
Elina masih setia membututi Morgan di belakang pria itu. Karena saat ini, kekasihnya itu sedang menuju ke dalam pusat perbelanjaan. Hingga saat kedua insan itu berhenti di salah satu store, Elina bersembunyi untuk memantau mereka.
Sementara Viola dan kekasihnya juga tengah mengikuti kemana Elina pergi. "Baby, apa yang terjadi sebenarnya?" tanya kekasih Viola yang bernama Nathan Nicholas.
"shutt ... Baby diam sebentar, kita harus segera menemukan keberadaan sahabat aku." Jelasnya pada kekasihnya itu.
Hingga Nathan menurut dan mengikuti kemana Viola membawanya untuk mencari keberadaan Elina yang tak kunjung mereka temukan.
Sementara Elina yang tak tahan untuk segera menghampiri Morgan. Menggunakan kesempatan saat wanita yang bersama Morgan tengah pergi, sepertinya ke toilet. Elina tak perduli kemana, yang terpenting dirinya harus segera menyusul kekasih nya itu.
"Morgan!" panggilannya, yang membuat pria itu menoleh ke arah sumber suara.
Pandangan Morgan menyorot pada gadis yang dengan tergesa-gesa menghampiri dirinya. Morgan sama sekali tak merasa terkejut dengan kehadiran Elina, justru pria itu merasa senang karena Elina mengetahui kelakuannya yang masih mempermainkan wanita.
"Bukankah tadi kita punya janji. Tapi kenapa kamu bisa kesini sama wanita tadi?" tanya Elina yang merasa tak percaya.
Padahal belum lama dirinya membatalkan rencana bertemu dengan pria itu. Tapi Morgan sudah berada di sini bersama perempuan lain pula. Betapa dirinya tak mengerti dengan situasi yang terjadi.
"Hm tapi lo udah batalin pertemuan kita. Jadi hak gue kalau mau pergi sama siapa." Ujar Morgan tampak acuh tak acuh. Tak pernah dirinya memikirkan perasaan gadis yang berstatus kekasihnya itu.
Dan Elina yang mendengar jawaban dari pria yang merupakan kekasihnya itu, hanya mampu menghela nafasnya dengan lelah. Tak heran jika Morgan akan bersikap seperti itu pada dirinya.
"Siapa perempuan tadi, Gan?" tanya Elina menatap lekat kekasih nya itu.
Elina sungguh merasa penasaran dengan wanita yang bersama Morgan. Karena sebelumnya Elina belum pernah melihat wanita itu.
Ya, meskipun selama ini juga begitu. Elina tak pernah mengenal wanita-wanita yang dijadikan pacar oleh kekasihnya itu, selain gadis di kampus mereka.
"Cewek gue" jawab Morgan dengan singkat, tanpa perduli dengan respon Elina akan bagaimana.
__ADS_1
Elina lagi-lagi hanya mampu menghembuskan nafasnya dengan kasar. Rasanya sulit sekali memahami Morgan, dan sulit pula membuat Morgan memahami dirinya.
Sepertinya Elina memang harus mengambil tindakan segera untuk membicarakan hubungan mereka baiknya bagaimana. Supaya tak ada kesenjangan dan penderitaan apapun lagi seperti saat ini.
"Gan, sepertinya kita harus bicara serius sekarang." Ujar Elina dengan tegas.
"Lo udah ngomong dari tadi." Jawab Morgan dengan ketus."
Elina berusaha bersabar menghadapi sikap Morgan yang sebenarnya cukup menguras kesabaran dam membuatnya kesal. Memang salahnya tetap mempertahankan pria yang tidak memiliki perasaan kepadanya.
Namun apalah daya, Elina sungguh mencintai pria yang tak memiliki perasaan kepadanya itu. Betapa bodohnya dirinya, pastilah orang akan berpikir demikian jika melihat dirinya seperti ini.
"Aku mau kita bicarain tentang hubungan kita. Tapi bukan di sini, Gan. Kita pulang ke rumah kamu." Jelas Elina mengajak Morgan untuk segera pulang ke rumah pria itu.
Karena tak mungkin di tempat lain, karena rumah Morgan lebih privasi. Sementara jika di rumah Elina, lebih tidak mungkin. Karena ada kedua orangtua nya yang pasti turut ikut campur nantinya.
***
"Itu El, ayo beb kita kesana." Ajak Viola dengan semangatnya menarik tangan Nathan.
Namun langkah mereka terhenti kala mendapati Elina tak sendirian, namun bersama Morgan. Nathan juga mengenal status Morgan sebagai kekasih Elina.
Jika dihitung-hitung, hubungan Elina-Morgan dibandingkan Viola dan dirinya, hampir sama lamanya menjalin hubungan. Sama-sama dua tahun lamanya. Karena mereka juga menjalin hubungan semenjak di sekolah menengah atas, di kelas dua belas.
"Sepertinya Morgan masih tetap orang yang sama." Tutur Nathan saat melihat bagaimana interaksi Morgan yang tampak tak memperdulikan Elina sama sekali. Padahal Elina sedang mengajak berbicara pria itu.
Viola memutar bola matanya malas, kekasihnya itu sejak dulu juga tak berubah. Ucapan dan perkataannya suka enteng sekali keluar dari mulutnya. "Kamu juga masih orang yang sama, Baby."
"Ck tentu saja, kalau beda kamu gak akan mau sama aku, Beb." Jawab Nathan dengan terkekeh.
__ADS_1
Sementara Elina yang masih berusaha membujuk Morgan untuk pulang, tampak mulai merasa kewalahan. Sulit sekali mengajak Morgan pergi kala sudah asik dengan dunianya seperti ini.
"Gan, kita harus cepetan pulang." Ajak Elina lagi.
Namun belum sempat Morgan menanggapi, seorang wanita yang datang bersama Morgan tadi datang menghampiri mereka. Membuat Elina menatap tajam ke arah perempuan itu.
"Dia siapa, sayang?" tanya wanita itu dengan bergelayut manja di lengan Morgan.
Sontak hal itu membuat Elina merasa geram dan marah tentunya. Apalagi saat pria yang merupakan kekasihnya itu tak menolak sedikitpun perlakuan wanita itu.
"Gue istrinya." Jawab Elina dengan tegasnya. Membuat dua pasang mata yang mendengar perkataan itu sontak membulat sempurna. Siapa lagi jika bukan Morgan dan wanita itu.
"Morgan, jadi lo udah punya istri?! Dasar! masih aja gatel sama yang lain." Ujar wanita itu dengan marah. Kemudian melepaskan tangannya yang bergelayut manja tadi, dan pergi dari hadapan kedua sepasang kekasih itu.
Elina tampak mengulas senyuman kala mendapati wanita itu percaya dengan kebohongannya. Namun senyuman itu surut kala netranya mendapati tatapan tajam yang Morgan layangkan untuknya.
"Bisa, sekali aja jangan ganggu urusan gue?!" Ujar Morgan dengan tegas dan datar. Pria itu melangkahkan kakinya bergegas meninggalkan Elina yang hanya mampu menghela nafas panjangnya.
Daripada terdiam memikirkan sikap Morgan yang tak pernah manis padanya. Elina memilih untuk segera menyusul kekasihnya itu yang terus melangkah meninggalkan tempat mereka semula.
Namun langkah Elina terhenti, kala suara Viola memanggil namanya. Elina mengalihkan pandangannya pada sumber suara, didapati sahabat nya itu sedang bersama kekasihnya terlihat lelah.
"Dari tadi kita cariin lo, cepet banget lo jalannya." Omel Viola yang merasa kecapekan mencari keberadaan Elina.
"Sorry guys, gue harus nyamperin Morgan tadi. Dan sekarang gue juga harus kejar dia, sebelum dia pulang duluan." Jelas Elina segera melangkahkan kaki meninggalkan mereka.
Namun saat masih beberapa langkah, Elina membalikkan tubuhnya. "Sorry Vi, lain kali kita belanja lagi. Sekarang lo udah ditemenin Nathan tuh, bebeb lo tercinta." Ujar Elina menggoda VIola dan Nathan.
Sontak Viola mendengus kesal, sementara Nathan justru tertawa menaggapinya.
__ADS_1
Next .......