
"Morgan, wait me." Teriak Elina saat Morgan tampak mulai menaiki kendaraan roda duanya.
Pria tampan itu hanya menoleh sekilas, namun tak urung menunggu kedatangan gadis cantik yang berjalan cepat menuju kearahnya. Meski sering tak memikirkan hal Elina, namun Morgan tak pernah setega itu untuk meninggalkan Elina yang ingin berbicara dengan dirinya.
"Aku ikut kamu pulang." Ujar Elina setelah sampai dihadapan pria itu.
Morgan hanya diam dan tak menanggapi sama sekali ucapan Elina. Namun Elina yang memahami sikap Morgan, segera menyegerakan diri untuk ikut naik ke atas motor kekasihnya sebelum dirinya ditinggal. Apabila Morgan berubah pikiran.
Dalam perjalanan terjadi keheningan diantara sepasang kekasih itu. Elina yang tak tahan pun akhirnya mencoba membuka topik pembicaraan. "Gan, boleh aku tanya sesuatu sama kamu?" tanah Elina dengan keras supaya pria di depan nya itu dapat mendengar suara nya.
"Hm" jawab singkat Morgan.
Mendapatkan jawaban yang menunjukkan persetujuan, Elina pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk segera bertanya pada kekasih nya itu.
"Perempuan yang jalan sama kamu, beneran dia pacar kamu?" tanya Elina dengan hati-hati. Takut saja jika nanti Morgan merasa risih dengan pertanyaan yang dirinya utarakan. Yang akan membuat Morgan menurunkan dirinya di jalan, tak akan lucu jadinya.
"Bukan urusan lo." Jawab Morgan dengan ketus.
Elina menghembuskan nafas, memang harus banyak memiliki kesabaran untuk menghadapi pria di hadapan nya itu. Karena sebenarnya dirinya hanya ingin tahu, berapa wanita yang Morgan ajak pacaran dalam satu waktu.
"Gan, kalau yang tadi pacar kamu. Terus yang di kampus waktu itu juga pacar kamu. Sebenarnya berapa pacar kamu dalam waktu bersamaan?" tanya Elina to the point.
Sesungguhnya Elina adalah wanita paling aneh yang ada di dunia ini. Padahal dirinya adalah kekasih pria itu, namun bertanya tentang wanita lain yang menjadi pacar yang lain pria itu.
Jika gadis lain pasti akan marah, dan pada akhirnya mengajak kekasihnya untuk bertengkar. Dan nantinya mengakhiri hubungan mereka. Namun dalam kasus hubungan Elina dan Morgan sepertinya mereka paling berbeda dan aneh.
Karena hanya satu pihak yang mengharapkan hubungan mereka tetap berlanjut. Sedangkan pihak yang lain merasa ingin segera mengakhiri. Dan hanya satu pihak yang mencintai, sementara pihak pria tidak sama sekali.
__ADS_1
Jadi wajar jika Elina tetap bertahan dengan kelakuan Morgan, karena Elina yang teramat mencintai Morgan. Tentu tak ingin kehilangan pria itu sedetikpun. Meski hati dan batinnya yang harus tersiksa sedemikian rupa.
Sementara Morgan yang mendengar pertanyaan Elina, merasa tak paham dengan pemikiran gadis itu. Aneh, kata itu yang pantas Ia sematkan untuk gadis itu. Benarkah Elina tak merasa keberatan dengan dirinya yang sering berganti-ganti pacar.
"Tiga sampai lima." Jujur Morgan menjawab rasa penasaran Elina.
Netra bulat milik Elina tampak membulat sempurna kala mendengar jawaban yang Morgan berikan. Sebanyak itukah? mengapa selama yang dirinya tahu hanya satu namun kerap berganti.
Sepertinya karena dirinya memang kurang memperhatikan setiap tindak laku Morgan saat bersama pacar-pacar nya yang lain. Karena memang selama ini, Elina hanya berusaha menutup mata dan telinga. Supaya tak merasakan sakit atau patah hati saat mendengar atau melihat Morgan bersama orang lain.
"Wah!?" sampai Elina tak mampu berkata-kata lagi dengan jawaban jujur yang Morgan berikan.
***
Sementara Viola yang sedang bersama kekasihnya, Nathan. Setelah mendapatkan ketenangan karena telah menemukan keberadaan Elina. Saat ini mereka justru tampak tengah mengikuti seseorang.
Sebegitu protektif Nathan terhadap Viola, tentu saja. Mereka yang telah menjalin hubungan selama dua tahun. Namun setahunya harus melakukan LDR, tentu saja menjadi kesan tersendiri bagi keduanya. Hingga Nathan begitu perduli dan sayangnya kepada kekasihnya itu.
"Iya, Baby. Tapi kita gak boleh ketinggalan orang itu. Bakal sia-sia dari tadi kita ngikutin dia." Jawab Viola tampak tak menurut pada Nathan.
Yang membuat pria itu hanya mampu menghela nafasnya. Memang sulit memberitahu pada kekasihnya itu, apalagi jika sudah menginginkan sesuatu. Nathan tentu akan merasa kewalahan dengan segala tingkah gadis itu.
"Aku belum tau, kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Viola saat mereka telah berada di dalam mobil Nathan. Saat ini mereka tengah dalam perjalanan masih mengikuti wanita yang tadi bersama Morgan.
Viola belum mendapatkan kejelasan apapun tentang kepulangan kekasihnya itu ke tanah air. Jujur sangat terkejut dengan kehadiran pria itu yang tiba-tiba menolongnya saat hendak terjatuh karena tersandung kakinya sendiri.
"Aku kangen sama kamu, jadi pulang." Jawab Nathan dengan senyuman manis nya.
__ADS_1
Viola mencebikkan bibirnya mendengar perkataan Nathan. Karena merasa pria itu hanya sedang menggombal saja. Karena Viola tak tahu sebesar apa perasaan Nathan padanya.
***
"Apa sekarang lo mau nyerah?" tanya Morgan saat mendengar keterkejutan gadis itu ketika mendengar jawaban dari nya.
Elina menggelengkan kepalanya dengan cepat kala mendengar pertanyaan Morgan. "No. Aku gak akan pernah nyerah, Gan. Karena gak ada cowok manapun yang bisa buat aku merasakan perasaan seperti yang aku rasakan ke kamu." Tegas Elina dengan tuturnya yang lembut.
Morgan memutar bola matanya malas, kala mendengar jawaban gadis itu. Dan tak berniat menanggapi ucapan Elina sama sekali. Dan akhirnya terjadi keheningan lagi diantara mereka.
"Apa kabar Tante, Gan?" tanya Elina mencari topik lain. Karena sepertinya Morgan tak tertarik membahas tentang perasaan nya.
"Baik, Mama sering nanyain lo." Jawab Morgan.
"Serius? Kenapa gak nelpon aku langsung. Pasti aku angkat." Gumam Elina yang masih terdengar oleh Morgan.
"Takut ganggu lo, bisa aja lo lagi sibuk." Tutur Morgan apa adanya. Memang itu alasan yang mamanya berikan jika diminta menghubungi Elina sendiri.
Padahal itu hanya akal-akalan mama Morgan, supaya putranya itu yang menghubungi Elina. Namun rupanya harapan mama tak sesuai kenyataan yang terjadi. Putra nya terlalu sulit untuk dipengaruhi ataupun dibujuk.
"Meskipun aku sesibuk apapun, pasti aku angkat. Karena Tante udah aku anggap mama aku sendiri." Jawab Elina dengan jujur.
Jika ditanya apa Morgan terharu dengan jawaban Elina yang begitu menghargai menyayangi mama nya? Jawabannya, tidak. Pria itu merasa biasa saja dengan penuturan yang Elina ucapakan.
Ya, mungkin semua itu karena Morgan tak memiliki perasaan apapun pada gadis itu. Sehingga merasa biasa saja, meskipun Elina bisa begitu dekat dan akrab dengan mamanya.
Akhirnya setelah melewati perjalanan beberapa menit yang memakan waktu. Kini Morgan dan Elina telah sampai dipekarangan rumah Morgan. Kedua insan itu segera turun dari kendaraan roda dua itu dan melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam rumah Morgan.
__ADS_1
Next .......