NOT CONSIDERED

NOT CONSIDERED
Kebenarannya


__ADS_3

Setelah di mana Elina mendapatkan sebuah nama yang menjadi tanda tanya besar dalam benaknya. Karena sebuah nama itu adalah seseorang yang kemungkinan menjalin hubungan dengan Morgan, kekasihnya.


Elina berniat mencari tahu kebenarannya, tak ingin dibuat penasaran yang pada akhirnya akan menyiksanya hati dan batinnya. Apapun hasilnya Elina berharap akan baik-baik saja. Karena apapun itu jawaban yang dirinya dapatkan, Morgan harus selalu menjadi miliknya selamanya.


"Shella!" Teriak Elina kala melihat sahabatnya baru saja sampai. Sementara dirinya sudah begitu lama sampai di kampus.


Karena pagi-pagi sekali dirinya yang tak sabar untuk menanyakan kecurigaannya kemarin. Memilih untuk segera bersiap dan pergi ke kampusnya. Hari ini Morgan tak datang, Elina tau itu karena dirinya juga memiliki jadwal mata kuliah pria itu.


Shella yang dipanggil oleh suara yang sangat dikenalinya, segera melangkahkan kakinya untuk menghampiri sahabat nya itu. Tak biasanya, Elina datang sepagi ini melebihi dirinya.


"Kenapa El?" tanya Shella setelah sampai di tempat Elina berada.


"Ada hal yang mau gue tanyain ke lo, tapi jangan di sini." Ujar Elina segera menarik tangan sahabat nya itu untuk mencari tempat yang lebih aman dan privasi.


"Tumben amat lo, kayak ada hal penting aja El." Tutur Shella saat melihat sahabat nya nampak tak seperti biasanya.


"Ini emang penting Shel, menyangkut hubungan persahabatan kita." Tegas Elina yang membuat Shella akhirnya diam seketika.


Mereka pun sampai di tempat yang menurut Elina lebih aman dan privasi untuk berbicara. Elina rupanya mengajak sahabat nya itu untuk ke rooftop. Karena jarang sekali ada orang yang mau pergi ke tempat itu, jadi dipastikan tak akan ada orang lain selain mereka saat ini.


"Ya udah apaan?" ujar Shella yang merasa tak sabar. Penasaran juga hal apa yang membuat Elina sampai bertingkah aneh seperti ini.


"Gue mau lo jawab jujur pertanyaan gue. Please" pinta Elina sebelum memulai pembicaraan serius mereka.

__ADS_1


Shella mengernyitkan dahinya, tampak heran. Namun tak urung dirinya pun menganggukkan kepala nya demi menyetujui permintaan sahabat nya itu. "Iya gue akan jujur."


Elina yang ingin segera mengobati rasa penasaran dan ingin tahunya, segera mengajukan pertanyaan pada sahabat nya itu. "Apa kemarin lo hubungin Morgan?" tanyanya menatap intens sahabat nya itu.


Shella yang mendengar pertanyaan dari sahabat nya itu tampak terkejut dan seketika merasa gugup. Namun detik selanjutnya, Shella berhasil menetralkan ekspresi terkejut nya. Dan berusaha meredam rasa gugup yang sedang melanda nya.


"Jawab pertanyaan gue Shella." Tekan Elia yang nampak tak sabar, saat sahabat nya itu hanya terdiam dan tak menjawab nya. Dan hal itu membuat Elina semakin merasa kecurigaan nya benar.


"Lo tau dari mana El?" bukannya menjawab pertanyaan dari sahabat nya itu, Shella justru bertanya hal lain.


"Gak penting gue tau dari mana Shel. Lo cuma perlu jawab pertanyaan gue, lo hubungin Morgan kemarin?" tanya Elina mengulangi pertanyaan nya.


Rasanya Elina mulai geram dengan tingkah Shella yang seolah berusaha mengalihkan pertanyaan nya. "Jawab gue Shel!." Sentak Elina yang mulai terbawa emosi.


Melihat Shella yang masih tampak diam membuat Elina semakin frustasi. "Gue selama ini tetap bertahan sama Morgan karena gue yakin dia cuma main-main sama mereka Shel. Tapi .. tapi kemarin gue liat lo hubungin Morgan. Gue masih berusaha percaya kalau itu bukan lo. Tapi liat lo yang bertingkah kayak gini, kecurigaan gue makin besar ke lo Shel." Lirih Elina mengungkapkan isi hati nya.


Shella yang mendengar perkataan Elina menjadi merasa bersalah. Sejak tadi dirinya masih tetap diam karena bingung untuk menjelaskan nya bagaimana. Dirinya merasa bersalah pada sahabat nya itu.


Namun semua nya sudah terlanjur. Jadi Shella tak tau harus mengatakan apa pada Elina. Jika jujur yang sebenarnya itu tak akan mungkin, karena dirinya tak ingin kehilangan persahabatan mereka.


Hingga Shella akhirnya memilih diam, membiarkan Elina berspekulasi sendiri dengan apa yang sebenar nya terjadi. Shella tahu ini jahat untuk Elina, karena sahabat nya itu pasti akan merasa terluka dengan semua ini.


Shella yang tak bisa menjelaskan semua nya pada Elina akhirnya berujar. "Iya, gue hubungi Morgan kemarin El. Tapi gue gak bisa ngejelasin apapun sama lo soal itu" ujar Shella dan segera melangkahkan kaki nya untuk meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Namun Elina menahan tangan gadis itu. "Kenapa? Lo harus jelasin ke gue Shel." Desak Elina menatap tajam dengan mata nya yang nampak redup.


Jelas saja Elina merasa sedih dengan jawaban iya yang Shella berikan. Karena dengan jelas, kemarin dirinya mendengar kala Morgan memanggil seseorang yang menghubungi nya dengan panggilan sayang.


Dan hal itu mengindikasikan bahwa ada suatu hubungan spesial yang terjalin diantara keduanya. Elina mungkin akan biasa saja jika yang menghubungi kemarin wanita lain. Namun rasanya sungguh berbeda, saat sahabat nya yang ternyata ada main di belakang nya.


Sahabat yang menjadi salah satu orang yang begitu dirinya percayai selama ini. Elina merasa dadanya sakit dan sesak menerima kenyataan bahwa sahabat nya itu telah mengkhianati dirinya.


Shella yang ditahan oleh Elina, berusaha melepaskan cekalan tangan sahabat nya itu dengan kasar. "Gak ada yang perlu gue jelasin." Ujar Shella dengan tajam dan berlalu dari tempat itu.


Elina semakin tak menyangka dengan segala tindak laku sahabat nya itu hari ini. Mengapa Shella seolah orang yang berbeda, karena tak seperti biasanya. Shella yang dikenal nya tak pernah kasar pada dirinya dan kedua sahabat mereka yang lain.


Tinggallah Elina seorang diri di rooftop itu. Elina terduduk lemas setelah mengetahui kebenaran itu. Entah harus marah pada Morgan, Shella, atau kedua-dua nya. Elina merasakan sakit atas pengkhianatan orang yang selama ini dipercayai nya itu.


"Gue salah apa Shel, sampai lo tega sama gue." Lirih Elina meratapi kesedihan nya.


Merasa tak percaya dengan kenyataan yang dirinya terima. Elina masih tetap bertahan pada posisi awalnya. Tampak tak berubah sedikit pun. Awalnya dirinya yang begitu yakin akan baik-baik saja saat menerima kenyataan yang buruk.


Kini Elina benar-benar merasa terhempas dengan apa yang dirinya dapatkan. Meski sekuat tenaga meyakinkan diri bahwa Morgan akan tetap menjadi miliknya selamanya. Namun dirinya tak dapat memungkiri bahwa hatinya merasa terluka dan kecewa.


Terluka dengan rasa sakit yang baru saja diterimanya. Dan kecewa karena merasa dikhianati oleh orang yang begitu dirinya percayai.


Next .......

__ADS_1


__ADS_2