Obsesi Sang Gadis Kecil

Obsesi Sang Gadis Kecil
OPERASI PENGANGKATAN PELURU


__ADS_3

Alunaku Tertembak.


Darah yang mengalir tetes demi tetes kini sudah menyebar dibaju kaos putih aluna sontak saja aluna meraba punggungnya dan melihat lumuran darah ditangannya. saat ia melihat lumeran darah ditangannya kepalanya langsung merasa pusing dan berkunang-kunang, ia melihat kearah kakaknya pandangannya mulai kabur.


"Kakak" ujar aluna sedikit melemah.


"Astaga una" seru dante yang langsung memeluk alunanya.


"Dewa cepet telfon jay suruh dia menyiapkan mobil dan membereskan semua kekacauan ini" seru dante.


"Iiya kak, aku menelfonnya" jawab dewa dengan tubuh yang masih gemetar.


"Hei una jangan tidur, una bangun" seru dante menepuk pipi putih alunanya.


"Aluna bangun sayang" seru dewa yang khawatir akan keadaan sang gadis kecilnya.


"Cepat kamu telfon jay cepat, ikuti kk wa" seru dante yang saat ini sudah berlari mengukuti sang kakak.


Mereka bergegas untuk mencapai pintu utama karna mereka melewati ruang umum dicafe itu semua orang sudah dikumpulkan, seluru perempuan menjerit histeris melihat banyaknya bercak darah dibaju dante dan darah yang mengalir dari punggung aluna. mereka semua sudah bisa menebak kalu gadis kecil itu terkena sasaran tembakan orang yang tak dikenal karna suara tembakan yang nyaring begitu keras sampai keluar ruangan.


Sampailah mereka didepan pintu mobil, dewa disuru masuk dahulu karna dante akan menyerahkan aluna kepada adiknya itu.


"Cepat duduk, kau pangku aluna dan ajak dia berbicara jangan sampai dia tertidur" seru dante kahwatir.


"Baa ba baik kak" ucap dewa teputus-putus sangking ia kahwatir dengan keadaan calon tunangannya.


Dante masuk kearah kanan pintu mobilnya, ia masuk dan duduk dikursi belakang karna ia menyuru jay ikut kerumah sakit. sebenarnya hati dante bergejolak ingin sekali ia menghabisi lawan yang sebenarnya tapi siapa yang membayar pembunuh bayaran itu. fikiran dante melayang sampai berkelana.


"Jalan cepat rob" seru dante dengan suara beratnya.


"Aluna sayang setelah kamu diobati kita beli 5 es cream yah" ujar dewa mengalihkan rasa kantuk aluna sambil menekan darah yang masih saja keluar dari punggung aluna serta pinggang belakang alunapun darahnya masi saja tak henti.


"Yang banyak nanti kita beli khusus buat aluna kakak yang traktir, janji" ucap dante sambil menatap aluna sendu.


Aluna hanya menganggukan dagunya karna tubuhnya semakin lemah sebab darah yang ada dibaju aluna itu sudah sangat basah oleh darah yang tak hentinya mengalir tetes demi tetesnya.


"Kakak, aluna mengantuk. aluna boleh tidur sebentar karna mata aluna sangat berat kak" ucap aluna yang semakin lemah.


Dewa berinisiatif mengajak aluna berbicara tentang keindahan pulau dewata bali sambil memangku aluna, tubuh dewapun bergetar saat mendengar suara aluna yang melemah, raut wajah yang merona kini menjadi pucat dan tubuhnya aluna mulai dingin.


"Aaluna ke..kenapa tubuhmu dingin sekali" ucap dewa khawahtir.


"Kakak bagaimana ini kak?" tanya dewa menoleh kearah dante.


"Percepat jalannya rob atau ku hukum kau malam ini" ucapan yang melengking dituju untuk rob qya.


Rob qya adalah teman sejatinya dante, sejatinya rob qya tak takut dengan ancaman dante karna ia tau dante sedang diliputi kemarahan bercampur kekahwatiran kepada sang punjaannya itu. Tanpa menunggu aba-aba rob qya meningkatkan kecepatannya melampaui batas maksimal praturan dari pihak berwajib.


"Kakak jangan marahi kak rob" seru aluna yang masi sempat membela kak rob nya.


Bagi aluna kak rob qya itu sama seperti kakak kandungnya sendiri karna sedari kecil mereka bersama-sama. kemanapun bermainnya pasti mereka ada satu sama lainnya yaitu berempat bersama-sama menjelajahi alam raya ini.

__ADS_1


"Kakak tidak marah una,kak dante hanya tegas saja" ujar rob


aluna tersenyum manis melihat kearah kak robnya lalu ia beralih menatap kedua kakaknya. "kak aluna mengantuk sekali. aluna boleh yah tidur sedikit saja" seru aluna merengek.


"Dasar gadis kecil kakak yang nakal, jangan tidur aluna sayang" ujar dante mengayumi gadisnya.


"Iya aluna sayang jngan tidur yah nanti kakak belikan toko es cream gimana? Mau ?" tanya dewa mengimingi aluna jangan sampai memejamkan matanya karna akan vatal jadinya bila aluna tertidur.


"Mau kak, aluna mau es cream seperti coklat paris yang bertabur kacang medenya kak, aluna mau itu sekarang" ujar aluna.


"Kak rob pinggirkan mobilnya adan beli es cream yang aluna mau, cepat kak" seru dante.


3menit kemudian mereka mampir disalah satu supermarket, jay turun tergesah-gesah dan membeli seluru es coklat yang dimaksud oleh nona alunanya. baginya aluna seperti adiknya sendiri karna ia juga sering bergabung bersama dante dan dewa, selurunya dia sayangi seperti dia menyayangi ibunya yang meninggal karna kelaparan 8tahun silam.


"Bos ini dia ice nya" seru jay menahan nafas yang ngos-ngosan.


Dante menganggukan dagunya, "trimakasih jay dan trimakasih rob, kalian temanku yang tak ternilai" ujar dante.


Jay dan Rob tersenyum membalas ucapan bos sekalian teman sejatinya itu, rob mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi sehingga menerobos rambu lalu lintas dan 3 polantas yang berjaga melihat kecepatan tak normal itu sehingga 3polantas dipos jaga langsung mengejar mobil yang melanggar aturan itu.


Mobil polantas dan mobil jay saling kejar-kejaran, rob hanya mengimbanginya karna 1menit lagi pagar rumah sakit akan kelihatan.


Rob langsung masuk kedepan ruang ugd yang ada dirumah sakit milik dewa itu, ia memberhentikan mobilnya tepat didepan ruang ugd tak lama suara serine mobil polantas pun terdengar dan mobil polantas itu berhenti tepat dibelakang mobil jay.


"Jay urus 3curut itu" seru dewa dan dante serempak.


"Baik bos" ujar jay.


"Kak titip aluna, dewa memanggil dokter ahli beda karna dewa tak punya nomor telfonnya" ucap dewa panjang lebar.


Dante mengangguk saja mendengar kata panjang dewa, ia menoleh kearah tubuh yang tebujur dibrangkar itu.


"Enak sayang ice cream nya" seru dante menatap sendu wajag yang mulai memucat.


"Enak sekali kak, aluna mau ayam bakar kak. apa boleh aluna meminta kakak pesankan ayam bakarnya tanpa nasi" ujar aluna mode kesempatan.


"Boleh tapi tidak sekarang sayang, kakak mau kamu diobatin dulu lukanya itu" tunjuk dewa kearah punggung belakang dang pinggang belakang aluna.


"Daa....aan kita makan bersama-sama dengan yang lainnya, kakak janji itu" ucap dante sambil merapikan rambut alunanya.


"Kak, kakak tolong dewa angkat aluna ke brangkar ini" ucap dewa mode tegasnya.


Mereka berdua membawa aluna keruang operasi atau ruang ICU karna bertepatan dengan jam makan karyawan, seluru penjaga ugd sedang pergi jadi tak ada waktu lagi untuk memanggil dokter jaga. sampai didepan ruang operasi itu sudah ada 3dokter yang menunggu sang anak asuhnya datang.


"Cepat, nanti kehabisan darah" ujar dokter candra bagian spesialis bedah.


"Nak cepat cari cadangan darah untuk una" ujar sinta yang kahwatir akan keadaan anak asuhnya.


"Kami segera menyelamatkan una, tunggu disini" ujar dokter putra segera masuk kedalam dengan yang lainnya.


"Yah tuhan alunaku, tolong selamatkan adik kesayangan hamba ya allah" ujar dante kahwatir.

__ADS_1


"Kak ayo kita sholat dan bedoa kepada allah" seru dewa menepuk pundak sang kakaknya, ia tau bagaimana rasa sayang kakaknya untuk menyayangi adik-adiknya.


Mereka pergi entah berapa lama mereka berdoa, 1jam kemudian mereka kembali duduk dibangku koridor rumah sakit itu, bagi dewa yang sekarang ini masih belum ada tanda-tanda dokter keluar dari ruang yang menyeramkan itu.


Drap..drap..drap..


Suara kaki yang menghentak lantai kini bergemah kuat didalam koridor ruangan itu. dewa dan dante melihat kedatangan 2 paru baya kesayangannya itu, mereka berdua siap akan pelampiasan kemarahan dari papa danunya karna mereka tau papa danu sangatlah menyayangi gadis kecil anak dari kakak angkatnya itu.


"Gimana keadaan adik kamu nak" seru mama sinta yang sudah menangis pilu.


"Masih menjalani operasi ma" ucap dante yang menatap sang mama dengan mata sendunya.


Plak Plak Plak


Dewa dan dante menerima tamparan dari papanya, mereka menahan rasa sakit karna tamparan papa danu tak main-main.


"Kamu gak becus jaga adik kamu, baru beberapa hari kalian bersama hah? Ini malah kamu dan kamu bikin adik kecil kamu celaka" seru papa danu yang menahan emosinya kalau tidak sudah habis ia menghajar kedua anak laki-lakinya.


"Pa ini rumah sakit, mama tau papa kecewa tapi jangan berteriak begitu juga pa" ucap mama aluna menenangkan sang suaminya.


"Dewa,Dante. Kalian sudah tau kan kalau aluna kehabisan darah akan sulit bagi kita menemukan banyak darah golongan golden blood" sentak papa danu.


"Maaf pa, dewa dan kakak kecolongan akan keselamatan una. kami telat mengetahui adanya penyusup yang mengincar nyawa una dicafe kakak" ucap panjang lebar dewa.


"Untung saja bima tarun menghubungi mama mu untuk memberi tahu keadaan aluna, kalian tau siapa dibalik kejadian ini" seru papa danu marah.


"Si..siapa pa..papa yang jahati aluna pa" seru serempak kakak beradik itu.


"Rhea, rhea cemburu dante berdekatan dengan aluna. Jadi papa mohon sama kamu dante, cari keberadaan rhea sekarang" ujar papa danu yang kesabarannya.


"Cepat cari sekarang" perintah papa danu.


"Baik pa, dante titip una yah pa? dek kabari kakak yah atas perkembangan una nanti" ucap dante sendu.


"Baik kak, kakak hati-hati kemungkinan rhea menjebak kakak nantinya" seru dewa.


"Iya dek, jaga ketat una adiknya kakak yah" seru dante .


Dante menyalami tangan papanya dan papanya pun memeluk anak laki-laki pertamanya itu.


"Nak kau harus teliti yang mana harus dahulukan" ujar papa danu memeluk dante.


"Baik pa, ma" seru dante.


"Dante titip aluna sama mama yah karna una mau makan ayam bakar kalau bangun nanti" ucap lesu dante.


"hiks ..hiks mama jaga aluna dengan tangan mama sendiri, kamu harus hati-hati yah jangan lengah lagi dengan keadaan" ucap mama sinta.


"Baik ma, dante pamit mama,papa" jawab dante sambil mencium kening sang mamanya.


"Kakak hati-hati kak" seru dewa.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2