NOT CONSIDERED

NOT CONSIDERED
Rasa Khawatir


__ADS_3

Dengan berderai air mata, Elina berlari sekuat tenaga untuk meninggalkan tempat di mana Morgan dan mantan sahabat nya berada. Ya, mantan sahabat. Karena mulai detik ini Elina tak akan lagi menganggap nya sebagai sahabat lagi.


"Hiks hiks hiks lo tega sama gue Shell. Morgan ... kenapa kamu gak berubah?" gumam Elina dengan lirih.


Saat ini Elina memilih menenangkan diri di taman kota yang tampak sepi. Selain karena sudah malam, juga karena cuaca yang tampak mendung. Pastilah semua orang tak ada yang ingin diserang hujan.


"Gue salah apa sama lo Shell? sampai lo tega sama gue." Gumamnya lagi dengan isak tangis.


Terlalu lama menangis dan meratapi kisah cinta dan persahabatan nya, membuat Elina tanpa sadar mulai terlelap karena merasa kelelahan menangis.


***


Sementara Morgan dan Shella, masih berada di kafe itu setelah kepergian Elina.


"Lo sampai kapan mau mempermainkan sahabat gue?" tanya Shella yang tak paham dengan jalan pikiran Morgan.


"Sampai El menyerah dan ninggalin gue." Jawab Morgan dengan acuh.


Jawaban itu membuat Shella menghembus nafasnya berat. Tak tega sebenarnya melihat Elina seperti itu. Namun bagaimana lagi, Shella memang harus melakukan nya. Demi kebaikan mereka.


"Mending lo susulin El, kafe gue mau tutup bentar lagi." Usir Shella dengan halus.


"Ck" hanya terdengar decakan dari bibir pria itu, dan tak lama pria itu melangkah meninggalkan kafe milik Shella itu.


Morgan mengendarai kendaraan roda duanya dengan santai, namun tak lama tiba-tiba hujan deras berguyur membasah bumi. Yang tentu saja membuat pakaian pria itu juga ikut basah, karena hujan deras itu datang dengan tak terduga.


Akhirnya Morgan memutuskan untuk berteduh sejenak untuk menghindari basah terlalu parah. "Ck kenapa tiba-tiba sih." Ujar pria itu yang merasa kesal karena pakaian nya tampak basah.


Drtt


Drtt


Terdengar ponselnya tampak bergetar. Morgan mengambil ponselnya yang berada di saku jaketnya untuk melihat siapa yang tengah menghubungi dirinya. Rupanya orangtua Elina. Apa Elina sudah menceritakan kejadian tadi, hingga orangtua gadis itu menghubungi dirinya.

__ADS_1


"Iya Om?"


"...."


"Elina gak lagi sama saya, Om." Jawab Morgan.


"..."


"Baik Om" Jawab Morgan, dan mematikan ponselnya.


Morgan menjadi merasa khawatir setelah orangtua Elina mengatakan bahwa Elina belum pulang. Ternyata pikiran Morgan salah kalau Elina sudah bercerita pada orangtua. Justru gadis itu belum pulang sampai detik ini. Lalu kemana El?


Hingga akhirnya Morgan menghubungi sahabat Elina yang pasti tahu dimana keberadaan kekasih nya itu.


"Shell, lo tau biasanya El kemana kalau lagi sedih?" tanya Morgan to the point.


Setelah mendapatkan jawaban dari Shella, tanpa banyak berpikir lagi pria itu segera melajukan kendaraan nya untuk menyusul Elina. Tanpa perduli pakaian nya akan semakin basah. Karena yang terpenting saat ini adalah keselamatan Elina.


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, Morgan akhirnya sampai di taman kota. Di mana lokasi yang Shella tunjukkan, sebagai tempat persinggahan Elina saat dilanda kesedihan dan ingin sendiri.


Morgan menepikan kendaraan nya, kemudian turun. Dengan langkah perlahan mulai mencari di mana keberadaan Elina, gadis cantik yang berstatus kekasihnya.


Meski tak mencintai gadis itu, namun Morgan menyayanginya. Jadi tak akan tega melihat Elina terluka atau terjadi sesuatu pada gadis itu. Tapi entah mengapa, dirinya tega jika menyakiti hati dan perasaan gadis itu.


Tampak Morgan masih terus menyusuri taman itu dalam derasnya hujan yang menerjang. Namun pria itu tak patah semangat maupun menyerah. Karena Elina lebih penting dari apapun saat ini.


Hingga akhirnya, Morgan tampak melihat sebuah tubuh terlihat terbaring di sebuah bangku panjang. Dari postur dan bentuk rambutnya, sepertinya benar itu adalah kekasihnya yang sedang dirinya cari.


Dengan berlari, Morgan segera menghampiri gadis itu. Dan benar, Elina yang tengah terbaring di bangku taman itu.


"El?!" teriaknya saat sampai di dekat gadis itu. Namun tak mendapatkan sahutan apapun.


Morgan menatap sendu pada gadis itu. Rupanya Elina tengah memejamkan matanya. Sontak hal itu semakin membuat Morgan merasa khawatir. Takut terjadi hal-hal yang tak diinginkan pada gadis itu.

__ADS_1


Dengan gerakan cepat, Morgan segera membawa Elina untuk masuk dalam pelukannya dan mengangkat tubuh ringkih itu. Kini Elina sudah berada dalam gendongan Morgan.


Tak tahukah Elina, bahwa semua orang khawatir jika dirinya seperti ini. Hingga akhirnya Morgan segera membawa Elina ke tempat yang tak terkena hujan untuk berteduh. Masih dalam pelukannya, Morgan mencoba membangunkan Elina. Karena Morgan belum mengetahui apakah Elina tertidur atau pingsan saat ini.


"El ..El bangun!" titahnya saat Elina juga tak ku Jung membuka mata. Bahkan tangan Morgan pun turut ikut serta menepuk pipi gadis itu dengan pelan untuk membangun Elina.


"El, please bangun!" perintahnya pada gadis yang masih tampak memejamkan mata itu.


Morgan memutuskan untuk terus berusaha membangunkan Elina, hingga akhirnya gadis itu akhirnya terbangun. Tampak senyuman tersungging indah di wajah tampan Morgan.


"El?" sapanya dengan tersenyum.


Elina yang baru membuka matanya, membalas senyuman yang Morgan berikan. "Gue udah di surga?" tanyanya.


Membuat Morgan tertawa mendengar perkataan gadis itu. "Lo masih di dunia, surga belum mau nerima lo." Ujar Morgan menjawab pertanyaan Elina yang terdengar lucu.


Sontak jawaban itu membuat senyuman Elina surut dan mengalihkan tatapannya dari pria tampan di depan wajah nya itu. Elina kembali teringat dengan rasa sakit yang baru saja Morgan berikan.


Tadinya dia pikir telah berada di surga, hingga tak akan merasakan rasa sakit dan kecewa lagi. Namun mengetahui bahwa rupanya masih berada di dunia, Elina menjadi merasa kecewa. Apalagi saat ini yang ada dihadapannya adalah pelaku yang membuat sakit hatinya.


Elina yang mengalihkan tatapannya membuat Morgan sadar dengan kesalahannya. "Sorry" Ucap Morgan dengan perasaan bersalah.


Elina yang mendengar perkataan Morgan akhirnya mulai menyadari posisi dirinya yang berada dalam pelukan Morgan. Dengan segera gadis itu bangkit untuk menjauh dari Morgan.


"It's ok, aku mau mau pulang." Ujar Elina setelah berhasil lepas dari pelukan Morgan.


Morgan paham dengan yang terjadi pada Elina. Wajar gadis itu tak mau disentuh olehnya, karena Elina masih merasa kecewa atas sikap dan tindakan nya yang tega menyakiti hati wanita cantik itu.


"Gue anterin." Tawarnya yang paham Elina masih butuh waktu sendiri.


Elina menganggukkan kepala mendengar perkataan Morgan. Karena tak mungkin juga ada kendaraan lain di malam-malam yang hujan deras begini, di daerah taman kota ini.


Next .......

__ADS_1


__ADS_2