
Morgan berniat untuk membantu Elina berjalan. Karena terlihat jelas dalam penglihatan nya bahwa kekasihnya itu sedang lemah dan tampak lemas. Namun saat tangan nya baru menyentuh bahu Elina, gadis itu segera menepis tangan Morgan.
"Aku bisa jalan sendiri." Ujar Elina demi menolak bantuan Morgan.
Untuk saat ini rasanya malas sekali bagi Elina untuk kontak fisik dengan kekasih nya itu. Bahkan untuk melihat wajah Morgan pun, rasanya Elina begitu malas dan tak berselera. Sepertinya rasa kecewa dalam hatinya yang telah Morgan buat, yang membuat dirinya seperti ini.
Sedangkan Morgan hanya dapat menghela nafasnya, kala mendengar penolakan Elina. Pria itu juga hanya mampu terdiam tak membantah ataupun memaksa. Karena dirinya sadar memang sedang bersalah saat ini.
Elina yang mulai berusaha melangkahkan kakinya yang sebenarnya terasa berat, hampir terjatuh. Kalau saja Morgan tak sigap membantu dirinya dengan menangkup tubuhnya.
"Lo butuh bantuan." Tekan Morgan setelah melihat bagaimana Elina yang keras kepala tak mau dibantu, hampir saja terjatuh. Karena keadaannya yang masih lemah.
Tanpa berkata apapun atau meminta izin Elina, Morgan segera membawa kekasih nya itu untuk masuk dalam dekapan nya. Dan Morgan pada akhirnya membawa gadis itu ke dalam gendongan nya.
Elina yang masih merasa lemas, hanya mampu pasrah dengan apa yang Morgan lakukan. Awalnya dirinya pikir akan kuat untuk berjalan sendiri tanpa bantuan Morgan. Tapi rupanya dirinya tak mampu untuk melakukan itu. Jadi saat ini dirinya hanya bisa pasrah saja dalam gendongan pria itu.
"Maafin gue, El" Ujar Morgan, saat dirinya tengah melangkahkan kaki nya menuju di mana kendaraan nya berada.
Elina sama sekali tak membalas atau merespon perkataan Morgan. Rasanya dirinya belum siap untuk membahas kejadian tadi untuk saat ini. Hingga akhirnya Elina hanya diam dan sibuk memejamkan matanya dengan tangan yang senantiasa melingkar di leher Morgan.
"El ..." Morgan hendak berujar lagi. Namun Elina sudah memotong perkataan pria itu terlebih dahulu.
"Gan, jangan bahas sekarang. Aku masih butuh waktu untuk nenangin diri." Ujar Elina tanpa mau menatap Morgan.
Morgan kembali menghela nafasnya setelah mendengar jawaban Elina. Namun beberapa detik kemudian, tampak dirinya mengangguk, berusaha memahami apa keinginan Elina.
Sesampainya mereka di tempat motor Morgan berada. Morgan segera membantu Elina untuk naik ke atas motornya. Dan Elina hanya mampu pasrah saja dengan semua itu.
Dalam perjalanan mereka tampak hening. Hujan yang tadinya deras saat ini memang sudah reda. Karena kepulangan mereka memang menunggu hujan reda. Karena Morgan tak akan tega membiarkan Elina yang baru saja pingsan, harus terkena hujan kembali.
"Kita ke rumah sakit." Ujar Morgan memberitahu.
__ADS_1
Elina tampak membulatkan matanya, sejak tadi Morgan berlaku seenaknya saja. Padahal dirinya ingin segera sampai rumah, karena tak ingin melihat wajah Morgan dulu untuk sementara waktu.
Walau sebenarnya, ada getaran di hatinya kala mendengar perkataan Morgan itu. Karena mengingatkan dirinya saat awal bertemu dengan kekasih nya itu. Saat itu Morgan juga membawanya ke rumah sakit. Namun tanpa mengatakan apapun padanya.
"Aku mau pulang, aku baik-baik aja." Jawab Elina menolak keinginan Morgan.
"Lo butuh penanganan segera, El." Ujar Morgan tak terima dengan penolakan gadis itu.
"Aku mau pulang." Ujar Elina dengan kekeh.
Hingga akhirnya, Morgan mengalah dan mengantarkan Elina untuk pulang ke rumah kekasihnya itu.
***
Sementara di tempat Shella berada.
Setelah kepergian Morgan dari kafenya, Shella tampak termenung di dalam ruangan yang memang milik pribadinya. Sebagai pemilik kafe, tentu saja dirinya memiliki ruang khusus untuk dirinya.
"Gue terpaksa El" lirihnya berujar pelan.
Shella merasa bersalah dengan apa yang sudah dilakukannya. Namun semuanya sudah terlanjur, Shella terpaksa harus melakukannya. "Sorry El, lo bakal paham suatu hari nanti."
"Gue harus bicarain ini sama mereka." Gumam Shella ketika teringat kedua sahabat nya. Siapa lagi jika bukan Viola dan Bianca.
Shella memutuskan menghubungi Bianca, namun sama sekali tak ada sahutan dari seberang. Tampaknya Bianca sedang sibuk, hingga tak memegang ponsel. Atau gadis itu kemungkinan sudah terlelap di jam seperti ini.
"Ck susah banget nih anak dihubungi" ujar Shella dengan berdecak kesal.
Shella memutuskan untuk menghubungi Viola. Namun sampai beberapa detik, wanita itu juga tak mengangkatnya. Namun pada deringan ketiga, akhirnya Viola mengangkat panggilan dari nya itu.
"Hallo Vi" sapa Shella.
__ADS_1
"Apa Shell? gue lagi diluar sama Nathan. Di sini berisik, gue gak bisa denger suara lo." Jelas Viola langsung mematikan telepon dari Shella.
"Ck mereka benar-benar. Padahal ini hal penting. Kalian akan menyesal kalau sampai persahabatan kita hancur gara-gara ini." Decak Shella dengan kesal.
Akhirnya Shella memutuskan untuk pulang saja ke rumahnya. Daripada terus kepikiran dengan keadaan Elina. Sungguh, Shella begitu mengkhawatirkan keadaan sahabat nya itu.
"Semoga lo gak bakal lakuin hal aneh-aneh, El." Gumam Shella dengan rasa khawatirnya.
Sebenernya Shella ingin menanyakan keadaan Elina pada Morgan. Namun, jika Morgan bersama Elina saat ini. Bisa saja permasalahan mereka akan semakin rumit. Shella tak setega dan sejahat itu pada Elina, sahabat nya.
Saat Shella masih dalam perjalanan menuju pulang, tampak ponselnya terdengar berdering. Saat dicek, rupanya Bianca yang menghubungi dirinya. Sepertinya wanita itu telah melihat beberapa panggilan darinya.
"Kenapa Shell?" terdengar suara Bianca bertanya dari seberang.
"Gue perlu bicarain hal penting sama kalian. Gue gak mau permasalahan ini semakin berlarut-larut. Gue gak mau sampai persahabatan kita berempat hancur, Bi." Jelas Shella langsung pada intinya.
Shella tak mau menunda lagi, gak genting seperti ini bisa saja menjadi bumerang kedepannya untuk mereka.
"Iya besok kita bicarain di kampus, Shell. Gue masih ngantuk, mau tidur." Tutur Bianca dari seberang sana.
Setelahnya Shella tak lagi mendengar suara apapun dari tempat Bianca berada. "Ck dasar tukang molor" ujar Shella segera mematikan sambungan telepon mereka.
Shella yakin Bianca sudah tertidur kembali. Betapa tak sopan nya sahabat nya itu. Padahal dirinya sudah berbicara panjang lebar, hanya diberikan jawaban singkat itu.
Tapi baiklah, setidaknya Bianca sudah mengetahui. Gadis itu juga sudah setuju untuk berdiskusi bersama. Viola pasti akan ikut serta, kalau mereka sudah sepakat seperti ini.
"Tunggu penjelasan gue El. Gue gak mungkin setega itu sama lo." Gumam Shella lagi dengan perasaan bersalah nya.
Shella memarkirkan kendaraannya ke dalam garasi di rumahnya. Gadis itu akhirnya masuk ke rumah dan memilih untuk mengistirahatkan tubuh yang lelah seharian.
Next .......
__ADS_1