
Pada akhirnya Morgan segera mencari kontak Viola dan menghubungi gadis itu. Jika ditanya darimana dirinya memiliki nomor ponsel salah satu sahabat Elina itu. Tentu saja dari Viola sendiri, karena pada saat itu Morgan memaksa meminta nomor wanita itu untuk menanyakan kabar terkait kekasihnya, Elina
"Apa El ganti nomor telepon?" tanya Morgan pada intinya, setelah sambungan terhubung
Sementara Viola mengumpat dalam hati Betapa tidak, sudah malam-malam begini Morgan menghubungi dirinya. Ditambah pria yang tengah menghubungi dirinya itu tampak tidak begitu sopan. Tanpa berbasa basi langsung menanyakan kepentingan dirinya sendiri.
Namun daripada menambah beban hidup ataupun pikiran nya, viola memilih mengalah dibanding harus mengomel atau marah-marah pada kekasih sahabat nya itu.
"Enggak El masih pake nomor yang sama." Jawab viola di seberang sana.
"****! Berarti bener gue diblock sama dia." Gumam Morgan dengan umpatan.
Membuat Viola hanya dapat menghela nafasnya dengan lelah menghadapi manusia satu itu.
__ADS_1
"Gue masih banyak urusan, jangan ganggu gue lagi" ujar Viola dengan ketus. Viola hendak menekan ikan untuk mengakhiri panggilan itu, namun suara Morgan mencegah tindakannya.
"Tunggu! Gue minta tolong sama lo, minta El buat buka blokiran nomor gue" ujar Morgan yang begitu merasa frustasi tak bisa menghubungi nomor kekasihnya itu. Kembali terdengar helaan nafas dari seberang sana, tentu saja Viola pelakunya.
"Lo coba pake logika sedetik aja deh. Kalaupun gue minta dia buka blokiran lo, belum tentu El mau." Ujar Viola yang mulai terbawa emosi, merasakan Morgan tampak seperti tak berpikir secara lugu.
Morgan tampak terdiam mendengar ujaran Viola. Benar apa yang Viola katakan, jadi dirinya.harus bagaimana sekarang? Pikimya.
"Jadi gue harus apa?" tanya Morgan dengan lugunya.
"Lo tinggal hubungin El pake nomor baru!" jawab viola dengan emosi. Lalu tanpa banyak kata langsung memutus sambungan telepon mereka.
Dan Morgan langsung mengulas senyum seketika akhirnya dirinya mendapatkan ide apa yang harus dilakukannya. Wajar viola begitu kesal padanya, karena pemikiran sesederhana itu saja mengapa dirinya sampai tak terpikirkan.
__ADS_1
...***...
Sementara di belahan bumi yang lain, tampak Elina tengah terlihat baru bangun dari tidurnya yang tak begitu nyenyak. Bangunnya Elina dari terelelapnya bukan karena ketidak nyenyakan yang dirinya dapatkan. Melainkan karena sejak tadi ponselnya tampak berdering tanda ada panggilan masuk.
Dengan masih kesulitan membuka matanya, Elina mengangkat panggilan itu. Namun saat mendengar suara dari sambungan itu, seketika netranya tampak membulat sempurna.
Deg
Dan tentu saja seketika jantungnya berdetak begitu cepat, Elina terkejut bukan main.
"Morgan" gumamnya lirih dengan mata yang berkaca-kaca. Elina begitu merindukan suara pria itu. Elina rindu ingin bertemu dengannya. Entah mengapa setelah mendengar suaranya, seolah segala kesalahan Morgan kemarin terhempas dan hilang begitu saja
"El, maafin gue. Gue pengen ketemu lo" ujar Morgan dengan tersenyum dalam lirih.
__ADS_1
Belum mendengar suara kekasihnya padahal. Namun mengetahui Elina tengah mengangkat panggilan darinya dan merasakan Elina pasti mendengar suaranya. Membuat jantungnya terasa berdetak tak menentu. Perasaan rindu itu sepertinya nyata adanya. Dan kini, mungkin hal itu yang dirasakannya.
Next .......