Obsesi Sang Gadis Kecil

Obsesi Sang Gadis Kecil
EMOSI YANG MELEDAK


__ADS_3

Kecemburuan Dewa Berakibat fatal.


"Naikan kak dewa kekamarnya. Kakak, aluna minta penjelasan dari kakak kenapa bisa kak dewa kembali keminum-minuman. Kakak tau akibat nya apa dan sebab nya apa kak! Ada apa sebenernya kak" tanya aluna bertubi-tubi kepada sang kakak tertuanya.


"Dia cemburu" jawab santai dante.


"Cemburu karna apa? Siapa yang kak dewa cemburuii ka?" tanya aluna sekali lagi.


"Yah una lah siapa lagi!"


"Loh kok aluna sih kak, aluna salah apa kak sampe kak dewa begitu lagi"


"Telfon"


Aluna pun mengingat-ingat apa yang dimaksud kakak tertuanya itu saat ia bertelfonan sama kak rajanya.


"Aduh aku lupa soal itu, bearti kak dewa sore tadi kekamar aluna itu..iii-itu"


"Iya dewa cemburu kamu angkat telfon cowok lain, una tau sendiri dia pencemburuan orangnya"


Aluna pun segera pergi dari hadapan kak dante, ia berlari kekamar kak dewa nya karena rasa bersalah memasuki relung hatinya. Bagai kucing kehilangan anaknya, aluna berlari tanpa memandang sisi lain rumahnya.


Aluna pun masuk kedalam kamar kakaknya sekaligus calon tunangannya itu, ia melihat kakaknya sedang berbicara walau keadaan matanya tertutup.


"Kak maafin aluna yang sudah nyakitin kakak, maafin aluna hiks hiks" gumaman aluna didengar sang kakak tertuanya. dante melihat dari balik pintu yang terbuka sedikit.


Aluna melepaskan sepatu kakak keduanya dan menggantikan baju sang kakaknya, ia telah biasa menggantikan baju kakaknya bila seperti ini aluna takan malu-malu lagi melihat dada bidang sang calon suaminya karena ia sudah terbiasa menggantikan baju saja untuk dewa yang pulang dengan keadaan mabuk berat begitu.


"Janjimu kamu langgarkan kak, hiks hiks aluna meminta maaf kak karena aluna kakak cadi begini"

__ADS_1


"Minggir sana" ujar dewa yang tak sadarkan diri menggentak aluna dan mendorong tubuh aluna sampai aluna jatuh tepat ditempat tidurnya sedangkan dewa pun berlari kekamar mandi dengan sempoyongan ia berlari.


"Kakak, aluna bantu yah kak hiks hiks" aluna masi menangis melihat keadaan yang paling ia benci sekarang terulang lagi, ia mencoba berdiri dari tempat tidurnya


Didalam kamar mandi dewa memuntahkan seluruh makanannya ke arah wastafel dan keluar dengan keadaan masih sempoyongan, emosinya masi tak meredah ketakutan dante akhirnya tiba.


"Kakak" seru aluna yang ingin menolong sang kakak untuk membantu kak dewanya berjalan menuju kasur.


"Apa kamu, kamu pergi dari hadapanku! Aku masih marah tau gak, aku cemburu dan aku capek tersakiti begini mulu! Bisa tidak kamu dengerin kata-kataku dengan baik. Nurut dengan kata-kata ku. Aku sayang banget sama kamu. Aku takut kamu kenapa-kenapa tapi kamu malah merespon orang lain yang perduli dengan kamu, apa kamu tidak tau kalau aku tidak sukaaa" jerit yang sangat kecang dari dewa.


Dewa yang menggenggam lengan aluna dengan erat kini menghampaskan aluna sangat kencang kearah lantai, dante yang melihat itu sontak berlari menggapai tubuh sang gadis kecilnya beruntung tubuh kesayangannya itu tak menyetuh lantai. Emosi dante terpancing karne adegan yang ia lihat.


bugh bugh plak.


Dante memukul wajah dan tubuh adiknya berulang-ulang kali karena ia tak suka akan tindakan dewa yang sangat ceroboh hari ini. Hampir tubuh sang adik kecilnya tak jatuh kelantai dan tak mendapat luka memar kalau tidak entah segila apa dante memukuli adik laki-laki yang masih mabuk itu.


"Dasar bajingan. bangun. Kamu hampir melukai aluna ku! Bangun kamu, bangun" gentak dante kepada dewa.


Kondisi dewa yang sudah babak belur dibagian wajah dan perutpun sudah terasa sakitnya perlahan-lahan kesadaran tubuhnya berangsur-angsur pulih.


"Una. una tidak apa-apa kan sayang, una gak luka kan?" ujar dante menelusuri tubuh sang gadis kecilnya.


"Hiks hiks hiks aluna minta maaf sudah bikin kak dewa begitu kak, hiks hiks aluna gak mikir panjang kesitu menurut pikiran aluna tak ada hal yang lebih dari kata sapa dengan kak raja hanya itu saja tidak lebih hiks hiks" ucap aluna lirih karena rasa bersalah meliputi dirinya.


"Tidak apa-apa sayang itu salah paham aja, una gak usah kahwatir udah kakak beri pelajaran kak dewanya. Jangan nangis lagi sayang nanti hilang cantiknya, coba senyum" ujar dante yang memeluk erat adik perempuannya sambil menenangkan hati adik ya itu.


"Hiks hiks tak bisa senyum" jawab una polos.


Dante hanya tersenyum melihat kepolosan adiknya itu tetapi ia senang juga dengan kepolosan unanya karna itu daya tarik dari aluna terhadap dirinya.

__ADS_1


"Yah sudah kita balik kekamar aluna yah" dante berusaha mengembalikan mood adik perempuannya. 1jam lebih ia menenangkan aluna yang sedang menangis dan kini aluna tertidur pulas didalam pelukannya.


Dante pun beranjak dari tempat tidurnya dengan gerakan yang sangat pelan ia memindahkan kepala aluna kearah bantal yang ada disampingnya, ia berdiri dan melangkahkan kaki menuju kamar dewa. saat dante menuju kamar dewa dari lantai bawah ada pergerakan seperti orang yang sedang mengintai gerak-geriknya.


"Hmm penyusup ma, dirumah mama ada penyusup. Lumayan ada mainan" senyum mengerikan dante terlukis diwajah tampannaya dan bergumam kecil seperti berbicara dengan mama naranya itu.


Tok tok tok..


dewa membuka kan pintunya,


Dari balik pintu kamar terlihat dante dengan wajah yang sedang diliputi amarah tak terkendalikan masuk dan memukuli adiknya berkali-kali.


bugh bugh bugh bugh


"Argghh , ampun kak ampun" teriak dewa memohon ampunan.


"Kamu sudah berani menyakiti alunaku sampai aluna terdorong kearah lantai haaah, kamu udah nyakitin aluna! Sifat kamu Kamu gak layak untuk aluna miliki" jerit dante sekencang-kencang y sambil memukuli adik semata wayangnya.


"Nya-nyakit aluna, kapan aku nyakitiin aluna hah"


"Bajingan, bangsat ! Kamu minta maaf sama aluna sekarang"


Tanpa basa basi dewa pergi dari hadapan kakaknya dengan rasa yang bercampur aduk ia mendatangi kamar sang gadis kecilnya, ia memeluk tubuh yang sangat ia puja. dalam diam memandang wajah sang kekasihnya ada kerinduan yang menelusup kerelung hati, wajah aluna begitu mirip dengan mama nara sampai air mata itu menetes tanpa permisi.


"I'm sorry that I hurt you, maafkan kakak" gumam kecil dewa sambil memeluk tubuh aluna tetapi tak sadarkah dewa bahwa aluna sudah terbangun saat ia memeluknya beberapa menit lalu.


"Maaf kan una kak"


Bersambung.

__ADS_1


Hai para pembaca maaf baru kirim bab barunya yah, stay selalu dicerita aku bersamaku menjelajahi dunia mimpi.


see you again and i love you.


__ADS_2