Obsesi Sang Gadis Kecil

Obsesi Sang Gadis Kecil
ALUNA TERLUKA


__ADS_3

Alunaku Terluka.


Diruangan cafe berkelas vvip ada dua pemuda tak saling bebicara hanya ada suara air yang mengalir disudut dinding cermin hitam itu.


Saat aluna menabrak pria tua itu, dante tak menolong Sang gadis kecilnya karna sudah ia percayakan dewa untuk menangani masalah itu. dante yang sedari tadi duduk santai sambil menikmati dessert dengan minuman ice digenggamannya sembari melihat kearah jalan raya yang rindang oleh pepohonan jati disisi jalan raya tersebut dari dalam ruangan yang transparan itu.


"Hmmm menarik. anjing laut sudah muncul kearah permukaan dan tak disangka-sangka ia muncul tepat dihadapan bulanku, kita lihat apa saja yang kau lakukan saat bertemu seseorang yang mirip dengan wajah yang pernah kau bunuh. Ckckckck menarik" gumam dante dalam hatinya.


Sebenarnya dante melihat wajah bapak tua tadi lewat pantulan cermin dari sekat dinding cermin antara ruang vvip khusus untuk pribadi dan ruang umum lainya yang berada dicafe miliknya itu. Ia juga sudah tau siapa bapak tua itu karna ia sudah menyelidikinya dari 5bulan yang lalu dan ia juga menyelundupkan anak buah dengan status tangan kirinya untuk menjadi mata-mata diperusahaan bapak tua bajingan itu walaupun ia belum memecahkan teka-teki dibalik kematian kedua orang tua alunanya tetap saja ia menetapkan bapak tua itu menjadi tersangka atas kematian kedua orang tua angkatnya.


Dewa duduk berdampingan dengan kakak kandungnya, ia sedikit melirik sang kakak yang hanya diam sedari tadi. dewa tau sangat dengan sifat yang dimiliki sodaranya itu, kakaknya diam bukan berarti tidak memikirkan apa-apa karna sifat diam kakaknya itu menandakan ia hanya fokus dengan pemikiran dan fokus dengan asumsinya sendiri tanpa memikirkan orang lain yang ada disampingnya atau berada dihadapanya.


Beralih dengan kegiatan aluna didalam kamar mandi wanita, saat ini aluna berdiri didepan cermin besar khusus wanita yang ingin merapikan dandanan. Ia habis dari buang air kecil dan sekarang ia merapikan dandanan nya dari rambut sampai celana jogernya sehingga tatanannya rapi kembali.


saat ini fikiran aluna tertuju pada pria paru baya yang ia tabrak tadi. entah kenapa dan dari mana perasaan tak enaknya ini hadir.


"Siapa dia? Wajahnya sangatlah familiar, kenapa aluna begitu lupa dengan wajah itu, dimana yah aku pernah berjumpa dengannya atau melihatnya gitu? weii aluna lu bloon yah kenapa mikirin orang yang tak kau kenal" tanya aluna dengan dirinya sendiri dengan bayangannya dicermin besar itu.


"Yah sudahlah kalau aluna tak ingat sama sekali, aluna jangan mikirin itu lagi. sekarang aluna bergegas deh kedepan takutnya sang kakak dan calon tunangqn menunggu lama" ujar aluna lagi.


Aluna beranjak dari kamar mandi khusus wanita itu, ia berjalan santai menuju keruangan vvip yang dimana kakak-kakaknya menunggu. saat didepan lorong, lorong itu sangatlah sepi ia melewati dengan santai tapi langkahnya terhenti saat itu juga ia melihat seseorang pria berjaket hitam dengan topi yang senada mendekat kearahnya.


"Maaf kak ini kamar mandi khusus wanita dan disanalah kamar mandi khusus pria" ucap aluna polos.


bugh bugh dak aaarrrggghhh..


(rintihan seseorang).


Ting Ting


(telfon genggam dante berbunyi)


Lamunan dante terbuyar oleh suara notif yang berbunyi dengan getar yang membuat ia sadar akan lamunannya dan dante meletakan cangkir berisi coklat panas itu kemeja yang ada dihadapannya, dewa melihat kakaknya membukak notifikasi pesan masuk dengan raut wajah dingin beberapa detik kemudian raut wajah berubah menjadi merah padam.


"Sialaaan" jerit dante bergegas berlari kencang.


"Kak ada apa ini" seru dewa mengikuti dante yang berlari.


"Seluruh pintu dan jendela tutup rapat jangan sampai mereka keluar dan jangan ada orang yang keluar saat ini" jerit dante sambil berlari.


Dewa pun memutar balik aluan dan mendekati para anak buahnya.


"Kumpulkan semua anggota penyusup masuk dan tutup semua pintu utama dan seluru pintu serta jendela" seruan perintah dari dewa.


"Jay suluru pengujung harus dikumpulkan jangan ada yang tersisa dan geleda seluru tubuh dan badannya" ujar ddewa sekali lagi.

__ADS_1


Dewa berlari menyusul sang kakaknya melewati lorong demi lorong yang ada dicafe itu. dante yang kesal masi mencari keberadaan alunanya.


"Kak bukan disini" seru dewa diujung lorong dan dante berlari kearah dewa.


"Cepat aluna dalam bahaya ada dua penyusup masuk lewat dapur merika mengincar aluna" seru dante.


Deg


jantung dewa berpacu cepat dengan kelihaiannya juga ia berlari dengan sangat cepat seperti jantung yang berdetak cepat itu.


Dante dan dewa melewati lorong sepi menuju kearah dapur, mereka menjerit kearah dori supaya dori menutup pintu belakang


V


P dapqur dengan pintu serangkai besi.


Dori melihat sosok bos pertama dan bos kedua nya tersenyum dan langsung saja dori menutup pintu dengan serangkai besi. Mereka berdua meninggalkan dori didapur lanjut berlari menuju tempat dimana aluna berada.


Bugh Bugh Tak sret..


Bugh bugh dak..


"Arrggghhh eesssst" aluna terkena pukulan dari lawan, ia meringis menahan sakit diarea bibirnya.


"Sok pamer kamu, gitu saja pamer. hahha sakitkan" ujar lawan aluna.


Aluna menendang kaki lawannya dengan tendangan secepat kilat. Ia membalasnya dengan pukulan secara brutal tetapi ia tak jeli dengan keadaan karna sang lawan yang lainnya muncul sambil membawa pisau lipat.


Bugh Bugh drak


Aluna terhempas jauh dari kedua lawannya, ia mendapat tendangan dari pria yang berbaju dongker dari arah samping.


"Hei kau, perempuan ingusan! kau akan mati saat ini juga" seru pria baju dongker yang menjadi lawan aluna.


"Jangan panggil aku perempuan ingusan paman" ucap aluna dengan berdiri tertatih-tatih.


Drap drap bugh


Bugh bugh


Pukulan demi pukulan dante tujukan kepada lawanya yang berbaju dongker karna pria itu sudah berani menyakiti alunanya.


"Hancur kau , jangan sekali-kali masuk kedalam kandang lawan" seru dante yang kesal.


Bugh bugh trak

__ADS_1


"Sialan kau, kau mau menjadi sok hebat pula, mau jadi tameng perempuan ingusan itu? Sekarang rasakan pembalasanku sialan" seru pria baju dongker itu.


Bugh bugh trak kreeek.


"Gitu aja lemah kawan, uptsss salah lawan" jawab dante dengan nynyirannya.


Dante memukulnya tanpa belas kasihan sampai pukulan arah vital lawan, dante menarik pergelangan tangan sang lawan hingga sekali tarik siku tangan lawan patah dan tulang siku keluar dari dagingnya secepat kilat dante menendang kuat lawan kearah tembok yang terbuat dari bahan batu andesit yang lancip. Suara lawan tak terdengar karna ia tak bisa mengeluarkan rasa sakit yang begitu menyiksa tubuhnya.


"Ugh sakitnya, eike sakit boo" seru dewa dengan gaya perempuannya.


Dewa berjalan kearah aluna yang berkelahi lagi karna aluna diserang kembali oleh lawan yang memakai topi.


Bugh dragh Aaarrgghh


erangan lawan yang bertopi saat ia terlempar kearah dinding yang lancip karna mendapat tendangan kuat dari sang dewanya aluna.


"Yok pergi ,biar mereka diurus yang lain" ujar dewa.


aluna dan dewa menyampiri sang kakaknya,mereka bertiga kini berjalan kearah depan membelakangi lawan padahal lawan yang berbaju topi menyeringai karna ia masih bisa memegang pistol dengan tangan kirinya, ia


membidik sang perempuan yang ada ditengah-tengah kedua pria muda itu.


Dorr dorr


dua kali tembakan dilepaskan kearah aluna yang berjalan mengimbangi kakak-kakaknya.


"Alunaaa" jerit serempak kakak beradik laki-laki itu.


"esssssttt Sialan kau" ujar aluna sambil bergerak cepat mengambil senpinya yang ada dibalik baju dan ia melepaskan dua tembakan kearah lawannya.


Aluna yang tertembak dibagian punggung dan paha masi kuat berdiri dan akhirnya ia langsung mengambil senpinya dan membidik lawannya dengan gerakan cepat ia menembaki kedua lawannya kearah titik vital bagian kepala lawannya. pembunuh bayaran itu mati seketika saat menerima hadiah timah panas tepat didahi mereka, yah aluna lah yang membidik mereka dengan hitungan 2detik peluru 9mm itu bersarang dikepala lawannya.


"Bah sudah ku bilangnya kau, kau masih saja memanggi perempuan ingusan nah sekarang mati anjingkan kau" ucap aluna masi sempat-sempatnya berlogat batak ajaran dari temanya.


haaah hebusan berat dikeluarkan dante walau dia cemas akan keadaan tubuh alunanya tapi tetap saja masih terukir dengan jelas senyuman tipis dari wajah dante. ia senang dengan jiwa pemberani sang gadis kecilnya walau raut wajah cengo tak dapat disembunyikan sebab ia tak tau dengan adiknya yang pandai memainkan senjata api tipe pistol Glock 17 dengan isi peluru 17butir size 9mm karna ia tau pistol itu sangat mematikan dalam dunia senpi.


'Aku melewatkan sesuatu yang tak ku ketahui, senpi itu sangat mematikan dari mana aluna mendapatkanya dan kapan aluna belajar memakai senpi?" guman tanya didalam hati dewa.


Aluna jatuh terkulai lemah dipangkuan dante karna dewa sedang menelpon jay untuk menyiapkan mobil serta membereskan kekacauan itu yang disebabkan oleh pembunuh bayaran. darah aluna mengalir tanpa henti, dante berinisiatip mengendong dan berlari menuju pintu utama.


"Dewa cepat kita kerumah sakit, darah aluna tambah merembas dibaju kaosnya" ujar dante gelisa dengan keadaan aluna.


"Aluna sayang bangun jangan tidur" jerit dewa yang panik.


"Aluna" jerit mereka berdua.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2