
"Elina!? Gue kangen banget" Teriak seorang wanita cantik, yang langsung memeluk Elina dengan antusias. Wanita itu adalah Adeline, salah satu teman akrab Elina yang tinggal di Paris.
Elina pun membalas pelukan hangat yang Adeline berikan untuknya itu. "Gue juga Del, kangen banget sama lo." Ujar Elina mengungkapkan perasaannya yang sama dengan temannya itu.
Setelah selesai dengan salam rindu dan pelukan yang mereka lakukan. Elina akhirnya diajak Adeline untuk pergi ke rumahnya. Karena pertemuan mereka baru saja terjadi di tempat kerja Adeline.
"Tumben lo main ke sini?" tanya Adeline, saat ini mereka masih dalam perjalanan menuju pulang ke rumah Adeline.
Adeline merasa penasaran dengan kedatangan Elina yang tanpa diduga-duga. Karena mereka semua tahu, Elina tak akan mau meninggalkan kuliahnya. Demi membolos dan pergi ke Paris seperti ini.
Bagaimana Adeline tahu jika Elina membolos, tentu saja karena Adelin sedikit banyak mengetahui jadwal kuliah aktif dan cuti Elina. Karena, meskipun mereka jarang bertemu. Namun komunikasi mereka masih tetap berjalan dengan baik sampai detik ini.
Sedangkan Elina yang mendapatkan pertanyaan itu, hanya mampu menghela nafasnya dengan kasar. Mendapatkan pertanyaan tentang alasannya memilih pergi ke Paris. Kembali mengingatkan Elina dengan permasalahan nya bersama Morgan.
"Lo lagi ada masalah?" tanya Adeline. Melihat bagaimana respon Elina, wanita itu paham jika teman baiknya itu sepertinya sedang diterpa masalah.
Tanpa mengelak, Elina mengangguk mengakui jika memang sedang ada masalah yang menimpanya. "Gue butuh nenangin diri." Tutur Elina berujar sendu.
Tanpa banyak kata, Adeline kembali memeluk Elina. Memahami bahwa Elina tengah butuh sandaran dan tempat untuk bercerita tentang masalahnya. Dirinya siap untuk mendengar segala keluh kesah Elina, yang sudah Ia anggap saudara itu.
Mendapatkan sebuah pelukan saat tengah merasa rapuh seperti ini. Elina tak sanggup lagi menahan laju air matanya yang tanpa sadar telah meluncur dengan derasnya. Membuat bahu Adeline menjadi terasa basah terkena air mata kesedihan itu.
"Gue selalu ada buat lo, Na." Ujar Adeline dengan bijaknya. Jika semua sahabat Elina di kampusnya memanggil dengan panggilan Eky, berbeda dengan Adeline dan teman Elina di Paris. Mereka memanggil Elina, dengan panggilan Na. Panggilan yang diambil dari suku kata terkahir nama Elina.
"Cowok gue ... hiks kayaknya punya hubungan sama sahabat gue, Del." Ujar Elina tak mampu lagi memendam masalah nya sendiri.
Sejak kemarin inilah yang dirinya inginkan. Menumpahkan seluruh unek-unek dalam hatinya, supaya merasa lega dan merasa didengarkan. Berharap akan mendapatkan dukungan dan kekuatan melalui orang-orang terdekat.
__ADS_1
"Siapa? Viola, Shella, atau Bianca?" tanya Adeline dengan sarkas.
"Shella" jawab Elina, isakan nya semakin terdengar kala menyebut nama salah satu sahabatnya itu.
Adeline menenangkan Elina sebisanya. Tak ingin teman baiknya itu kembali meras bersedih sendirian. "Gue bakal bantuin lo, tapi tolong ceritain yang sejelas-jelasnya ke gue." Ujar Adeline dengan tegas.
Adeline, merupakan salah satu teman Elina yang memiliki kemampuan menjadi detektif. Selain menjadi hobi, Adeline juga bergabung dengan sebuah persatuan resmi detektif yang ada di negara nya itu.
Elina merasa sedikit lega mendengar perkataan Adeline. Meski mereka mengetahui apa pekerjaan Adeline, namun tak pernah terlintas dalam benaknya untuk meminta bantuan teman nya yang satu itu.
Karena setahu Elina, tugas detektif hanya menyelidiki kasus-kasus kejahatan. Sementara kasusnya lebih ke urusan pribadi, sepertinya kurang layak untuk membawa serta detektif profesional seperti temannya itu.
***
Seorang pria yang telah menyelesaikan mata kuliahnya, tampak netranya mengamati lingkungan sekitar kampusnya. Sejak kemarin-kemarin dirinya tak mendapati keberadaan kekasihnya yang kemarin sempat sakit karena dirinya.
Morgan merasa khawatir pada keadaan Elina. Apalagi tak mendapati gadis itu di sudut kampus manapun. Dirinya menjadi curiga jika Elina belum sembuh dari sakitnya kemarin. Morgan semakin merasa bersalah dibuatnya.
"Vi!" teriaknya memanggil Viola, supaya gadis itu tak melangkah pergi. Karena nampaknya Viola hendak pergi dari tempat itu.
Viola yang merasa namanya dipanggil pun menoleh. Rupanya Morgan, pria yang membuat sahabatnya selalu bersedih selama ini. Meski tak mengerti tujuan Morgan menghampiri dirinya, namun Viola tak sejahat itu untuk tak menanggapinya.
"Kenapa?" tanya Viola to the point.
"Lo tau El di mana? Dari kemarin gue gak liat dia di kampus." Tanya Morgan dengan rasa ingin tahunya.
Viola tampak mengernyit heran dengan kelakuan pria di depannya itu. Tak salah dengar kah dirinya, kalau Morgan sedang menanyakan keberadaan Elina. Apa Morgan tak salah jika mulai peduli dengan adanya Elina atau tidak.
__ADS_1
"Ngapain lo nanyain sahabat gue?" tanya Viola dengan sarkas.
Morgan menjadi geram kala Viola bukannya menjawab pertanyaan darinya, malah mengajukan pertanyaan yang membuatnya merasa tak layak.
"Gue emang salah selama ini, tapi lo jangan lupa. Kalian juga ikut andil dalam rencana hubungan gue sama Shella." Ujar Morgan dengan ketus.
Viola menghela nafasnya berat. "El ke Paris, dia lagi nenangin diri di sana."
Morgan terkejut dengan kenyataan itu. "Apa segitu kecewa, sampai El mutusin pergi ke Paris?" tanya Morgan entah pada siapa.
Viola kembali menghela nafasnya. "Gue gak tau apa yang udah lo lakuin ke sahabat gue. Tapi ngeliat kekhawatiran lo sekarang, gue mulai percaya sama keyakinan El. Lo sepertinya emang ada rasa sama El." Tutur Viola kemudian melangkah pergi.
Meninggalkan Morgan yang tampak kebingungan dengan perkataan Viola. "Rasanya gak mungkin" gumamnya pelan. Entahlah Morgan seperti enggan mengakui perasaan yang ada dalam hatinya untuk kekasihnya itu.
Hingga akhirnya Morgan memutuskan untuk membuktikan kebenaran perkataan Viola. Apa benar Elina pergi ke Paris? rasanya tak mungkin, mengingat kekasihnya itu tipikal orang yang anti membolos kuliah.
Morgan melangkah perlahan untuk mengambil kendaraannya di area parkir. Namun langkahnya terhenti kala tangannya di cekal oleh seseorang.
"Shella?" gumam Morgan saat melihat siapa gerangan yang tengah mencekal tangan nya.
"Ada yang perlu kita bicarain, Gan." Ujar Shella dengan yakin.
Morgan mengernyit heran, namun tak urung dirinya menuruti permintaan wanita itu. Entah hal apa yang akan Shella bicarakan dengannya, Morgan hanya bisa pasrah. Kali saja dirinya bisa segera mengetahui keberadaan kekasihnya yang sebenarnya.
Akhirnya Shella mengajak Morgan untuk mengobrol di tempat yang begitu sepi dan lumayan tertutup. Supaya tak ada yang mendengar apa yang akan mereka bicarakan.
"Apa yang mau lo omongin?" tanya Morgan.
__ADS_1
Shella masih tampak diam, namun detik selanjutnya tiba-tiba gadis itu memeluk Morgan dengan begitu erat. Sementara Morgan hanya mampu terdiam dengan segala keterkejutannya.
Next .......