NOT CONSIDERED

NOT CONSIDERED
Masih Sama


__ADS_3

"Lo siapa sebenarnya?" tanya Viola langsung pada seorang wanita yang sejak tadi dirinya ikuti bersama kekasih nya.


Setelah perjalanan yang cukup memakan waktu untuk mengejar dan mengikuti wanita yang bisa dibilang perusuh hubungan Morgan dan Elina. Akhirnya Viola dan Nathan berhasil mencegat wanita itu dan kini sedang mereka interogasi.


Wanita yang mereka tanya itu, sama sekali tak mau membuka mulutnya untuk berbicara pada kedua pasang kekasih itu. Entahlah, apa wanita itu memang diperintahkan untuk tutup mulut terkait hubungan nya dengan Morgan atau bagaimana.


"Baby, kamu kurang keras nanyanya " Ujar Nathan pada kekasihnya itu.


Melihat bagaimana wanita itu yang tetap tak mau buka mulut. Lama-lama membuat Nathan merasa geram sendiri dengan nya. Merasa tak tega juga karena kekasihnya tampak terlihat lelah sejak tadi bertanya namun tak mendapat jawaban apapun.


"Ya udah kamu yang nanya." Pinta Viola pada Nathan. Karena jujur dirinya merasa lelah, seperti bicara dengan patung. Karena tak mendapatkan jawaban apapun sejak tadi.


Nathan mulai bangkit dari posisi duduknya untuk semakin mendekat pada wanita itu. Setelah sampai di dekat wanita itu, Nathan tampak mulai menundukkan kepalanya untuk berada tepat di dekat wajah wanita itu.


"Jawab pertanyaan gue .." Tanya Nathan dengan tatapan tajamnya. Namun belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Nathan merasa tubuhnya ditarik dari arah belakang.


"Baby?" tanyanya dengan bingung. Padahal tadi dirinya sudah memasang wajah sesangar dan tatapan setajam mungkin. Demi membuat wanita itu membuka mulutnya. Namun semuanya harus terhenti kala rupanya kekasihnya yang menarik bajunya dari belakang.


"Gak harus sedeket itu kali?" omel Viola pada kekasih nya itu.


Jujur saja, Viola merasa tak rela kalau Nathan harus berbicara dengan wanita lain sedekat itu. Bisa saja nanti wanita itu mencuri-curi pandang pada kekasih nya itu.


Atau lebih parahnya, tanpa Nathan sadari wanita itu bisa saja mengambil kesempatan untuk mencium kekasih nya itu. Dan Viola tak mau hal itu sampai terjadi pada Nathan, pria nya.


Nathan yang menyadari kecemburuan kekasihnya nya merasa ingin tertawa. Tampak senyuman geli tercetak di bibir pria tampan itu. "Memang kenapa?" tanya Nathan pura-pura tak paham.


Viola kesal bukan main saat Nathan bertanya akan hal itu. Tak tahukah Nathan, bahwa dirinya cemburu dengan jarak yang terlalu dekat seperti itu. Namun Viola juga teramat malu untuk mengakuinya. Gengsi juga sih.

__ADS_1


Wanita yang sejak tadi diinterogasi oleh kedua insan beda jenis yang rupanya sepasang kekasih itu. Tampak mulai jengah dengan drama yang dimainkan oleh sepasang kekasih itu.


Hingga akhirnya, wanita itu segera membuka mulutnya supaya bisa segera pergi dan tak merasa iri dengan kemesraan kedua sejoli itu. Jujur saja wanita itu merasa ingin juga memiliki pasangan yang bisa saling menyayangi seperti itu.


"Gue pacar Morgan, tapi udah putus. Baru jadian juga tadi pagi." Ujar wanita itu yang membuat Viola dan Nathan mengalihkan tatapannya pada wanita itu.


"What?" ujar Viola dengan terkejut. Kenapa baru sekarang wanita itu mengatakan nya. Membuang waktu saja, padahal tak begitu penting informasi itu.


Hingga akhirnya wanita itu pergi tanpa dicegah oleh kedua pasangan itu. Tentu hal itu menjadi tanda tanya bagi Nathan yang melihat kekasih nya membiarkan wanita yang sejak tadi serasa disekap mereka pergi begitu saja.


"Baby, kenapa dibolehin pergi?" tanya Nathan.


Viola memutar bola matanya malas. Selain karena sudah mendengar jawaban dari wanita itu. Alasan lainnya karena merasa cemburu. Karena sejak tadi Viola bisa menangkap kekaguman yang tergambar di wajah wanita itu pada Nathan.


"Udah tahu jawabannya, jadi untuk apalagi." Ketus Viola melangkah pergi untuk kembali ke mobil Nathan.


***


Setelah pembicaraan Elina dan Morgan saat di rumah Morgan waktu itu. Elina dan Morgan akhirnya sepakat untuk saling melakukan peran masing-masing. Elina yang berusaha membuat Morgan jatuh cinta. Dan Morgan yang harus berhenti bermain dengan wanita lain.


Dan seperti keinginan Elina untuk selalu menghabiskan waktu bersama. Supaya semakin cepat perasaan Morgan tumbuh untuk dirinya. Saat ini mereka tengah menghabiskan waktu bersama dengan menonton film di bioskop.


Meski film yang mereka tonton adalah film action bukan romansa. Namun tetap bisa membangun chemistry diantara mereka. Karena keduanya sama-sama menggemari film dari negara super power itu.


Setelah beberapa saat menghabiskan film yang mereka tonton. Akhirnya Elina dan Morgan memutuskan untuk mengisi perut mereka karena merasa begitu lapar. Hingga mereka memilih untuk makan di sebuah kafe favorit.


"Kamu mau pesan apa, Gan?" tanya Elina pada kekasih nya itu.

__ADS_1


"Samain punya lo" jawab Morgan yang tak mau ribet.


Setelahnya mereka menunggu pesanan dengan sibuk sendiri-sendiri. Elina yang sibuk termenung sementara Morgan sibuk memainkan ponselnya. Entah apa yang sedang pria itu lakukan.


Terlalu fokusnya Morgan pada ponselnya membuat Elina menjadi bertanya-tanya. Siapa yang sedang dihubungi oleh Morgan. Mungkinkah pria itu masih bermain dengan wanita lain.


Namun Elina tak ingin berpikiran negatif. Sehingga dengan segera menepis segala pemikiran nya yang berpikiran seperti itu. Takut saja jika nanti dirinya sampai menanyakan, akan mengakibatkan kerenggangan hubungan mereka kembali.


"Lama banget makanan nya." Gumam Elina mengeluh, yang tentu saja didengar oleh pria di depannya.


Meskipun begitu, Morgan tak berniat menanggapi sama sekali. Hanya fokus pada ponselnya yang tampak lebih menarik dari apapun. Hingga kehadiran seseorang mengejutkan kedua insan berbeda jenis itu.


"Hai El" sapa wanita itu dengan tersenyum manis. Dan tanpa dosa mendekati Morgan dan duduk di sebelah pria itu.


"Shell?!" panggil Elina dengan wajah bertanya-tanya.


Ada apa ini? Kenapa seolah Morgan dan sahabat nya itu. Apa masih pantas disebut sebagai sahabat jika sudah menusuk dari belakang seperti ini. Kenapa seolah keduanya sama-sama berusaha terang-terangan menunjukkan hubungan mereka di hadapannya.


"Sorry El, Morgan yang ngabarin gue kalian di sini. Jadi gue langsung kesini, lagian gue juga baru dari atas. Ini kafe gue." Jelas Shella meski Elina tak meminta penjelasan apapun.


Sesak, sakit, kecewa. Perasaan itu terasa campur aduk di hati Elina. Kekasih nya dan sahabat nya, dengan terang-terangan menyakiti perasaan nya. Kenapa mereka tega melakukan hal itu padanya? Hingga tanpa sadar, tampak cairan bening mulai membasahi pipi mulus Elina.


Bahkan gadis itu sendiri tak sadar bahwa dirinya menangis. Saat merasakan pipinya terasa basah, barulah Elina menyadari. Dan segera menghapus air matanya dengan kasar.


"Gue benci kalian!" Teriak Elina berlari pergi meninggalkan kedua orang itu.


Next .......

__ADS_1


__ADS_2