Nikah Muda (?)

Nikah Muda (?)
24. X


__ADS_3

***


Mengetahui Rio menyukai Intan, aku jadi agak serba salah.


Sikap Dafa yang abuabu lah yang membuatku bingung. Dia suka Intan atau kak Arisya, masih belum jelas bagiku.


Rio pria baik. Padahal awalnya sulit sekali bicara dengannya yang pendiam. Tapi sekarang kami malah dekat. Meski sejak akhirakhir ini image coolnya memang berubah agak menjengkelkan tapi aku tetap menyukainya. Suka bukan dalam arti cinta sayang dan sejenisnya lho ya.


Jika Dafa memilih Kak Arisya, dan Rio benarbenar menyukai Intan, apa Intan bisa membalas perasaan Rio dan melupakan Dafa?


Aku ingin Intan tak terluka lagi karena Dafa, tapi aku tak ingin memaksa Intan mencintai Rio.


"Ngeselin kan si Rio itu. Dia ngasih jaket dan payung ke si Icha tapi aku dibawa hujanhujanan. Uhh padahal sebelumnya kita ngefans ya Fa sama dia. Tapi sekarang dia kok nyebelin," ucap Intan setelah menceritakan yang dilakukan Rio padanya.


"Hmm iyaaiyaa," jawabku dengan ngantuk. Aku iya kan saja lah.


"Kau dengar aku enggak sih? Malah tidur ish!" katanya sambil menggoncangkan tubuhku.


Tahu ah Tan, aku ngantuk banget. Plus pusing sebenarnya. Aku tak bisa bilang padamu tentang Rio dan Dafa yang sepertinya menyukaimu.


Aku takut perasaan Rio hanya sesaat, dan aku masih tak pasti dengan perasaan Dafa.


***


"Asyifa, ada tamu untukmu!" kata Risa saat aku baru pulang ngajar.


Tamu? Arsy kah? Tapi aku tak lihat ada mobil Arsy pun.


Dan dia pasti akan bilang kalau mau datang.


Saat aku masuk kulihat ada seseorang yang memang sangat kukenal. Dia tersenyum padaku.


"Hay!" ucapnya.


"Assalaamu'alaikum Pak Indra!" balasku.


Dia terlihat malu lalu menjawab salamku.


Dia mau apa kesini? Dia kan bukan pengawas kelompokku.


"Pacarnya Asyifa ya?" tanya Ana yang tadi pulang bersamaku.


Pacar apanya. Pacarku cuma Arsy saja!


Pak Indra malah mesemmesem, bukannya jawab ish.


"Dia dosenku!" jawabku.


"Oh dosen. Maaf ya Pak!" ucap Ana.


"Pak Indra ada apa ya kesini? Maksud saya, ini kan bukan kelompok yang bapak awasi," tanyaku.


Aku bahkan tak duduk, masih berdiri saat bicara dengannya. Tak sopan memang.


"Saya baru pulang dari tempat saya ngawas. Jadi saya sekalian mampir kesini," jawabnya.


"Oh!" jawabku.


Bukannya dari tempat dia ngawas kesini itu jauh banget ya. Mampir apanya.


Yaa Tuhan, segitu sukanya kah dia padaku? Aissshh pede sekali aku. Dia sampai datang kesini untuk menemuiku.


Tapi bagaimana pun dia dosenku. Aku masih menghormatinya dan tak ingin mempermalukannya di depan temantemanku.


Kami ngobrol cukup lama sebelum dia akhirnya pulang. Tapi tak hanya berdua aku dan dia, ada temantemanku juga.


"Dosenmu cakep!" kata Arini setelah Pak Indra pergi.


"Dia single, tackle aja kalau mau."


"Kau tak tertarik gitu Fa? Sepertinya dia baik orangnya. Masih muda dah jadi dosen. Keren!" timpal Risa.


"Aku gak boleh tertarik pada dia."


'Karena hanya ada Arsy di hatiku.'


Aku menyambung dalam hati.


"Karena dia dosenmu?" Tanya Arini. "Ayolah Fa. Gak ada salahnya dosen dan mahasiswanya menjalin hubungan. Dia single, kau single. Itu yang penting."


Aku memperlihatkan cincin yang Arsy kalungkan di leherku.


"Im already taken by someone," balasku tersenyum lalu pergi ke kamar.


Meskipun tak ada yang tahu aku sudah menikah, tapi mereka harus tahu kalau aku tak available lagi sekarang.


.


.


.


Aku sedang berbaring di kamar. Nanti sore sekolah diniyah libur jadi aku free. Intan dan teman sekamarku yang lain entah kemana.


Sendirian kayak gini biasanya aku akan selfie.


Aku mengambil ponselku lalu duduk di kasur dan mulai berselfie. Alay sekali memang.


Setelah puas, kukirim fotoku ke Arsy. Sengaja ingin mengganggu fokusnya. Wkwk!


Satu!


Dua!


Tiga!


Hampa!


Bahkan setelah hitungan ketiga tak terjadi sesuatu.


Baiklah, sepertinya aku harus menghitung lagi. Sepertinya sinyal di sana jelek. Kali ini sampai empat saja.


Satu!


Dua!


Tiga!


Empat!


Drrrttttttdrrrttttdrrrttt!


Yes!


Ponselku bergetar.


"Assalaamu'alaikum!"


"Sayang!"


Manja sekali suaranya. Yaa Tuhan! Aku cair.

__ADS_1


"Menjawab salam itu wajib Abang."


"Wa'alaikumussalaam. Kenapa kamu senang sekali menggoda Abang?"


"I did nothing."


"Mengirimi Abang foto seperti itu kamu bilang tak melakukan apaapa?"


"Itu hanya foto biasa saja Abang."


Padahal biasa saja. Hanya saja aku buka kerudung barusan. Sejak menikah aku berhenti fotofoto tanpa kerudung. Waktu selfie dengan Arsy pun aku belum melepas kerudung. Lagian terlalu beresiko, takut ada yang membuka ponselku. Meskipun sudah memakai password sih. Kemarin saja Rio sempat lihat wallpaperku. Untung waktu itu aku berkerudung.


"Rasanya pengen kesana untuk mengikat rambut panjangmu itu.'"


Dia terdengar geram. Jika orang lain senang sekali rambut kekasihnya terurai, Arsy malah sebaliknya. Dia tak senang duduk kalau rambutku terurai, biasanya dia akan mengikatnya. Aneh sekali dia.


"Datang saja kemari kalau bisa."


"Keluar sekarang!"


"Keluar kemana?"


"Abang sudah berada di depan kontrakanmu."


Wutttssss? Seriusan? Yaa ampun! Yang benar saja.


"Syifa, Abangmu sepertinya datang. Cepat keluar!" Delis berteriak sambil menggedor pintu kamar.


Aisshhh jadi benar Arsy datang? Aku segera memakai kerudungku dan keluar.


Arsy melambaikan tangan sambil bersandar di mobil saat aku keluar.


Yaa Tuhan, aku merindukannya.


Aku berlari ke arahnya lalu memeluknya. Aku bahkan tak menyalaminya dulu. Aisshhh isteri macam apa.


"Kangen!" ucapku.


Dia mencium pucuk kepalaku.


"Abang juga," katanya sambil melerai pelukan. Lalu dia mencium dahiku lama.


"Ini publik Bang!" ucapku setelah tersadar bahwa kami sedang di luar sekarang.


Aku mengajak Arsy ke dalam.


Beberapa temanku bahkan sudah berkumpul di ruang tamu.


"Syifa, kau tak mau memperkenalkan dia pada kami?" kata Risa.


"Kenalan aja sendiri," balasku sambil memeluk lengan Arsy.


"Hay ... saya Arsy. Salam kenal. Sorry waktu itu belum sempat memperkenalkan diri," ucap Arsy sopan.


"Abang single gak?" tanya Nelly tibatiba.


Aku memandang Arsy. Pengen tahu jawabannya.


"Saya sudah menikah," jawab Arsy membuat perempuanperempuan di depanku ini kecewa.


Aku malah senang dengan jawabannya.


"Yaahhh ... gak ada niat buka cabang gitu Bang?" tanya Nelly lagi.


Cabang? Nikah lagi gitu maksudnya? Awas saja kalau Arsy berani buka cabang segala macem, sebelum dia sempat gunting pita bakal ku guntinggunting dia duluan.


"Modal saya gak cukup buat buka cabang!" balas Arsy.


"Enggak juga."


"Kenapa? Isteri abang pasti cemburuan ya?" duga Ana.


Arsy memandangku.


"Bukan cemburuan sebenarnya. Dia hanya terlalu menyayangi saya," jawab Arsy pede.


Temantemanku sudah pada tersenyum mendengar jawaban Arsy itu.


"Senyumnya saja sudah sangat manis, tak perlu memberinya madu," tambah Arsy sambil mengernyitkan mata padaku.


"So sweet!" ucap makhlukmakhluk di depanku ini.


Gitu doang sweet?


"Ceritakan lagi tentang dia Bang!" ucap Arini bersemangat.


"Dia sangat nakal, tapi dia bisa jadi gadis pemalu di depan saya. Pipinya selalu memerah kalau saya mengusiknya sedikit saja. Luchu sekali. Jadi rasanya saya gak tega kalau harus membuat pipi merah itu basah karena tangisan. Sebenarnya, sekalipun dia ridho saya buka 'cabang' lain saya tetap tak bisa melakukannya. Saya yakin tak akan bisa adil. Saya akan selalu melebihkannya," luah Arsy.


Aisshhh aku sudah blushing pasti.


Mereka terus saja membahas Arsy dan 'isteri'nya itu. Sampai bagaimana awal kami ketemu pun mereka tanyakan. Semuanya saja ceritain. Temanteman yang tadinya diam di kamar masingmasing sudah pada keluar dan ikut mendengar cerita Arsy. Termasuk Dini.


"Sudahlah, kenapa malah bahas isteri Abang!" sampukku.


Yang sedang kalian bicarakan itu ada di depan mata kalian. Ish!


"Ish Syifa. Kami sangat tertarik banget dengan cerita Abang Arsy. Sepertinya kami jadi ngefans sama mereka. Sweet couple!" jawab Nelly.


Hadeuh terserah saja lah.


"Abang Arsy, kapan datang?"


tanya Intan yang baru datang entah darimana. Ada Helmi, Rio dan Hani juga.


"Tadi," jawab Arsy.


Lalu dia bersalaman dengan Rio dan Helmi.


"Tan, kamu apa kabar? Adek Abang ini makin kurus aja. Kalau Ayah tahu bisabisa kamu diangkut pulang," ucap Arsy pada Intan.


"Hehe kurus banget ya Bang? Kecapekan ngurusin Syifa manja ini kayaknya," jawab Intan sambil melirikku. Apaapaan dia.


"Abang sendirian kesini?" tanya Intan sambil celingukan.


"Memang kamu harap Abang datang sama siapa?" tanya Arsy mengusik.


Intan hanya menggeleng.


"Bukan siapasiapa," jawabnya lemah.


Rio sepertinya sadar perubahan nada suara Intan.


Aiishhhh Cinta banyak segi ini membingungkanku. Kirakira akan ada berapa hati yang patah?


"Dafa nitip salam, katanya kangen!" celetuk Arsy.


"Kalau mau bohong pun kirakira lah Abang. Aku ini bukan anak praPAUD. Pria kayak dia tak mungkin akan bicara gitu. Sudahlah tak usah bicarakan dia lagi. Btw, tadi kalian bahas apa? Rame banget," tanya Intan.


"Abang Arsy dan isterinya. Mereka itu sweet couple tau gak," kata Ana, senang sekali sepertinya.


Intan menjelingku, "Sweet couple apanya. Awalnya emang iya sweet. Tapi lamalama liat mereka mesramesraan di depanku itu rasanya ngeselin tahu gak. Seluruh rumah udah kayak area pribadi mereka saja."

__ADS_1


"Iri kau. Cepat nikah makanya. Aku malah suka tahu. Senang banget rasanya dimanjain di depan orang lain, itu artinya dia sayang kita. Dia tak malu untuk mengakui kita sebagai pasangannnya," belaku.


"Tapi gak harus nyiumnyium pipi dan kawankawannya di depanku juga kan? Itu namanya gak tahu malu." Intan masih tak mau mengalah.


"Ish justru itu bagian sweetnya. Aku suka!" balasku lagi.


"Jadi kamu suka?" tanya Arsy sambil memandangku.


"Erk?" aku menggaruk tengkukku yang tak gatal. Aisshhh apa yang harus kukatakan. Kalau jawab iya entar aku dianggap gatal. Kalau bilang gak suka, yaa aku suka banget.


"Kau bicara seolah kau isterinya saja, Syifa!" sampuk Rio.


Memang isterinya pun. Huft aku cuma bisa memuncungkan mulut.


"Pacarmu yang tadi, sweet juga kayak Abangmu ini gak?" tanya Dini.


Pertanyaannya apa banget sih itu.


"Pacar yang mana?" tanyaku tak mengerti.


"Yang tadi siang datang kesini," jawab Dini.


"Maksud si Dini mungkin dosenmu yang namanya Indra itu kali Fa!" jelas Ana.


Aissshhh Pak Indra? Aku memandang Arsy, dia terlihat tenang dan biasa saja. Apa yang dia pikirkan sekarang. Apa dia marah?


Aku memandang Intan meminta bantuan. Tapi Intan hanya menjungkit bahu.


"Pak Indra itu dosenku bukan pacarku. Dia kesini juga sekalian ngontrol kelompok KKN kita bukan untuk menemuiku saja. Kalian salah paham," terangku.


Kurasakan Arsy menggenggam tanganku. Apa dia percaya padaku? Aku menatapnya, dia tersenyum. Syukurlah.


"Ehm mumpung Abangmu di sini kita bisa bicara soal program kita saja. Abang, boleh minta waktunya sebentar gak?" tanya Helmi mengalihkan pembicaraan. Bagus sekali. Baru kali ini rasanya dia tak terasa menyebalkan.


"Iya boleh, kenapa?"


"Kelompok kami mau mengadakan program pemeriksaan kesehatan gratis. Sekalian mau mengadakan donor darah kalau memungkinkan. Nah Abang dokter kan? Kirakira rumah sakit tempat Abang kerja bisa gak bekerjasama dengan kami?" tanya Helmi lagi.


"Boleh saja. Nanti saya coba bicarakan dulu dengan atasan saya," jawab Arsy.


"Atasan Abang kan Ayah. Ayah sudah pasti mau bantu kita!" kata Intan dan itu sangat mengagetkanku.


Atasan Arsy itu Ayah? Kok aku gak tahu sih. Yang aku tahu Ayah kerja di kantor. Itu saja. Gak tahu kerja dalam bidang apa. Aku memang jarang mengambil tahu tentang sekelilingku. Semenyedihkan itu kah aku? Sampai tak tahu pekerjaan mertuaku apa. Intan bahkan lebih tahu.


"Ish kamu ini. Itu cuma formalitas saja. Lagian kalau langsung iya, itu terlalu enak buat kalian. Kalian tetap harus mengajukan proposal dulu sebelum kami setuju," kata Arsy pada Intan.


"Wkwk sorry Abang."


"Aku permisi dulu!" kataku lalu keluar.


Aku kok ngerasa buruk sekali. Aku sama sekali tak tahu apaapa. Dan bodohnya, aku tak pernah mau mencari tahu.


Aku ini terlalu cuek. Bahkan pada Arsy pun aku tak pernah peka.


"Kenapa duduk di sini?" tanya Arsy lalu duduk di sampingku.


"Gerah!" jawabku pendek. Aku tak mood bicara sekarang.


Aku tak marah pada Arsy, aku marah pada diri sendiri.


Dan sebenarnya aku malu padanya.


Tibatiba sesuatu yang hangat menyentuh pipiku.


"Better?" tanyanya.


"Abang, ini tempat umum!" kataku kesal karena Arsy menciumku.


Dia tersenyum lalu menarikku berdiri.


"Ayo cari tempat yang 'khusus' kalau gitu," kata Arsy sambil menarikku ke mobilnya. Dia sudah tersenyum nakal.


Aisshhh dia ini kan.


"So, kamu kenapa hurm?" tanyanya saat kami dalam mobil.


"Tak apa."


"Kamu itu stupid liar!" balas Arsy tersenyum.


"Huft aku tak pernah bisa berbohong kayaknya. Baiklah, jadi Abang bekerja dengan Ayah ya?" tanyaku.


"Jadi karena itu kamu badmood? Sebenarnya Ayah yang punya rumah sakit itu. Tapi dia gak secara langsung ngurus sih, Oom Abang yang ngurus sekarang. Ayah hanya mantau sesekali saja. Lagipun Ayah punya bisnis lain bareng Papa," terang Arsy.


"Cowry gak pernah ambil tahu tentang keluarga Abang. Aku orangnya benarbenar gak pedulian ya, Abang gak nyesel nikah sama aku?"


"Hey itu gak penting okay. Abang gak nyesel, malah bersyukur. Itu artinya kamu menerima Abang bukan karena Abang anak seorang pemilik rumah sakit dan blablabla. Lagipula kamu tak tahu tentang pekerjaan Abang, Ayah atau siapapun itu bukan berarti kamu tak peduli kan? Kamu jaga makan pakai Abang. Kamu perhatian sama Ayah dan Bunda. Kamu menyayangi Arisya dan Arsyad. Itu semua sudah cukup untuk Abang.


Halhal lain kamu bisa ketahui nanti pelanpelan. Kalau kamu tak tahu pun bukan masalah. Kalau tak tahu pun bukan salah kamu. Salah Abang karena tak mengatakan apaapa padamu, tak memberitahumu. Jadi jangan rendah diri dan menilai jelek diri sendiri karena hal itu. Abang kesini mau melepas rindu bukan mau lihat kamu sedih begini."


Aku memeluk Arsy, "cowry!"


"Sokay. Tak apa!" katanya seraya menepuknepuk punggungku.


"Kamu tak ikat rambutmu ya?" tanyanya sambil melepas pelukan.


"Tak sempat. Tadi langsung keluar pake kerudung pas tahu Abang datang," jawabku.


Dia mau membuka kerudungku, "hey mau ngapain?" kataku menahan tangannya.


"Mengikat rambutmu. Ayo cepat berbalik!" arahnya.


Dengan cepat dia membuka kerudungku. Untung kaca mobilnya gelap, tak akan terlihat apaapa dari luar.


"Kau sengaja kan mau menggoda Abang?" tanyanya sambil mengikat rambutku. Entah dapat karet darimana dia.


"Menggoda apanya. Bukannya Abang tak suka aku mengurai rambutku."


"Kamu salah. Rambut panjangmu itu selalu membuat Abang tergoda. Makanya Abang selalu memintamu mengikat rambut. Kalau tidak mungkin Abang akan menerkammu."


"Pervert!"


Arsy malah tertawa ish.


"Fotomu tadi benarbenar membuat Abang tak fokus."


"Sengaja."


"Abang sedang menyetir tadi. Untung sudah dekat sini," jawabnya sambil mengelusngelus kepalaku dengan geram.


Aku sudah berbalik lagi ke arahnya.


"Cowry again," kataku.


"Sokay. Btw, tadi Pak Indra beneran datang kesini ya?" tanyanya.


Aissshhh kupikir dia dah lupa tentang itu.


***


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2