
Setelah saling sepakat untuk menyelidiki kasus pribadi Elina. Saat ini Elina dan Adeline tengah menyusun rencana untuk memulai penyelidikan mereka. Elina juga dibantu serta oleh teman-teman Adeline yang lain. Supaya urusan mereka segera terselesaikan dengan banyak bantuan seperti ini.
"Apa kita perlu pergi ke negara gue?" tanya Elina pada Adeline dan teman-teman Adeline yang lain.
"Gak perlu, gue bisa hack segala akses mereka." Ujar satu teman Adeline, seorang wanita cantik yang terlihat swag.
Elina tersenyum mendengarnya, betapa beruntung dirinya mendapatkan orang-orang yang begitu perduli pada nya. Bahkan saat ini, saat dirinya mendapatkan permasalahan. Ada saja yang tulus membantu dirinya.
"Thank you, guys. Kalian mau bantuin gue" tutur Elina dengan tulus. Dan diangguki mereka dengan tersenyum.
Masing-masing mereka memiliki tugas sendiri, dalam memecahkan masalah Elina ini. Sebenarnya bukan masalah yang begitu besar ataupun berbahaya.
Namun melihat mereka masing-masing bekerja, membuat Elina merasa sedikit berlebihan. Elina menjadi malu sendiri karena tak mampu menyelesaikan masalah nya sendiri. Justru meminta bantuan orang lain.
Elina yang semula duduk di samping teman Adeline yang jago hack, kini perlahan mulai berjalan mendekati Adeline. Mendudukkan dirinya di samping temannya itu.
Kemudian Elina berbisik pelan pada Adeline. "Gue malu, masalah pribadi gak bisa selesaiin sendiri. Malah dibantu kalian." Bisiknya supaya yang lain tak mendengar perkataan nya.
"Astaga, selow aja Na. Gue dan yang lain biasa aja. Di sini juga banyak yang minta bantuan kita buat nyelesaiin hal-hal kayak gini." Jawab Adeline ikut berbisik pula.
"Serius? Gue ngerasa lebay deh, kok mereka enggak ya?" tanya Elina, merasa heran dengan masyarakat yang Adeline maksud.
"Hem ya begitulah. Karena banyak temen-temen kita yang tahu kerjaan kita gimana . Jadi daripada pusing, mereka lebih milih minta bantuan ke kita. Mereka super sibuk, gak mau buang waktu buat ngepoin urusan orang. Jadi minta bantuan kita yang dibuat kepo." Jelas Adeline yang apa adanya, dengan kekehan merasa lucu.
Elina manggut-manggut mendengar penjelasan Adeline.
"Lo cinta sama Morgan?" tanya Adeline penasaran.
Sebenarnya dari raut galau sama sedihnya saja, harusnya Adeline sudah dapat menyimpulkan. Namun Adeline ingin mendengar sendiri dari mulut Elina bahwa gadis itu memang mencintai kekasihnya itu.
__ADS_1
"Gue gak akan kayak gini, kalau gue gak cinta sama dia, Del." Ujar Elina kembali sendu.
Adeline mengusap pelan bahu Elina untuk menenangkan gadis itu. "Apa lo merasa dia cinta juga sama lo?" tanya Adeline kembali.
Mendengar pertanyaan Adeline, Elina tersenyum tipis. "Entahlah, gue gak yakin juga Del. Kadang gue merasa dia cinta sama gue. Tapi ada kalanya... dia sama sekali gak punya perasaan sama gue." Jelas Elina dengan sendu.
Adeline merasa prihatin dengan keadaan temannya itu. Namun bagiamana lagi, Elina sudah jatuh cinta. Jadi tak mungkin semudah itu jika meminta Elina melupakan Morgan. Meskipun pria itu sudah melukai dan menyakiti hatinya.
"Suatu hari, kalau Morgan ketemu seseorang yang benar-benar dia cintai. Apa lo siap lepasin dia?" tanya Adeline dengan penasaran.
Elina terdiam, benarkah Morgan akan menemukan orang lain yang akan membuat pria itu jatuh cinta? Apa Elina tak begitu cukup untuk membuat pria itu jatuh cinta dan menetap dengannya?
"Gue mungkin bisa rela, asalkan Morgan bahagia. Tapi .." Jawab Elina pada akhirnya. "Mungkin gue akan mati, karena harus lepasin dia." Lanjut Elina berujar lirih.
...***...
Setelah dilakukan penyelidikan selama kurang lebih tiga hari. Pada akhirnya mereka berhasil menemukan titik temu dan sedikit jawaban. Pada intinya, hanya tinggal beberapa langkah lagi, Elina akan mendapatkan semua jawaban yang dicarinya.
"Apaan sih Del, lo malah bikin gue takut." Ujar Elina yang menjadi khawatir setelah Adeline berujar demikian.
Adeline menghela nafasnya berat. "Hubungan Morgan dan Shella, ada campur tangan kedua sahabat lo yang lain." Tutur Adeline.
Deg
Elina terkejut mendengar kenyataan pahit itu. Setega itukah kedua sahabatnya menyakiti dirinya? Mengapa selama ini Viola dan Bianca tampak begitu tulus padanya. Rasanya tak mungkin jika mereka tega mengkhianati dirinya.
"Gue ...gue gak percaya Del." Ujar Elina merasa tak percaya.
Adeline memahami apa yang Elina rasakan. Tangannya mengusap pelan bahu Elina untuk menenangkan. "Gue belum tahu pasti terlibatnya mereka seperti apa. Karena itu masih gue selidiki sama yang lain." jelasnya.
__ADS_1
"Gue rasa lo jangan negatif thinking dulu sama mereka. Bisa jadi mereka ada alasan tertentu ikut terlibat" Ujar Adeline lagi yang hanya ditanggapi Elina dengan anggukan. Karena gadis itu masih tampak syok dengan kenyataan itu.
"Gue mau hubungi mereka dulu." Ujar Elina pada akhirnya.
Elina meninggalkan tempat di mana Adeline berada. Ia mengambil ponsel kemudian segera menghubungi kedua sahabatnya yang diperkirakan memiliki campur tangan dengan rasa sakit yang saat ini dirinya alami. Yang membuatnya harus meninggalkan tempat kelahirannya sementara waktu.
"Hallo El, kenapa? kangen lo sama gue? Lagian lo gak balik-balik betah banget di sana." Baru saja sambungan terhubung, Bianca sudah menyerocos tanpa henti.
"Kebiasaan banget lo Bi." Kekeh Elina menanggapi ucapan sahabatnya itu.
"Ya gimana, gue dari sananya udah kayak gini El." Ujar Bianca tertawa kecil.
Elina terdiam sejenak, ada hal penting yang mesti dibicarakan dengan Bianca.
"Bi, gue mau ngomong serius sama lo. Ini tentang hubungan Morgan sama Shella." Ujar Elina dengan tegas.
Bianca memegang diseberang sana kala mendengar perkataan Elina. Demi apapun dirinya menjadi gelisah dengan pembahasan yang akan Elina bicarakan. "Lo mau bahas soal apa El?" tanya Bianca dengan hati-hati.
"Bi, gue mau nanya sama lo. Please gue minta lo jawab dengan jujur Bi." Pinta Elina dengan nada memohon.
"Gue bakal jawab sebisa gue El." Jawab Bianca yang merasa tak tega pada sahabatnya itu. Apapun yang Elina tanyakan, dirinya berniat untuk jujur apa adanya. Tak ingin membuat sahabatnya itu semakin bersedih. Dirinya cukup merasa bersalah dengan rencana mereka selama ini.
Elina terdiam sejenak untuk menetralkan perasaan gemuruh dalam dadanya. "Apa hubungan Morgan sama Shella, ada sangkut pautnya sama kalian?" tanya Elina dengan sarkas.
Bianca yang mendapatkan pertanyaan tepat sasaran dari Elina merasa semakin tegang. Namun dirinya sudah berjanji untuk menjawab jujur segala pertanyaan dari sahabatnya itu.
"Maafin gue El, gue ..." jawab Bianca pada akhirnya. Namun gadis itu tak sanggup melanjutkan perkataannya lagi. Merasa tak sanggup untuk menjelaskan kelanjutan penjelasannya.
Elina tersenyum miris mendengar jawaban yang Bianca katakan. Awalnya dirinya tak ingin mempercayai apa yang Adeline katakan. Bahkan dirinya juga berharap kalau jawaban yang akan Bianca berikan. Akan sesuai apa yang dirinya inginkan.
__ADS_1
Namun segalanya terjadi di luar keinginannya saat ini. Kenyataan yang ada sungguh membuat perasaan dan hatinya merasa perih san sesak.
Next .......