
***
"Pagi pengantin baru," ucap Intan yang sedang mengiris bawang. Rajin sekali dia, sudah ada di dapur bersama Mama dan Bunda.
Ayah, Bunda, Arisya dan Arsyad memang tidur di sini semalam. Sementara keluarganya yang lain tinggal di hotel.
Mereka belum pulang karena nanti malam akan ada acara syukuran di pesantren sekalian tabligh akbar.
"Masak apa sistaaa?" tanyaku.
"Kau duduk diam saja tak usah tahu," jawab Intan.
Ish menyebalkan.
"Ceria sekali anak Bunda. Arsy tak bully kamu kan semalam?" tanya Bunda.
"Enggak Bund. Hihi!"
Ngebully sih enggak, tapi seneng banget membuatku blushing.
"Fa, temenin Intan masak ya sayang. Bunda dan Mama mau keluar dulu sebentar," kata Mama.
"Pagipagi begini mau kemana?" tanyaku heran.
"Ada deh. Anak kecil tak perlu tahu."
Cihhh pake rahasiarahasian. Lagian aku bukan anak kecil lagi. Dah nikah pun.
Setelah mengucapkan salam mereka pun pergi entah kemana.
"Tan, kau tau gak mereka mau kemana?" tanyaku.
"Entah!" jawabnya sambil menjungkit bahu.
Apasih yang anak ini tahu, padahal dari tadi sama Mama dan Bunda tapi tak nguping dikit saja obrolan mereka gitu. Dasar.
"Antibiotik, kau udah mandi ya?" tanya Intan sambil tersenyum aneh.
Erk!
"Ini tak seperti yang kau pikirkan," kataku kalut.
"Memangnya apa yang kupikirkan?"
"Aku tau banget kau pasti mikir anehaneh."
"Dasar otak kotor!" katanya sambil tertawa. "Aku senang kau sudah mulai percaya pada suamimu. Nanti kita tak akan serumah lagi, kau memang harus belajar mempercayainya mulai sekarang," ucap Intan sambil tersenyum.
Aku memeluknya.
"Aku tak akan meninggalkanmu sampai kau menemukan orang yang bisa menjagamu seperti Arsy menjagaku."
"Eh iya bukannya kita memang akan tinggal serumah terus ya? Aku kan akan jadi madumu."
NO!
Aku langsung melepaskan pelukanku.
"Dont you dare ...!" kataku memperingatkannya.
"Hahah aku tak akan merusak taman yang ada di hatimu."
"Aku tahu kok," ucapku lalu memeluknya lagi.
"Hey sudahlah. Lepasin! masakanku gosong tuh."
"Ish kau ini ngerusak moment sweet kita aja."
Aku meleraikan pelukan lalu duduk lagi di meja makan melihat dia masak.
Apa yang akan aku lakukan tanpa dia di sampingku?
Terkadang dia sengklek, tapi dia juga dewasa.
Terkadang dia nyebelin, tapi dia juga ngangenin.
Terkadang dia bicara menyakitkan hati, tapi dia juga menyayangi.
Dia selalu merusak moment sweet kami, tapi dia tak pernah membuatku bersedih terlalu lama.
Aku memintanya tinggal bersamaku agar dia tak kesepian.
Setelah aku menikah, apakah aku masih boleh tinggal bersamanya? Setidaknya sampai dia menemukan orang yang bisa membahagiakan dirinya.
"Hey ngelamun terus!" sergah Intan. "Ngelamunin apa?"
"Suamiku lah. Apalagi," jawabku berdusta.
"Dasar. Daripada ngelamun mending suruh suamimu turun makan!" arahnya.
"Baiklah!"
Baru saja aku akan ke kamar, kulihat Arsy sudah terpacak bersandar di pintu dapur dengan melipat kedua tangannya di dada.
Sejak kapan dia berdiri di sana? Mengagetkanku saja!
"Erk ...." Aku menggaruk tengkukku yang tak gatal, jadi bingung mau ngomong apa.
Dia mendekat lalu mencubit kedua pipiku.
"Abang!" teriakku geram. Kenapa dia mencubitku. Sakit tahu!
"Luchu!" katanya sambil tersenyum. "Ekspresi gugupmu itu selalu membuat Abang geram,"
dia mengelus pipiku.
"Jangan bikin drama di dapur hey pengantin!" kata Intan sepertinya geram juga melihat 'kemesraan' kami.
"Garagara drama kalian ini bisabisa sekarang juga aku jadi nekad ngelamar salah satu santri di pesantren. Iya kalau santrinya nerima, kalau dia nolak? Eh gak mungkin sih ada yang berani nolak aku. Tapi katakanlah aku ditolak, udah mah malu, aku juga gagal mesramesraan kayak kalian. Setidaknya kalian pikirkan perasaanku. Dan jangan biarkan otak suci murniku ini ternodai oleh drama dewasa kalian," ucap Intan panjang lebar.
Intan bicara apa sih? Mulai deh kan gak jelasnya.
"Sengklek!" cebikku.
Tibatiba Arsy mencium pipiku.
"Abang!"
"Arsy!"
__ADS_1
teriakku dan Intan bersamaan. Bahkan Intan pun tak memanggilnya 'Abang' lagi saking geramnya.
Arsy sudah berlari keluar dapur.
"Morning kiss!" teriak Arsy sambil tertawa.
"Syifaaaa, gak mau tahu pokoknya aku mau merittt sekarang juga!" rengek Intan.
Aku tak menghiraukannya. Aku memegang pipiku yang dicium Arsy.
Hangat!
"Antibiotik! Ngelamun lagi ish kau ini. Sana panggil balik suami tercintamu itu buat sarapan. Sekalian panggil yang lain juga ya. Aku mau hidangin makanan sekarang!" perintah Intan.
"Iyaiya bawel," ucapku lalu keluar dapur.
***
Tak terasa waktu berlalu.
Siang bergulir malam.
Seharian tadi kami sibuk mempersiapkan tabligh akbar malam ini.
Tabligh Akbar diadakan di lapangan pesantren. Dimulai selepas sholat Isya.
Tempat duduk pria dan wanita seperti biasa terpisah. Wanita di kiri, pria di kanan. Di tengahtengah ada jarak satu meter tanpa penghalang.
Keluargaku dan keluarga Arsy duduk di barisan paling depan. Aku sengaja memilih duduk di belakang keluarga kami saja di tengah barisan bersama sepupuku berbaur dengan para santriwati.
Intan duduk paling ujung, di sebelahnya ada Desy, lalu aku dan disebelahku ada Zahra.
Aisya duduk di paling depan bersama kak Arisya. Soalnya dia sedang hamil muda jadi katanya nanti takut berdesakan saat keluar.
Aku juga sebenarnya disuruh di depan, tapi malas. Tak bisa ngobrol. Haha!
Aku jujur saja, aku ini bukan tipe anak baik. Biasanya kalau acara begini aku akan mengantuk, kecuali kalau mubalighnya seru. Jadi aku suka ngobrol untuk menghilangkan kantukku. Tak usah tiru aku ya.
Arsy dan Dafa lewat, bisa kudengar bisikanbisikan para santriwati tentang mereka.
Mereka pasti akan duduk di barisan depan. Dari tempat dudukku sekarang bisa kulihat jelas Arsy sedang clingakclinguk mencari seseorang, dari tadi dia tak duduk diam.
"Fa, suamimu seperti cacing kepanasan. Dia sepertinya mencarimu," kata Zahra separuh berbisik.
"Dia bukan nyari Syifa, dia nyari madu buat Syifa!" jawab Desy.
Intan di sebelahnya sudah terkekek.
"Kurang ajar ya kalian," kataku geram.
Bosan dari kemarin asik bahas maduku aja, suami kalian yang nyari madu tahu rasa kalian.
"Ukht, yang di samping Mas Dafa tadi tampan ya."
"Tampan banget. Rasanya pengen nyamperin ustadzah biar dita'arufin sama akhii yang tadi."
"Eh dia cucu menantu Kiyai."
"Oh yang kemarin menikah itu."
"Dia pro poligami gak ya?"
Zahra yang ada di sebelah kiriku sudah menyiku lenganku setelah mendengar bisikbisik di belakang kami tadi.
Kami berempat saling berpandangan. Serentak itu kami melepaskan tawa hingga orangorang memandang kami.
Kami pun menunduknundukkan kepala tanda minta maaf. Memalukan.
Aku fokus kembali melihat ke depan.
Wuttsss! Arsy sedang memandangku. Garagara para santri itu sih. Ish!
Akhirnya aku ditemukan. Hadeuh.
"Hahah kau punya banyak saingan sekarang Fa. Hatihati!" kata Intan yang bicara dengan menahan tawa.
"Mereka saingan kalian bukan sainganku. Samasama berebut pengen jadi maduku. Ngarep!" jawabku.
Lalu mereka bertiga tertawa lagi. Kali ini lebih pelan.
Banyak santri yang tahu namaku tapi tak tahu wajahku. Mereka juga hanya tahu tabligh akbar ini dilakukan dalam rangka syukuran pernikahan cucu pemilik pesantren tanpa tahu pengantinnya yang mana. Kalau tahu aku isterinya Arsy apa yang akan mereka lakukan ya? Apa mereka akan melamar Arsy langsung padaku? Hahah luchu juga kalau iya.
.
.
Setelah sambutansambutan selesai ada break sebelum mubaligh memulai ceramah. Dan saat itu juga terlihat Arsy yang sedang berjalan ke arahku.
Oh My God! Mau apa dia.
Sekarang dia berdiri tepat di samping barisanku.
"Tan, tempat dudukmu bisa gantian dengan Syifa gak? Bentar doang," katanya pada Intan.
"Hadeuh pengantin baru gak bisa pisah lama ya," gerutu Intan. Tapi tetap menurut juga. Dia berdiri lalu meyuruhku bangun untuk gantian tempat duduk. Mau tak mau aku menurut juga.
Aku duduk di samping Arsy yang sedang berdiri. Dia berjongkok untuk menyesuaikan ketinggian dengan aku yang duduk ini.
Orangorang sudah mulai memandang kami. Tapi sepertinya Arsy tak peduli.
Akhwat yang tadi ngomongin Arsy pun juga melihat kami. Entah apa yang mereka pikirkan sekarang.
"Kenapa tak duduk di depan?" tanyanya.
"Malas. Aku ngantuk."
"Abang cari kamu tadi."
"Aku tahu."
"Tak mau pindah ke depan?"
Aku menggeleng.
"Abang balik kesana aja. Orangorang liatin kita."
Kali ini dia yang menggeleng.
"Abang, ini tempat perempuan," bisikku.
__ADS_1
"Abang tahu."
Ish geram. Arsy tak mengerti kalau aku malu banget. Bukan malu pada orangorang, tapi malu padanya. Tatapannya selalu membuatku salah tingkah.
"Akhii maaf. Acara akan segera dimulai lagi. Ini tempat akhwat, silahkan kembali ke tempat ikhwan." Tibatiba seseorang datang menegur kami.
Aku memandang orang itu. Yaa Tuhan! Rendy!
Dulu aku ngefans sekali padanya. Dia salah satu santri terbaik disini. Dia tak terlalu tampan, tapi dia punya kharisma yang menarik.
Tak kusangka bisa melihatnya lagi. Dulu aku setiap pulang sekolah suka curicuri pandang ke asrama ikhwan hanya untuk melihat Rendy. Dia ini pujaan ramai akhwat di sini.
Huaaa aku senang sekali melihatnya lagi.
Dia tersenyum lalu pergi.
Eh astagfirullah! Aku sudah menikah.
Arsy! Aku baru ingat padanya.
Eh kemana dia? Bukannya dia tadi di depanku?
"Suamimu dah balik ke depan," kata Desy seolah tahu kebingunganku.
"Kapan?" tanyaku.
"Kau terlalu sibuk memandangi Rendy cinta lamamu itu, sampai tak peduli pada suamimu," kata Desy lagi.
Desy sebelum nikah dengan Abang sepupuku adalah santri disini. Dulu kami satu kelas saat di madrasah aliyah. Makanya dia tahu Rendy.
"Aku cuma ngfans sama dia aja. Bukan cinta ish!" bantahku.
"Sudahlah! Fokus ke depan, ceramahnya dah mau mulai."
Aku melirik ke arah Arsy duduk. Apa dia marah? Ya Tuhan, apa yang telah kulakukan?
Arsy pasti terasa hati tadi.
***
Tabligh akbarnya selesai. Sekarang acara makanmakan. Sudah jam sepuluh malam. Kalau makan sekarang pasti aku gendut.
Sekarang ini orangorang ngantri untuk mengambil makanan seperti prasmanan. Tak terkecuali saudarisaudari sengklekku juga.
Aku tak ikut mengantri. Aku tak nafsu makan. Mengantri pun percuma dengan tangan kayak gini.
Mataku meliar mencari Arsy. Tapi aku tak melihatnya. Aku harus menemuinya. Takut dia marah karena hal tadi.
Aku terus mencari. Tapi aku tak menemukannya. Terlalu banyak orang sekarang. Sudahlah, aku bicara di rumah saja nanti.
"Tolong pegang dulu!"
Tibatiba entah muncul darimana Arsy datang menaruh piring di atas pangkuanku.
Dia membawa kursi dari barisan ikhwan lalu duduk di sampingku.
Piring yang di pangkuanku sudah berpindah tangan kembali.
"Buka mulutmu," katanya sambil menyuakan sendok padaku.
"Aku tak lapar."
"Setelah sarapan tadi kamu belum makan apaapa lagi. Nanti sakit. Ayo makan!" pintanya.
Aku membuka mulutku lalu makan dengan disuapi Arsy. Orang yang lalu lalang memperhatikan kami sama sekali tak kupedulikan.
Pagi tadi juga Arsy yang menyuapiku, sampai Intan menggebrak meja makan karena kesal melihat drama romantis kami. Padahal itu kan karena tanganku sakit saja. Bukannya dia sendiri yang selalu menyuruhku jangan segan pada Arsy.
"Abang kenapa tadi pergi begitu saja?" tanyaku.
"Bukannya kamu yang menyuruh Abang pergi," jawabnya.
"Tapi kan Abang bisa bilang sesuatu dulu sebelum pergi. Bukan tibatiba menghilang gitu aja."
Aku ingin tahu dia marah atau tidak melihatku menatap Rendy tadi.
"Kamunya saja yang tak dengar Abang ngomong karena sibuk memperhatikan ikhwan tadi itu," jawabnya sambil mengelap sudut bibirku yang mungkin comot karena bicara saat makan.
"Abang marah?"
"Untuk?"
Malah balik nanya ish. Aku menggigit bibirku.
"Dengar. Abang tak marah. Hanya kesal dikit karena isteri Abang ini memandang anak teruna orang tanpa berkedip," katanya sambil tersenyum.
Bahkan kesal pun dia masih tersenyum. "Abang langsung pergi karena kalau lamalama melihatmu seperti itu Abang takut akan menarikmu untuk duduk bersama Abang tadi," tambahnya lalu mengusap kepalaku.
Aisshhhh yang benar saja dia.
***
Pukul 12 malam, kami baru bisa pulang dan istirahat.
Tadi saudara mara terus saja mengusik kami karena melakukan drama yang menurut mereka romantis di depan umum. Aku dan Arsy cuma makan bersama saja padahal.
"Bang, benar ya besok kita akan pulang?" tanyaku saat kami sudah berdua saja di kamar.
"Iya. Abang tak lama mengambil cuti soalnya. Dan lagi nanti kita kan akan pindah ke rumah Abang. Kamu juga harus siapin barangbarang kamu yang akan dibawa pindah kan. Banyak hal yang harus kita lakukan," ucapnya.
Pindah? aku belum berpikir untuk pindah sebenarnya.
Apakah tak akan masalah jika aku bilang kalau aku tak mau ikut pindah.
Aku takut dia marah.
Tapi aku juga tak mau pindah.
Tapi tapi tapi aku baru menikah masa sudah mencari ribut dengan menolak ajakannya untuk pindah. Huaaa aku bingung.
"Abang, bisakah kita tinggal di rumah orangtuaku saja?"
Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulutku. Dia sepertinya terkejut. Apakah dia marah?
Aku menunduk tak berani memandangnya lagi.
***
Bersambung.
__ADS_1