Obsesi Sang Gadis Kecil

Obsesi Sang Gadis Kecil
MENENANGKAN ALUNA


__ADS_3

Seribu Cara Menenangkan aluna.


Dante dan aluna kini berada didalam mobil mewah milik dante diiringi mobil bawahannya sedari tadi menjaga dante dengan ketat, dante melirik kearah aluna yang sedang melihat pemandangan kota dini hari. Dante tau aluna tetap saja menyalahkan dirinya sendiri atas kecelakaan ini.


"Dek dengerin kakak yah! Kamu bersedih begini buat kak dewanya dialam sadarnya juga merasa sedih melihat kamu seperti ini" ucap dante tetapi tidak ada jawaban dari aluna.


Aluna tetap diam seribu kata, ia meratapi penyesalan saat ini ada kata yang ia ingin ditanyakan kepada tuhannya kenapa harus orang-orang yang ia sayang kenapa tidak ia saja yang terpilih untuk ujian yang sudah ditetapkan. kenapa bisa terjadi aluna dirundung kesedihan dan sekarang pun bumi ikut menangis.


Ptarrr tarrr..syuuuurrrbbb..(suara petir yang menyambar di iringi rintik air yang berjatuhan dengan derasnya).


"Aaaahhh mama" jerit aluna yang kaget membuat dante berhenti mendadak.


"Sayang ada apa?" tanya dante yang juga kaget akan suara besar aluna.


"Gak kak, aluna kaget aja soalnya suara petirnya itu besar banget kak" ujar aluna meringis.


"Kan sudah kakak bilang jangan banyak pikiran takutnya kamu sakit, ni buktinya jantung kamu gak sehat karna gadis kecil kakak melamun mikirin masalah yang datang tiba-tiba kan. Ada petir kok teriak bukan nya mengucap nafas allah" jawab dante sambil menginjak pedal gas kendaraannya.


"Reflek kak" lirih aluna berucap.


"Yah udah jangan banyak pikiran yah sayang kita kembali kerumah trus minum air hangat dan mandi air hangat seblom tidur yah!" ucap dante mengelus kepala alunanya.


Aluna menganggukan dagunya, ia kembali menatap perkotaan yang diguyur oleh hujan membuat kota kini semakin indah, ia menatap dalam dan penuh makna ia mengingat ingatan tentang kak dewanya.


"Semoga kakak kuat dan kembali kepelukan aluna lagi, aluna gak mau kehilangan kakak jujur memang benar aluna mencari orang yang tepat untuk perasaan yang aluna rasakan tapi ada rasa yang mulai timbul dihati aluna kak. Aluna harap kakak kembali dengan selamat kak" gumam aluna dalam hatinya.


Perjalanan masih panjang tetapi mereka masing-masing saling berdiam dengan pikiran masing-masing, jangan ditanya pasti mereka memikirkan kejadian dewa hari ini membuat hati dan seluruh tubuh mereka bagai tak bertulang dan tak tau bersemangat kembali.


Sesampainya dirumah dante yang kini turun dan membuka pintu mobil sang gadis kecilnya, ia menggenggam tangan aluna dengan lembut dan berjalan beriringan masuk kedalam rumah besar milik mendiang mama naranya itu.


"Aluna mandi air hangat dulu yah udah bibi sediakan dikamar aluna" ujar dante.


"Iya kak aluna mandi dulu" jawab aluna seperti orang yang lagi berpuasa.


"Dante melihat gadis kecilnya itu tak bergairah kini ia beranjak dari ruang tamu menuju dapur,sesaatnya didapur ia melihat bibi yang sedang menata kue bolu pandan yang ia pesan tadi.


"Wah enak nih bi, bi air tea hangat yah bi untuk non aluna" ujar dante.


"Baik den" jawab bibi bersemangat, kantuk yang mendera saat tadi kini hilang mendengar nonanya pulang dengan selamat"


Dante yang kasihan pada bibi kini ia yang membuatkan teh hangat untuk diminum bersama-sama.


"Aduh dek gak usah atu den biar bibi aja yang bikin teh nya nanti ini tangannya merah kena percikan air hangatnya" ujar bibi kahwatir.

__ADS_1


"Biasa aja bi kan dante udah biasa sendiri, oh yah mang ujang dan mang didi kemana bi?" tanya dante.


"Itu mang ujang jaga pos dan mang didi istirahat buat jaga dini hari jam.4" jawab bibi sambil menunjuk kamar mang didi.


"Emang gak ada lagi yah bi selain mereka yang jaga?" tanya dante lagi.


"Gak ada den, non aluna orangnya pesimis untuk nambah orang lagi dirumah ini takut orang salah ditempatkan bisa merusak ketenangan rumah ini den katanya non alunanya"


"Oh gitu bi yah udah aku yang perintahin bawahanku bi biar mereka saja yang ganti jaga keamanannya"


"Gak bilang dulu atu den sama non alunanya, takut bibi non ngamuknya sama bibi den!"


"Gak bisa una marahin bibi, yang ada dante marahin unanya karna ini perintah dante bi. Bentar bi" ujar dante.


Dantepun menelfon bawahannya sambil berjalan menuju ruang utama, bibi hanya menggelengkan kepalanya saja dan berkata "Dasar anak muda sekarang banyakan ngatur yang satu minta ini yang satunya juga minta gitu emang anak-anak teh" ujar bibi menghela nafas kasarnya.


"Bi mana kak dantenya?" seru aluna yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Ada non baru keruang utama non" ujar bibi.


"Hmmm harumnya bi, bibi bikin apa?" tanya aluna.


"Bibi bikin kue kesukaan non dan ini ditabur selai pandan dan kismis, non mau?"


"mau bangetlah bi, bi bawakan kebalkon kamar aluna yah bi" ucap aluna tak bergairah.


"Mqkasih yah bi" jawab aluna.


"Sama-sama non aluna, ditunggu yah"


"iya bi" jawab aluna sambil berjalan menaiki anak tangga satu persatu.


Diluar rumah sudah banyak para bawahan dante berbaris mereka mendapatkan senpi masing-masing dari dante dan dante memperingati mereka dengan nada ancaman yang luar biasa.


"Tiger ambil alih" deep voice yang mencekam dari dante.


Tigerpun mengangguk dengan perintah sang bos besarnya karna ia tau latar belakang seorang dante tidak lah main-main karna ia tau siapa dante sebenarnya.


Dante bergegas masuk kedalam rumah, ia mencari keberadaan alinya saat ia melewati lorong ia melihat bibi kesayangannya berada diatas dan ia langsung meniti tangga satu persatu.


"Bi sini dante saja yang bantu bibi bawa cemilannya, bibi istirahat saja yah bi" seru dante memaksa.


Bibi tersenyum saja melihat tingkah dante, bibi pun turun dari lantai 2 menuju lantai pertama.

__ADS_1


Dante yang melihat bibi sudah mulai turun ia langsung menutup pintu kamar alunanya, ia ingin menenangkan sang gadis kecilnya itu.


"Dek minum air teh angetnya dulu yah, ini enak sekali kuenya boleh kakak pinta satu saja tapi mau disuapin sama una nih" ujar dante kepada aluna yang sedang termenung dibalkon kamarnya.


Aluna melihat kedatangan kakak pertamanya itu yah sebenarnya ia bad mood untuk bersuara tetapi ini kakak pertamanya yang mudah tersinggung jadinya ia pura-pura tersenyum walau sesaat saja.


"Iya ambil aja kak kenapa harus disuapin kan kakak sudah besar!"


"Kakak mau nya aluna suapin kakak kan rasanya enak kalau disuapin sama una yang cantik ini" ujar dante menggombal teri.


"Yah udah sini aaaa" seru aluna dan dantepun menguyah kue itu terasa enak sekali dante suka dengan rasanya.


"Ini enak una" ujar dante mengambil kuenya lagi tetapi sebelom ia menyentuh kue itu aluna memukul punggung tangan dante dan berkata.


"Jangan diambil kue aluna, ambil sendiri sana!" ketus aluna.


"Heheheh bisa juga marah nona kecilnya, kakak minta satu lagi boleh"


"Gak boleh aah"


"Sedikit saja sayang yah yah yah" ucap dante memelas sebenarnya ia hanya mengalihkan pikiran aluna sesaat biar ia tak bersedih sampai dini hari begini.


"Hiks hiks makan aja sendiri kak hiks hiks" air mata yang ditahanpun kini telah mengalir deras membasahi pipi aluna.


"Una sayang, udah yang tegar una" ujar dante mengelus lengan aluna.


"Kak dewa belom makan, kak dewa blom nyambut kedatangan una saat una pulang hiks hiks...., kasihan kak dewa menahan sakitnya sendirian kak"


"Una tau kak dewa orang yang kuat dan tuhan belum akan mengambil dewa dari tangan kakak kanrna kakak belom mengizinkanya pergi jadi tenang yah besok pagi kita kembali menemuii kak dewa"


Mereka larut dalam perbincangan yang panjang karna aluna tetap merasa bersedih akan kecelakaan yang menimpa dewa hari ini.


"Aku menunggumu kembali kak karna rasa ini belom terisi penuh jangan sampai aluna terbuai akan genggaman tangan yang lain, kembalilah kepelukan aluna kak" gumam aluna dalam hati yang menangis pilu ini.


Mata yang lelah perlahan-lahan menutup, mata yang indah kini tenggelam didasar kegelapan dan berjalan menuju dunia yang lain.


"Una harus sabar sayang, semuanya sudah diatur olehNYA jadi kita sebagai hambanya harus ikhlas menjalani ketetapan OlehNyA" ujar dante tetapi tak ada balasan dari aluna, ia melihat kearah aluna yang sudah terlelap dan bermain didalam mimpinya.


Dante bergegas membawa aluna kedalam kamar dan pintu tertuju dibalkon pun tertutup sudah, dante membawa aluna menuju ranjang empuk disebelah arah timur itu.


Perlahan-lahan tubuh kekar dante menaruh tubuh indah aluna kedalam pelukan bantal kesayangannya, ia menyelimuti tubuh aluna dengan selimut yang ada disana sedangkan dante ingin kekamar mandi untuk memulai ritual membersihkan dirinya.


Beberapa menit kemudian dante sudah keluar dari kamar mandi terlihat ia sudah memakai pakaian santai miliknya yang ada dikamar alunanya itu, ia berjalan menuju kasur, melihat aluna sudah pulas ia berbaring disamping aluna dan tak lupa ia mendaratkan ciuman dikening aluna.

__ADS_1


"Selamat tidur sayang, kakak akan menjagamudimanapun itu dan kini izinkan kakak masuk kedalam mimpi yang sama bersamamu semoga tuhan mengabulkannya. amin" ujar dante sendiri tanpa dijawab oleh aluna.


Bersambung.


__ADS_2