NOT CONSIDERED

NOT CONSIDERED
Dia Pergi


__ADS_3

Morgan yang sejak tadi terpaku menatap di mana punggung Elina menjauh pergi. Tersentak saat mendengar suara benturan keras yang sepertinya berada di sekitarnya.


Tanpa banyak basa-basi, Morgan segera berlari membawa langkah kakinya untuk meninggalkan tempat di mana dirinya terdiam sejak tadi. Firasat nya mulai tak enak. Entah mengapa, hatinya menjadi terusik dan khawatir dengan keadaan Elina.


Dan ... benar saja, saat sampai di mana sumber suara itu berasal. Tubuhnya menegang kemudian melemas seketika. Dengan mata kepalanya sendiri, dirinya melihat kekasih hatinya terkulai lemah tak berdaya. Sekujur tubuh wanita pujaan nya itu tampak dipenuhi dengan goresan dan darah.


"El ..." Gumamnya pelan dengan mata yang berkaca-kaca.


Morgan segera membawa Elina ke dalam pangkuan nya. Dengan rasa panik dan khawatir mencoba membangunkan gadis yang dicintainya itu.


"El bangun, El. Ini gue Morgan, please bangun. Gue yakin lo kuat El." Ujarnya dengan sendu, hingga tanpa sadar setetes air jatuh di pipinya. Ya, Morgan menangis melihat keadaan Elina saat ini.


Gadis yang rupanya telah berhasil menguasai seluruh hatinya. Kini tampak lemah tak berdaya di pangkuannya. Morgan merasa menyesali semua waktu yang sempat dirinya sia-siakan bersama kekasih nya itu.


"El!!!" Teriak Viola dan Bianca. Kedua gadis itu menganga tak percaya.


Segera berlari mendekati sahabat nya itu. Keduanya menangis sembari menyentuh tangan Elina yang tak sadarkan diri.


"Kita harus bawa ke rumah sakit." Ujar Bianca yang masih bisa berpikir dengan logis.

__ADS_1


Morgan yang masih sibuk mengusap wajah kekasihnya itu, mengangkat pandangannya. Benar apa yang Bianca katakan. Rasa syok dan kesedihan nya membuat nya tak bisa berpikir jernih.


Sementara di sana memang hanya ada mereka. Tak ada orang lain lagi, karena rata-rata semua mahasiswa sudah meninggalkan kampus sejak tadi.


Morgan segera mengangkat tubuh kekasihnya itu. Namun terdengar suara yang membuat nya harus menunda melakukan hal itu. Saat dilihatnya, rupanya Elina masih tampak sadar meskipun tak begitu sadar sepenuhnya.


"Gue gak kuat, gak perlu bawa gue ke rumah sakit Gan." Lirih Elina dengan suara terbata-bata.


Sontak permintaan Elina itu membuat ketiga manusia itu menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tak ingin menuruti permintaan Elina yang tak masuk akal.


"Lo jangan aneh-aneh El. Gan bawa Elina ke rumah sakit. Kita harus cepet." Ujar Viola memaksa Morgan untuk segera membawa Elina ke rumah sakit.


Morgan akan melakukan nya lagi, namun Elina menggeleng lemah dan berujar dengan sangat memohon.


Membuat Morgan, dan kedua sahabat Elina itu menjadi pasrah. Menghela nafas panjang mereka dengan tatapan sendu.


Viola dan Bianca yang sejak tadi berada di dekat Elina. Membawa tangannya untuk menyentuh tangan sahabat nya itu.


"Kita butuh lo di sini El. Please jangan egois." Pinta Viola dengan Isak tangis.

__ADS_1


"Iya El, lo harus tetap bertahan demi kita. Orangtua lo juga pasti gak mau lo nyerah gini." Ujar Bianca menambahi.


Kedua wanita itu menangis terisak-isak. Mereka tak mungkin rela melihat sahabat baiknya menyerah dengan hidupnya sendiri. Apalagi Elina akhir-akhir ini belum menemukan kebahagiaan nya sendiri.


"El, gue cinta sama lo, gue sayang sama lo. Gue gak mau lo pergi El." Ujar Morgan menatap sendu pada Elina.


Mendengar ungkapan cinta Morgan, Elina tersenyum. "Gue udah berusaha lupain lo Gan, tapi sulit. Setelah denger ungkapan cinta lo, gue jadi lega."


Morgan tersenyum mendengar ucapan Elina. Dengan perlahan, dirinya mendaratkan kecupan di kening gadis nya itu.


Sementara Elina begitu menikmati kecupan hangat yang Morgan berikan. Hingga setelahnya, hanya ada kegelapan dalam pandangannya.


Sontak Bianca, Viola dan Morgan merasa panik atas kejadian itu. Elina tak sadarkan diri saat ini.


"El El El Elina bangun El!!" Teriak mereka dengan menggoyangkan badan Elina.


Hingga hanya terdengar suara tangisan pilu dari kedua wanita itu. Dan isakan pelan pria yang tengah memangku wanita yang dicintai nya.


Wanitanya telah pergi, meninggalkan dirinya di sini. Meninggalkan sebuah penyesalan dan luka atas rasa bersalah yang begitu besar dan dalam.

__ADS_1


"Gue cinta lo El, maafin gue." Lirihnya mengecup kembali kening Elina.


...TAMAT ...


__ADS_2