
Morgan yang masih dalam keterkejutan nya, atas pelukan yang Shella berikan tiba-tiba. Akhirnya tersadar dengan apa yang terjadi pada mereka. Dengan spontan, Morgan mendorong tubuh Shella agar melepaskan rengkuhan pada tubuhnya.
"Apa yang lo lakuin?" tanya Morgan dengan wajah kesalnya, menatap Shella dengan tajam.
Sementara gadis yang sedang Morgan mintai jawaban atas tindakannya itu, hanya mampu terdiam membisu. Tampak gadis itu hanya mampu menunduk seperti merasa takut.
Morgan yang menyadari hal itu menghela nafasnya dengan pelan. "Sorry, gue spontan bentak lo." Ujar Morgan yang merasa sudah keterlaluan pada sahabat kekasihnya itu.
"Maksud lo apa dengan yang lo lakuin tadi?" tanya Morgan kembali.
Shella yang mendapatkan ucapan permohonan maaf dari Morgan merasa sedikit lega. Awalnya memang terkejut dan begitu takut ketika mendengar pria di hadapannya itu menggunakan nada keras.
Dengan perlahan Shella mengangkat wajahnya untuk melihat wajah tampan pria di depannya itu. Tak salah jika sahabat nya begitu mencintai pria di depannya itu.. Selain tampan, Morgan juga begitu terlihat berwibawa, cool, dan berkarisma.
Tak dapat dipungkiri, dirinya sejujurnya juga tertarik dan terpikat pada pria didepannya itu. Shella menyadari sepenuhnya bahwa dengan hal ini, sama saja dirinya telah menyakiti Elina.
Namun apa daya dirinya, tak ada manusia yang bisa memilih siapa yang akan dirinya suka, sayang, dan cintai. "Sorry El" gumam Shella dalam hati, merasa bersalah pada Elina.
"Gue suka sama lo, Gan." Ungkap Shella pada pria di hadapan nya. Shella memilih jujur untuk membuat hatinya merasa lega. Entah akan menyakiti Elina atau tidak pada akhirnya, dirinya tak ingin memikirkan hal itu terlebih dahulu.
Deg
Morgan terkejut bukan main mendengar pernyataan yang gadis itu sampaikan. "Lo gila?!" ujar Morgan memandang terkejut wajah Shella.
Shella menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Gue serius, sorry Gan. Gue gak bisa bohongin perasaan gue." Tuturnya menjawab keterkejutan Morgan.
Morgan menggelengkan kepalanya, merasa tak menyangka dengan apa yang Shella katakan. "Lo gila, gue gak mau ada urusan sama lo kedepannya." Tegas Morgan sebelum kakinya melangkah untuk meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Namun belum sempat kakinya melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Terasa tubuhnya di tubruk dari belakang oleh seseorang yang tentu saja dirinya tahu siapa pelakunya.
Morgan hanya mampu terdiam dan menghela nafasnya dengan berat, kala di hadapannya telah berdiri seorang wanita yang begitu mereka kenali.
"Gue gak nyangka kalian sebrengsek ini." Tutur wanita cantik itu, kemudian melangkah pergi meninggalkan dua orang yang masih berpelukan itu. Tepatnya di wanita yang memeluk si pria dari arah belakang.
Morgan melepaskan dengan cepat tangan Shella yang melingkar di perutnya. Membalikkan tubuhnya, Morgan menatap Shella dengan tajam.
"Apa mau lo?" tanya Morgan dengan tatapan tajamnya. Geram sekali rasanya. Masalah Elina belum selesai, sekarang Shella mau membuat masalah baru.
Shella tersenyum menatap Morgan balik. Tak dirinya pedulikan tatapan tajam pria itu. Perasaan dalam hatinya telah membutakan mata hatinya.
"Selama ngejalanin rencana kita buat Elina, gue yakin dari kebersamaan kita kemungkinan ada perasaan yang tumbuh di hati lo. Gue mau lo belajar membuka hati buat gue. Atau lo coba lihat ke dalam hati lo, mungkin ada gue di sana." Jelas Shella dengan keyakinannya sendiri.
Sontak pernyataan Shella membuat Morgan tercengang. Shella sebelah duabelas dengan kekasihnya, Elina. Mengingat Elina membuat Morgan menjadi merasakan sesuatu perasaan ingin bertemu dengan gadis itu. Mungkinkah itu, rindu.
Sementara Viola yang baru saja melihat dan menyaksikan kelakuan tak pantas Morgan dan Shella. Saat ini tengah berjalan tergesa untuk mencari sahabat nya yang satu lagi. Siapa lagi kalau bukan Bianca.
"Ini Bianca kemana sih? gue cari dari tadi juga." Omelnya lagu dengan kesal.
...***...
Setelah mendengar jawaban Bianca, Elina tanpa pamit menutup sambungan telepon mereka. Tanpa bisa dicegah air matanya mengalir begitu saja dari kedua matanya. Hatinya sakit, dan dadanya terasa sesak.
Perasaan dikhianati oleh orang-orang yang begitu dipercayai dan disayanginya, membuat matanya terasa panas. Hingga deraian air matanya begitu deras mengalir tanpa sanggup ditahannya.
Saat masih dalam kekalutannya, Elina merasakan sebuah tangan menepuk bahunya. Saat membalikkan tubuhnya, Elina mendapati Adeline menatap iba padanya.
__ADS_1
Wanita itu tampak mengulurkan tangannya. Tentu Elina sambut dengan suka cita, segera masuk dalam pelukan teman baiknya itu.
"Hiks gue salah apa sama mereka sih, Del. Kenapa mereka tega sama gue?" tanya Elina dalam gumaman penuh isaknya.
Adeline tak berucap apapun, karena dirinya juga belum tahu alasan dibalik perbuatan mereka pada Elina. Yang mampu dirinya lakukan hanya mengusap punggung Elina dengan perasaan sayangnya.
Skip
"Kita akan tahu jawabannya, alasan mereka ngelakuin itu El." Ujar Adeline pada Elina.
Setelah sibuk dengan kekalutan dan kesedihan yang Elina rasakan. Pada akhirnya Elina mencoba untuk kembali bangkit dan menuntaskan seluruh permasalahannya. Apalagi Adeline selalu siap untuk membantunya.
"No. Gak perlu lagi Del. Gue akan selesaiin ini sendiri. Setelah gue pulang ke negara gue, gue akan kelarin semuanya." Ujar Elina dengan yakin.
Adeline cukup mengerti. Pasti Elina akan lebih merasa puas jika mendengar jawabannya langsung dari sahabat-sahabat nya. Dan dirinya hanya mampu mendukung bagaimanapun keputusan teman baiknya itu.
"It's ok. Gue support lo gimana pun keputusan lo, El." Ujar Adeline.
Elina tersenyum pada wanita itu. "Thanks Del. Mending kita liburan sekarang, gue kangen jalan-jalan sama kalian." Ujar Elina berusaha memilih untuk membuat hatinya bahagia. Bukankah kebahagiaan itu pilihan?
Akhirnya sesuai keinginan Elina, Adeline dan teman-temannya yang lain menemani Elina jalan-jalan. Mereka memutuskan untuk eksplorasi ke alam, lebih menenangkan dan menyejukkan tentunya.
"Niat kita ke sini buat bahagia, El. Jangan diem dan bengong, kan makin sedih jadinya." Ujar Elina mengingatkan tujuan awal mereka.
Elina yang sejak tadi diam melamun, akhirnya tersenyum kala mendengar perkataan Adeline. Jujur bukan hal mudah melupakan permasalahan yang baru saja terjadi.
Namun perlahan, hal itu akan bisa teratasi dengan mudah. Hanya butuh proses saja, dan menikmati proses berharga itu. "Ya sorry, Del. Gue sering lupa" canda Elina pada Adeline.
__ADS_1
"Lo mah. Udah yuk kita gabung sama yang lain. Biar lo gak makin kepikiran." Ujar Adeline lagi. Dan dijawab anggukan oleh Elina. Hingga akhirnya mereka ikut bergabung bersama yang lain dan seru-seruan.
Next .......