
Sontak ketiga wanita yang juga sedang berada di sana, melebarkan matanya. Terkejut dengan kejadian tiba-tiba yang menimpa teman pria nya itu.
"Morgan?!" gumam Elina tak menyangka dengan tindakan pria itu.
"What? apa maksud lo Morgan?" tanya Bianca yang langsung menolong pria yang terkapar karena pukulan Morgan itu.
"Gue gak terima dia nyentuh El." Tukasnya dengan menatap tajam pria itu.
Sontak ketiga wanita cantik itu menganga tak percaya. Morgan semakin tak jelas saja. Mereka memahami maksud Morgan. Namun tak memahami apa yang pria itu lakukan. Bukankah dirimu tak mencintai Elina, so what?
"Terus kenapa? El berhak lagi mau deket sama siapapun." Tegas Viola membalas tatapan tajam Morgan.
"Enggak, El cuma boleh deket sama gue. Cuma gue yang boleh nyentuh El." Jawab Morgan dengan wajah datarnya. Tak lupa tatapan tajamnya.
Sementara Elina tersenyum sinis dengan perkataan Morgan. Betapa Morgan begitu tak memiliki prinsip. Apa sebenarnya maksud pria itu. Seolah-olah dirinya milik pria itu. Padahal sejak dulu pria itu sendiri yang ingin dirinya pergi.
__ADS_1
"Viola benar. Gue berhak mau izinin siapapun nyentuh gue Gan. Lo gak ada hak buat larang. Bukannya lo juga gak mau kan, nyentuh gue atau bahkan deket-deket sama gue. Gue sadar diri Gan, jadi jangan buat gue berharap lagi sama lo." Tegas Elina berlalu pergi meninggalkan mereka.
Namun Morgan mengentikan langkah wanitanya. Tak rela Elina pergi sebelum mendengar pernyataan cinta dari dirinya.
"El, gue berhak atas lo. Lo masih milik gue. Selamanya akan tetap jadi milik gue." Ujar Morgan menatap dalam manik indah Elina.
"Atas dasar apa? Atas dasar apa lo ngeklaim gue milik lo? Kita udah selesai. Dan gue juga masih ingat dengan jelas, Gan. Lo yang selama ini ngelakuin banyak cara supaya gue pergi dari hidup lo. Jadi jangan halangi gue pergi sekarang." Ucap Elina dengan tajam.
Morgan tertunduk setelah mendengar ucapan Elina yang tajam dan nyata adanya. Namun kini dirinya menyesal, dirinya tak ingin kehilangan Elina.
Belum sempat Morgan menyesuaikan perkataan nya, Elina sudah memotong perkataan pria itu. Sungguh Elina tak ingin mendengar apa yang akan Morgan ucapkan itu.
Setelah hatinya sudah berusaha untuk melupakan mantan kekasihnya itu. Kenapa Morgan baru sekarang menyadari perasaan nya itu. Sedangkan dirinya, kini sudah belajar rela melepaskan pria itu untuk pergi.
"Gue harus pergi!" tegas Elina dengan datar.
__ADS_1
Morgan tak mampu lagi mencegah kepergian Elina dari hadapannya maupun dari kehidupannya. Nyatanya wanita yang rupanya telah dicintainya itu. Sudah sangat kecewa dengan nya. Bahkan hanya sekedar mendengar ungkapan cintanya saja tak ingin.
Jadilah Morgan hanya mampu melihat punggung Elina yang mulai menjauh dengan tatapan nanar. Apa sungguh tak ada sedikitpun kesempatan untuk dirinya, meskipun hanya sekali.
Sementara Elina melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Morgan dengan air mata yang tampak mengalir dari matanya. Bukan hal mudah mencintai Morgan, padahal pria itu selalu berusaha memaksa nya untuk pergi.
Namun setelah dirinya berusaha untuk melupakan pria itu. Mengapa Morgan harus datang kembali padanya. Seolah-olah menawarkan cinta dan kebahagiaan yang entah itu nyata atau tidak.
Karena tak fokus nya Elina melihat jalan yang dilewati. Tanpa sadar gadis itu sudah berjalan di tengah jalan besar. Karena kesedihan masih membelenggu hatinya. Membuat nya tak sadar, ada sebuah kendaraan roda empat tengah melintasi jalan yang dirinya pijaki dengan kecepatan tinggi. Dan ..
BRAKK
Elina hanya mampu merasakan sakit di seluruh tubuhnya. Sebelum penglihatannya tampak menghitam dan gelap. Hingga kemudian dirinya tak ingat apapun lagi.
Next .......
__ADS_1