmu itu biar dia mengerti dan gak salah paham. Dia sangat mengkhawatirkanmu Fa. Masalahnya simple banget kan sebenarnya, kau aja yang buat ribet," jelas Intan.


Uhh aku jadi merasa berdosa pada Arsy. Tapi dia juga harusnya tak menuduhku. Tapi aku duluan yang meninggikan suara padanya. Uhh!


"Aku harus gimana sekarang? Tadi aku dah marahmarah sama Arsy," ucapku sayu.


"Ya minta maaf lah."


"Malu lah Tan. Menurutmu Arsy mau maafin aku?"


"Gila aja gak maafin. Dia kan sangat menyayangimu," kata Intan menyiku lenganku.


"Uhh semoga saja. Eh btw, bagaimana kau tahu tentang semua itu tadi?" tanyaku penasaran.


"Abang Dafa dah cerita semua ke aku. Abang Dafa juga khawatir dengan keadaanmu," jawab Intan.


"Abang Dafa paling juga khawatir padamu. Dia takut kau nemu cowok baru di KKN makanya dia ngirim aku untuk matamatain kau."


"In your dream, Fa. Mustahil."


Masalah kelompok dan Pak Indra sudah selesai. Intan benar, aku saja yang merumitkan semuanya. Padahal aku hanya tinggal pindah saja tanpa harus mengkhawatirkan apapun. Aku juga harusnya tak perlu bertengkar dengan Arsy. Untuk pertama kalinya tadi Arsy marah padaku.


***


Sudah selarut ini dan Arsy belum pulang. Padahal Dafa saja sudah pulang sebelum makan malam. Apa karena dia masih marah padaku? Dia tak mengabariku sama sekali.


Untung saja Mama dan Papa tak menanyaiku macammacam.


'Abang dimana? Kenapa belum pulang?'


Aku mengirim chat pada Arsy.


Bluetick!


Chatku hanya dibaca saja tanpa dibalas.


Sepertinya Arsy sangat marah padaku sampai tak mau pulang begini.


Akhirnya aku tertidur tanpa Arsy di sampingku.


***

__ADS_1


Aku terbangun di pagi hari tanpa menatap Arsy. Dia benarbenar tak pulang.


"Punya suami dokter itu ya gitu Fa. Sabar aja," ucap Mama saat kami sedang sarapan.


Aku hanya membalas dengan senyum. Mudahmudahan saja Arsy tak pulang karena memang sedang bekerja, bukan karena marah padaku.


Tapi mungkin juga dia menjadikan pekerjaan sebagai alasan untuk menghindariku.


Buktinya dia gak balas chatku.


***


"Rio cakep banget ya, Tan." Kataku setelah turun dari motor Intan. Aku dan Intan baru pulang dari pertemuan kelompok KKN.


Tadi kami berkenalan dengan anggota kelompok yang berasal dari jurusan dan fakultas yang berbedabeda.


Yang kulihat tadi ada dua orang cowok yang menurutku ganteng, salah satunya Rio yang barusan kusebut.


"Iya ish ganteng. Mukanya unyu ya. Dah punya cewek belum yak. Aku dah tandai dia, kau jangan macemmacem," kata Intan dengan sedikit peringatan.


"Aku ini memang wanita setia. Tapi kan wanita setia boleh saja khilaf."


"Sengklek! Eh Fa, itu mobil Arsy. Sepertinya dia dah pulang," kata Intan seraya menunjuk mobil Arsy.


Ya itu memang mobil Arsy. Apa yang harus kulakukan. Aku mau minta maaf, tapi aku kesal karena Arsy mengabaikan chatku kemarin. Gak ngabarin sama sekali. Rasanya malas bahkan hanya untuk menyapanya.


"Assalaamu'alaikum!" ucapku dan Intan saat masuk ke rumah.


Arsy dan Dafa yang sepertinya sedang bermain catur langsung menengok ke arah kami lalu membalas salam kami.


Sesaat mataku bertemu dengan mata Arsy, tapi segera kupalingkan wajahku. Melihatnya aku jadi kesal. Aku langsung naik ke kamarku.


"Fa, kita jadi pergi kan?" tanya Intan di luar kamarku.


"Iya. Setelah mandi kita pergi," jawabku setengah berteriak.


Bagus juga pergi, aku malas ada di rumah. Kami rencananya mau belanja untuk keperluan selama KKN nanti.


Tadinya mau pakai mobil Papa, tapi Papa pulangnya malam katanya. Jadi kami tadi bujuk Ayah supaya minjemin mobilnya.


Masalahnya sekarang, ada Dafa di rumah. Dia pasti gak izinin kami pergi berdua dengan mobil Ayah. Bagaimana caranya ya biar gak ketahuan.


Ahh pikirkan nanti saja, sebaiknya mandi dulu.


Selesai mandi aku dan Intan turun. Arsy dan Dafa masih asiik bermain catur.


"Bang, aku dan Intan mau pergi," ucapku.


Dafa berpaling ke arahku, sementara Arsy sepertinya enggan memandangku.


"Kalian baru pulang dah mau pergi lagi, mau kemana?" tanya Dafa.


"Mau beli barang buat dibawa KKN nanti," jawab Intan.


"Oh oke. Jangan malemmalem pulangnya!" pesan Dafa.


Yess!


"Baik bang!" kataku dan Intan serentak. Kami berpandangan sambil tersenyum. Sekarang tinggal ngambil mobil di rumah sebelah.


"Eh tunggu!" Kata Dafa menghentikan langkah kami. "Lupa bilang, tadi Ayah kalian kesini. Dia bilang gak jadi minjemin mobilnya."


Kami berbalik, Dafa sudah berdiri memandang kami dengan menyilangkan kedua tangan di dada.


Aku melirik Arsy yang sepertinya sedang menahan tawa. Senang kayaknya melihat kami ketahuan. Bagaimana ini?


"Ada penjelasan?" kata Dafa. Suaranya menyeramkan.


"Kami butuh mobil buat pergi. Susah bawa barang kalau naik motor," aku berusaha membela diri.


"Kenapa gak minta Abang atau Abang Arsy anter kalian? Untung Ayah kesini tadi, jadi Abang bisa cancel peminjeman mobil itu," kata Dafa lagi.


"Tadinya takut kalian sibuk. Lagian kan kalian pasti capek. Kami gak mau merepotkan," balasku.


"Alasan!" cebik Dafa. "Tunggu di sini, Abang ambil kunci mobil. Biar Abang anter kalian. Jangan memandai mau bawa mobil sendiri! Mengerti? Tunggu Abang!" arah Dafa.


"Pakai mobilku saja. Aku yang nyetir, ayo!" kata Arsy yang tibatiba berdiri lalu nyelonong keluar.


Huaa malas sekali!


Akhirnya kami pergi berempat. Aku duduk di jok belakang dengan Intan. Malas aku duduk di depan dengan Arsy. Hatiku sih rindu, tapi melihat sikap dinginnya pikiranku jadi melarang untuk bermanismanis dengan Arsy.


"Abang sebaiknya pulang atau main dulu. Mungkin kami lama belanjanya," kata Intan setelah kami sampai di mall.


"Jangan mengadangada. Abang ikut kalian. Kami sudah berpengalaman KKN. Kami lebih tahu apa yang kalian butuhkan nanti," ucap Dafa.


"Terserah lah!" jawab Intan mengalah.


Selama belanja aku hanya diam, begitu pun Arsy. Yang berisik hanya Intan dan Dafa. Mereka mirip suami isteri yang sedang berdebat membeli perabot rumah tangga, aku dan Arsy yang suami isteri malah terlihat seperti orang asing. Aku kangen Arsy, tapi enggan untuk memulai ngomong duluan.


BUKKK !


Aku menabrak punggung Arsy yang tibatiba berhenti di depanku. Aku memang berjalan di belakangnya dari tadi karena ingin memandangnya sepuas hati.


"Melamun!" Katanya setelah berbalik berhadapan denganku. "Kamu tak apa?" tanyanya.


Aku menggeleng. Rasanya ingin menangis mendengar suaranya.


Tanpa bicara dia menggenggam tangan kiriku, sekarang kami berjalan beriringan sambil berpegangan tangan.


Padahal sedekat ini tapi terasa sangat jauh.


***


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2