Obsesi Sang Gadis Kecil

Obsesi Sang Gadis Kecil
KEMBALI KEPENGATURAN AWAL


__ADS_3

Masi Disini Bersamamu.


Aluna sudah sampai dirumah. mereka yang ada didalam rumah besar keluarga atalyan berbondong-bondong menemui sang nona kecil mereka karena mereka sudah sangat menaruh hati kepada gadis mereka. kalau dikata itu sang nona kecil yang paling disayangi sama mereka.


"Non" serempak bik setia dan kedua rekan laki-lakinya itu.


"Mang didi,mang ujang,bibi. aluna rindu kalian" seru aluna heboh.


Mereka pun berpelukan seperti teletubies. ada tingkiwingki, depsi, lala, pooh. mereka seperti anak-anak yang baru saja diberi ice cream oleh orang tuanya.


Dewa dan dante hanya menggeleng-geleng kepalanya melihat tingkah sang gadis kecilnya.


"Non hiks hiks hiks. Non baik-baik saja kan sekarang hiks hiks, maafkan bibi gak bisa jaga non dengan baik hiks hiks" ujar bibi setia dengan tangisan yang teramat pilu.


Mereka yang mendengar permintaan maaf yang pilu itu pun sontak saja mereka semua menangis dengan perasaan yang bersalah dan kecewa dengan diri mereka masing-masing karena mereka telah lalai dengan tugas yang sudah mereka jaga dan dijalani selama ini.


"Bi. aluna gak apa-apa bi, bibi jangan begini dong! aluna, aluna jadi cengengkan hiks hiks hiks" ucap aluna sembari menitikan air mata yang cukup deras.


Mang ujang dan mang didi pun ikut menangis terseduh-seduh entahlah apa yang mereka rasakan saat ini hanyalah rasa bersalah yang sangat mendalam.


"Sayang jangan menangis! nanti wajah mu seperti nenek-nenek, cepet tua loh" seru dewa.


twing twing


Dante mendengarnya terkekeh geli lalu ia menggelengkan kepalanya berkali-kali, lama-lama ia bisa awet muda kalau terus-terusan ikut mereka yang ada dirumah mendiang mama nya.


"Dasar bego', hoi mana ada nangis cepet tua! marah-marah cepet tua baru bener kalee. Bego' kok dipelihara." cetus dante yang begitu menyakitkan.


"Kak, gak boleh gitu?" seru aluna yang berbalik badan menoleh kearah kak dantenya.


"Heeh truss dibelain..! Lama-lama manja tuh orang" jawab dante sambil berjalan menuju kamar aluna dengan 2 koper yang iya pegang.


"Kak tolong bantuin kak dante yah? aluna mau mandi air hangat dulu" ucap aluna.


"Siap bos! Perintah saya laaksyanaken" ucap dewa suara yang dipermainkannya.


Aluna memutar mata malasnya melihat tingkah kak dewanya yang sangatlah lebay,alay dan lain-lainnya.


"Non mari bibi antar ke kamar, bibi yang siapkan air hangat non! hmmm.. non mau bikin cemilan apa biar bibi bikinin juga?" Seru bibi semangat.


"Wah makasih bi. aluna minta tolong bikinin bolu pandan yang diolesin sama selai pandan hijau yang biasa aluna pakek yah bi?" Ucap aluna.


"Baik non sayang, perkerjaan dimulai sekarang. Lets' go" jawab bibi setia.


Mereka berdua pun berjalan menyusuri ruangan demi ruangan. sang gadis dan wanita paruh baya berjalan sambil besendah gurau, mereka tak sadar dengan sosok didekat meja hias berdiri menikmati senyuman yang beberapa hari ini tak terlihat, ia melihat tubuh yang ia cintai menghilang diujung lorong rumah besar itu.


"Aku berjanji pada diriku sendiri bahkan diri ini akan menjagamu hingga nafasmu berhenti atau tubuhku yang akan hancur dimakan waktu, aku sungguh mencintaimu tanpa ada kata balasan darimu gadis kecil nakalku. Ingat semuanya kan ku jaga selalu dimana kamu berada jangan sampai dirimu terluka lagi" gumam dante dalam hatinya.


Tubuh yang menawan dan secantik bidadari pun hilang dari pelupuk mata, ia masi berdiri menyandarkan tubuh dekat lemari hias kesayangan mama nara nya.


"Ma.! apa dante sanggup menjaganya sampai waktu dante habis didunia ini dan apa dante sanggup dengan perasaan yang begitu menyakitkan melihat kesayangan dante dimiliki orang lain ma?" tanya dante yang tak dapat jawaban dari sang mendiang mamanya.


"Kak. Kakak memikirkan apa kak? Keamanan aluna kah atau ada yang lain selain memikirkan keamanan aluna?" tanya dewa yang baru sampai dari mengambil barang yang ada didalam bagasi mobil.


"Hmmm"


"Hmmmm apa sih kak" seru dante bingung dengan jawaban yang keluar dari mulut sang kakak.


"Cangkemmu bisa dilem gak! ganggu konsentrasi tau!" ujar dante kesal.

__ADS_1


"Cangkemku gak bisa direkatkan pakai lem, bisanya pake duit hehehe" jawab dewa bergurau.


Dante memutarkan mata malasnya mendengar kata dewa dan pertanyaan dewa itu membuat mood yang baik kini menjadi buruk, ia melangkahkan kakinya meninggalkan dewa dilorong rumah mendiang mama naranya.


"Aiiss ditinggal,dasar singa betina. dikit-dikit marah. dikit-dikit kesel dasar manusia jadi-jadian, kaku, dinding berjalan dasar kakak buruk rupa.." gumam dewa menelan kekesalan jiwanya sambil melangkahkan kaki menuju kamar sang pemilik hatinya.


Didalam kamar bernuansa ke eropaan terdengar suara merdu yang mengalun indah, aluna yang sedang mengeringkan rambut dengan alat kesayangannya itu.


Dring dring dring


(Benda pipih milik aluna berdering)


"Hallo kak raja, apa kabar?" sapa aluna.


"Baik sibawel kakak, una gimana udah mendingan atau masih nyerih? terus kalau masih nyerih lukanya, balik dari sini kakak raja bawakan obat-obatan dari tabib cina yah! tidak ada kata penolakan karena kakak ingin yang terbaik untuk pemulihan luka yang una dapatkan dari sok peremanan itu" ujar raja mode cerewet seperti ibu-ibu.


"Noh kakak yang cerewat bukan una yah! nih yang gak berenti bawel trus maksa gimana ceritanya kalau gak bawel! Mana bisa nolak toh sulit untuk dilakukan karna dikamus kak raja itu tidak ada kata penolakan" seru aluna dalam telfon genggam raja.


"Iya emang bawel kakak, trus kalo gak bawel yah tandanya gak perhatian sama satu-satunya adik cantik kak raja. apa mau una gak diperhatikan sama kakak? Pencarian kakak dari tahun ketahun baru membuahkan hasil dan hasilnya ketemu tapi yang ditemuin malah gak mau diperhatiin! Yakin gak mau diprihatiin? Yakin nolak makan ayam bakar sopo yono nya? Yakin gak? Nanti tak suruh tutup semua cabang ayam bakar sopo yono gimana?" Tanya raja yang sudah menahan tawanya saat ia menggoda sang kerinduanya.


"Yak ngancam, yakin lah! yakin gak nolak sama dengan mau dengan makanan pavorit una ayam sopo yono nya,walau tak tergantikan nasi goreng seafood akan tetapi ayam bakar sopo yono tervaforit bagi hidup una. Awas saja kalau ditutup!"


"Wahahahaah" tawa raja pun pecah.


"Orang gila dari mana ini? Hmm nyasar kali yah, gak ada yang lucu kak?" Tanya aluna diseberang sana.


"Yooholohh gitu aja dibilang orang gila. Yah kalek orang tampan nan kayak raya seperti kakak orang gila?" Jawab sumbuongnya raja.


"Najis. Ketawa gak ada yang lucukan namanya orang gila kak dan gak ada kakak tampan, malah muji diri sendiri"


"Hee tampan buktinya ada yang rindu sama kakak sampai-sampai cepet angkat telfonnya hehehe"


Dewa yang ingin masuk kamar untuk mengantarkan barang-barang aluna pun berhenti, ia mendengarkan semua pembicaraan aluna dengan musuhnya itu. rasa terbakar api cemburu hingga kedada membuat nafas tercekat sesak dan rasa sakit mendalam akan kedekatan sang gadis kecilnya dengan anak pembunuh kedua orang tua angkatnya.


"Awas saja kamu, aku akan membuat semua aktifitas aluna yang akan bersinggungan dengan kamu berada di titian jurang hingga kamu tak perlu menampakan diri dihadapan gadis milikku" gumam dewa didalam hatinya.


Dewa menaru barang-barang didepan pintu yang terbuka, ia ingin kebawa saja memanggil mang didi buat menata barang-barang aluna kedalam kamar karna ia sudah dikuasai api cemburu yang bersemahyam didadanya.


Dewa pun lekas turun melewati anak tangga satu persatu dengan wajah yang tak bersahabat, ia memanggil man didi untuk menolongnya.


"Mang didi, kemari" teriak dewa yang tak biasanya.


"Mang didi"


"Mang" teriak dewa yang sudah tercampur oleh amarah.


Tak berselang lama mang didi keluar dari dapur dan berlari kearah majikan ke.2 nya dirumah ini, ia berhadapan langsung dengan dewa sebab ia tak tau kenapa ia dipanggil oleh.


"Saya bos, saya" sahut mang didi.


"Mang tolong beresin barang-barang yang ada didepan pintu kamar aluna, susun yang rapi yah mang? Aku pamit keluar sebentar" ucap dewa langsung saja pergi tanpa memperdulikan kak dantenya yang sedang menatapnya heran.


"Kenapa dia? mang gak usah biar aku aja yang beresin barang-barang alunanya yah?" Ujar dante.


"Ta-tapi den"


"Udah mang didi istirahat saja!"


"Baik den, saya permisi den" jawab mang didi pamit kebelakang.

__ADS_1


Dante pun melangkahkan kaki menuju lantai ke.2 dirumah besar mama nara nya itu, ia menaiki anak tangga satu persatu sampai menuju kelantai ke.2 dimana terletak kamar sang gadis pemilik hatinya itu.


Tok tok tok


Dante mengetuk pintu kamar aluna sontak saja pemilik kamar pun membuka pintu kamarnya, ia melihat kakaknya yang sudah membawakan barang-barang yang ada dibagasi mobil.


"Masuk kak, taruh disana aja kak. aluna minta bantuan sama bibi biar bibi bantuin aluna untuk susun barang-barang ********** aluna kak karena barang ini tak boleh dipegang sembarangan oleh orang lain apa lagi itu laki-laki seperti kakak" ujar aluna terkikik geli.


"Apa itu una, una jangan bikin kakak penasaran deh dek!" Seru dante yang penasaran akan hal itu.


Aluna menunjuk dada kak dante dan celana kak dantenya, yah sontak saja dante langsung mengerti.


"Hahahahahahhah" tawa merek sangatlah nyaring sampai-sampai bibi setia yang ada didapurpun mendengarkannya dan mang ujang yang ada didepan halaman pun tersenyum mendengar tawa sang nona kecil mereka.


"Harusnya den dante yang bisa mendampingi aluna kami. lihatlah bi betapa harmonisnya mereka berdua" ucap mang didi berbicara kepada bibi setia.


"Seharusnya begitu mah, toh den dewa masi kekanak-kanakan paling dia pergi sekarang karena cemburu melihat non una berbicara akrab ditelfon dengan seseorang tadi" jawab bi setia.


"Oh pantesan saja den dewa nyuruh aku beresin barang yang sudah dibawa den dewa sendiri tadi ke depan pintu kamar non aluna. Mungkin maksud den dewa nyuruh aku beresin kedalam kamar non aluna bi, pasti dia cemburu dan gara-gara cemburu dia pergi begitu aja kan bi" ujar mang didi.


"Yah bigitulah di, namanya kanak-kanak gak bisa selesaiin masalah dengan kepala yang dingin tuh sifat den dewa. umur den dewa pun tidak berjauhan dari non una beda 6 tahun dari non aluna. Di" jawab bibi.


"Iya yah bi".


***


Dante masih berada didalam kamar sang gadis kecilnya, ia melihat-lihat isi kamar aluna yang sangat menawan itu. Perpaduan antara abu-abu dan hitam menjadikan kamar aluna begitu sedap dipandang mata, tak sengaja ia melihat foto yang berada diselipan tepat dirak-rak buku alunanya itu. Ia melangkah dan melihat gambar apa yang ada difoto itu.


deg deg


Dunia fikiran dante terganggu akan pemandangan gambar yang ada didalam foto itu, ia melihat sosok anak remaja yang notabennya anak musuh bebuyutan nya itu bersama aluna dengan senyuman indah terukir dibibir mungil sang gadis kecilnya itu.


"Iii-ini apa" ujar kaget dante.


Aluna yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah ia membuang air kecil dan melihat kak dante yang sudah memegang foto masa kecilnya itu.


"Oh itu kak raja kak, sewaktu dikota sibolga disumut itu aku ketemu dia kak dan akulah penolongnya saat dia dicari-cari sama musuh-musuhnya akibiat dia ikut tawuran dikota kecil itu memang gak parah sih tapi aluna kasihan melihatnya, yah aluna tolongilah padahal aluna juga takut sama segrombolan anak-anak seumuran dia kan umur aluna 11tahun belom kuat utuk melawan mereka semua kak"


"Oh kota kecil milik papa daren itu yah, saat rumah penginapan papa kebakar, dia ada disitu atau dia pernah nolongin gak?"tanya dante.


"Boro-boro nolongin kak yah dia gak tau tentang kebakaran itu, aluna lost kontak sama dia kak tapi baru-baru ini aluna ketemu dia dirumah sakit" ujar aluna polosnya.


"Oh gitu, yah sudah masa hari-hari buruk yang lalu bersama mama dan papa janganlah dikenang, kenanglah hari-hari baik bersama mereka yah dek! anggaplah ini awal baru untuk kehidupan kamu kedepannya dan pesan kakak harus diingat oke" ucap dante mengusap lembut rambut aluna.


"Oke kak, bagi aluna hari-hari baik bersama mama dan papa jadi bingkai masa sekarang kak karna sudah terpatri didalam benak tentang hari-hari indah bersama mereka" seru aluna lirih.


Dante memeluk erat aluna seolah-olah ia memberi energi ketenangan kepada sang gadis kecilnya itu, padahal matanya sudah berkaca-kaca mengingat memori singkat bersama kedua orang tua angkatnya yang ia sayangi itu.


"Hiks hiks aluna rindu mama dan papa" tangis pilu pecah disaat seperti ini ia butuh sosok yang bisa menenangkannya.


"Sepertinya kehidupan una berhenti disini, una ingin menjenguk mama dan papa. Kak" seru aluna yang berderaikan air mata.


"Tidak una, ini bukanlah awal dari babak baru dalam hidup kamu ini adalah awal dari sebuah buku baru sayang. Buku pertama itu sudah ditutup, diakhiri, dan dilempar ke laut. buku baru ini baru dibuka, baru saja dimulai! Lihat, ini halaman pertama! Dan itu sangat indah! Jadi tolong buka masa kamu dihari-hari berikutnya sayang karena kamu berarti buat kami kalau una capek dengan awal baru nanti. Ingat ada kakak yang akan mendukung kamu sampai akhir hayat kakak dek" ucap dante panjang lebarnya karena ia tau saat ini lah puncak dari tubuh una yang droop dan emosi tak yang tak seimbang.


"Una rindu sama papa dan mama kak"


"Mama dan papa pasti merindukan kamu sayang jadi una harus kirim doa ke mama dan papa yah sayang. Kakak masih disini bersamamu selamanya itu janji kakak ke kamunya." jawab dante sambil memeluk erat sang adik angkat serta belahan jiwanya itu.


Dante pun menenangkan aluna dan hal hasilnya aluna tertidur dalam pelukannya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2