NOT CONSIDERED

NOT CONSIDERED
Rencana Bersenang-senang


__ADS_3

Setelah kepergian Viola yang berencana mengejar Elina, kini tertinggal lah Bianca dan Shella di taman itu. Bianca menatap pada Shella yang tampak mengernyit dahi menatap dirinya.


"Kenapa lo masih di sini? Kejar Elina." Ujar Shella masih terus menatap heran sahabat nya itu.


Bianca menghembuskan nafas nya, sebenarnya mereka ini ada masalah atau tidak. Mengapa seolah Shella tak merasa bersalah sama sekali. Dan juga masih menunjukkan rasa perduli pada Elina.


"Shell, gue butuh penjelasan dari lo. Apa yang sebenarnya terjadi pada kalian berdua?" Tutur Bianca bertanya pada sahabat nya yang membuat nya bingung itu.


Shella yang semula tak lagi menatap Bianca, kini netranya kembali menatap pada gadis itu. Pertanyaan yang dilontarkan oleh sahabat nya itu, membuat nya berpikir untuk sejenak.


Mendapati pertanyaan berupa rasa penasaran akan permasalahan yang terjadi diantara dirinya dan Elina. Membuat Shella berpikir bahwa kemungkinan Elina belum menceritakan apa-apa kepada kedua sahabat nya itu.


Lalu drama menangis dan pelukan yang mereka lakukan tadi, apa maksudnya. Daripada berpikiran sendiri, lebih baik Shella mengutarakan kebingungan dan rasa ingin tahunya itu.


"Bukannya El udah ceritain ke kalian apa yang terjadi?" tanya Shella dengan dahi tampak mengkerut.


Shella melihat gerakan Bianca berupa gelengan kepala, menandakan bahwa perkataan nya tidaklah benar. "Jadi, arti pelukan yang kalian lakuin tadi. Apa yang terjadi?" tanya Shella lagi.


Bianca menghela nafasnya kembali. "Kita cuma tau kalian ada masalah. Dan wajah kacau El tentu saja buat kita gak tega." Ujar nya menjelaskan.


"Kita juga udah curiga kalau kalian ada masalah. Karena El gak pernah mau ketemu kita kalau lagi bertiga." Lanjut nya menjelaskan.


Shella mengangguk-anggukkan kepala nya. Memahami apa yang telah dijelaskan oleh sahabat nya itu. Jadi pada intinya Elina belum menceritakan apapun tentang permasalahan mereka. Jadi haruskah dirinya yang menjelaskan pada sahabat nya itu?


"Jadi please Shell, jelasin ke gue apa yang sebenarnya terjadi sama kalian?" tanya Bianca dengan mendesak sahabat satu nya itu. "Tapi sebelum itu, apa lo gak merasa bersalah sama sekali sama El?" tanya nya kembali.


Melihat bagaimana respon Shella yang biasa saja saat bertemu dengan Elina, membuat dirinya bahkan Elina dan Viola pun merasa begitu. Bahwa Shella memang begitu tidak menunjukkan perasaan bersalah sama sekali.

__ADS_1


Padahal dari bagaimana Elina bersedih dan kacau, mereka menyimpulkan bahwa Elina yang menjadi korban. Sementara Shella kemungkinan si pelaku nya. Dan melihat pelaku tak merasa bersalah sama sekali, tentu saja menjadi tanda tanya bagi mereka.


Namun dalam persahabatan mereka yang sudah terjalin lama. Dari mereka umur lima belas tahun, membuat mereka juga paham akan tabiat mereka. masing-masing. Jadi tak bisa menyimpulkan begitu saja bahwa Shella yang salah di sini.


Karena bisa saja ada kesalahpahaman diantara kedua sahabat nya itu. Dan tugasnya sekarang sebagai sahabat yang baik dan benar, haruslah kembali menyatukan mereka. Dan langkah pertama adalah dengan mengetahui apa permasalahan yang tengah menimpa mereka.


"Gue emang gak salah." Jawab Shella dengan acuhnya. Terlihat seperti pelaku sungguhan dengan lakunya yang seperti itu.


"What? lo udah nyakitin El tapi gak merasa bersalah gitu Shell?" tanya Bianca.


Dan direspon senyuman sinis oleh Shella. Dan tentu senyuman itu mengundang tanda tanya yang semakin besar di kepala Bianca.


***


Sementara Viola yang sempat mengejar Elina untuk menenangkan gadis itu, kini masih mencoba mencari di mana keberadaan pasti sahabat nya yang sedang kacau itu.


"El!" teriak nya dengan keras, supaya orang yang dimaksud dapat mendengar suara nya.


Sesuai harapan Viola, Elina menoleh ke sumber suara. Tampaklah sahabat nya yang paling dewasa pemikirannya dibandingkan yang lain. Hingga Viola membawa kakinya untuk melangkah menghampiri sahabatnya itu.


"Vi?" ujar Elina dengan penuh tanda tanya dengan kehadiran sahabat nya itu. Ada apa gerangan sampai harus mengikuti dirinya.


"Gue takut lo ngelakuin hal aneh-aneh." Tutur Viola dengan tertawa kecil.


"Astaga! ya gak akan mungkin. Sejak kapan lo liat gue pernah ngelakuin hal-hal kayak gitu?" ujar Elina dengan tertawa pelan. Ada-ada saja Viola.


"Ya mana gue tau El. Ya udah lah, kita jalan-jalan aja yuk. Lama nih kita udah gak pernah me time." Ujarnya mengajak Elina untuk bersenang-senang. Supaya Elina juga dapat melupakan masalah nya dalam sejenak.

__ADS_1


Elina tersenyum tipis mendengar perkataan Viola yang mengajak untuk bersenang-senang. Elina paham dengan jalan pikiran Viola yang ingin membuat dirinya melupakan permasalahan yang sedang terjadi.


Elina bersedia untuk mengiyakan keinginan sahabat nya itu. Namun sayangnya dirinya sudah membuat janji pada kekasihnya. Pasti Morgan tengah menunggunya di rumah saat ini.


Karena Elina mengatakan pada pria itu untuk menunggunya di rumah, sebab Elina ingin membicarakan hal serius dengan kekasih nya itu. Hal yang sempat tertunda waktu itu, karena satu nama 'Shella'.


"Tapi gue masih ada janji sama Morgan Vi." Ujar Elina merasa tak enak.


Viola mendesah kecewa, karena niat awalnya yang hanya ingin menenangkan Elina. Namun kini berubah menjadi ingin bersenang-senang sungguhan. Memang sudah lama Viola tak melakukannya.


"Yah gimana dong? Ayo dong El, kan lo bisa ketemu Morgan nya entar malem. Ditunda bentar aja." Bujuk Viola masih kekeh pada keinginan nya.


"Gue deh yang bakal jelasin ke Morgan, kalau lo harus pergi sama gue." Tutur Viola masih mencoba untuk berusaha membuat Elina bersedia ikut bersama dirinya.


Elina menghembuskan nafas nya, dan baiklah akan dirinya turuti keinginan sahabat nya itu. "Bentar dulu, gue mau ngomong kalau gak jadi ke Morgan."


Elina tampak mengetikkan sesuatu di ponselnya. Sepertinya untuk memberitahu bahwa gadis itu tak jadi berkunjung ke rumah Morgan saat ini. Hingga balasan dari seseorang yang sedang dikirim pesan oleh Elina, membuat gadis itu bernafas lega.


"Gan, sorry aku belum bisa kesana sekarang. Nanti malem aku kesana." tulis Elina dalam pesannya itu.


"Ok" Jawab Morgan dari seberang sana.


Sesingkat itu pria itu menjawab. Tapi itu lebih baik, dibandingkan hanya dibaca dan tak ditanggapi. Karena Morgan sering sekali seperti itu pada nya. Padahal biasanya kalimat nya berupa pertanyaan atau hal yang butuh tanggapan.


"Udah?" tanya Viola saat melihat Elina memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas. Dan dijawab anggukan oleh Elina.


Elina memasuki kendaraan roda empat nya diikuti Viola yang naik dari sisi berlawanan dengan nya. "Let's go!" teriak mereka berteriak dengan gembira.

__ADS_1


Next .......


__ADS_2