Nikah Muda (?)

Nikah Muda (?)
12. Newlywed


__ADS_3

***


Aku duduk bersimpuh di tempat yang sudah disediakkan.


Kulihat ada Kak Arisya dan Bunda yang sedang tersenyum padaku. Tapi aku tak melihat Ayah. Tempat duduk para wanita dan pria memang sengaja dibuat terpisah.


Seseorang datang. Awalnya kupikir Arsy yang mendekat, ternyata itu Papa. Papa memelukku dan mencium kepalaku lama.


Papa menangis.


"Selamat Kakak. Akhirnya Kakak menikah juga. Kakak sudah jadi istri orang sekarang. Tapi meski begitu, Kakak akan tetap menjadi anak Papa. Hanya saja sekarang Kakak memiliki suami yang harus Kakak utamakan. Hormati dan patuhi suami Kakak selagi tak bertentangan dengan syari'at. Jadi istri yang sholehah. Papa sayang Kakak."


"Kakak juga sayang Papa. Terinakasih telah menikahkan Kakak. Halalkan makan minum Kakak selama ini," balasku yang masih dalam pelukan Papa. "Ini bukan mimpi kan, Pa? Kakak sudah benarbenar menikah kan sekarang?"


"Iya sayang."


Papa meleraikan pelukan.


"Sudah jangan menangis lagi. Tak cantik lagi nanti anak Papa."


.


.


Sekarang sudah waktunya untuk upacara pembatalan air wudhlu. Tradisi orang melayu.


Aku menundukkan kepalaku saat Arsy mulai mendekat. Jantungku semakin berdetak cepat seiring semakin dekat langkahnya padaku.


Bisa kulihat kakinya di depanku. Sekarang dia duduk di hadapanku.


"Tak mau pandang Abang?" katanya.


Aku semakin berdebar. Detakan jantungku rasanya tak terkendali lagi saat aku mendengar suaranya yang begitu dekat denganku.


Dia memegang daguku. Tangannya dingin. Tubuhku bergetar terasa sejuk dengan sentuhannya. Untuk pertama kalinya lelaki ajnabi menyentuhku.


Dia mengangkat daguku agar aku memandangnya.


DEG DEG DEG!


Waktu seakan berhenti saat mataku tepat memandang anak matanya.


Kulihat bibir itu tersenyum, senyum yang selalu membuatku terpesona seperti biasanya.


Kulihat ada luka goresan di wajah tampannya.


Pandanganku jatuh ke pelipisnya. Dia terluka.


"Abang kenapa?" tanyaku panik lalu tanganku refleks memegang pelipisnya yang diperban.


"Awwww!" aku meringis.


Iya aku. Dia yang terluka, tapi aku yang meringis.


Aku tak sadar yang kugerakan adalah tangan kananku yang masih belum pulih.


"Hey hatihati!" katanya lembut sambil memegang tanganku.


"Ehm!" deheman Intan menyadarkanku kalau bukan hanya aku dan Arsy yang ada disini. Ada banyak mata yang sedang memandang kami. Mereka tersenyum penuh makna.


"Pengantinnya sehati. Yang satu diperban, eh yang satunya juga ikutan," kata Intan membuat semua yang hadir tertawa.


Aku malu sekarang. Tapi rasa khawatirku lebih besar. Apa yang terjadi pada Arsy? Aku tak bisa berhenti menatapnya. Kenapa aku sedih melihatnya terluka.


"Nanti Abang jelaskan," bisiknya seolah memahami apa yang ada dibenakku saat ini.


"Sudah saatnya menyarungkan cincin sayang," kata Bunda yang berada di samping Arsy.


Aku memakaikan cincin di jari Arsy. Agak gak sopan memang karena aku menggunakan tangan kiri. Cincin yang Arsy pakai bukan emas tapi terbuat dari Titan (Katanya boleh kalau terbuat dari Titan, jika memang tidak boleh tolong beritahu aku kawankawan sekalian).


Tiba giliran Arsy untuk memasangkan cincin padaku. Aku memandang tanganku yang berbalut perban. Tak mungkin bisa kupakai cincinnya.


Tibatiba Arsy memakaikanku sebuah kalung yang terdapat cincin pernikahanku di dalamnya.


"Perfect!" ucapnya.


Aku terharu. Arsy sudah mempersiapkan semuanya.


Harusnya setelah ini aku mencium punggung tangan Arsy. Tapi lagilagi tak bisa kulakukan. Arsy kemudian mencium ubunubunku lama.


Jepretan kamera terdengar saat Arsy melakukan itu.


Ada yang menyuruh Arsy mencium pipiku juga. Gila!


Ini bukan konsumsi publik. Selain karena aku malu. Aku juga harus menjaga perasaan orang lain juga. Barangkali ada yang tak suka, siapa yang tahu kan.


Selesai pembatalan air wudhlu, aku dan Arsy sungkem pada orangtua kami. Bunda menciumi pipiku beberapa kali. Dia sepertinya bahagia sekali. Huaaa dan sekarang aku bisa memeluk Ayah juga, meski Ayah gengnya Intan tapi tetap saja aku yang bisa memeluknya sekarang. Cowry Intan.


Oh iya tak lupa kami sungkem pada Kakek juga. Aku cucu kesayangannya, dia pasti sedih melepasku seperti ini. Luph you Kakek!


Setelah itu para saudara dan kerabat kami bergantian mengucapkan selamat.


Entah berapa maaf yang kuucapkan tadi karena tak bisa bersalaman dengan mereka.


Aku sibuk melayan keluarga Arsy. Arsy sibuk melayan keluargaku. Ini kayaknya aku dan Arsy sengaja dijauhkan. Jahat sekali.


Sabarlah wahai hati. InsyaAllah aku punya waktu seumur hidup untuk bersama Arsy.


***


Sekarang aku berada di kamarku. Penat setelah seharian melayani saudara mara. Aku langsung membaringkan tubuhku di kasur. Kangen banget aku dengan kamar ini.


"Penat banget ya?"


Pertanyaan Arsy mengagetkanku. Sejak kapan dia ada di kamarku? Aku tak sadar dia masuk.


Aku bangun lalu duduk di kasur.

__ADS_1


"Iya," jawabku lemah.


"Abang sejak kapan ada di kamarku?"


"First, ini kamar KITA. Second, Abang sudah cukup lama disini, sampai bisa menikmati sedikit koleksi fotomu," katanya lalu melirik ke dinding kamar.


Aku menekup mukaku. Fotoku tanpa kerudung itu. Aissshhh!


Arsy mendekat lalu duduk di depanku.


"Jadi tak sabar liat real live nya," katanya menggoda.


Rasanya aku sudah semakin blushing sekarang. Dia malah tersenyum.


"Mandi dulu biar segar. Setelah itu kita berjama'ah Isya ya!" arahnya.


Kami memang belum sempat berjama'ah bersama karena tadi Arsy sholat di mesjid.


Aku turun dari ranjang lalu membuka lemari pakaianku.


"Ini handuk untuk Abang mandi," kataku sambil mengulurkan handuk yang kuambil dari lemariku tadi. "Abang mandi duluan saja. Aku lama kalau mandi."


Aku membongkar tas Arsy setelah dia masuk ke kamar mandi. Bukan karena tak sopan, tapi aku mau menyediakan pakaian untuknya. Aku sudah menjadi isterinya, sudah tugasku menyiapkan makan pakainya.


Sementara Arsy mandi aku turun ke kamar Intan. Memintanya melepas pakaianku. Keadaanku yang seperti ini membuatku terbatas melakukan apapun.


Aku mandi di kamar Intan.


Aku kembali ke kamarku dengan keadaan sudah lengkap bermukena.


Terlihat Arsy sudah menungguku di atas sejadah. Dia memakai baju yang kusediakan, aku merasa di hargai.


Untuk pertama kalinya kami sholat bersama sebagai suami isteri. Mendengar lantunan ayat Alqur'an yang Arsy baca membuatku tenang. MasyaAllah suaranya indah sekali.


Selesai sholat, Arsy mengajakku mengaji bersama. Dia membetulkan bacaanku yang salah. Dia juga menjelaskan arti dari surat yang kubaca.


Aku beruntung memilikinya sebagai suamiku.


"Biar Abang bantu," katanya saat melihatku kesulitan membuka mukena setelah selesai mengaji.


"Terimakasih," ucapku saat dia melepaskan mukenaku.


"Kasihmu Abang terima," jawabnya tanpa melepaskan pandangannya dariku.


"Ke ... kenapa Abang memandangku seperti itu?" tanyaku gugup.


Arsy menyentuh rambutku yang terurai.


"Cantik!" gumamnya.


Aku mengalihkan pandanganku.


"Ish sudahlah Abang. Abang membuatku malu."


"Haha kamu dah jadi tomato lagi sekarang. "


"Erk ... Abang."


"Ya?"


"Terimakasih karena mau menikahiku," ucapku tulus.


"Makasih juga sudi jadi istri Abang," balasnya lalu mengusap kepalaku lembut.


"Hmm Bang, pelipismu kenapa terluka?" tanyaku yang masih penasaran dengan lukanya.


"Kecelakaan saat akan kesini tadi. Abang memaksa mau menyetir sendiri. Untung cuma luka dikit," jawabnya dengan tersengih.


Kecelakaan? jadi karena itu dia terlambat datang tadi. Tapi apa benar dia hanya terluka sedikit?


"Sudahlah ayo kita tidur. Kita masih punya banyak waktu untuk bicara nanti!" ajaknya.


"Ti ... tii ... dur?"


"Iya tidur."


"Ab ... abbb ... ang. Aku ... aku belum .... "


"Hey kita hanya tidur saja. Jangan khawatir malam ini Abang tak akan apaapakan kamu," katanya.


Boleh dipercaya gak tuh katakatanya?


"Tapi kalau malammalam selanjutnya tak janji ya," sambungnya.


"Abang!" marahku.


Dia malah tertawa.


Setelah membereskan alat sholat tadi, kami kemudian merebahkan diri di kasur. Kami memang penat hari ini.


Tibatiba dia melingkarkan tangannya ke pinggangku. Menarikku ke dalam pelukannya. Apaapaan dia.


"Selamat malam!" katanya seraya mencium dahiku.


Akhirnya aku tertidur dalam pelukannya.


***


Aku terbangun dari tidurku. Wajah Arsy yang pertama menyapa mataku. Agak terkejut awalnya, tapi aku ingat kalau kemarin aku telah menikah.


Aku menatap wajah Arsy yang sedang tertidur itu. Masih tampan.


"Sudah puas memandang muka Abang?" tanyanya mengagetkanku.


Suaranya saat baru bangun terdengar seksi sekali. Aisshhh apa yang kau pikirkan Syifa.


Arsy tersenyum, "Pagi sayang!" ucapnya.

__ADS_1


Pertama kalinya Arsy memanggilku sayang.


Kenapa serasa ada taman di hatiku.


"Abang bangun. Kita sholat subuh dulu," kataku tanpa membalas ucapan selamat paginya.


"Bagaimana Abang bisa bangun kalau kamu memeluk Abang terus," jawabnya.


Seketika aku memandang tanganku yang memang elok nemeluknya. Apa yang kulakukan. Lagilagi aku malu.


Padahal semalam Arsy yang memelukku. Kenapa sekarang malah aku yang memeluknya.


Aku segera melepaskan pelukanku lalu bangun.


Arsy pun ikut bangun, duduk di sampingku.


"Kamu mau Abang bantu ambil air wudhlu?" tanyanya.


Aku tahu kali ini Arsy tak bermaksud menggodaku. Dia tulus ingin membantu.


"Tak usah tak apa. Aku bisa sendiri. Nanti wudhluku batal kalau Abang pegang."


"Yaudah sana wudhlu dulu," katanya sambil mengelus kepalaku.


Ini adalah hal yang sangat kusukai. Saat seseorang mengelus kepalaku, aku merasa sangat disayangi.


.


.


Arsy membantuku memakai mukena dengan hatihati karena takut menyentuh kulitku. Luchu sekali melihat ekspresinya saat merapikan mukenaku.


Seperti biasa selesai berjama'ah kami mengaji sebentar.


"Abang mau mandi sekarang gak? Biar aku siapin baju Abang," tanyaku saat merapikan sejadah.


Kami memang tak mandi dulu tadi, soalnya kami bangun kesiangan. Waktu subuh dah mau habis.


"Kamu duluan saja."


"Ehh aku mandi di bawah saja, Bang."


Arsy mendekatiku. Memegang bahuku.


"Kamu isteri Abang sekarang. Abang tahu kamu masih malu pada Abang. Tapi mulai sekarang kamu harus membiasakan diri. Abang tahu kita baru saling mengenal, tapi kita juga bukan nikah paksa kan?


Dan kamu harus ingat, tak selamanya Intan akan tinggal bersama kita kan? suatu saat dia akan tinggal dengan suaminya. Kamu harus membiasakan diri meminta bantuan Abang mulai sekarang. Ayo sekarang kamu mandi saja di sini. Biar Abang yang bantu kamu melepas pakaian, tenang saja Abang tak akan mengambil kesempatan pada tubuhmu. Abang tahu kamu hak Abang, tapi Abang juga tak boleh memaksa kamu melakukan hal tanpa seizinmu. Jadi izinkan Abang?"


Omongan Arsy tadi benar juga. Sekarang atau nanti juga sama saja pasti rasa malu itu akan tetap ada, dan itu wajar. Cepat atau lambat aku harus terbiasa dengannya.


Aku mengangguk mengiyakan.


***


Aku menyiapkan pakaian Arsy seperti semalam. Setelah membantuku berpakaian, giliran dia yang mandi.


Aku memang malu sekali tadi tapi Arsy bukannya mengapaapakan aku pun. Apa yang harus kukhawatirkan.


"Arrrrggghhh!" teriakku saat melihat Arsy keluar kamar mandi hanya dengan memakai handuk saja. Pertama kali liat pria begitu di depanku. Badannya tough sekali. Aisshhh Syifa!


Aku yang sedang menyisir rambut langsung menjatuhkan sisirku.


"Kamu kenapa?" tanyanya sambil tertawa. Dia mengambil baju yang kusediakan lalu memakainya tanpa segan silu. Gila! Dia tak tahu apa aku ada di sini. Apa dia tak malu. Ish! Aku segera mengalihkan pandanganku.


Dia yang begitu, tapi aku yang blushing.


"Syi, kamu punya first aid kan?" tanyanya sambil membantu mengikat rambutku. Tahu saja aku sedang kesulitan.


"Ada. Kenapa?"


Eh dia memanggil aku 'Syi' kok rasanya aneh ya, tapi aku suka.


"Mau ganti perban."


Aku pun mengambilkan kotak first aid untuknya. Dia duduk di depan cermin lalu mulai membuka perban di dahinya.


"Biar aku yang lalukan," ucapku.


Aku pun menyuruhnya menghadapku, lalu membantunya membuka perban yang ada di pelipisnya. Tapi susah. Tanganku juga luka soalnya.


Aku mengambil kursi lalu duduk di hadapannya.


Uhh tetap saja susah melakukannya. Dia tinggi meski duduk begitu.


Mau membantu tapi malah menyusahkan.


Arsy tertawa mengekek.


Aku menunduk, menggigit bibir.


Arsy berdiri lalu menarikku ke kasur. Menyuruhku naik ke atas kasur. Mau apa dia? Ya Tuhan!


Arsy merebahkan kepalanya di pahaku.


"Ayo lakukan!" katanya.


"Hah apa?" aku masih bingung.


"Mengganti perban Abang."


"Hah. Oh iya!"


Dengan posisi seperti ini memang lebih mudah bagiku melakukannya.


Selesai mengganti perbannya aku minta izin keluar kamar untuk membantu Mama di dapur. Meskipun aku pasti tak akan membantu apaapa pun sih di dapur, tapi lamalama berduaan dengan Arsy di kamar membuatku tak karuan.


***

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2