
“Hahaha,ayahmu sudah tamat sekarang tinggal ibumu dan setelah itu adik adikmu.Varyn Arletta tunggu aku.”
“Tuan,apa tugas kami selanjutnya?”
“Cari rencana untuk korban selanjutnya.”
“Baik tuan.”
Ditempat Ern dan Vin
“Nona,sekarang sudah waktunya untuk,” Vin terdiam saat melihat nona nya memegang pisau. “Eh nona jangan lakukan itu.” Vin langsung berlari dan mengambil pisau itu. “Hei,kembalikan itu!”
“Nona,jangan bunuh diri. Itu tidak baik.” Ern mengkerutkan dahinya ketika Vin mengatakan itu. “Memangnya siapa yang mau bunuh diri?”
“Itu tadi nona pegang pisau.”
“Itu hanya pisau mainan,memangnya apa yang kamu tahu!” Ern mengambil kembali pisau yang ditangan Vin. “Pisau mainan? Nona itu bukan pisau mainan.” Ern memukul Vin menggunakan pisau mainan tersebut. “Bagaimana,apa sakit?”
“Eh tidak sakit pun.” Vin meraba tubuhnya ketika merasa tidak ada yang sakit. “Jadi itu benar benar pisau mainan nona?”
__ADS_1
“Ck,kalau ini pisau asli kamu sudah meninggal dari tadi.”
“Ehm ehm,nona sekarang waktunya istirahat makan siang.”
“Hm ya.” Sesudah Ern keluar Vin melihat pisau itu lagi dan bergidik ngeri lalu berjalan keluar mengikuti nonanya.
'Rasanya malu sekali,lagipula kenapa pisau itu terlihat seperti pisau asli sih.' Vin.
'Hahah,lucu sekali aku tidak berpikir bahwa kamu akan menganggap itu pisau asli.' Ern.
Berganti lagi ketempat Var
“Ehm,kalian menonton dulu ya.” Var sudah akan berdiri tetapi ia diam saat Yelena mengatakan sesuatu. “Tapi Len belajar kak bukan nonton kayak kak Ar.”
“Ah iya,Len rajin belajar yang betul ya Ar juga.” Var mengusap kepala Ar dan Len. Sesudahnya Var langsung berjalan ke kamar ibunya dan mengetuk pintu.
Tok tok
“Ibu,apa Var boleh masuk?”
__ADS_1
Tidak ada jawaban selama beberapa menit. Var pun mengetuk pintunya lagi.
Tok tok
“Ibu,ini Var apa aku boleh masuk?”
Tidak ada jawaban lagi dan Var melakukannya sekali lagi,tetapi tetap tidak ada jawaban. Hingga ia memutuskan untuk membuka pintunya langsung dan pintu itu terbuka setelahnya terlihatlah ibu Var sedang tidur sambil memluk foto ayahnya.
“Ah ibu sedang tidur ternyata.” Var pun keluar lagi dari kamar ibunya. Beberapa jam kemudian,terlihat waktu sudah menunjukkan pukul 18.30 dan ibu Var masih tertidur dan Var memutuskan datang kembali ke kamar ibu untuk membangunkannya.
“Ibu,bangun ini sudah jam 18.30.” Var mengoyangkan tangan ibunya. Tidak ada tanda bahwa ibu akan bangun ia pun mengulanginya lagi. “Ibu,bangun ini sudah jam 18.32.”
Tiba tiba Var tersadar bahwa tubuh ibunya sangat dingin juga terlihat pucat. Var pun membangunkan ibunya lagi tetapi tetap tidak ada jawaban. “Ibu,ini sudah jam 18.35 apa ibu akan terus tidur. Bangun ibu.” Var menggoyangkan tangan ibunya semakin cepat. Hingga akhirnya ia kembali menangis. “Kenapa ibu pergi sangat cepat. Padahal ayah baru saja meninggalkan kami tadi dan sekarang ibu juga meninggalkan kami,”
Saat Var sedang menangis datanglah Ar dan Len. “Kakak,kenapa menangis?” Tanya Len pada Var. Var tidak menjawab dan malah keluar dari kamar menelepon pihak rumah sakit.
Drett drett
“Cepatlah diangkat,cepatlah.” Saat panggilan terhubung. “Diangkat!”
__ADS_1