Nikah Muda (?)

Nikah Muda (?)
8. Akhirnya


__ADS_3

***


Beberapa hari telah berlalu. Tapi aku sama sekali tak mendapat kepastian. Keluargaku diam saja tak sekali pun membahas tentang kelanjutan perjodohan itu. Aku pun sudah tak ingin bertanya lagi.


Arsy tak pernah menghubungiku lagi.


Keluarganya tak terlihat sejak hari itu. Rumah sebelah itu terlihat kosong, sepi.


Sepertinya Kakek memang tak merestui. Uhh sudahlah. Aku sudah tak mau memikirkannya lagi. Lusa ujian akhir akan dimulai. Aku harus fokus pada ujian itu.


"Tan, bilangin Mama aku pergi dulu ya. Mau ke toko buku," ma'lumku pada Intan.


"Mau aku anterin?" tawar Intan.


"Gak perlu. Aku naik angkot aja. Deket ini kok. Assalaamu'alaikum!"


"Wa'alaikumussalaam!"


Sudah sejam aku berada di toko buku. Pergi ke toko buku bukan karena mau beli buku, tapi hanya untuk mainmain saja. Menenangkan pikiran. Karena sudah terlalu lama, akhirnya aku mengambil tiga buah komik secara acak lalu mengantri depan kasir untuk membayar.


BUKKK!


Kurasakan diriku menabrak seseorang saat keluar dari toko buku.


"Maafmaafmaaf saya tak sengaja," ucapku.


"Syifa?" tanya orang itu.


Aku mendongakan kepala.


"Pak.Indra? Eh maaf ya, Pak. Gak sengaja tadi."


Ternyata yang kutabrak tadi itu adalah dosenku. Namanya Indra. Dosen Bisnis Internasional. Dia termasuk dosen yang disukai temantemanku, karena dia masih muda, tampan dan belum menikah.


"Wahh kamu rajin ya main ke toko buku. Pasti buat persiapan ujian ya," pujinya.


Aku hanya tersenyum sumbang.


Rajin apanya. Dia gak tahu saja apa yang kubeli. Kalau dia tahu aku cuma beli komik pasti dia akan langsung tarik balik katakatanya.


"Kamu sendirian? Saudaramu mana? Bukannya kalian tak pernah terpisahkan."


"Intan? Dia ada di rumah, tak ikut."


"Ohh setelah ini mau kemana?" tanyanya lagi.


"Entah. Pulang mungkin."


"Gimana kalau saya traktir kamu makan. Mau?"


"Maaf Pak bukannya gak mau, tapi saya gak enak ngerepotin Bapak. Saya pulang saja. Lagipula saya sudah makan tadi."


Kalau bersayasaya gini malah jadi ingat Arsy. Hah sudahsudah lupakan. Kenapa aku ingatingat dia lagi.


Sekarang fokus lagi nih ke Pak Indra.


Makan berdua dia? Uhh gila. Aku tak biasa makan berduaan dengan pria.


"Ayolah. Kalau pun kamu tak makan, temani saya makan saja. Sekalian ada yang ingin saya katakan mengenai tugas kuliah kemarin," bujuknya lagi.


"Baiklah!" kataku akhirnya.


Aku mengikutinya ke sebuah tempat makan di dalam mall.


Dia mengantri untuk membeli makanan, sementara aku menunggunya di meja yang masih kosong.


Setelah beberapa lama, dia datang sambil membawa makanan. Tibatiba dia menaruh segelas eskrim di depanku.


"Untukmu!" katanya.


"Makasih!"


Saat dia mulai makan. Aku hanya menguisnguis eskrim. Tak nyaman berduaan seperti ini. Harusnya tadi aku terima tawaran Intan untuk menemaniku.


"Syifa, kamu dengar saya kan?" tanyanya mengagetkanku.


"Ah ... iya Pak!" bohongku.


Pak Indra mulai bicara lagi. Tapi aku tak begitu mendengarkan. Aku iyaiyain saja meski tak mengerti.


"Setelah ini bagaimana kalau kita nonton. Katanya ada film bagus lho sekarang," ucap Pak Indra saat makanannya sudah hampir habis.


"Setelah ini saya mau pulang saja, Pak. Sudah sore!" jawabku.


"Kalau gitu saya antar kamu pulang ya."


"Tak usah Pak. Tak apa."


Gila! Bisa dimarahin Papa entar kalau aku diantar pria.


Diselasela obrolan kami, aku mencoba mengirim pesan kepada Intan berulang kali agar meneleponku.


"Syifa, saya ke toilet dulu ya."


Saat Pak Indra ke toilet tibatiba ponselku bunyi. Aissshhh bukannya telepon dari tadi. Kenapa nelponnya pas Pak Indra tak ada. Ish


"Tan, kenapa baru telepon? Kau telepon aku sebentar lagi ya. Aku terjebak bareng Pak Indra nih di mall. Kau jemput aku kalau bisa."


"Assalaamu'alaikum Syifa!'"


DEG


Suara di ujung talian sana mematikan kataku.


Aku segera melihat nama pemanggil. Memang dia!


Aku segera mematikan teleponnya.


Kenapa dia? Bodoh kau Syifa!

__ADS_1


"Syifa, kamu tak apa?" tanya Pak Indra yang baru kembali dari toilet.


"Ehh tak apa kok Pak."


Seketika ponselku berbunyi lagi. Kulihat Intan yang memanggil.


"Maaf Pak!" Kataku pada Pak Indra lalu mengangkat telepon di depannya. "Assalaamu'alaikum, Tan ... Nanti ya di rumah ... Okeh kau di mana sekarang? ... Sudah di depan? Yaudah aku kesana sekarang ... Assalaamu'alaikum!"


Tuttttt!


"Pak Indra, Intan sudah jemput. Saya pulang duluan ya, Pak. Makasih eskrimnya. Assalaamu'alaikum!"


Aku langsung pergi sebelum Pak Indra membalas salamku. Aku tak betah berlamalama dengannya, meskipun di depan umum tapi tetap saja aku takut ada fitnah.


Aku berjalan terburuburu sampai tak sadar menabrak orang lagi dan bajuku basah terkena minuman yang orang itu bawa.


"Ish garagara Pak Indra ish," gerutuku.


Aku pergi begitu saja tanpa minta maaf. Uhh aku sedang tak fokus banget. Selain karena Pak Indra, telepon dari Arsy tadi membuatku hilang fokus juga.


Di depan mall sudah ada Intan yang menungguku.


Dia mengerutkan kening saat melihat bajuku yang kotor dan basah.


"Aku cerita di rumah. Kuy berangkat. Btw, thanks udah datang jemput," kataku saat naik ke motor Intan.


***


"Jadi Pak Indra ngajak kau makan?" tanya Intan.


"Yupz. Dan aku tak selesa karena cuma berdua aja."


"Kenapa kau sepertinya tak suka padanya? Padahal dia kan baik, tampan pula. Coba aja dekati dia. Temanteman kita bahkan ngejarngejar dia," kata Intan memuji Pak Indra.


"Kau sendiri kenapa tak suka dia?" tanyaku balik nanya.


"Aku kan sudah punya Abang Dafa."


"Aku juga kan udah punya Arsy!"


Ups! Aku menekup mulut tak percaya dengan apa yang baru saja kuucapkan sendiri.


"Lupakan yang barusan. Aku ke kamar dulu mau mandi!"


Aissh kenapa Arsy Arsy Arsy lagi. Kenapa aku ingat dia terus. Sampai tadi pun chat yang kukirim bukan hanya terkirim pada Intan saja tapi padanya juga. Pantas saja dia meneleponku tadi.


Uhh aku benarbenar sudah angau akut kayaknya.


Daripada aku memikirkannya lebih baik memikirkan ujian saja. Eh tapi sebelum belajar aku mending mandi atau makan dulu yaa. Ah mending baca dulu komik yang baru kubeli tadi.


***


.


.


Huft hari ini panas sekali. Dan aku harus jalan kaki dari gerbang perumahan ke rumahku. Intan masih di kampus karena disuruh bantuin temannya dulu tadi. Jadinya aku pulang sendiri deh naik angkot sampai depan gerbang perumahan.


Saat aku melewati rumah Bunda, aku kaget karena gerbang rumahnya terbuka sebagian. Sepertinya keluarga Bunda sudah pulang lagi ke rumah ini.


Aku mendengar suara anak kecil.


Sah itu suara Arsyad. Aku yakin banget itu Arsyad. Aku kangen banget sama dia.


Aku intip sedikit. Terlihat Arsyad sedang digendong seseorang. Siapa ya itu. Oemjiii janganjangan itu Papanya Arsyad. Selama ini kan kami memang tak pernah tahu siapa dan bagaimana Papa Arsyad.


Uhh tapi aku tak bisa lihat dia dengan jelas, dia membelakangiku. Pakai topi pula tuh. Dan sekarang malah masuk rumah. Ish!


Tak apalah, entar aku purapura main ke rumahnya saja. Hihi.


.


.


"Assalaamu'alaikum!" laungku.


"Wa'alaikumussalaam!"


Salamku dijawab serentak oleh semua orang dalam rumah.


Aku mematung di depan pintu.


"Apa kabar sayang?" kata Bunda yang langsung meluru ke arahku dan memelukku erat.


"Ba ... baik. Bunda kemana aja?"


Bunda melepaskan pelukan, dia hanya tersenyum memandangku.


"Sudahlah Bund. Sekarang giliran Sya memeluk Ateunya Ichad ini," kata Kak Arisya yang muncul di belakang Bunda.


Dia juga memelukku.


Ayah yang sedang duduk di samping Papa, juga melambai kepadaku. Iyalah masa iya Ayah mau ikut memelukku juga. Haru nanti.


Aku keliru. Kenapa keluarga Bunda ada di rumahku semua?


"Hey ngelamun!" sergah Kak Arisya membuatku tersentak.


"Kalian kemana saja?" tanyaku.


"Kau mandi dulu sana. Kita bicaranya nanti saja. Sanasana mandi!" suruh Kak Arisya sambil mendorongku agar pergi naik ke kamar.


Aku yang linglung cuma menurut saja.


Selesai mandi aku turun, di ruang TV semuanya berkumpul. Bahkan Intan pun sudah pulang, saat ini kulihat dia sedang asik ngobrol bareng Ayah dan Kak Arisya.


Ayah ini memang gengnya Intan, sementara aku lebih dekat dengan Bunda.


Arsyad sedang main sama Mama.

__ADS_1


"Ichaadd!" teriakku membuat semua orang memandangku.


Anak kecil itu berlari kepadaku lalu memelukku.


"Ateu kangen. Ichad kemana saja? Kenapa gak ngasih kabar ateu? Ateu sedih tahu gak bisa main sama Ichad," luahku.


"Ateu Fafa jangan sedih. Ichad sayang ateu!" ucapnya lalu mengeratkan pelukan kami.


"Sudahsudah. Kakak, ayo kesini. Duduk di samping Papa," arah Papa.


Aku duduk di samping Papa sambil mendudukan Arsyad di ribaku.


"Ateu Fafa, Ichad mau pipis!"


"Ayo sama Oom!" belum sempat aku bersuara Dafa sudah memintasku. Dia menuntun Arsyad menuju kamar mandi.


"Mereka seperti ayah dan anak saja ya," kata Papa sambil mengikik kecil.


"Arsyad memang dekat sekali dengan Dafa. Mungkin karena Dafa bisa memberikan kasih sayang yang gak di dapat Arsyad dari seorang ayah," sambung Ayah pula.


"Memang Papa Arsyad kemana?" tanya Intan.


"Meninggal waktu Arsyad berumur empat bulan. Kecelakaan," jawab Kak Arisya sayu tapi masih tetap berusaha menampakkan senyuman.


"Sorry!" kata Intan seraya menggenggam tangan Kak Arisya.


"Sokay. Aku tak apa," jawab Kak Arisya.


Suasana tibatiba berubah jadi haru gini.


Eh wait ... kalau Papa Arsyad dah meninggal, terus yang tadi gendong Arsyad di rumahnya siapa?


Yaa Allah. Kenapa bulu kudukku merinding? Janganjangan itu arwah Papa Arsyad, meninggal kecelakaan sih jadi gentayangan.


Aisshhh Syifa, Stop ngawur! Mana ada arwah gentayangan.


"Terus yang tadi gendong Ichad di rumah sebelah itu siapa? Kupikir itu Papanya Ichad," tanyaku polos.


"Mungkin itu Arsy," jawab Kak Arisya.


"Ohh Arsy!" aku menganggukngangguk mengerti. Ternyata bukan hantu. Alhamdulillah.


"Eh ARSYYY?" teriakku dengan mata terbelalak.


Yang tadi kulihat itu Arsy? Dia ada disini? Yaa Tuhan. Serius yang tadi itu Arsy?


Hatiku berdebar lagi.


Yang lain hanya tertawa melihatku terbelalak. Bahagia sekali mereka melihatku seperti ini.


"Tadi Arsy kesini mengantar kami. Saat kau mandi tadi dia pulang lagi ke rumahnya soalnya harus kerja lagi," terang Kak Arisya.


Ohh pulang lagi. Yaahh aku belum sempat bertemu dengannya. Kenapa dia tak mau menemuiku dulu ya.


Eh tapi aku memang tak ingin bertemu dengannya juga sih. Segan.


"Mukamu kenapa sedih gitu? kecewa gak sempet ketemu Arsy?" ledek Intan.


Cihhh aku menjuihkan bibir ke arahnya.


"Tenang aja, kalau dah nikah nanti kau bisa liat dia sepuasnya," sambung Kak Arisya.


Intan dan Kak Arisya ini memang sudah jadi geng banget. Senang banget mengusik aku.


"Karena ujian akhir semester dah selesai jadi kita bisa mulai bicarakan masalah pernikahan kalian," kata Bunda tibatiba.


Hah maksudnya apa?


"Pernikahan? Ujian? Apa hubungannya? Siapa yang akan menikah?" tanyaku bingung.


Saat aku bertanya, Dafa dan Arsyad muncul lalu duduk bergabung bersama kami.


"Ehm jadi gini, Kak. Kakek dah merestui Kakak dengan Arsy. Tapi Kakek minta ini dirahasiakan dulu sampai Kakak beres ujian. Kakek takut Kakak jadi tak fokus ujian karena memikirkan masalah pernikahan," jelas Papa.


"Justru karena kalian rahasiakan ini aku jadi tak fokus ujian tahu," kataku tak puas hati. "Kupikir Kakek gak merestui. Aku jadi hilang fokus karena memikirkan itu."


"Keliatan jelas kok!" sampuk Intan sambil mengekek dengan Kak Arisya. Ish!


"Maafkan kami ya, Kak. Kami gak tau kalau Kakak malah jadi tak fokus."


"Sudahlah lupakan," balasku.


"Satu hal lagi, Kak. Kakek ingin Kakak menikah dua minggu setelah Kakak selesai ujian."


"Wuttttsssss!" kataku kaget.


"Makanya Ayah kemarin gak pulang kesini, sayang. Ayah langsung pulang kampung untuk memberitahu kerabat kami," kata Ayah. Bunda di sisinya mengangguk mengiyakan.


"Perkara baik kenapa harus ditundatunda. Lagipula nunggu lamalama juga untuk apa kan. Oh iya Kakek juga menyuruh Arsy, kalau bisa sebaiknya dia tak menemui Kakak sebelum kalian menikah," tambah Papa.


Aku memang segan untuk bertemu Arsy. Terbaik nih Kakek. Tahu aja keinginanku.


Tapi aku penasaran pengen tahu wajahnya. Mereka tak memberikanku foto Arsy. Ish! Janganjangan takut aku berubah pikiran setelah aku melihat muka tuanya Arsy. Ehh Astaghfirullah.


"Kamu gak masalah kan?" tanya Mama.


Aku menggeleng.


"Tapi Syifa punya syarat."


Mereka terkejut lalu menatapku.


"Jangan ada resepsi sekarang plisss. Adakan perkara yang wajib aja yaitu Akad. Hanya mengundang saudara dekat saja. Kalau mau resepsi, adakan setelah Syifa lulus kuliah nanti. Kita undang semua temanteman," pintaku.


"Kita memang hanya akan mengadakan Akad dan syukuran sederhana di pesantren saja. Resepsinya memang akan menunggu kamu lulus nanti," jawab Mama.


Syukurlah. Aku lega. Aku takut batal lagi. Aku tak mau kejadian kemarin terulang lagi. Sudah nyebar undangan pada temanteman Mama Papa bahkan beberapa teman dan dosenku juga, tapi nikahnya tak jadi. Memalukan.


"Ehh btw ujian akhir semester Syifa belum berakhir. Syifa masih ada satu kali ujian lagi tahu nanti hari senin."

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2