
"Makasih udah nganterin aku." Ujar Elina setelah dirinya turun dari kendaraan pria itu. Tentu saja dengan bantuan Morgan.
Morgan merespon dengan menganggukkan kepalanya. Namun pria itu tetap stay di tempatnya semula. Tak beranjak sedikitpun untuk melihat Elina benar-benar sudah masuk ke dalam rumah nya. Sungguh Morgan khawatir dengan keadaan gadis itu.
Padahal sebelumnya Morgan sudah menawarkan pada Elina untuk membantunya sampai ke dalam. Namun gadis keras kepala itu tetap kekeh dan tak mau menerima bantuan darinya. Morgan cukup tahu diri untuk tak memaksa, karena sadar Elina juga masih kecewa padanya.
Entah mengapa meski tak memiliki perasaan cinta pada gadis itu. Namun Morgan juga tak tega untuk melihat Elina merasa kecewa pada dirinya. Mungkin karena rasa sayang yang ada dalam hatinya. Membuat Morgan menjadi tak tega melihat keadaan Elina seperti saat ini.
Elina yang masih tampak lemas, berusaha melangkahkan kakinya untuk segera masuk ke dalam rumahnya. Tak ingin berlama-lama di luar dan melihat pria itu. Elina ingin segera masuk untuk mengistirahatkan tubuh dan menenangkan hatinya dari rasa sakit yang Morgan torehkan hari ini.
Meski berusaha dengan sekuat tenaga, pada akhirnya Elina akhirnya limbung juga. Gadis itu tak lagi mampu menopang berat tubuh nya sendiri. Hingga sebuah tangan terasa mengangkat tubuhnya. Dan Elina merasa melayang di udara.
Sudah dapat dipastikan siapa pelakunya, Morgan sang kekasih hatinya. Elina hanya bisa pasrah dengan perbuatan Morgan yang tanpa izin langsung membawanya dalam gendongan pria itu. Toh dirinya juga tak akan mengizinkan sih, kalau Morgan meminta izin.
Setelah sampai di depan pintu utama. Elina segera berteriak memanggil nama sang mama. Hingga akhirnya keluarlah bibi yang bertugas membantu membersihkan & memasak di rumah Elina.
"Non El, kenapa?" tanyanya sembari membukakan pintu untuk kedua sejoli itu.
Elina tersenyum menatap pada bibi di rumahnya itu. Sepanik itu melihat kondisinya saat ini. "El gak papa bi, cuma kecapean aja." Ujar Elina supaya bibinya tak lagi khawatir berlebihan padanya.
Sementara Morgan hanya terdiam membisu dan tetap membawa Elina yang berada dalam gendongan nya untuk dibawa ke kamar milik gadis itu. Namun langkahnya terhenti kala mengingat suatu hal.
"Kamar El dimana bi?" tanya Morgan kala sok tau di mana kamar kekasihnya itu. Padahal belum tahu sama sekali. Bahkan Morgan jarang sekali datang kesini. Hanya kadang-kadang, dan tidak untuk berkunjung dalam waktu lama. Ya, memang setidak dekat itu dirinya dengan keluarga Elina.
"Di sini, Mas." Tunjuk bibi pada pria yang tengah menggendong nonanya itu.
Sementara Elina memutar bola matanya malas, dengan kelakuan Morgan yang sok tahu itu. Pada akhirnya bertanya juga pada wanita paruh baya yang merupakan bibi di rumahnya itu.
__ADS_1
Morgan membawa Elina untuk masuk ke dalam kamar gadis itu. Ruangan yang tampak bersih dengan nuansa cat mocca di seluruh dindingnya. Semua barang yang ada di sana tampak tersusun rapi dan tampak indah. Mencerminkan kepribadian sang pemiliknya.
"Aku bisa sendiri." Ujar Elina saat Morgan akan merebahkan tubuh gadis itu ke ranjangnya.
Namun Morgan tak mengindahkan perkataan gadis itu. Karena pria itu tetap melakukan apa keinginan nya. "Gue balik, jangan lupa ganti baju ... dan minum obat." Ujar Morgan sebelum kakinya melangkah pergi meninggalkan kamar kekasihnya itu.
***
"Lo mau bicarain hal apa, Shell?" tanya Viola.
"Mending kita jujur sama El dari sekarang." Pinta Shella dengan yakin.
Kedua wanita yang tengah fokus mendengar perkataan Shella, mengernyit heran.
"Maksud lo? please Shell, lo yang jelas kalo ngomong." Ujar Bianca merasa kesal sendiri.
"Hubungan Morgan sama gue ... El udah tahu. Kita marahan kemarin karena hal itu." Jelas Shella.
"Astaga! jadi gimana ini?" tanya Bianca merasa panik.
Ya, selama ini hubungan Morgan dan Shella memang hanya sandiwara belaka. Bukan sengaja untuk menyakiti perasaan Elina. Melainkan tujuan mereka sebaliknya. Untuk menyelamatkan Elina dari pria playboy macam Morgan.
Awalnya ketiga sahabat Elina itu meminta baik-baik pada Morgan. Untuk berubah dan memperlakukan Elina dengan baik. Namun pria itu justru menolak, dengan tegas mengatakan tak mencintai Elina sama sekali.
Tentu mereka merasa marah dengan perkataan jujur Morgan. Namun mereka juga tahu, jika Elina lah yang memaksa hubungan mereka untuk tetap berlanjut.
Hingga akhirnya, mereka mengusulkan bantuan pada Morgan. Sebenarnya untuk membantu Elina tak lagi terjerat oleh Morgan sih. Bantuan yang mereka tawarkan adalah bersandiwara memiliki hubungan dengan Morgan.
__ADS_1
Mereka mengetahui kelemahan Elina, yaitu akan melepaskan Morgan jika pria itu memang menemukan seseorang yang benar-benar dicintai. Elina tak akan menghambat kebahagiaan Morgan.
Mereka bertiga yakin jika Morgan memang hanya bermain-main dengan wanita-wanita di luar sana. Sehingga sulit atau bahkan mustahil jika Morgan akan jatuh cinta pada salah satunya.
Hingga mereka mengusulkan untuk Morgan yang pura-pura jatuh cinta pada seorang gadis, diperankan oleh Shella. Morgan pun setuju dengan ide itu, yang terpenting Elina menyerah dengan nya.
Namun satu hal yang menjadi kesepakatan mereka. Bahwa Shella tak boleh sampai ketahuan Elina. Karena bisa menghancurkan persahabatan mereka. Bahkan mereka sudah merencanakan, Shella akan melakukan penyamaran saat Morgan akan memperkenalkan keduanya.
Namun kini rencana mereka gagal total. Morgan dan Shella ketahuan oleh Elina. Hingga saat sudah terlanjur, Morgan membuat keadaan menjadi semakin panas. Dengan sengaja meminta Shella untuk menemui dirinya yang sedang menghabiskan waktu berdua.
Awalnya Shella tak mau, namun Morgan mengatakan bahwa ini langkah terakhir untuk membuat Elina melepaskan dirinya. Dan pada akhirnya Elina akan bebas dari sakit yang dirinya perbuat.
Meski terdengar tega, namun akhirnya Shella setuju. Shella tak ingin Elina terlalu lama menderita bersama Morgan. Shella ingin Elina mendapatkan kebahagiaan bersama pria yang memang tulus pada sahabat nya itu.
"Kita harus jelasin semuanya ke El." Ujar Shella.
"Apa lo yakin El bakal percaya sama kita? Apa El bakal maafin kita?" tanya Bianca kembali panik.
"Gue gak yakin. Tapi daripada El tau dari orang lain atau tau sendiri, itu lebih nyakitin El." Ujar Shella menjawab.
Viola tampak diam, memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi. Bagaimana reaksi Elina saat mengetahui hal ini? Viola menjadi menyesal telah menyetujui rencana mereka pada waktu itu.
"Harusnya dari awal kita gak rencanain hal ini." Tutur Viola dengan nada menyesalnya.
Shella dan Bianca pun merasakan penyesalan dan das bersalah yang sama. Namun semuanya sudah terjadi, mereka harus memperbaiki bukan malah terpuruk begini.
"Kita harus segera bertindak" Ujar Viola.
__ADS_1
"Kita jelasin semuanya ke El." Tutur Shella. Dan diangguki oleh Bianca dan Viola.
Next .......