
Elina dan Viola akhirnya sampai di salah satu pusat belanja yang ada di negara mereka. Tempat yang menjadi tujuan banyak kaum hawa saat dilanda stress dan dan merasakan kejenuhan.
"Gue kangen banget sama suasana ini El. Udah lama gue gak ngerasain udara kajak gine." Ujar Viola memejamkan mata, menikmati suasana di pusat perbelanjaan itu.
Sementara Elina menatap malas sahabat nya itu, kemudian terkekeh pelan. "Lebay lo Vi. Kayak udah bertahun- tahun aja enggak ngerasain ini."
"Lo kan tau El Giman gue tergila-gila dengan hal-hal yang kayak gini. Jangankan setahun, sebulan atau seminggu aja gue udah kelabakan." Tutur Viola merespon perkataan sahabat nya itu.
"Iya juga sih." Kekeh Elina pelan.
Ya, Elina mengakui hal itu. Karena selama mereka bersahabat, memang kebiasaan Viola itu yang selalu menonjol. Meski gadis itu yang paling dewasa dalam menghadapi masalah diantara mereka. Namun untuk menghabiskan uang, sepertinya Viola yang paling kekanakan.
"Kita mau kemana dulu nih?" tanya Elina menatap sahabat nya itu.
Viola tampak berpikir sejenak, kemudian menunjuk salah satu tulisan brand ternama yang digemari oleh gadis itu. "Gue kalap kalau kesana." Ujarnya dengan menarik tangan Elina bergegas menuju tempat yang ditunjukkan tadi.
Hingga akhirnya kedua gadis itu terhanyut dalam menikmati hobi para kaum hawa yang satu itu. Yang pada akhirnya membuat mereka lupa waktu saking asiknya.
"Lo enggak mau beli lagi El, di tempat lain yuk." Ajak Viola merayu sahabat nya itu.
"Mending lo aja Vi, gue temenin aja. Punya gue yang di rumah juga masih bagus-bagus. Ini juga udah banyak benget gue beli." Tolak Elina dengan apa adanya.
Selain karena tak terlalu hobi dengan barang-barang yang akan menguras banyak uang seperti itu. Elina juga merasa barang-barangnya yang di rumah masih bagus. Jadi tak perlu beli lagi bukan.
"Gue yang traktir lo, El." Rayu Viola lagi.
"Gue tetep gak mau Vi, lo aja deh. Gue beneran belum butuh. Entar kalau butuh deh, gue kabarin lo." Tutur Elina dengan jujur.
"Lo mah, gak asik." Ujar Viola dengan mencebik.
__ADS_1
Pada akhirnya Viola sendiri yang asik berbelanja di brand yang lain, dan Elina hanya menemani saja sembari melihat-lihat. Mungkin ada yang membuat dirinya tertarik, namun sampai detik ini pun tak ada yang seperti itu.
Cukup lama waktu yang mereka habiskan untuk berada di pusat perbelanjaan itu. Kini Elina dan Viola terlihat berjalan menuju kafe yang ada di tempat itu.
Dengan membawa banyak barang borongan nya, Viola tampak kesulitan melakukan hal itu. Akhirnya Viola berhenti sejenak, lalu kembali melangkahkan kakinya saat sudah selesai mengatur ulang posisi bawaannya.
Namun saat hendak melangkahkan kaki, Viola hampir tumbang karena tersandung kakinya sendiri. Karena pandangannya yang terhalang oleh barang-barang nya. Tetapi gadis itu tak jadi tumbang, kala sebuah pelukan terasa melingkar di perutnya.
"Lain kali hati-hati, baby." Ujar suara seseorang yang dapat dipastikan pelaku yang memeluk Viola.
Viola mendongak menatap ke sumber suara. "Baby!?" teriaknya terkejut kala mendapati kekasih nya yang ternyata memeluk dirinya.
"Yes, I am here." Ujar pria itu tersenyum manis.
Dengan gerakan spontan, Viola menjatuhkan barangnya dan segera berbalik untuk membalas pelukan kekasihnya itu. "I miss you so much" ujar Viola tak dapat menahan tangisnya.
"Miss you too, baby." Jawab pria itu.
Sementara Elina yang tadi sempat berpamitan ke kamar mandi, matanya menatap heran kala mendapati Viola berada dalam dekapan seorang pria saat dirinya kembali untuk menemui sahabat nya itu.
"Apa Viola selingkuh?" gumam Elina pelan.
Karena setahunya selama ini, kekasih sahabat nya itu sedang melanjutkan pendidikan di Australia. Jadi tidak mungkin bukan, jika pria itu adalah kekasih sahabat nya. Karena Viola tak ada bercerita apapun bahwa kekasih nya kan pulang kembali ke tanah air.
Daripada semakin dibuat penasaran siapa gerangan pria itu. Akhirnya Elina melangkahkan kakinya kembali setelah sempat memilih berhenti untuk mengamati sahabat nya itu.
Sesampai nya di dekat kedua orang yang masih asik berpelukan, Elina segera mengeluarkan suara nya. "Vi." Panggilnya dengan pelan, namun kedua orang itu pastilah mendengar. Sebab jarak mereka begitu dekat.
Kedua orang yang sedang asik berpelukan itu, segera melepaskan pelukan mereka. Secara bersamaan menatap pada sumber suara. Dan mendapati keberadaan Elina yang menatap mereka dengan mata membulat sempurna.
__ADS_1
"Lo?" gumam Elina dengan terkejut.
Rupanya benar, bahwa yang tengah memeluk sahabat nya adalah kekasih sahabat nya itu. Tapi bagaimana bisa kekasih sahabat nya itu sudah ada di sini saja.
"Bukannya lo di Australi?" tanya Elina dengan heran.
Viola pun sama penasarannya dengan alasan kekasihnya bisa berada di sini. Karena setahunya kekasih nya sedang sibuk menuntut ilmu dan tak memiliki jadwal libur sama sekali di bulan-bulan ini.
Elina dan Viola sama-sama menatap kekasih Viola itu dengan tatapan yang menyiratkan rasa penasaran dan keingitahuan yang besar. Namun yang ditanya justru hanya diam dan tak bersuara sama sekali.
"Baby? Jangan bilang kamu pulang karena mau dijodohin sama cewek lain?" tanya Viola dengan menatap tajam, pikiran negatif menguasai gadis itu.
Elina kembali membulatkan matanya kala mendengar tuduhan sahabat nya itu. Hingga netranya yang semula menatap pada Viola, kembali mengalihkan tatapan pada kekasih sahabat nya itu untuk mendengar penjelasan lanjutnya.
Namun saat kekasih sahabatnya itu hendak membuka suara, netra Elina teralihkan oleh pemandangan yang membuat matanya terasa panas.
"Morgan" gumamnya dengan pelan.
Sontak gumaman itu menghentikan niat kekasih Viola yang akan berucap. Karena justru kekasih Viola itu mengikuti arah pandang kekasih nya yang juga tengah mengikuti ke arah mana Elina memandang.
Dan didapatilah Morgan yang tengah berjalan dengan tersenyum bersama seorang wanita. Dan ketiga orang itu tak ada yang mengenal siapa wanita yang sedang bersama Morgan itu.
"Apa itu pacar Morgan yang lain, El?" tanya Viola menatap Elina dengan pandangan iba.
Lagi-lagi di depan mata Elina, Morgan berani melakukan hal itu. Tidakkah pria itu berpikir bahwa Elina pasti merasa patah hati dan sakit setiap pria itu melakukannya.
Elina yang mendengar pertanyaan Viola, hanya menatap sekilas saja. Karena saat ini matanya tampak sudah berubah sendu dan berkaca-kaca. Justru kaki gadis itu membawanya melangkah untuk mengikuti kemana pria yang berstatus kekasihnya itu pergi.
"El, lo mau kemana?" tanya Viola saat melihat sahabat nya bergegas pergi meninggalkan mereka.
__ADS_1
Tapi tak ada jawaban dari sahabat nya itu. Hingga membuat Viola dengan segera menarik kekasih nya untuk mengikuti ke mana arah Elina pergi.
Next .......