NOT CONSIDERED

NOT CONSIDERED
Healing


__ADS_3

Setelah kepergian Morgan, Elina menghembuskan nafasnya dengan kasar. Tak tega sebenarnya melakukan hal-hal yang berpotensi melukai kekasihnya itu. Namun rasa kecewanya kali ini sungguh membuat Elina merasa benar-benar sakit.


"Gue butuh waktu sendiri" gumam Elina pada dirinya sendiri. Dirinya butuh waktu untuk meredakan segala pikiran nya yang sedang kacau. Bisa-bisa dirinya tak mampu waras lagi, jika masih tetap bergelut dengan permasalahan nya yang tak kunjung selesai ini.


...***...


Keesokan harinya, Elina memutuskan untuk tak masuk kuliah. Selain ingin mengistirahatkan tubuh dan pikiran, Elina juga ingin menghindari orang-orang yang menjadi pemicu pikiran nya menjadi kacau.


Meskipun begitu, Elina masih memberikan kabar pada kedua sahabatnya yang lain, Viola dan Bianca. Karena kedua wanita itu pasti akan memarahinya atau mengomel habis-habisan jika dirinya tak ada kabar yang jelas.


"Lo kemana sih?" tanya Viola begitu geram. Pasalnya Elina jarang melakukan hal seperti ini. Biasanya kalau liburan pun pasti akan mengajak mereka terlebih dahulu. Meskipun belum tentu mereka ikut, tapi Elina pasti akan mengajak mereka serta.


"Gue mau liburan, otak gue butuh refreshing kali." Jelas Elina memberitahu.


"Lo mah gak seru banget. Kenapa gak ngajak-ngajak kita coba." Omel Bianca. Saat ini mereka tengah melakukan panggilan video dengan keberadaan Viola dan Bianca yang satu tempat.


"Sorry guys, gue perginya sama nyokap bokap.Ya kali ngajak kalian, ribet dong." Ujar Elina dengan santai.


"Yaelah pantesan. Lo emang gak pernah mau kalau kita ikutan liburan keluarga lo." Ujar Bianca yang akhirnya paham dengan sahabat nya itu. Yang sama sekali tak mengajak mereka berdua.


Saat ini memang Elina tengah pergi ke Paris bersama kedua orang tuanya. Orangtuanya yang memiliki urusan bisnis di sana, membuat Elina memutuskan untuk ikut serta. Meskipun harus membolos kuliah, karena Elina tak pernah membolos selama ini.


Elina selama ini hanya akan ikut pergi kedua orangtuanya, jika kuliah atau sekolahnya sedang libur. Namun kali ini Elina memutuskan hal yang jauh berbeda. Semua demi kewarasan pikiran dan jiwanya.


Lagipula Elina juga begitu merindukan semua teman-temannya yang ada di Paris. Ya meskipun jarang kesana, namun Elina sempat tinggal beberapa tahun di sana. Sehingga dirinya memiliki cukup teman akrab di sana.


Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, akhirnya Elina dan kedua orangtuanya telah sampai di Paris. Mereka segera menuju rumah mereka yang memang ada di sana. Tempat tinggal mereka saat tinggal beberapa tahun di negera ini.

__ADS_1


"Kamu istirahat dulu, Sayang. Papa sama Mama harus langsung ke tempat acara. Nanti kita jalan-jalan bersama." Ujar Mama berpamitan pada putrinya itu.


"Iya Ma, hati-hati." Ujar Elina dengan wajah lelah nya.


Akhirnya Elina menuruti perintah Mama. Mengistirahatkan tubuhnya yang begitu lelah setelah menempuh perjalanan jauh. Dengan perlahan, Elina merebahkan tubuhnya di ranjang empuknya.


"Good bye Morgan. Gue gak bakal ketemu lo sementara waktu. Meskipun gue kangen banget, tapi gue masih kecewa." Gumam Elina berujar lirih.


Jujur dirinya merindukan Morgan saat ini. Mengingat sekarang mereka berada di negara yang berbeda. Elina merasa begitu amat merindukan pria itu. Namun rasa kecewa di hatinya mengalahkan kerinduan itu.


Dirinya ingin berhenti sejenak memikirkan masalah nya bersama Morgan. Biarkan dirinya dan Morgan saling introspeksi, mungkin. Jika pria itu sadar sudah menyakiti nya. Namun ... bukankah memang Morgan memang berniat membuat nya pergi, dengan menyakiti perasaan nya?


...***...


"Lo langsung pulang, Bi?" tanya Viola setelah mereka selesai melakukan panggilan video dengan Elina.


"Iya Vi, gue mager banget hari ini. El gak masuk, si Shella juga gak tau ilang kemana." Tutur Bianca berdecak sebal.


Baru saja dipikirkan, sudah muncul saja kekasih sahabat nya itu. Siapa lagi jika bukan Nathan.


Tampak pria itu berjalan ke arah mereka dengan tersenyum, dan pastinya tatapannya tertuju pada Viola. Mereka super bucin. Membuat Bianca yang masih single merasa kesal.


"Gue duluan, silahkan membucin bye." Ujar Bianca diringi teriakan di akhir kalimatnya. Karena wanita itu sudah berlari meninggalkan sepasang bucin akut itu.


*Hari ini rencana mereka gagal, karena rupanya Elina lebih dulu pergi untuk menenangkan diri. Dan mereka tentu tahu alasannya. Karena Shella sudah menjelaskan semuanya. Namun saat mendengar Elina sedang berlibur, tiba-tiba Shella juga ikut menghilang entah kemana.*


"Baby, kangen" ujar Viola dengan nada manja. Tubuhnya langsung menubruk tubuh Nathan yang tegap dan berotot.

__ADS_1


Nathan pun segera menyambut pelukan kekasihnya itu dan membalasnya dengan erat. Mereka benar-benar definisi bucin yang sesungguhnya.


"Mau kemana hari ini?" tanya Nathan masih dalam posisi mereka yang saling berpelukan.


"Mau berduaan aja. Jangan cepet-cepet balik ke Australi ya, Beb." Pinta Viola dengan nada sedih.


Nathan hanya membalasnya dengan usapan lembut di punggung gadis itu. Bingung juga untuk mengabulkan keinginan wanita nya. Karena kuliah nya di sana juga penting.


Bisa-bisa dirinya dipecat menjadi bagian dari keturunan Nicholas, jika sampai tak kembali ke negara tempatnya menuntut ilmu itu. Karena semua keputusan menuntut ilmu di negara orang itu merupakan keinginan dari orang tuanya.


"Kamu gak selingkuh kan di sana?" tanya Viola tiba-tiba. Entah mengapa mengingat kisah percintaan Elina dan Morgan yang begitu rumit, membuat Viola merasa wanti-wanti supaya Nathan tak akan melakukan hal yang sama.


Nathan yang terkejut dengan tuduhan Viola, segera melepaskan pelukan mereka. Netranya menatap lekat pada kekasihnya itu. "Kamu lebih tahu aku gimana, Baby." Ujar Nathan dengan yakin.


Viola mengangguk paham dan tersenyum, kemudian kembali memeluk Nathan dengan erat. Rasanya ingin terus seperti ini. Karena rasanya begitu nyaman berada di pelukan kekasih nya itu.


"Elina berkali-kali sakit karena kelakuan Morgan. Aku gak mau nanti kamu kayak gitu. Aku milih mati daripada harus kehilangan kamu, Baby." Tutur Viola dengan lirih.


Nathan mengetatkan rahangnya kala mendengar penuturan kekasihnya itu. "Kamu gak boleh pergi kemanapun ninggalin aku, Beb. Aku juga gak tertarik sama cewek lain. Cuma kamu yang ada di hati ini, selamanya." Ujar Nathan dengan tegas.


Viola tersenyum dalam pelukan pria itu. Rasanya bahagia dengan hubungan mereka yang stabil seperti ini. Meski kadang ada bertengkar, namun hanya hal-hal wajar. Tak sampai masalah yang begitu besar.


"Kapan kamu berangkat lagi?" tanya Viola penasaran.


Meski sempat meminta Nathan tak pergi segera, namun Viola sadar kalau kekasihnya memang harus tetap kembali entah cepat atau lambat. Hingga dirinya bertanya untuk mempersiapkan diri, melepaskan Nathan kembali.


Nathan menghela nafasnya dengan berat. "Dua minggu lagi, Baby." Jawabnya dengan lesu.

__ADS_1


Viola mengangguk, tampak wajah sedih di sana. Namun bagaimana lagi. Sudah seharusnya seperti itu.


Next .......


__ADS_2